Kumpulan Puisi Bulan Oktober 2010

Dedy Tri Riyadi

Yesaya Meratapi Kebun Anggur

Kebun Anggurku, Kekasihku, Buah-buah Harapan

yang Manis dan Sempurna, akan kutinggalkan Kau

merana dan gersang, diliput semak duri, rumput,

dan puteri malu.

 

Kebun Anggurku, Kekasihku, Buah-buah Masam

yang kucampakkan ke luar pagar, telah kunantikan

Kau dalam geram dan kecemasan, di menara jaga,

di atas tembok, di lereng bukit subur.

 

Lihatlah, pagar duri telah runtuh,

awan hujan pun jauh,

dan pokok-pokok itu tak lagi beranting,

tak juga bersiang setiap carang.

 

Berteman angin kering,

aku setia menggemarimu,

mengitarimu, Kebun Anggurku.

 

Yeremia Meratapi Dua Kota

 

Puteriku, Anak-anak Luka

yang tak kunjung sembuh,

yang kepadaMu airmataku

tercurah siang dan malam,

janganlah kecewa!

 

Bukankah mereka tak berbeda

dengan patung-patung sesembahan

yang ada? Saling asing dan tak berbuat

apa-apa sepanjang musim, selain bergunjing:

”Ini luka siapa? Begitu nganga dan berdarah

sia-sia. Tak ada balsam dan tabib di sini.”

 

Puteriku, Bau busuk jasad

yang menguar, yang ingin kutinggalkan

namun tak bisa, bertahanlah!

 

Lidah-lidah mereka lihai berdusta,

memanah dada sendiri dengan janji

setia: ”Ini kota-kota kami yang suci.

Tak ada yang busuk di sini. Dan

Tuhan adalah Raja kami.”

 

Menangislah Puteriku,

menangislah sekeras suara ternak

yang berlari, sepilu sisa-sisa senyap

dari puing-puing kotaku, biarlah

serigala-serigala itu datang,

 

dan segala gunung termenung,

dan segala padang terdiam,

dan kota-kota ini terhalang

dari segala rancangan di mata mereka.

 

Yehezkiel Meratapi Sang Faraoh

 

Gelisahlah Kau, Rajaku, Binatang ganas

yang telah memangsa tubuhku, yang

kepadaMu sebuah jaring telah kukembangkan.

 

Di dalam pukat, tubuhMu bukan lagi

milikMu sendiri. Lumpur laut dan sungai

begitu lekat, begitu pekat. Sebagai rakyat,

aku tak akan dapat mengenaliMu lagi.

 

Menggigillah Kau, Penguasaku,

Kepak burung yang bergemuruh

di langitku, yang di tubuhMu hinggap

segala keluhan.

 

Seperti gemintang, tubuhMu akan dibilang,

agar dicukupkan lapar kami: para binatang,

dan sampai waktunya, tak dapat lagi

Kau pandang langit dan bulan.

 

PedangMu, Tuan, kepunahan bangsaMu,

yang tertanam dalam kubur para Raja

dan Pahlawan. Dari Asyur, Elam, Mesekh,

dan Tubal. Yang Kautusukkan bersama

tubuhMu sendiri. Sedalam-dalamnya.

 

Dan aku pun terbaring di sini, Rajaku,

dalam ketakutan yang begitu hidup,

dalam kekalutan yang tak ingin redup.

Bersama mereka yang mati muda,

dalam patahan pucuk piramida.

2010

 

Cyprianus Bitin Berek

 

Dialah tiang garam itu: tanda perjanjian sia-sia,

hati yang terikat masa lalu.

Tak habis-habis tertiup angin sejarah.

 

– Jangan salahkan bila langkahku tertatih, Abang.

Memang lamban aku dan tertinggal selalu

karena encok yang kronis mengikat sendiku,

tambun tubuh menghimpit nafasku.

Jangan paksa aku berlari tergesa

sedang jiwaku tertambat hanya

di alun-alun kota

dibuai romansa masa silam.

Mengapa kita harus kabur sepagi ini?

Hari ini memang sungguh celaka,

tapi esok bukan hal yang selalu pasti.

Abang memang pendatang belaka,

kelana tanpa kenangan.

Sedang diriku asli Sodom

berbekas hingga sumsum.

Betapa bisa kulupakan tanah ini?

Kanak-kanakku terukir di pohon-pohon

dan kilau remajaku di tembok kota.

Betapa kutinggalkan sanakku mati terbakar?

(Pula kekasih-kekasih masa lalu).

Jangan paksa aku berlari

ijinkan saja kuberjalan perlahan

mengurai berkas hari-hariku lewat

kendati luka memerih jantung.

 

+ Mari bergegas, mari Ibu!

Kota pekat asap belerang

udara mengumbar daging terbakar.

Aduh panasnya, Ibu.

Panas inti mentari.

Cepat sambarannya pedang malaikat.

Jangan terkejar bayangnya, Ibu!

Jangan terjilat lidahnya merah.

 

– Panas api inti mentari

terbawa angin melarikan diri

membawa kabar paling sial.

Habis sudah Sodom Gomora!

Kota segala kesenangan.

Tiada lagi aroma anggur

tiada lagi tarian menggoda.

Tiada cekikikan dan desah manja.

Berakhir sudah, berakhir sudah.

Duhai sanakku, duhai sahabat.

Duhai segala yang indah untuk dinikmati.

 

Terbawa duka paling hitam

terpanggil kenangan paling pekat

perempuan itu menoleh.

Seketika kakinya terpancang.

”Abang, tak lagi ku bisa melangkah!”

Tapi suara tak terucapkan,

asin ditelan ludah sendiri. Sangat asinnya.

Mengaliri sekujur tubuh.

Tak lagi bergerak ia

dengan pandangan ke belakang.

Dihempas angin abad ke abad.

Amis dan bergaram selalu.

Cyprianus Bitin Berek pernah menjadi reporter dan menulis untuk beberapa media massa lokal di Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sekarang ia bekerja di Flores, NTT.

Dedy Tri Riyadi lahir di Tegal, Jawa Tengah, dan kini tinggal di Jakarta. Puisinya pernah diterbitkan (bersama karya Inez Dikara dan Maulana Achmad) dalam buku Sepasang Sepatu Sendiri dalam Hujan (2008).

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s