Category Archives: Bahasa Daerah

Rujukan Aksara “Lontarak” dan Naskah Kuno beraksara Bugis-Makassar

Muhammad Salim adalah bukti hidup bahwa penghargaan datang bukan karena gelar dan jabatan, tetapi karena karya berkelanjutan. Hampir sepanjang hidup ia menekuni ”lontarak”, naskah kuno beraksara Bugis-Makassar. Dia menghidupkan dan memaknainya kendati ini kerja sunyi tanpa banyak imbalan.

Kami bertemu di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, tempat Salim ”bekerja” yang tak memberinya honor empat tahun terakhir. Dengan semua itu, ia bersetia mengawal pendokumentasian lontarak dari seluruh penjuru Sulsel.

Lontarak adalah kehidupan Salim. Aktivitas menyalin lontarak ke huruf Latin (transliterasi) lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia (translasi) ibarat menu hariannya. Dalam sehari ia menghabiskan dua hingga tiga jam untuk menyalin lontarak, termasuk Lontarak Enrekang, proyek yang baru dia mulai.

Meski demikian, yang membuat nama Salim diperhitungkan hingga mancanegara tentulah Sureq Galigo. Dia terpilih dalam Proyek Transliterasi dan Terjemahan Sureq Galigo yang digagas Universitas Leiden, Belanda, tahun 1987. Ia mulai bekerja tahun 1988 dan membutuhkan waktu 5 tahun 2 bulan untuk menerjemahkan hikayat penciptaan peradaban manusia di Sulsel itu.

Naskah I La Galigo di Universitas Leiden memiliki tebal sekitar 6.000 halaman. Arung Pancana Toa-lah yang memberikan naskah ini kepada orang Belanda, BF Matthes. Naskah di Leiden termasuk kisah paling lengkap kendati belum sepenuhnya selesai. Sebenarnya masih banyak lontarak yang terserak dan belum ditemukan.

Tidak mudah menerjemahkan I La Galigo, karya sastra terpanjang yang berabad-abad ”tertidur”. Salim tak sekadar membaca teks, tetapi juga konteksnya. Galigo merupakan karya sastra yang khas dengan pola pengejaan lima-lima, seperti: i-la-ga-li-go dan sa-we-ri-ga-ding.

Melalui pergulatannya, Salim menemukan Sureq Galigo juga menggunakan bahasa Bugis klasik dan Sanskerta, contohnya pada Sangiangserri yang artinya Dewi Padi. ”Dalam Sanskerta, dikenal Sang Hyang Sri, yang juga Dewi Padi.”

Dalam penerjemahan, ia membutuhkan tiga kamus sekaligus, yakni bahasa Bugis-bahasa Belanda lama, bahasa Belanda lama-bahasa Melayu lama, dan bahasa Melayu lama-bahasa Indonesia.

Penerjemahan Galigo memang melelahkan. Ruang kerja di rumah panggungnya berupa bilik. Sejak pukul 08.00 hingga 17.00 ia menekuni aksara kuno. Di sebelah meja kerja, ada kasur untuk Salim beristirahat sewaktu-waktu.

Honor transliterasi kala itu 5 dollar AS per lembar, sedangkan translasi 8 dollar AS per lembar. ”Uangnya saya pakai untuk beribadah haji. Saya tak suka beli barang,” tuturnya.

Mendunia

Nama Salim ikut mendunia bersama ”terbangunnya” I La Galigo. Mata dunia memandangnya seakan dia baru muncul. Padahal, jauh sebelumnya ia sudah tenggelam dalam dunia lontarak. Lahir dan besar di Pangkajene, Sidenreng Rappang, Sulsel, ia terbiasa membaca lontarak.

Pada masa lalu masyarakat menuliskan kisah dalam aksara lontarak. Apa pun bisa diceritakan; ilmu perbintangan, hubungan suami-istri, silsilah keluarga, pantangan, doa-doa, hingga nyanyian. Salim kecil belajar membaca lontarak dari neneknya.

Kemampuan ini terasah saat ia masuk pesantren di Allakuang, Sidenreng Rappang (Sidrap). Dia bergurukan KH Muhammad Yafie dan Muhammad Abduh Pabbajah. Murid-murid di sini terbiasa menerjemahkan Al Quran dalam bahasa Arab ke bahasa Bugis. Semuanya ditulis dalam huruf lontarak.

Seperti telah digariskan, hidup Salim tak pernah jauh dari lontarak. Lulus Sekolah Guru Bawah (SGB), ia mengajar pelajaran bahasa Bugis di satu-satunya sekolah menengah pertama di Pangkajene selama delapan tahun.

