Monthly Archives: May 2011

Rujukan Aksara “Lontarak” dan Naskah Kuno beraksara Bugis-Makassar

Muhammad Salim adalah bukti hidup bahwa penghargaan datang bukan karena gelar dan jabatan, tetapi karena karya berkelanjutan. Hampir sepanjang hidup ia menekuni ”lontarak”, naskah kuno beraksara Bugis-Makassar. Dia menghidupkan dan memaknainya kendati ini kerja sunyi tanpa banyak imbalan.

Kami bertemu di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, tempat Salim ”bekerja” yang tak memberinya honor empat tahun terakhir. Dengan semua itu, ia bersetia mengawal pendokumentasian lontarak dari seluruh penjuru Sulsel.

Lontarak adalah kehidupan Salim. Aktivitas menyalin lontarak ke huruf Latin (transliterasi) lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia (translasi) ibarat menu hariannya. Dalam sehari ia menghabiskan dua hingga tiga jam untuk menyalin lontarak, termasuk Lontarak Enrekang, proyek yang baru dia mulai.

Meski demikian, yang membuat nama Salim diperhitungkan hingga mancanegara tentulah Sureq Galigo. Dia terpilih dalam Proyek Transliterasi dan Terjemahan Sureq Galigo yang digagas Universitas Leiden, Belanda, tahun 1987. Ia mulai bekerja tahun 1988 dan membutuhkan waktu 5 tahun 2 bulan untuk menerjemahkan hikayat penciptaan peradaban manusia di Sulsel itu.

Naskah I La Galigo di Universitas Leiden memiliki tebal sekitar 6.000 halaman. Arung Pancana Toa-lah yang memberikan naskah ini kepada orang Belanda, BF Matthes. Naskah di Leiden termasuk kisah paling lengkap kendati belum sepenuhnya selesai. Sebenarnya masih banyak lontarak yang terserak dan belum ditemukan.

Tidak mudah menerjemahkan I La Galigo, karya sastra terpanjang yang berabad-abad ”tertidur”. Salim tak sekadar membaca teks, tetapi juga konteksnya. Galigo merupakan karya sastra yang khas dengan pola pengejaan lima-lima, seperti: i-la-ga-li-go dan sa-we-ri-ga-ding.

Melalui pergulatannya, Salim menemukan Sureq Galigo juga menggunakan bahasa Bugis klasik dan Sanskerta, contohnya pada Sangiangserri yang artinya Dewi Padi. ”Dalam Sanskerta, dikenal Sang Hyang Sri, yang juga Dewi Padi.”

Dalam penerjemahan, ia membutuhkan tiga kamus sekaligus, yakni bahasa Bugis-bahasa Belanda lama, bahasa Belanda lama-bahasa Melayu lama, dan bahasa Melayu lama-bahasa Indonesia.

Penerjemahan Galigo memang melelahkan. Ruang kerja di rumah panggungnya berupa bilik. Sejak pukul 08.00 hingga 17.00 ia menekuni aksara kuno. Di sebelah meja kerja, ada kasur untuk Salim beristirahat sewaktu-waktu.

Honor transliterasi kala itu 5 dollar AS per lembar, sedangkan translasi 8 dollar AS per lembar. ”Uangnya saya pakai untuk beribadah haji. Saya tak suka beli barang,” tuturnya.

Mendunia

Nama Salim ikut mendunia bersama ”terbangunnya” I La Galigo. Mata dunia memandangnya seakan dia baru muncul. Padahal, jauh sebelumnya ia sudah tenggelam dalam dunia lontarak. Lahir dan besar di Pangkajene, Sidenreng Rappang, Sulsel, ia terbiasa membaca lontarak.

Pada masa lalu masyarakat menuliskan kisah dalam aksara lontarak. Apa pun bisa diceritakan; ilmu perbintangan, hubungan suami-istri, silsilah keluarga, pantangan, doa-doa, hingga nyanyian. Salim kecil belajar membaca lontarak dari neneknya.

Kemampuan ini terasah saat ia masuk pesantren di Allakuang, Sidenreng Rappang (Sidrap). Dia bergurukan KH Muhammad Yafie dan Muhammad Abduh Pabbajah. Murid-murid di sini terbiasa menerjemahkan Al Quran dalam bahasa Arab ke bahasa Bugis. Semuanya ditulis dalam huruf lontarak.

Seperti telah digariskan, hidup Salim tak pernah jauh dari lontarak. Lulus Sekolah Guru Bawah (SGB), ia mengajar pelajaran bahasa Bugis di satu-satunya sekolah menengah pertama di Pangkajene selama delapan tahun.

Berselang setahun, ia menempuh pendidikan guru sekolah lanjutan jurusan Bahasa Bugis di Makassar. Dia lalu ditarik ke kampung halaman, menjadi Kepala Dinas Kebudayaan Sidrap pada 1971.

Dengan posisinya itu, Salim kian gencar memopulerkan lontarak bagi pelajar. Ia mendorong penerbitan buku cerita rakyat dalam huruf lontarak untuk tingkat sekolah dasar dan buku nyanyian untuk tingkat SMP. Satu buku cerita bisa ditukar dengan satu liter beras atau satu kelapa bagi keluarga yang tak punya uang.

Tahun 1980, saat menjadi staf Dinas Permuseuman, Sejarah, dan Kepurbakalaan Sulsel, ia berkesempatan menyelami naskah kuno. Ia lalu menggagas proyek pengumpulan lontarak. Ia menjelajahi seluruh kabupaten di Sulsel hingga Kabupaten Selayar ”berburu” lontarak.

Proyek ini bertujuan mendokumentasikan lontarak di Sulsel dan menerjemahkannya. ”Banyak sekali lontarak berisi pengetahuan yang bisa diterapkan sampai kini, seperti pengobatan dan pertanian,” ujarnya.

Dari perburuan itu, Salim mengumpulkan lebih dari 100 lontarak. Semua tersimpan rapi di Yayasan Kebudayaan Sulsel. Beberapa lontarak sudah disalin ke huruf Latin dan sejumlah kecil diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Namun, banyak yang tak diterbitkan karena kurangnya dana.

Harta karun sejarah ini lebih menarik minat peneliti asing. Bahkan I La Galigo pun diterjemahkan tanpa bantuan uang Pemerintah Indonesia.

