Puisi-puisi Dorothea Rosa Herliany

Shang Hyang Wenang

tuhan akhirnya aku menemukanmu. tubuh yang menjulang

menuju puncak menara. ribuan lampu memudarkan warna senja.

kutemukan engkau dalam tubuh semerbak cengkeh dan ladang tembakau.

menyusuri jalanjalan penuh simpang, menembus kerumunan dan reriuh tanya.

sudah sejauh ini kuikuti sembarang langkahmu, di depan masih fatamorgana.

di bebukit dan gurun tak berbatas, sudah kubuang kitab dan mazmur dan kidung.

sembarang peta di tubuhmu sudah kukenal di luar kepala.

aku cuma pejalan yang tak berbekal, tapi pencari jejak yang pintar.

jika haus maka jejak kususuri hingga mengarungi hutan cengkeh dan tembakau.

kutemukan pancuran dari sungai ngungun. cukup kucecap embun dari setiap daun.

aroma rahasia membumbung dalam hasrat: menjangkau kalbumu.

tuhan akhirnya aku kehilangan engkau kembali.

sudah selarut ini aku berjalan dengan menanggung rindu dan sakit.

langkahku sarat jerat dan nafasku sesingkat ngengat.

Jakarta, 2010

tuhan, akhirnya kutemukan ibu yang kaukisahkan dalam sakitku.

wajah subuh yang kupandang sejauh rerumput dan hamparan ladang.

dalam dingin yang rapuh. tak pernah mampu kuurai sengkarut waktu.

ibu yang menjaga bayi lakinya dengan setia. memungut setiap kata jadi peta.

menyusun detik demi detik menjadi jarak tak terbaca. memungut setiap bebijian

dan menata lembar demi lembar dedaunan. lantas dia susun gegambar

seluas kebun.

dia menulis sajak di telapak tanganku. kubaca saban rindu.

kubakar dalam tungku. pijar menerangi sampai tepi haribaan mimpi

dia menuntunku mencari perahu. hingga kuarungi malam yang jauh,

menuju riwayatmu. tapi dalam bangun, yang tinggal cuma engkau.

diam di sudut hatiku: bergeming dalam sekerat ragu.

Kathedral, 2009

bunga-bunga rumput mendengar lagi derap kaki kuda beratus kereta

airmata berdenting di ranting. lalu cuma gelap. bukan sebab mendung,

tapi sesuatu yang memburu ajal. berdesingan seperti tak bermata.

ibu merintih selirih cinta. bapa meradang beribu hewan liar.

siapa yang diburu karena sekelebat niscaya hilang dalam rasa.

nafas ini merentang jarak dalam tikam dan lenguh hasrat.

beribu kaki penari menghentak sekarat kala. lantas siapa yang rubuh?

seperti tak akan pernah ada akhir. sejarah melaju dalam urat darah.

terkurung dalam labirin waktu. mengalir tak menemu hilir.

Magelang, 2010

– ranjaban

darah netes dalam denting ajal

waktu rubuh di kurusetra

lantas riuh di antara desingan anak panah

luka berebut tubuh

dinda, ambilkan kereta

sebab kanda tergesa

senja gugur

tak sempat cecap perih

lantas tercatat rintihan sekarat

lantas segala gelap

engkau hanya tidur kanda

tapi mimpi alangkah renta

kabur: antara takjub dan dera

waktu rubuh

luluh

dinda, ambilkan kereta

sebab kanda tergesa…

Jogya, 20-10-2010

di jalan menikung: rumah itu penuh dengan pintu.

pohon randu dan rerumput menembus horison tanpawarna.

di seberang pagar tergelar kebun gandum dan kandang kuda.

saban senja kuterima kiriman aroma tai ternak

dan malamnya tinggal sederet ringkik.

pagi membekas gerimis yang mendustai musim.

atau dingin sengit yang mengusir siput-siput tanparumah di punggung,

menuju semburat udara hangat tungku.

selalu kudengar percakapan asing pada setiap dinding.

sepenggal pertanyaan gagu menggarit luka kisah

dan ribuan butir rencana.

tak terjawab dalam buku harian bisu.

waktu teramat singkat. sudahkah kukenal kresna?

seorang tua penanam hujan dengan dadakaca

: dan jantung kayawarna.

seorang tua yang menuntunku pada hasrat dan kisah tua.

rumah dengan penuh pintu, kuambil satu untukku

: menjadi batas jarak pulang

ke ruang usia yang tak lagi panjang.

Langenbroich, 2009

telah tersurat: jika lunas waktu, aku segera berangkat.

bukan pulang atau mencari arah, teman. sebab kisah ini

pada akhirnya cuma berakhir sebagai riwayat.

tak terjanji siapa yang akan mencatat.

kita berangkat menuju batas cahaya dan gelap.

usia berjejalan: tiba-tiba matahari telah merunduk di barat

tahun merimbun seperti kebun: para pemetik menanam tanya

tak berjawab.

lantas siapa yang senantiasa berkelit dan meringkuk di lubuk?

seluruh rencana gugur seperti daundaun tua, mengubur kata.

maka telah tersurat: segulung waktu bergegas berangkat.

meninggalkan segala. cuma kita, akhirnya. bersitatap

: namun tak saling membaca riwayat!

Borobudur, 2010

Dorothea Rosa Herliany telah menerbitkan sejumlah buku puisi, antara lain Santa Rosa, Kill the Radio: Sebuah Radio Kumatikan, Nikah Ilalang, dan (yang akan terbit) Tambur Metamorfosa. Ia tinggal di Magelang, Jawa Tengah.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s