Berselang setahun, ia menempuh pendidikan guru sekolah lanjutan jurusan Bahasa Bugis di Makassar. Dia lalu ditarik ke kampung halaman, menjadi Kepala Dinas Kebudayaan Sidrap pada 1971.

Dengan posisinya itu, Salim kian gencar memopulerkan lontarak bagi pelajar. Ia mendorong penerbitan buku cerita rakyat dalam huruf lontarak untuk tingkat sekolah dasar dan buku nyanyian untuk tingkat SMP. Satu buku cerita bisa ditukar dengan satu liter beras atau satu kelapa bagi keluarga yang tak punya uang.

Tahun 1980, saat menjadi staf Dinas Permuseuman, Sejarah, dan Kepurbakalaan Sulsel, ia berkesempatan menyelami naskah kuno. Ia lalu menggagas proyek pengumpulan lontarak. Ia menjelajahi seluruh kabupaten di Sulsel hingga Kabupaten Selayar ”berburu” lontarak.

Proyek ini bertujuan mendokumentasikan lontarak di Sulsel dan menerjemahkannya. ”Banyak sekali lontarak berisi pengetahuan yang bisa diterapkan sampai kini, seperti pengobatan dan pertanian,” ujarnya.

Dari perburuan itu, Salim mengumpulkan lebih dari 100 lontarak. Semua tersimpan rapi di Yayasan Kebudayaan Sulsel. Beberapa lontarak sudah disalin ke huruf Latin dan sejumlah kecil diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Namun, banyak yang tak diterbitkan karena kurangnya dana.

Harta karun sejarah ini lebih menarik minat peneliti asing. Bahkan I La Galigo pun diterjemahkan tanpa bantuan uang Pemerintah Indonesia.

Tanpa gelar

Salim menjadi rujukan siapa pun yang meneliti lontarak. Ia masih bersemangat bicara tentang lontarak.

Ia percaya, pengetahuan juga digembleng karena pengalaman. Dia bukan profesor, tetapi kefasihannya memaknai lontarak membuatnya bertemu para profesor asing. Mereka takjub melihat orang yang menghidupkan kembali epos Sawerigading adalah pria sederhana.

Dalam hati, Salim tetap merasa sebagai guru. Ia ingin menularkan ilmunya kepada banyak guru dan mahasiswa. Untuk itu dia mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin. Dia juga bertahan di Yayasan Kebudayaan Sulsel. Padahal. bisa dikatakan yayasan ini bangkrut, tak ada uang dan peneliti. Beberapa buku penting terkait sejarah di kawasan timur Indonesia diambil alih Arsip Nasional.

Yang tersisa dari yayasan adalah lontarak, pekerja berhonor kecil, dan Salim. Kendati demikian, yayasan ini telah menjadi ”rumah” bagi Salim yang setia dengan Vespa tuanya. Hanya bila hujan deras saja dia urung datang. ”Khawatir Vespa-nya mogok,” kata pria bercucu tujuh dan bercicit satu ini.

Warisan Salim ialah penerjemahan I La Galigo, dan dunia patut berterima kasih kepadanya.

***

Muhammad Salim

• Lahir: Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, 4 Mei 1936

• Istri: Hj Djamiah (65)

• Anak: – Husnah Salim – Nurdinah Salim – Hamdan Salim

• Kegiatan: – Dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin – Peneliti di Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan

• Lontarak yang disalin dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia antara lain: – Sureq Galigo – Lontarak Sidenreng – Lontarak Soppeng/Luwu – Budhistihara yang berisi nasihat keagamaan – Pappaseng – Lontarak Enrekang (dalam pengerjaan)

Cara Belajar Aksara Incoung Warisan Budaya Proto-Melayu Dari Kerinci Jambi

Para pelaku seni budaya Jambi mengaku sangat berhasrat belajar penulisan dan pembacaan aksara Incoung yang merupakan khazanah budaya Jambi warisan peradaban Proto-Melayu di Kabupaten Kerinci.

“Karena sudah diakui sebagai salah satu khazanah budaya dan segera diusulkan untuk dipatenkan oleh Kemenbudpar, para seniman Jambi tentu saja ingin sekali diajarkan cara membaca dan menulis aksara yang menjadi bukti telah tingginya peradaban Jambi di masa silam, khususnya di Suku Kerinci,” ungkap Kepala Taman Budaya Jambi Jafar Rasuh, di Jambi, Kamis (19/5/2011).