Tanpa gelar

Salim menjadi rujukan siapa pun yang meneliti lontarak. Ia masih bersemangat bicara tentang lontarak.

Ia percaya, pengetahuan juga digembleng karena pengalaman. Dia bukan profesor, tetapi kefasihannya memaknai lontarak membuatnya bertemu para profesor asing. Mereka takjub melihat orang yang menghidupkan kembali epos Sawerigading adalah pria sederhana.

Dalam hati, Salim tetap merasa sebagai guru. Ia ingin menularkan ilmunya kepada banyak guru dan mahasiswa. Untuk itu dia mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin. Dia juga bertahan di Yayasan Kebudayaan Sulsel. Padahal. bisa dikatakan yayasan ini bangkrut, tak ada uang dan peneliti. Beberapa buku penting terkait sejarah di kawasan timur Indonesia diambil alih Arsip Nasional.

Yang tersisa dari yayasan adalah lontarak, pekerja berhonor kecil, dan Salim. Kendati demikian, yayasan ini telah menjadi ”rumah” bagi Salim yang setia dengan Vespa tuanya. Hanya bila hujan deras saja dia urung datang. ”Khawatir Vespa-nya mogok,” kata pria bercucu tujuh dan bercicit satu ini.

Warisan Salim ialah penerjemahan I La Galigo, dan dunia patut berterima kasih kepadanya.

***

Muhammad Salim

• Lahir: Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, 4 Mei 1936

• Istri: Hj Djamiah (65)

• Anak: – Husnah Salim – Nurdinah Salim – Hamdan Salim

• Kegiatan: – Dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin – Peneliti di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan

• Lontarak yang disalin dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia antara lain: – Sureq Galigo – Lontarak Sidenreng – Lontarak Soppeng/Luwu – Budhistihara yang berisi nasihat keagamaan – Pappaseng – Lontarak Enrekang (dalam pengerjaan)

Cara Belajar Aksara Incoung Warisan Budaya Proto-Melayu Dari Kerinci Jambi

Para pelaku seni budaya Jambi mengaku sangat berhasrat belajar penulisan dan pembacaan aksara Incoung yang merupakan khazanah budaya Jambi warisan peradaban Proto-Melayu di Kabupaten Kerinci.

“Karena sudah diakui sebagai salah satu khazanah budaya dan segera diusulkan untuk dipatenkan oleh Kemenbudpar, para seniman Jambi tentu saja ingin sekali diajarkan cara membaca dan menulis aksara yang menjadi bukti telah tingginya peradaban Jambi di masa silam, khususnya di Suku Kerinci,” ungkap Kepala Taman Budaya Jambi Jafar Rasuh, di Jambi, Kamis (19/5/2011).

Dia mengatakan, Dewan Kesenian Jambi (DKJ) dalam program kerjanya untuk periode 2011-2015 telah merekomendasikan agar aksara Incoung Kerinci dapat dipopulerkan pada masa mendatang dengan sebutan “Incoung Jambi” sebagai salah satu strategi guna lebih memasyarakatkan dan menjadikan Incoung sebagai khazanah budaya Jambi secara menyeluruh, tidak lagi sebatas Kerinci.

Oleh karena itulah, Taman Budaya Jambi menyambut baik program yang diwacanakan dan direncanakan, termasuk workshop atau pelatihan transfer ilmu tentang teknik membaca dan menulis aksara tersebut, bahkan juga belajar tentang filosofi, sejarah, dan penyebarannya di Sumatera hingga di Nusantara.

“Saat ini di masyarakat Kerinci sendiri, aksara Incoung sama sekali tidak populer, bahkan nyaris punah. Ini karena hingga kini tokoh masyarakat yang masih bisa membaca aksara itu kian langka, bahkan nyaris tidak ada. Oleh karena itu, perlu upaya revitalisasi sporadis sesegera mungkin dengan strategi menggalakkan pelatihan terhadap generasi muda,” ungkapnya.

Keperluan tahap transfer pengetahuan dan kemampuan secara massal sporadis tersebut perlu terlebih dahulu dipersiapkan oleh para calon instruktur dan para seniman pelaku budaya itu, yaitu mereka yang memiliki ketertarikan atau minat besar untuk belajar aksara tersebut.

Tenaga merekalah yang nantinya akan dipergunakan untuk mengajarkan aksara tersebut ke generasi muda di sekolah-sekolah, sanggar-sanggar, dan balai-balai pemuda di desa-desa.

Menurut Jafar, para tokoh Kerinci yang masih bisa baca tulis aksara Incoung itu hanya tersisa empat hingga enam orang. Mereka inilah yang diharapkan terlebih dahulu menularkan ilmunya kepada para calon instruktur atau pengajar aksara itu kepada masyarakat luas.

“Para seniman memiliki minat besar. Selain itu, mereka juga relatif memiliki kepedulian budaya yang lebih baik dibanding orang-orang dengan profesi lainnya. Mereka juga relatif lebih memiliki banyak waktu luang untuk selanjutnya berhubungan dengan masyarakat luas dibandingkan orang-orang dengan profesi lain, seperti PNS atau karyawan swasta,” kata Jafar.

Di sisi lain, kemampuan menguasai dan mempergunakan aksara itu di kalangan seniman lebih dari sekadar kemampuan fisikal. Mereka akan menyerap segala unsur estetika dan kultural yang terkandung di dalamnya sehingga berikutnya mengendap dan menjadi sumber inspirasi mereka dalam berkarya.

“Semisal bagi perupa, tentu akan menerjemahkan aplikasi aksara tersebut dalam bentuk lukisan, patung, atau instalasi. Bagi sastrawan, mereka tentu akan menerjemahkan filosofi aksara itu ke dalam puisi atau prosa. Begitu pula bagi penari, mereka tentu akan tergerak hatinya menciptakan gerak dari menerjemahkan bentuk aksara tersebut. Begitu juga dalam genre lain, musik, teater, film, dan fotografi, mereka tentu punya visi dan cara tersendiri mengekspresikan pemahamannya itu,” tutur Jafar.

Dia mengatakan, DKJ bahkan menargetkan bahwa pada 2015 nanti setidaknya akan ada 10 persen generasi muda Kerinci yang bisa baca tulis aksara Incoung.

