Cerpen: Cita Cita Ika Yang Mulia

Ika berlari-lari kecil menghampiri Bunda yang sedang membaca majalah. Raut wajahnya sedikit muram. ”Bunda, aku tidak pintar Matematika.”

Bunda menutup majalah, lalu menatapnya heran. ”Ika mau les Matematika?”

Ika menggeleng.

”Tiap orang, kan, punya bakat yang berbeda-beda. Tidak semua orang harus pintar Matematika. Yang penting kamu bisa menghitung Matematika dasar untuk sehari-hari.”

”Aku juga kurang pintar Bahasa Inggris, Bunda! Nilai-nilaiku yang paling tingi cuma tujuh. Padahal, aku sudah belajar dengan tekun.”

Bunda mengelus rambut Ika. ”Buat Bunda, yang paling penting itu usaha kamu. Tuhan akan memberi jalan untuk orang-orang yang mau berusaha keras.”

”Kata teman-teman di sekolah, kalau mau sukses harus pintar Matematika dan Bahasa Inggris. Ika tidak bisa sukses seperti yang lain dong, Bun?”

”Ah, masak iya? Masih banyak bidang lain selain Matematika dan Bahasa Inggris kok! Kalau kita tidak benar-benar suka, pasti akan sulit menekuni bidang apa pun. Ika sukanya apa?

”Hmm… apa ya? Ika suka main piano, tetapi Ika juga enggak jago-jago amat. Di kelas Ika ada banyak yang ikut kursus piano. Sepertinya semuanya lebih hebat daripada Ika, soalnya kalau Ika tanya lagi belajar lagu apa, mereka selalu menyebutkan lagu-lagu klasik untuk tingkat di atas Ika.”

”Lho, inti belajar musik itu bukan berapa banyak lagu yang pernah Ika pelajari, tetapi bagaimana Ika menghayati setiap lagu itu. Lebih baik belajar satu lagu sampai mendalam daripada belajar lima lagu secara sepintas.”

”Ika tahu dari mana Bunda, kalau Ika sudah menguasai sampai mendalam atau belum?”

”Nanti juga akan terasa.” Bunda tersenyum lalu bangkit meninggalkan Ika yang masih berbengong-bengong.

SEMINGGU berlalu.

Ketika musim pancaroba datang, Bunda jatuh sakit. Flu berat. Mungkin karena terlalu capai mengurus rumah sendirian. Ayah Ika bekerja sebagai pelayan restoran di sebuah kapal pesiar di Eropa.

Beliau hanya pulang setelah delapan bulan bekerja. Setelah empat bulan di Tanah Air, beliau kembali bekerja. Jadi saat ini hanya ada Ika yang bisa merawat Bunda.

Ika datang membawa nampan ke kamar Bunda.

”Bun, ini Ika buatkan sup ayam. Makan yang banyak ya sama nasinya biar cepat sembuh!”

”Lho, sejak kapan anakku bisa masak sup? Tadi Bunda pikir kamu lagi masak mi instan.”

”Ika, kan, sudah pernah minta resep sup ayam untuk tugas sekolah. Bunda lupa, ya?”

”Ha-ha-ha…, iya Bunda sampai tidak ingat. Makasih, ya Sayang! Sluu…rrp… aduh enaknya…!”

”Nanti kalau sudah selesai makan, langsung diminum ya obat dan vitaminnya! Setelah itu sikat gigi lalu tidur.”

”Iya, Bu Suster!” canda Bunda.

KETIKA Bunda baru bersiap-siap tidur, Ika dengan sigap duduk di kursi piano yang terletak di ruang tengah. Dengan lembut dan tempo yang lambat jari-jarinya memainkan lagu ”Nina Bobo”, ”Lullaby” karangan Brahms, diikuti ”Minuet” karya Sebastian Bach, lalu ”Clair de Lune” karya Debusy dalam versi sederhana.

Sebelum lima belas menit berlalu, sudah terdengar suara dengkur halus dari kamar Bunda.

Dua hari kemudian Bunda sudah sehat kembali!

”Wah, rasanya Bunda sudah tidak perlu makan obat lagi nih!” sahut Bunda ceria pagi itu. ”Semua berkat Ika!” Bunda mengecup pipi Ika yang tembem.

”Makasih Suster Ika, sudah repot-repot masak untuk Bunda, sediakan obat, bersihkan rumah, sehingga Bunda tidak perlu keluar kamar dan kena angin selama dua hari. Permainan pianomu juga benar-benar menghanyutkan, Bunda yang biasanya susah tidur jadi cepat lelap!”

”Ika senang Bunda sudah sehat! Mungkin nanti kalau sudah besar Ika mau jadi perawat saja. Jadi perawat, kan, tidak perlu pintar Matematika dan Bahasa Inggris.”

Bunda tergelak. ”Jadi perawat juga profesi mulia. Tetapi, Matematika dan Bahasa Inggris-nya jangan dicuekin begitu saja dong, Ka! Siapa tahu kamu bisa kerja di luar negeri saking hebatnya!”

”Iya, ya, Bunda! Seperti Ayah kerja di luar negeri. Kan, enak bisa sambil jalan- jalan, lihat salju, bunga-bunga di musim semi…,” mata Ika menerawang.

”Tetapi, mungkin ada pilihan profesi lain yang bisa menyalurkan bakat lainmu….”

”Apa itu, Bunda?”

Bunda menggandeng Ika menuju piano. ”Terapis musik.”

Ika mengangkat alis. ”Terapis musik itu tugasnya macam-macam. Mulai dari menghibur pasien, menciptakan lagu dari curahan hati pasien supaya emosinya tersalurkan. Ia juga bisa membantu anak-anak autis, dan sebagainya. Intinya supaya pasien cepat sembuh secara fisik ataupun mental.”

MATA Ika berbinar-binar.

”Betul ada profesi seperti itu, Bunda?”

”Betul, malah ada universitas khususnya!”

”Waaa…hh!” senyum Ika mengembang lebar sekali.

Mulai hari itu Ika rajin berlatih piano. Setiap malam sebelum tidur ada mimpi baru yang menghiasi benak Ika: jadi terapis musik!

Setelah membayangkan itu, Ika akan langsung pulas dengan senyum menghiasi bibirnya.

Fransisca Agustin Penulis Cerita Anak, Tinggal di Bandung

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s