Dia mengatakan, Dewan Kesenian Jambi (DKJ) dalam program kerjanya untuk periode 2011-2015 telah merekomendasikan agar aksara Incoung Kerinci dapat dipopulerkan pada masa mendatang dengan sebutan “Incoung Jambi” sebagai salah satu strategi guna lebih memasyarakatkan dan menjadikan Incoung sebagai khazanah budaya Jambi secara menyeluruh, tidak lagi sebatas Kerinci.

Oleh karena itulah, Taman Budaya Jambi menyambut baik program yang diwacanakan dan direncanakan, termasuk workshop atau pelatihan transfer ilmu tentang teknik membaca dan menulis aksara tersebut, bahkan juga belajar tentang filosofi, sejarah, dan penyebarannya di Sumatera hingga di Nusantara.

“Saat ini di masyarakat Kerinci sendiri, aksara Incoung sama sekali tidak populer, bahkan nyaris punah. Ini karena hingga kini tokoh masyarakat yang masih bisa membaca aksara itu kian langka, bahkan nyaris tidak ada. Oleh karena itu, perlu upaya revitalisasi sporadis sesegera mungkin dengan strategi menggalakkan pelatihan terhadap generasi muda,” ungkapnya.

Keperluan tahap transfer pengetahuan dan kemampuan secara massal sporadis tersebut perlu terlebih dahulu dipersiapkan oleh para calon instruktur dan para seniman pelaku budaya itu, yaitu mereka yang memiliki ketertarikan atau minat besar untuk belajar aksara tersebut.

Tenaga merekalah yang nantinya akan dipergunakan untuk mengajarkan aksara tersebut ke generasi muda di sekolah-sekolah, sanggar-sanggar, dan balai-balai pemuda di desa-desa.

Menurut Jafar, para tokoh Kerinci yang masih bisa baca tulis aksara Incoung itu hanya tersisa empat hingga enam orang. Mereka inilah yang diharapkan terlebih dahulu menularkan ilmunya kepada para calon instruktur atau pengajar aksara itu kepada masyarakat luas.

“Para seniman memiliki minat besar. Selain itu, mereka juga relatif memiliki kepedulian budaya yang lebih baik dibanding orang-orang dengan profesi lainnya. Mereka juga relatif lebih memiliki banyak waktu luang untuk selanjutnya berhubungan dengan masyarakat luas dibandingkan orang-orang dengan profesi lain, seperti PNS atau karyawan swasta,” kata Jafar.

Di sisi lain, kemampuan menguasai dan mempergunakan aksara itu di kalangan seniman lebih dari sekadar kemampuan fisikal. Mereka akan menyerap segala unsur estetika dan kultural yang terkandung di dalamnya sehingga berikutnya mengendap dan menjadi sumber inspirasi mereka dalam berkarya.

“Semisal bagi perupa, tentu akan menerjemahkan aplikasi aksara tersebut dalam bentuk lukisan, patung, atau instalasi. Bagi sastrawan, mereka tentu akan menerjemahkan filosofi aksara itu ke dalam puisi atau prosa. Begitu pula bagi penari, mereka tentu akan tergerak hatinya menciptakan gerak dari menerjemahkan bentuk aksara tersebut. Begitu juga dalam genre lain, musik, teater, film, dan fotografi, mereka tentu punya visi dan cara tersendiri mengekspresikan pemahamannya itu,” tutur Jafar.

Dia mengatakan, DKJ bahkan menargetkan bahwa pada 2015 nanti setidaknya akan ada 10 persen generasi muda Kerinci yang bisa baca tulis aksara Incoung.

Menurut Jafar, tidak memasyarakatnya aksara Incoung selama ini lebih dikarenakan tidak adanya upaya sadar dari para tokoh untuk mewariskan kemampuannya tersebut kepada generasi muda.

Selain itu, generasi muda Kerinci juga cenderung tidak berminat belajar kebudayaan karena pola pikir modernisasi tentang hidup yang praktis dan konsumtif mulai menjangkiti kebudayaan masyarakat sehingga mereka jadi tidak acuh dan tidak peduli.

“Selain itu, kultur masyarakat Kerinci yang tertutup membuat para tokoh jadi lebih memilih untuk merahasiakan ilmunya. Mereka mungkin beranggapan jika banyak yang bisa membaca aksara itu, maka lahan pekerjaan dan kesan mereka sebagai tokoh yang disegani akan luntur atau berkurang di mata masyarakatnya,” kata Jafar.

Pemahaman tersebut tentu saja sangat berdampak negatif dan tidak sehat bagi keberlangsungan proses kebudayaan di tengah masyarakat pemiliknya.