Menurut Jafar, tidak memasyarakatnya aksara Incoung selama ini lebih dikarenakan tidak adanya upaya sadar dari para tokoh untuk mewariskan kemampuannya tersebut kepada generasi muda.

Selain itu, generasi muda Kerinci juga cenderung tidak berminat belajar kebudayaan karena pola pikir modernisasi tentang hidup yang praktis dan konsumtif mulai menjangkiti kebudayaan masyarakat sehingga mereka jadi tidak acuh dan tidak peduli.

“Selain itu, kultur masyarakat Kerinci yang tertutup membuat para tokoh jadi lebih memilih untuk merahasiakan ilmunya. Mereka mungkin beranggapan jika banyak yang bisa membaca aksara itu, maka lahan pekerjaan dan kesan mereka sebagai tokoh yang disegani akan luntur atau berkurang di mata masyarakatnya,” kata Jafar.

Pemahaman tersebut tentu saja sangat berdampak negatif dan tidak sehat bagi keberlangsungan proses kebudayaan di tengah masyarakat pemiliknya.

“Buktinya, masyarakat China dengan huruf kanjinya dan masyarakat Arab dengan aksara Arab dapat terus tumbuh berkembang hingga saat ini berkat proses transfer ilmu yang terus terjadi terhadap aksara itu, dari generasi ke generasi, sehingga dia muncul sebagai identitas. Segenap masyarakat pun merasa wajib memakainya. Itu mestinya ditiru dalam proses pengembangan keberadaan aksara Incoung,” katanya.

Penerjemah Aksara Kaganga Di Bengkulu Makin Langka

Kepala Museum Negeri Bengkulu Ahadin mengatakan, penerjemah naskah kuno yang ditulis dengan aksara Kaganga semakin langka sehingga banyak koleksi museum yang belum diterjemahkan. “Hingga saat ini hanya Profesor Sarwit Sarwono dari Universitas Bengkulu yang pernah menerjemahkan sejumlah naskah kuno aksara Kaganga koleksi museum,” katanya di Bengkulu, Sabtu.

Aksara Kaganga adalah huruf daerah Bengkulu.

Minimnya penerjemah naskah kuno yang sebagian besar diperoleh dari tangan masyarakat tersebut, katanya, membuat baru 5 persen dari 126 koleksi naskah kuno yang ada di museum itu. Hingga saat ini, kata dia, baru 10 naskah yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Sebagian besar naskah kuno tersebut juga tidak diketahui identitas penulisannya (anonim). Koleksi naskah kuno yang sudah diterjemahkan tersebut, antara lain, berisi pantun, ramuan obat, sejarah, dan wejangan yang sudah berumur puluhan, bahkan ratusan tahun. “Koleksi ini sangat berharga. Tetapi kelemahannya, penerjemah sangat minim. Pak Sarwit juga membawa naskah itu ke daerah asalnya dan mencari orangtua yang masih bisa mengerti aksara Kaganga,” ujarnya. Selain keterbatasan penerjemah, ketersediaan anggaran juga menjadi kendala untuk menerjemahkan naskah kuno tersebut.

Keterbatasan anggaran tersebut membuat kegiatan penerjemahan naskah kuno dilakukan terakhir tahun 2003. “Sejak itu belum pernah ada lagi kegiatan penerjemahan naskah kuno karena kendala dana, setidaknya kami membutuhkan Rp 150 juta hingga Rp 200 juta,” ujarnya.

Anggaran tersebut, selain menerjemahkan naskah kuno yang membutuhkan bantuan dari masyarakat yang masih mengenal aksara Kaganga, juga untuk mencetak terjemahan tersebut. Ahadin mengaku selalu mengusulkan anggaran tersebut setiap tahun dalam APBD provinsi, tetapi belum terealisasi. “Kami berharap pemerintah daerah juga memerhatikan kegiatan menggali informasi dari naskah kuno yang ditulis nenek moyang kita karena banyak ilmu dan pelajaran yang tercantum di dalamnya,” katanya.

Selain naskah kuno, museum yang berdiri di atas lahan seluas 9.974 meter persegi tersebut juga menyimpan 6.000 koleksi lainnya, antara lain tenunan kain tradisional Bengkulu dan mesin cetak Drukkey Populair dengan merek “Golden Press” yang digunakan Pemerintah Indonesia untuk mencetak “uang merah”.

Kumpulan Puisi Fitra, Fitri dan Zelfina Wimra

Zelfeni Wimra

sirih dan pinang

sirih:

apa yang tidak ada pada diriku ada pada dirimu

aku punya gagang, kau punya batang

bolehkanlah gagangku memanjat batangmu

banyak cita yang ingin kujalarkan

pinang:

tanyakan dulu pada carano,

ujung jari siapa yang sudah dipacari

ujung lidah siapa yang rindu perundingan

semusim lagi, araiku sempurna jadi buah

juluklah aku

2011

Zelfeni Wimra

hulu dan hilir

orang merantau kita katakan berangkut ke hilir

perantau pulang kita sebut balik ke hulu

pengantin kawin, bayi lahir, dan orang mati

kita anggap melingkari putaran

yang berakhir di pelabuhan matahari

kita sendiri sedang apa?

berjuntai-juntai diguyur arus

beruntung ada ikan yang suka, lalu memakan kita

atau ada peternak sapi datang membawa sabit dan karung

baru boleh dikatakan nasib kita sempurna sebagai rumput

melumatkan diri ke dalam usus dan anus ternak

kalau tidak demikian,

selamanya kita di tepi sungai ini

menggigit lidah, berputih mata

orang-orang terus merantau

orang-orang terus pulang

dan anak pinus yang dulu berlindung di balik rimbun daun kita

telah besar menjulang

2011

FITRA YANTI

euthanasia

1)

ke sinilah

duduk di dekat jantungku

kita habiskan malam anggur ini dengan secawan lagu

menjelang pagi sebelum pintu ini mengutukiku

sebelum ia yang bernama waktu

menyeret dan membasuh jejakku di depan pintumu

ke sinilah

sebelum tali kepergian menjerat jantungku

tentu kau akan menancapkan sebuah paku pada kayu bendul pintumu

menggantungnya di sana

mematut-matutnya hingga kering

tiap ada kesempatan

atau malah tak pernah memperhatikannya lagi

sama sekali

ke sinilah

dengarkan cerita jantungku

mari kita hitung detak-detak lamat yang tersisa.