“Buktinya, masyarakat China dengan huruf kanjinya dan masyarakat Arab dengan aksara Arab dapat terus tumbuh berkembang hingga saat ini berkat proses transfer ilmu yang terus terjadi terhadap aksara itu, dari generasi ke generasi, sehingga dia muncul sebagai identitas. Segenap masyarakat pun merasa wajib memakainya. Itu mestinya ditiru dalam proses pengembangan keberadaan aksara Incoung,” katanya.

Penerjemah Aksara Kaganga Di Bengkulu Makin Langka

Kepala Museum Negeri Bengkulu Ahadin mengatakan, penerjemah naskah kuno yang ditulis dengan aksara Kaganga semakin langka sehingga banyak koleksi museum yang belum diterjemahkan. “Hingga saat ini hanya Profesor Sarwit Sarwono dari Universitas Bengkulu yang pernah menerjemahkan sejumlah naskah kuno aksara Kaganga koleksi museum,” katanya di Bengkulu, Sabtu.

Aksara Kaganga adalah huruf daerah Bengkulu.

Minimnya penerjemah naskah kuno yang sebagian besar diperoleh dari tangan masyarakat tersebut, katanya, membuat baru 5 persen dari 126 koleksi naskah kuno yang ada di museum itu. Hingga saat ini, kata dia, baru 10 naskah yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Sebagian besar naskah kuno tersebut juga tidak diketahui identitas penulisannya (anonim). Koleksi naskah kuno yang sudah diterjemahkan tersebut, antara lain, berisi pantun, ramuan obat, sejarah, dan wejangan yang sudah berumur puluhan, bahkan ratusan tahun. “Koleksi ini sangat berharga. Tetapi kelemahannya, penerjemah sangat minim. Pak Sarwit juga membawa naskah itu ke daerah asalnya dan mencari orangtua yang masih bisa mengerti aksara Kaganga,” ujarnya. Selain keterbatasan penerjemah, ketersediaan anggaran juga menjadi kendala untuk menerjemahkan naskah kuno tersebut.

Keterbatasan anggaran tersebut membuat kegiatan penerjemahan naskah kuno dilakukan terakhir tahun 2003. “Sejak itu belum pernah ada lagi kegiatan penerjemahan naskah kuno karena kendala dana, setidaknya kami membutuhkan Rp 150 juta hingga Rp 200 juta,” ujarnya.

Anggaran tersebut, selain menerjemahkan naskah kuno yang membutuhkan bantuan dari masyarakat yang masih mengenal aksara Kaganga, juga untuk mencetak terjemahan tersebut. Ahadin mengaku selalu mengusulkan anggaran tersebut setiap tahun dalam APBD provinsi, tetapi belum terealisasi. “Kami berharap pemerintah daerah juga memerhatikan kegiatan menggali informasi dari naskah kuno yang ditulis nenek moyang kita karena banyak ilmu dan pelajaran yang tercantum di dalamnya,” katanya.

Selain naskah kuno, museum yang berdiri di atas lahan seluas 9.974 meter persegi tersebut juga menyimpan 6.000 koleksi lainnya, antara lain tenunan kain tradisional Bengkulu dan mesin cetak Drukkey Populair dengan merek “Golden Press” yang digunakan Pemerintah Indonesia untuk mencetak “uang merah”.

Bahasa Indonesia: Akibat Bahasa Kumpul Kebo

Ada perbedaan yang jelas antara proses penyerapan kosakata asing zaman dulu dari yang sekarang. Dahulu penyerapan didasarkan pada pendengaran dan hasilnya ditulis dengan huruf yang dianggap paling dekat dengan bunyi vokal atau konsonan Indonesia. Misalnya, chaffeur (Belanda) menjadi sopir, winkel menjadi bengkel, dan luitenant menjadi letnan.

Menurut penelitian mahasiswa saya, bentuk serapan dari bahasa Belanda hingga awal Perang Dunia Kedua berjumlah kira-kira 4.000 butir. Di samping itu selama berabad-abad berlangsung penyerapan antara lain dari bahasa Sanskerta, Arab, Cina, Portugis, Tamil, dan Persia. Bahasa Melayu dan bahasa Indonesia dewasa ini paling banyak menyerap kosakata dari bahasa Inggris ragam Amerika, Britania, dan Australia.

Karena bangsa Indonesia sedang memasuki peradaban beraksara dan teknologi informasi, warga masyarakat bangsa Indonesia—di mana pun tinggalnya—diharapkan memakai unsur kosakata serapan dengan bentuk tulisnya sama dan seragam, sedangkan lafalnya dapat berbeda menurut suku etnis dan bahasa daerah yang masih dipakainya.

Ambillah kata Belanda dan Inggris bus, yang di Medan lafalnya mungkin mirip dengan atau , tetapi di Bandung lafalnya menjurus ke seperti kata beureum ‘merah’, dan di Yogya condong ke sebab orang ngebis. Akhir-akhir ini diperkenalkan bentuk busway, dan yang suku awalnya dilafalkan secara Inggris: . Demi keseragaman, yang menjadi ciri pembakuan, kita menetapkan ejaannya jadi bus.

Sejak 1972 dipakai pedoman berikut. Proses penyerapan bertolak dari bentuk tulisan tak lagi dari lafal ungkapan asing. Ejaan kata Inggris management diubah menjadi manajemen yang lafalnya oleh orang Yogya berbeda dari orang Padang. Namun, ejaan atau bentuk tulisannya sama. Namun, karena kita tidak merasa wajib mematuhi kaidah dan aturan, kecuali jika ada sanksi, atau denda, kata basement belum diserap menjadi basemen (ba-se-men) walaupun sudah ada aransemen, klasemen, dan konsumen. Kata basement dapat diterjemahkan jadi ruang bawah tanah dengan akronimnya rubanah.

Sikap taat asas juga perlu diterapkan pada unsur serapan yang berasal dari bahasa daerah Nusantara. Ungkapan kumpul kebo kita nasionalkan menjadi kumpul kerbau karena yang berkumpul serumah itu bukan kerbau-kerbau Jawa saja. Selanjutnya orang yang membangkang atau menentang perintah tidak mbalelo, tetapi membalela. Orang yang tidak berprasangka bahwa daya ungkap bahasa Indonesia masih rendah akan menemukan kata membalela di dalam kamus Poerwadarminta yang terbit pada tahun 1952.

Begitu pula ada kata merisak ‘menakuti atau menyakiti orang yang lebih lemah’ untuk memadankan to bully dan bullying, serta kata berlépak ‘menghabiskan waktu dengan duduk-duduk tanpa melaksanakan sesuatu yang bermanfaat’ untuk mengungkapkan budaya remaja to hang out.

Kita tidak mengenal kosakata Indonesia karena, menurut laporan terakhir, 50 persen dari sekolah dasar dan 35 persen dari sekolah lanjutan pertama pemerintah tidak memiliki koleksi pustaka, dan kamus tidak disertakan berperan dalam proses belajar-mengajar bahasa.

Anton M Moeliono Pereksa Bahasa, Guru Besar Emeritus UI

Minat Baca Buku Berbahasa Daerah Sangat Rendah

Minat baca masyarakat terhadap buku berbahasa daerah, termasuk bahasa Sunda, masih sangat minim. Hal itu rentan menurunkan produktivitas pembuatan karya sastra hingga menghambat pelestarian karya sastra berbahasa daerah.

”Buku fiksi berbahasa Sunda sepertinya semakin kehilangan peminat. Kini, penerbit buku berbahasa Sunda lebih banyak diselamatkan kewajiban pembuatan buku bahasa Sunda untuk muatan lokal pelajaran di sekolah,” kata Direktur CV Geger Sunten Taufik Faturochman di Bandung, Sabtu (12/2).

Taufik khawatir dengan minat membaca buku bahasa daerah yang semakin rendah akan berdampak lebih besar, seperti hilangnya minat penulis membuat karya sastra berbahasa Sunda atau semakin minimnya penggunaan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari. Bila kekhawatiran itu terjadi, Taufik yakin hal itu adalah kerugian besar.

”Penulis pasti akan kehilangan semangat karena bekerja sebatas panggilan hidup tanpa keuntungan. Saat ini, rata-rata penerbit hanya mencetak 5-10 judul buku berbahasa daerah per tahun. Untuk satu buku dengan cetak awal sebanyak 2.000 eksemplar, biasanya baru terjual habis setelah empat tahun,” kata Taufik.

Akan tetapi, Taufik mengakui terbantu proyek pembuatan buku pelajaran bahasa daerah pemerintah daerah Jabar tahun 2010 untuk muatan lokal di sekolah. Pemda Jabar menganggarkan proyek pembuatan buku pelajaran berbahasa Sunda dengan dana Rp 5 miliar per tahun. Proyek itu disebarkan pada 30 penerbit dengan masing-masing berkewajiban mencetak 4.400 eksemplar.