tekan dadaku lalu masukkan nama-nama

nama-nama yang hendak kutinggalkan

nama-nama yang menyudahi denyutku sebentar lagi

ya sebentar lagi semua pintu akan tertutup untuk suara jantungku

ke batas nisbi

ke puncak dari seluruh puisi

sekalipun berarti diam

2)

malam ini tuhan duduk di tepi gaunku dan berfirman:

“takkan sakit, hanya seperti gigitan semut rangrang,

setelah itu kau akan sampai”

2010-2011

FITRA YANTI
sesaji

perasan ini belum kering juga.

bejana abu-abu yang kugunakan sebagai penampung penuh lagi

di perasan keberapa ia akan kering? tanyaku padamu

tampung saja, jawabmu

baiklah jika begitu

terimalah isi bejana ini sebagai sajian magribku kekasih

tanpa asap kemenyan

atau pun semerbak dupa

hanya beberapa kembang rosella yang kubenamkan ke dasar bejana

terimalah sesaji cair ini kekasih

sesaji berwarna merah yang kutampung dari robekan sepi

sesaji yang menetes dari koyakan lapisan terdalam dari selaput rinduku yang tipis

2011

FITRA YANTI
untuk penjaga anggur

bisik-bisik malam menyulap orang-orang

menjelma iblis berhati lunak

di kebun-kebun anggur yang gelap

mengunyah segala yang lunak

meminum segala yang keras

ia yang kukira berhati lindap

menyimpan bau anggur di matanya yang merupa pepohonan

lalu mengerling ke kanan:

“aku tak sedang mabuk

aku tengah menjaga kebun anggur!”

bau anggur menyemaki hidungnya

matanya menghijau

bukan karena teduh dalam lindap pokok-pokok anggur

ia mabuk dengan sesuatu yang jahat

sesuatu yang datang dalam kecepatan cahaya yang hilang

2010-2011

FITRI YANI
Teluk Betung

dari pusaran kota tanjungkarang

dan keringat subuh

para perempuan di selasar pasar

kubentangkan untukmu

sebuah jalan dengan seribu tiang lampu

jalan yang mengarah ke ujung pulau

tempat kehidupan lain

mengigaukan nafas masa lampau

kutampakkan pula kepadamu

patung-patung pemikul air mata purba

gedung-gedung yang memandang lautan

serta seorang tua di ujung dermaga

yang setiap sore datang bernyanyi

nyanyiannya adalah suara samar

penduduk bandar yang menua

“kau tak perlu lagi bertanya

di mana para lelaki menyimpan tombaknya

dan mengapa anak dara

mengurung diri di balik nyala api”

sunyi membubung setinggi awan

lembab tanah makam di atas bebukitan

cahaya kuning

remang

di pintu-pintu pertokoan:

menyapamu.

(2011)

FITRI YANI
Lingkaran Drupadi

“mengapa warna merah selalu mendahului timbul dan tenggelamnya matahari…”

pada sebuah subuh aku menjadi wanita yang tak merasa yakin pada apa yang tengah kuperjuangkan. seperti tiba-tiba tersesat di sebuah lembah yang semula kuduga sebagai lembah asmara. hingga pagi itu, engkau membuatku ada sekaligus tiada.

demi anak-anak yang kelak kulahirkan, kujaga sebutir permata yang senantiasa bercahaya di dalam dada. tuanku, takdir memang tak dapat kuelakkan. namun izinkan aku sejenak saja melihat rautmu, agar karam segala dendam di meja dadu yang kauciptakan itu.

(2010-2011)

Fitra Yanti lahir di Alahanpanjang, 17 Februari 1987. Ia mahasiswi pascasarjana Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang.

Fitri Yani lahir 28 Februari 1986. Buku kumpulan puisinya adalah Dermaga Tak Bernama (2010). Ia tinggal di Bandar Lampung.

Zelfeni Wimra lahir di Sungai Naniang, Limopuluah Koto, Minangkabau, Sumatera Barat. Ia bergiat di Magistra Indonesia, Padang, dan sedang merampungkan buku puisi Air Tulang Ibu.

Cerpen: Buku Musik Yang Mengusik Jiwa

Yang ada di hadapan kalian adalah buku untuk pelajaran musik,” kata Pak Zira, guru seni musik, saat mengajar di kelas enam.

”Tolong nanti malam dibaca, pelajari lirik-lirik lagu yang ada di buku musik itu. Minggu depan kita akan menyanyikan lirik lagu itu satu per satu,” Pak Zira menambahkan.

”Baik, Pak!” seru siswa serentak.

TING-TONG…, ting-tong! Bunyi bel pulang. Setelah berdoa dan mengucapkan salam. Semua siswa berhamburan meninggalkan kelas.

Sesampai di rumah, Hairus langsung masuk kamar. Meletakkan tas sekolah, berganti pakaian, ia lalu makan siang. Setelah itu, ia pergi menuju rumah Kakek dengan membawa buku musik.

Rencananya, Hairus ingin minta diajari menyanyi oleh Kakek. Di kota ini, siapa yang tidak kenal kakek Hairus. Mantan penyanyi keroncong yang pernah melegenda karena suara merdunya.

Sampai sekarang, sekalipun kakek Hairus sudah berusia hampir tujuh puluh tahun, tetapi jika menyanyi masih bisa membikin tidur anak-anak. Sangat indah dan merdu.

Namun, anehnya, sekalipun punya kakek mantan penyanyi terkenal, Hairus tidak suka dengan menyanyi. Pastilah karena suara Hairus benar-benar jelek. Bisa dikatakan suaranya terjelek di kelas. Makanya, mata pelajaran seni musik adalah pelajaran yang paling tidak disukai Hairus.

”UUUHHH…., Kek! Aku dapat tugas lagi menghafalkan lagu-lagu daerah untuk dinyanyikan minggu depan,” protes kesal Hairus kepada Kakek.

”Ha-ha-ha…,” Kakek tersenyum khas dengan gigi-giginya yang ompong.

”Kenapa ya, Kek, masih ada pelajaran seni musik. Andai ada sekolah yang tidak ada mata pelajaran seni musiknya, pasti aku pindah ke situ, Kek,” kata Hairus semakin kesal.