”Namun, kami tidak bisa memprediksikan apakah hal itu akan terus terjadi atau tidak meski sejak awal kami sadar berkecimpung dalam penerbitan bahasa Sunda adalah panggilan hidup dan bukan tempat mencari uang,” katanya.

Sarat pesan

Penulis buku berbahasa Sunda, Dhipa Galuh Purba, prihatin dengan masa depan buku dan karya sastra Sunda ini. Alasannya, banyak buku berbahasa Sunda tidak sekadar memperkenalkan penggunaan tata bahasa Sunda, tetapi sarat pesan menjaga lingkungan sekitar hingga tatanan perilaku. Oleh karena itu, bila minat baca semakin rendah, maka media sosialisasi bagi masyarakat menggunakan buku akan berkurang.

”Menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua bagaimana caranya meningkatkan minat baca pada buku berbahasa Sunda. Di antaranya metode bahasa yang lebih sederhana dan ide cerita yang mudah dicerna para pembaca.

Menurut Ketua Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS) Etti RS, usaha penerbitan buku berbahasa Sunda harus ditingkatkan. Alasannya, minat dan bakat para pengarang Sunda sebenarnya masih tinggi. Mayoritas masih berusaha mempertahankan semangatnya meski pendapatan atau royalti yang mereka dapatkan terbilang sangat minim.

Ia mencontohkan jumlah pengarang Sunda yang bergabung bersama PPSS sekitar 100 orang. Ia memperkirakan, masing-masing masih memiliki naskah fiksi atau nonfiksi berbahasa Sunda yang menunggu untuk diterbitkan.

Bahasa Batak: Sewa dan Penumpang

Rubrik ini pekan lalu berisi ”Matinya Penumpang”. Dalam tulisan itu Mulyo Sunyoto membuat hipotesis bahwa para pengemudi dan kenek bus pengangkutan umum di Jakarta menggunakan kata sewa, bukan penumpang, karena numpang berkonotasi gratisan, sementara sewa berkonotasi membayar. Hipotesis Mulyo ini salah. Sewa dalam konteks pengangkutan umum di Jakarta bukan berasal dari sewa bahasa Indonesia ’pemakaian sesuatu dengan membayar’, melainkan sewa dialek Medan dari bahasa Batak Toba yang memang berarti ’penumpang’.

Penggunaan istilah sewa sebagai padan penumpang di Jakarta mulai marak tahun 1970-an. Pada tahun-tahun itulah etnisitas Batak banyak masuk Jakarta dan sebagian berprofesi sebagai pengemudi serta kenek pengangkutan umum. Merekalah yang telah membawa kata sewa langsung dari Tanah Tapanuli. Lambat laun sopir dan kenek dari semua etnisitas di Indonesia ramai-ramai ikut menggunakan kata sewa sebagai padan kata penumpang. Meski demikian, kata penumpang tidak serta-merta mati. Di bus antarkota, kereta api, kapal laut, bahkan pesawat terbang, kata penumpang tetap digunakan meski ada pengangkutan umum yang mulai memelopori penggunaan kata tamu dan pelanggan sebagai padan penumpang.

Berkaitan dengan bahasan ini, makna penumpang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat bukanlah ’naik tanpa bayar’, melainkan ’orang yang menumpang atau orang yang naik kereta, kapal, dan sebagainya’. Untuk mewadahi ”naik tanpa bayar”, kamus itu menggunakan frasa penumpang gelap.

Definisi kata penumpang dan menumpang dalam KBBI Pusat Bahasa Edisi Keempat itu diadopsi dari Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS Poerwadarminta. KUBI sendiri menyerap kata tumpang dari Baoesastra Djawa, juga susunan WJS Poerwadarminta. Di situ tersua toempang dengan makna soengsoen, tetoempoekan, dan soemèlèh ing sadhuwuré. Arti kata tumpang sebagai ’naik tidak bayar’ baru muncul belakangan dan berasal dari frasa penumpang gelap. Karena itu, tak mungkin sopir dan kenek di Jakarta enggan menggunakan kata penumpang karena konotasinya tidak membayar.

Kata sewa dalam arti penumpang masih digunakan kalangan khusus dan terbatas. Artinya, kata sewa sebagai padan penumpang adalah istilah khusus di dunia pengangkutan umum darat. Itu pun masih sebatas kalangan kecil: sopir, kenek, dan kondektur (bus). Para penumpang sendiri dan pemilik kendaraan tetap menggunakan istilah naik dan penumpang. Taksi mulai menggunakan istilah tamu, sementara kereta api, kapal laut, dan pesawat terbang juga tetap menggunakan istilah penumpang.

Istilah sewa sebagai padan (bukan pengganti) penumpang masih akan lama memasyarakat karena media massa belum menggunakannya. Dunia pendidikan pun melalui buku-buku pelajaran masih belum mengajarkan bahwa sewa merupakan pengganti kata penumpang. Saya yakin kata penumpang belum akan mati dan, sebaliknya, sewa sebagai padannya juga tidak akan mudah keluar dari pengguna khusus dan terbatas: kalangan sopir dan kenek.

Kata sewa di kalangan terbatas itu sama sekali tak ada kaitannya dengan makna pemakaian sesuatu dengan membayar. Penumpang juga bukan bermakna ’naik tidak bayar’. Sewa bukan pengganti, melainkan sinonim penumpang, diambil dari kosakata dialek Batak Toba. Dibawa ke Jakarta, kemudian menyebar ke seluruh Indonesia karena semua sopir dan kenek, apa pun etnisitasnya, merasa lebih pédé berteriak: ”Sewa!”

F Rahardi Sastrawan

Lihat: Bahasa Indonesia: Matinya Penumpang

Bahasa Indonesia: Kasino dan Mbah Kasno

” Arep neng omahe Mbah Kasno ya—mau ke rumah Mbah Kasno ya.. !” Itu kata orang Suriname keturunan Jawa untuk menyindir kawan yang berjudi di kasino alias rumah judi yang memang banyak dibuka di Suriname. Kasno adalah nama khas Jawa.

Lelucon semacam itu menjadi penanda bahwa bahasa Jawa mengakar dalam tata budaya warga Suriname keturunan Jawa. Akan tetapi, pada suatu masa pernah ada pandangan bahwa bahasa Jawa bisa membuat orang tidak ”maju”.

”Yen kowe mung iso coro jowo thok, kowe ora maju—kalau kamu hanya bisa berbahasa Jawa saja, kamu tidak akan maju,” kata Raymond Soegiman Nojoredjo (70) yang menirukan ucapan orangtuanya.

Ayah Soegiman, yaitu Wagijo Nojoredjo, adalah imigran asal Banyudono, Boyolali, Jawa Tengah, yang dikapalkan ke Suriname tahun 1929. Soegiman menuturkan, ayahnya khawatir anaknya tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar.

Generasi baru

Murni Sriyani, generasi ketiga keturunan Jawa yang lahir di Suriname, mengakui adanya pandangan semacam itu.

”Generasi kedua melarang anak-anaknya belajar bahasa Jawa karena takut bahasa Belandanya jelek. Tapi, generasi saya sekarang muncul kesadaran untuk belajar bahasa Jawa,” kata Murni yang menguasai lima bahasa, yaitu Belanda, Inggris, Jawa, Indonesia, dan Taki-taki atau bahasa pergaulan, lingua franca antaretnis di Suriname.

Pandangan soal bahasa Jawa itu tidak seluruhnya benar. Setidaknya menurut Bob Saridin, tokoh masyarakat Suriname pendiri perkumpulan untuk mengenang imigrasi Jawa atau Vereniging Herdenking Javaanse Immigratie.

”Saya lahir di kampung dan sejak kecil bahasa Jawa lancar, Belanda lancar, dan lancar sekolah,” kata Bob yang fasih berbahasa Indonesia dan Inggris.

”Saya pernah bertemu Duta Besar (Indonesia). Kalau saya menggunakan bahasa Jawa ngoko (kasar), saya malu. Saya menggunakan bahasa Inggris. Pak Dubes bilang, ’Iki kok lucu. Rupane podo, kulite podo, kok omonge coro Inggris—Ini kok lucu. Rupa sama, kulit sama, kok bicara dalam bahasa Inggris’,” tutur Bob mengenang.

Sejak saat itu Bob belajar bahasa Indonesia di KBRI di Paramaribo. Ia kemudian bahkan juga mengajar bahasa Indonesia di KBRI. Bob mungkin belajar dari ucapan Wolfgang von Goethe, ”Orang yang tak mengerti bahasa asing tidak memahami apa pun tentang bahasanya sendiri.

Memaknai Huruf Z Dalam Bahasa Indonesia

Pusat Bahasa mengukuhkan ejaan kata serapan dari bahasa asing yang berawal atau berunsur huruf z tetap ditulis atau diucapkan seperti adanya. Jadi, zenith, zirconium, dan zodiac disurat zenit, zirkonium, dan zodiak dalam ejaan Indonesia. Ada 184 kata berawal z yang dientri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat, jauh lebih gendut ketimbang edisi sebelumnya yang hanya 82 kata. Suatu pengembangan materi kosakata yang layak diacungi jempol.