”Atau aku minggu depan tidak usah berangkat saja ya, Kek,” tambah Hairus sambil melempar buku musiknya.

”Jangan begitu, Hairus. Seni musik itu penting untuk perkembangan jiwa dan….”

Ah, kalau sudah begini, Kakek bisa bicara berjam- jam. Hairus pun segera memotong perkataan Kakek.

”Ajari aku menyanyi ya, Kek?”

”Baik, kebetulan Nenek tidak di rumah, sedang menginap di rumah Bude Rita, dan besok kan hari Minggu. Jadi, kamu malam ini tidur menemani Kakek. Kakek jamin dalam waktu semalam, kau akan kubuat cinta pada musik. Ingat, Hairus! Dengan cinta dan suka pada musiklah, nanti kamu bisa menyanyi dengan indah. Menyanyi dari jiwa….”

”Baik, Kek,” Hairus kembali memotong perkataan Kakek.

SIANG itu, Hairus diajak mandi di sungai dekat rumah Kakek. Saat mandi di sungai, Hairus disuruh berteriak-teriak yang keras dan menirukan suara berbagai jenis binatang. Setelah itu, Hairus juga diajak lomba berendam tak bernapas di dalam air. Hairus kalah.

”Ah, bagaimana kau, Hairus. Masak kalah berendam dengan Kakek. Ah, payah kau,” ejek Kakek.

Karena diejek, Hairus pun berusaha keras. Akhirnya Hairus berhasil mengalahkan Kakek.

”Yeeee…, aku berhasil,” teriak Hairus bangga.

Selanjutnya, Hairus diajak latihan pernapasan. Latihan, yang kata Kakek disebut sebagai dasar bernyanyi, dilakukan dengan menyenangkan, sampai tidak terasa hari mulai sore. Keduanya pun bergegas pulang. Hairus sangat senang bermain di sungai dengan Kakek.

MALAM harinya, Hairus menuntut untuk diajari menyanyi. ”Ayo Kek, sekarang ajari bernyanyinya,” rengek Hairus.

”Kau sudah bisa bernyanyi Hairus. Kau sudah bisa berteriak lebih keras dari Kakek. Kau sudah bisa menahan napas dan berendam di sungai lebih lama dari Kakek. Kau sudah bisa menirukan suara binatang dengan bagus. Jadi, kau pasti sudah bisa menyanyi dengan baik. Tinggal satu hal….”

”Apa Kek?” potong Hairus.

”Kau harus yakin bahwa kau bisa,” kata Kekek yang bergegas meninggalkan Hairus.

”Kakek capek, mau istirahat dulu ya. Kau juga perlu istirahat,” kata kakek Hairus sambil berjalan menuju kamar.

Hairus bengong. Batinnya berkata, ”Kau harus yakin bahwa kau bisa!”

Kata-kata Kakek tadi terus dipikirkan Hairus, sampai dibawa ke dalam mimpi.

Hairus bermimpi membaca berkali-kali buku musik itu. Tapi, isi setiap halaman dari buku musik itu hanya: kau harus yakin bahwa kau bisa! Kemudian terdengar suara lucu dari dalam buku musik itu.

”Hairus, yakin itu harus percaya diri dan bisa itu harus dengan sungguh-sungguh. Itu kuncinya untuk bisa menyanyi dengan bagus.”

”Tapi bagaimana caranya?” tanya Hairus.

”Belajar dengan sungguh- sungguh.”

”Hairus, sudah siang,” suara Kakek membangun tidur Hairus.

”Ya, Kek.”

SEJAK saat itu. Hairus pun belajar menyanyikan lirik di dalam buku musik itu dengan sungguh-sungguh.

”Hairus,” panggil Pak Zira, ”sekarang giliranmu menyanyi.”

Seperti biasanya, setiap kali Hairus mau menyanyi di kelas, pasti tawa teman-temannya meledak.

”Ini dia penyanyi kita, cucu dari jagoan raja keroncong di kota ini,” ejek Rico yang disertai tawa teman- temannya.

”Mari kita berdoa semoga kita tidak lekas sakit perut mendengar suara Hairus,” tambah Zizi.

Tapi, tidak seperti hari- hari sebelumnya, di mana saat diejek Hairus takut dan malu. Siang ini, Hairus melangkah dengan gagah penuh percaya diri.

Selesai mengucapkan salam dan menatap semua temannya dengan percaya diri, Hairus pun bernyanyi lagu ”Gambang Suling”.

Gambang Suling.

Kumandang suarane…

SEKETIKA itu semua siswa tersihir dengan suara Hairus yang indah dan merdu. Tak ada berisik sedikit pun. Semua siswa menikmati alunan tinggi rendahnya intonasi suara Hairus dengan saksama.

Setelah Hairus selesai, langsung semua siswa berdiri dan bertepuk tangan, seperti sedang menyambut artis yang mau mendapat penghargaan….

”Hebat, Hairus…!!!” seru teman-temannya.

Adegan ini persis seperti seorang artis yang sedang konser kolosal.

Sejak saat itu, nama Hairus melegenda di seantero kelas, bahkan kota. Nama penerus raja keroncong telah lahir: Hairus.

”Ha-ha-ha…,” Hairus tertawa sendiri di kamar mengingat kejadian itu.

”Terima kasih Kek, terima kasih buku musik, karena bantuan kalian yang mengajarkan prinsip: kau harus yakin bahwa kau bisa!” kata Hairus dalam hati.

Heru Kurniawan Penulis Cerita Anak; Tinggal di Purwokerto

Perbedaan Keuntungan Les Privat dan Bimbingan Belajar

Kenaikan kelas tidak lama lagi. Walau sudah belajar keras, kadang kita masih gelisah, deg-degan, khawatir tidak bisa mengerjakan ujian akhir. Walau tinggal beberapa minggu lagi, tak ada salahnya kita mempersiapkan diri, misalnya dengan belajar bersama, ikut les privat atau bimbingan belajar di sekolah.

Di sekolah kita memang sudah belajar, tetapi di rumah kita harus belajar lagi. PR adalah latihan dalam memecahkan soal.

Paling enak bila kita bisa belajar bersama, di sana kita bisa bertanya langsung tentang hal-hal yang tidak dimengerti.

Tetapi kadang belajar di sekolah pun kita merasa masih kurang. Untuk itulah kita membutuhkan pelajaran tambahan di luar jam sekolah, yang disebut les.

Kita bisa mengikuti les privat, semiprivat (berkelompok), atau bimbingan belajar (bimbel) yang diadakan lembaga bimbingan belajar.

Les privat berlangsung di rumah, dengan guru les dipanggil ke rumah. Karena hanya menghadapi satu murid, guru privat punya waktu untuk menerangkan dengan lebih rinci dan jelas.

Les privat cocok untuk kita yang ingin belajar dengan suasana tenang, tidak berisik. Terutama buat kamu yang agak malu bertanya di dalam kelas. Dengan guru privat, kita bisa bertanya sepuas-puasnya.

Sama seperti les privat, les ini juga diadakan di rumah. Tetapi pesertanya lebih dari satu. Bila punya kelompok belajar, kamu bisa mengajak kelompok belajar dan memanggil guru les ke rumah.

Lebih enak lagi kalau tempat lesnya berpindah- pindah sehingga semua peserta mendapat giliran rumahnya menjadi tempat kursus.

Ada beberapa sekolah yang setiap menghadapi kenaikan kelas mengadakan bimbingan belajar (bimbel) untuk sekelas. Tidak ada keharusan ikut, kalau kamu memang memilih ikut les privat atau semiprivat.

Bimbingan belajar di kelas ini sebetulnya lebih menarik karena banyak teman, dengan guru yang sama. Karena bimbingan belajar ini di luar jam pelajaran biasa, suasananya lebih santai, maka pelajaran pun biasanya lebih mudah dicerna.

Selain bimbingan belajar yang diadakan di sekolah, sekarang banyak sekali tempat kursus yang mengadakan bimbel.

Ada keuntungan bagi teman-teman kelas enam ikut bimbel. Karena di bimbel selain mengulang seluruh pelajaran, kita juga diajak mengerjakan soal-soal ujian tahun-tahun sebelumnya.

Untuk menghadapi ujian akhir kita memang harus rajin latihan, tidak sering bolos bimbel, dan mencapai nilai tertentu untuk setiap try out (uji coba) yang diadakan.

Boleh santai asal tetap sopan

Les di rumah, ikut semiprivat, atau bimbingan belajar, harus kita sadari dari awal sifatnya hanya pelajaran tambahan. Berhasil tidaknya kita ikut kegiatan ini, tergantung sikap kita sendiri. Agar kita termotivasi belajar dengan tekun, siapkan sikap saat berangkat kursus dengan:

1. Pakailah pakaian yang sopan, tetapi nyaman agar tidak mengganggu konsentrasi.

2. Kita boleh menggunakan sepatu sandal, atau sandal yang ringan, asal bukan

sandal jepit.

3. Tetaplah hormat kepada pembimbing walau kita tidak memanggil bapak atau

ibu seperti di sekolah. Panggilan guru pembimbing biasanya kakak.

4. Berteman dengan baik dengan sesama peserta, yang biasanya dari beberapa

sekolah berbeda. Keakraban dengan sesama peserta membuat suasana belajar

lebih nyaman.

5. Usahakan tidak sering membolos, tetap mempertahankan semangat belajar.

6. Suasana kelas memang lebih santai, tidak seserius belajar di sekolah.

Maharani Aulia, Penulis Lepas; Tinggal di Surabaya.

Cerpen: Belati Di Hatiku

AKU mendatangimu dengan dua malaikat di kedua sisiku. Malaikat di sebelah kananku, semenjak hari kelahiranku, hanya mengharapkan aku melakukan kebaikan, lalu menuliskan semua kebaikan itu di dalam jutaan lembar kulit kambing berbungkus kain sutra putih yang selalu didekapnya, dan kulit-kulit itulah yang nanti akan ia bangga-banggakan kepada penciptanya.

Malaikat di sebelah kiriku, hingga hari kematianku, tidak pernah mengharapkan aku melakukan kejahatan, meski yang ia lakukan hanya menuliskan kejahatan-kejahatan yang kulakukan di dalam jutaan lembar kulit kambing berbungkus kain lusuh hitam yang selalu didekapnya, dan kulit-kulit itulah nanti yang akan ia perlihatkan kepada penciptanya.

Bajuku tebal berwarna lumut namun terlalu banyak lumut yang menutupinya, panjang menyentuh bumi dan menutupi jari-jari tanganku. Rambutku panjang melebihi punggung dan tidak pernah kucuci dengan batang-batang padi kering maka sering membuat kepalaku gatal-gatal dan berkutu dan sudah puluhan tahun kusengajakan berpilin-pilin, meski aku membenci Daun Kenikmatan karena akan membuatku bodoh dan bicaraku bagai orang dungu. Kuku di tangan kiri dan kananku panjang-panjang sehingga mirip setan bermata besar, bergigi taring, berambut putih panjang sekaki, bongkok dan berpunuk yang muncul dari balik asap ledakan, kata orang ledakan sekantung kecil pasir warna abu-abu, padahal tidak mungkin sekantung kecil pasir warna abu-abu meledak sedahsyat itu.

Tidak ada alas kaki, tidak ada mahkota berlian, tidak ada kereta kuda.

2

KEDUA telapak tanganku terbuka, menampung hatiku yang merah di tangan kanan namun tidak berlumur darah karena telah kubersihkan karena kutahu akan kuperlihatkan kepadamu, lalu belati mengkilat di tangan kiri, yang belum lama kupakai untuk merobek dadaku dan sudah kubersihkan karena kutahu akan kuperlihatkan kepadamu.

Inilah kabar yang seharusnya dilihat dan didengar semua orang. Sebuah berita, bukan cerita, karena ada beda yang nyata antara aksara kedua dengan aksara ketiga, meski hanya satu, karena sebuah berita seharusnya berguna, begitu pula cerita. Bukan tentang jubah yang dikenakan si Anak Pertama. Bukan tentang makanan yang masuk ke perut si Anak Kedua. Bukan tentang permata yang mengelilingi lengan si Anak Ketiga. Sampah. Bukan tentang si Mata Besar yang menawarkan cincin kepada si Mata Kecil. Bukan tentang si Kuping Besar yang memberi cincin kepada si Kuping Kecil. Bukan tentang si Hidung Besar yang mengambil cincin dari jari si Hidung Kecil. Sampah. Sampah. Bukan tentang si Gemuk yang tubuhnya kurus tiba-tiba. Bukan tentang si Kurus yang tubuhnya menggelembung tiba-tiba. Bukan tentang si Hidup yang mati tiba-tiba. Sampah. Sampah. Sampah.

Sering kepalaku berputar-putar dan mataku menjadi gelap gulita bila memikirkan anak-anak perempuan setiap hari, dari pagi hingga malam, hingga kembali pagi, melahap sampah-sampah di dalam rumah-rumah mereka, sampah beku dan sampah bergerak, begitu pula perempuan-perempuan berketurunan puluhan yang hanya bergerak dari kasur ke sumur ke dapur, dari sumur ke dapur ke kasur, dari dapur ke kasur ke sumur, dari sumur ke kasur ke dapur.

3

SANG Kejahatan dan Sang Kebaikan sering bertengkar di dalam kepalaku. Suaranya membuatku gundah dan berputar-putar tiga belas putaran. Mereka bersuara sama memekakkan, bahkan selalu memukul-mukul tempurung kepalaku dengan tombak besi merah dan tongkat kayu putih di tangan kanan mereka hingga membuat kepalaku semakin berputar-putar dua puluh enam putaran.

Bila Sang Kejahatan memenangkan pertengkaran karena suaranya lebih memekakkan, maka ia akan bersorak- sorai sambil menghentak-hentakkan tombak besi merah ke tempurung kepalaku, dan Sang Kebaikan akan menangis tersedu-sedu sambil memukul-mukulkan tongkat kayu putih di tangan kanannya, juga ke tempurung kepalaku.

Bila Sang Kejahatan kalah dalam pertengkaran karena suaranya kurang memekakkan, maka ia akan menangis tersedu-sedu sambil memukul-mukulkan tombak besi merah ke tempurung kepalaku, dan Sang Kebaikan akan bersorak-sorai sambil menghentak-hentakkan tongkat kayu putih di tangan kanannya, juga ke tempurung kepalaku.

Maka aku sering diam, dan berpikir lebih baik tidak berkeinginan mempunyai keinginan.

4

HATI dan belati bukan pilihan yang harus kau pilih. Engkau bukan sedang ikut berjudi dalam lingkaran empat-lima orang, atau permainan mengadu nasib yang dilihat 155 juta orang semalam suntuk di seluruh negeri.

Hati dan belati, hari ini, bukan perumpamaan yang diucapkan para lelaki yang sepanjang hari menyembunyikan taring dan tanduknya dengan wajah laksana Sang Kebaikan dan mengenakan mahkota berlian di atas kereta kuda mewah berpahat lambang-lambang kerajaan.

Hati kuberikan dengan kerelaan, karena aku ingin engkau menyimpannya di dadamu, sebelum aku merobek dadamu dan mengambil hatimu dan menyimpannya di dadaku, maka kita tidak perlu mempertarungkan kata-kata tentang isinya sewaktu-waktu hingga berhari-hari dan membuat kita bagai orang tanpa kepala.

Belati kubawakan bukan untuk mengancammu, melukaimu, bahkan membunuhmu. Aku hanya ingin melindungimu dari iblis-iblis bertaring dan bertanduk dan berbulu dan berekor dan berlidah cabang tiga belas yang akan mencakari tubuhmu dari kiri dan kanan, dari depan dan belakang, dan dari pencoleng-pencoleng yang akan merobek dadamu dan mengambil hatiku yang disangkanya hatimu dan menyimpannya di dada mereka, padahal seharusnya mereka tahu ruang di dadamu hanya cukup untuk hatiku dan ruang di dadaku hanya cukup untuk hatimu, karena hati kita sama besar, sungguh-sungguh sama, maka itulah yang membuat kita bisa hidup selamanya bila kita telah merobek dada dan menukarnya. Tidak mati salah satunya hanya lebih dahulu beberapa helaan, karena sudah pasti disusul kematian berikutnya.

Kematianku, atau kematianmu.

5

TERIMALAH hati dan belati yang kubawa, karena inilah harta yang kumiliki. Semata. Aku tidak akan membeli tubuhmu dengan sebongkah besar berlian atau sebuah istana berpintu seribu menghadap laut, karena aku tidak memilikinya dan aku bukan lelaki yang akan menyimpan perempuan-perempuan mereka di dalam kamar-kamar rahasia dan menyetubuhinya siang dan malam dengan kerakusan.

Bila sudah kurobek dadamu dan mengambil hatimu dan menyimpannya di dadaku, dan hatiku yang kubawa di tangan kananku kuletakkan di dadamu, maka akan kuhadiahi engkau dengan bunga-bunga setiap pagi dan malam.

Pagi ketika engkau terbangun dari tidur dengan rambutmu yang panjang dan berantakan tetapi wajahmu tetap indah, padahal pernah kudengar seorang perempuan tua berkata, ”Seorang perempuan nyata indahnya ketika ia terbangun dari tidur pagi harinya.”

Malam ketika engkau akan terlelap dalam mimpi-mimpi yang kuharapkan indah, dengan rambutmu yang tersisir dan wangi bunga-bunga yang akan membuat wajahmu semata-mata indah dan memabukkanku, padahal pernah kudengar seorang lelaki tua berkata, ”Keindahan perempuan untuk di mata dan di badan.”

Akan kuberikan engkau ciuman di kening setiap malam dan pagi hari sebagai rasa bungah cintaku kepadamu. Bukan lumatan di bibir atau buah dadamu, karena aku mencintai hadirmu, bukan semata tubuhmu, maka aku tidak akan memperkosamu sejak sebelum tengah malam hingga ayam jantan berkokok bersama keluarnya matahari.

Malam ketika engkau akan terlelap dalam mimpi-mimpi yang kuharapkan indah, dengan rambutmu yang tersisir dan wangi bunga-bunga yang akan membuat wajahmu semata-mata indah dan memabukkanku. Pagi ketika engkau terbangun dari tidur dengan rambutmu yang panjang dan berantakan tetapi wajahmu tetap indah. Semata-mata.

Akan kuganti baju tebal berwarna lumut namun terlalu banyak lumut yang menutupinya, panjang menyentuh bumi dan menutupi jari-jari tanganku, dengan jubah berwarna merah bersulam naga-naga dari benang emas, meski tetap panjang menyentuh bumi dan menutupi jari-jari tanganku.

Akan kuhabisi rambut panjang melebihi punggung yang tidak pernah kucuci dengan batang-batang padi kering dan sering membuat kepalaku gatal-gatal dan berkutu dan sudah puluhan tahun kusengajakan berpilin-pilin, meski aku membenci Daun Kenikmatan karena akan membuatku bodoh dan bicaraku bagai orang dungu. Maka rupaku akan laksana Penguasa Negeri Pasir, meski aku membenci manusia bodoh yang menganggap dirinya Sang Maha Segala dan aku selalu tertawa bila mengingatnya tenggelam bersama pasukan berkudanya di laut luas saat mengejar lelaki yang dijadikannya sebagai musuh besar, yang pergi bersama pengikut-pengikutnya, padahal saat kanak-kanak lelaki itu dijadikannya sebagai saudara sedarah karena mereka datang dari dua rahim.

Akan kupotong kuku di tangan kiri dan kanan yang panjang-panjang sehingga aku mirip setan bermata besar, bergigi taring, berambut putih panjang sekaki, bongkok dan berpunuk yang muncul dari balik asap ledakan, kata orang ledakan sekantung kecil pasir warna abu-abu, padahal tidak mungkin sekantung kecil pasir warna abu-abu meledak sedahsyat itu. Maka tanganku akan begitu indah hingga tidak lagi membuatku laksana setan yang datang dari lubang-lubang besar di kaki gunung.

Terompah dari kulit domba dengan lapis sutra dan butir-butir emas akan membungkus kedua kakiku. Mahkota dari emas dengan butir-butir berlian dan permata akan melindungi kepalaku. Sebuah kereta dengan kuda-kuda yang kuat dan bersih akan mengikutiku kemana angin.

6

NAMUN aku tidak akan memaksamu. Bila hari ini engkau mengutuk sebuah ketiba-tibaan, maka aku akan menunggumu hingga beberapa hari berpikir meski kerut-kerut membuat keningmu hilang indahnya, dan hari ketujuh aku akan kembali mendatangi dengan sebuah pertanyaan berhari lalu: ”Bersediakah engkau menerima hati dan belati yang kubawakan untukmu?”

Bila hari itu engkau belum pula memiliki kata, maka aku akan mendatangimu tujuh hari kemudian, lalu pada hari ke-21, 28, 35, 42, 49, 56, 63, 70, 77, 84, 91, 98, 105, 112, 119, 126, 133, 140, 147, 154, 161, 168, 175, 182, 196, 203, 210, 217, 224, 231, 238, 245, 252, 259, 266, 273, 280, 287, 294, 301, 308, 315, 322, 329, 336, 343, 350, 357, 364.

Lalu pada hari ke-365 aku akan berhenti, karena aku tahu, engkau tidak berkenan.

Tentu tubuhku terlalu bau dan kotor, meski wajahku tidaklah buruk, maka engkau menampik diriku. Tentu aku membawa persembahan yang tidak akan membawamu ke atas menara emas, maka engkau tapi-kan diriku. Tentu engkau mengharapkan seorang lelaki akan membeli tubuhmu dengan sebongkah besar berlian atau sebuah istana berpintu seribu menghadap laut, meski engkau tahu akan disimpannya bersama perempuan-perempuan lain di dalam kamar-kamar rahasia dan engkau akan disetubuhinya siang dan malam dengan kerakusan semata. Dengan kerakusan. Semata.

Namun aku bahagia karena hari ini suara Sang Kejahatan kalah memekakkan. Ia menangis tersedu-sedu sambil memukul-mukulkan tombak besi merah ke tempurung kepalaku, dan Sang Kebaikan akan bersorak-sorai sambil menghentak-hentakkan tongkat kayu putih di tangan kanannya, juga ke tempurung kepalaku.

Meski membuatku semakin pusing tiga belas putaran.

Kubawa sakit di kepala dan kakiku yang retak-retak kepanasan, mengelilingi tanah-tanah dan pasir-pasir dan debu-debu dengan kedua telapak tanganku yang terbuka, mencari tempat menghadap laut untuk menanam hatiku yang merah dan tidak lagi berlumur darah di tangan kanan, dan belati mengkilat di tangan kiri.

Aku akan menunggumu di gerbang ruh-ruh abadi.

Pondok Pinang, 2302

Kumpulan Puisi: Guruku Inspirasiku

Kau adalah orangtuaku di sekolah

Yang juga menyayangiku

Jika ada kesulitan

Aku bertanya padamu

Kau tulis dan sabar dalam mengajarku

Walaupun lelah dan berkeringat

Betapa besar jasamu bagiku

Aku akan menghormatimu sepanjang masa

Guruku…

Inspirasiku

Bina Vidyaistanti

Kelas IV SDN Winong 01, Pati,

Jawa Tengah

Guruku

Engkaulah yang mengajariku

Menghitung dari angka satu sampai menjadi perkalian

Engkaulah yang mengajariku

Membaca dari huruf A sampai menjadi satu kalimat

Pagi sampai siang kau memberikan waktumu

Untuk murid-muridmu

Engkaulah yang membuat kami tahu banyak hal

Guruku

Engkau mengajari murid-muridmu

Dengan tekun dan tanpa lelah

Tanpamu kami tidak pintar menulis

Membaca dan menghitung

Tanpamu kami tidak tahu tentang peta Indonesia

Dan terjadinya gerhana

Guruku

Engkau yang disebut pahlawan tanpa tanda jasa

Kehadiranmu tak tergantikan

Terima kasih atas jasa-jasamu kepada kami

Tetaplah semangat dalam mencerdaskan bangsa

Yacinta Mutiara Herdyani Santosa

Kelas IV SD Kanisius Babadan, Yogyakarta

Terima Kasih Guru

Setiap pagi kuucapkan selamat pagi untukmu

Tak henti-henti kata-katamu mengalir

Memenuhi gelas pikiranku

Agar menjadi anak pandai

Engkau adalah jendela dunia

Setiap pagi pintu hatimu terbuka

Bagi kami

Untuk menatap masa depan yang bahagia

Agar tak terlindas era globalisasi

Oh… kau sangat berjasa kepada kami

Terima kasih guru

Nurul Fitria Kelas VII SMPN 2 Babelan, Bekasi