Dalam praktik berbahasa biasa muncul varian: z tak selalu tertulis atau terucap seturut patokan Pusat Bahasa. Pada sebagian penutur bahasa Jawa, misalnya, huruf itu menjelma berbagai wujud seperti j yang terdekat, atau d dan s. Faktor objektifnya cukup jelas: aksara Jawa tak mengenal z. Barulah ketika budaya luar berdatangan, terutama dari Arab dan Belanda, huruf itu ikut masuk. Maka, zaman jadi jaman seperti jaman edan yang tertulis dalam risalah ramalan Ranggawarsita. Zonder yang Belanda berubah sonder. Kelompok musik cadas memilih nama jamrud alih-alih zamrud. Seorang teman meminjam horijon. Yang dia maksud adalah majalah Horison, atau horizon menurut KBBI.

Ejaan Arab dz juga jadi medok dalam ucapan Jawa. Kata dzikir atau zikir dalam KBBI, misalnya, jadi dikir atau jikir. Demikian pula adzan bersulih adan atau ajan. Sebutan salat wajib tengah hari, zuhur atau dhuhur (Arab), pun sering terucapkan juhur dan makin menjauh jadi lohor ketika dijawakan. Kemudian nama bulan Arab Dzulqa’dah atau Zulkaidah pada KBBI dibunyikan Dulkangidah dalam penanggalan Jawa. Beberapa contoh acak perubahan aksara dan bunyi tersebut menunjukkan semacam domestikasi z dalam pengucapan Jawa, bahkan mungkin juga dalam bahasa daerah yang lain di Indonesia.

Namun, lafaz z tak boleh ditawar dalam pembacaan teks Alquran demi ketepatan makna. Itu sebabnya para pelantun ayat-ayat suci Alquran yang tekun—kaum santri contohnya—sangat fasih mengucapkan z. Penggunaan kata rizki sebagai nama diri menyiratkan penganggitnya lebih Islami dan sadar bagaimana harus mengeja nama itu. Sementara, (sri) rejeki mungkin jadi preferensi kaum ”priayi abangan” mengikuti kategorisasi Clifford Geertz. Mungkinkah pilihan atas z juga bertemali dengan kecenderungan linguistik di antara golongan sosial di Jawa model itu? Geertz luput mengamatinya.

Hampir semua kata berawal z pada KBBI merupakan serapan dari kata asing, terutama Arab, Belanda, Inggris, dan beberapa istilah teknis ilmiah dalam ilmu pengetahuan alam. Cukup sulit kita temukan kata berhuruf Latin terakhir itu yang ”asli” dalam khazanah bahasa Indonesia. Mungkin hanya komikus dan karikaturis yang berhasil memanfaatkan z secara tepat untuk mendeskripsikan orang tidur nyenyak: Zzzzz. Makin banyak z yang dijejerkan, makin lelap tidur orang yang digambarkan itu.

Tiba-tiba saya teringat akan Asmuni (almarhum), pelucu senior kelompok sandiwara Srimulat. Dalam aksi panggungnya sebagai pembantu rumah tangga, dia biasa bertanya kepada tamu yang datang, ”Mau minum susu atau zuzu?” Apa bedanya? Yang pertama cuèr, sedangkan yang kedua kenthel.

KASIJANTO SASTRODINOMO Pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI

Bahasa Antara Tulisan dan Lisan

”…bahasa pada hakikatnya adalah lisan, bukan tulis,” kata Lie Charlie dalam kolom Bahasa edisi Jumat, 11 Juni 2010. Ini hanya benar secara kronologis. Bahasa memang berevolusi dari lisan ke tulisan, budaya bergerak dari orality ke literacy. Dengan percetakan, teks menjadi makin utama. Kini radio, televisi, dan internet pun hanya bisa ada dan berfungsi dengan tulisan. Tulisan tidak akan ada tanpa lisan, tetapi bahasa tulisan bukan sekadar bahasa lisan yang dituliskan. Hakikat bahasa tidak lagi lisan.

Baik dunia oral maupun literer kaya makna, tetapi ciri dan dampaknya pada proses pikiran manusia, dan sebagai kekuatan pengarah evolusi sosial, sangat berbeda. Bukan hanya itu, sejak tulisan pertama lahir lebih dari 5.000 tahun lalu di Sumeria (Irak Selatan), disusul Mesir, China, dst, dan sampai detik ini, sejarah mencatat bahwa bangsa bertulisan lebih unggul daripada bangsa berlisan saja. Nyatanya, sejarah adalah tulisan. Tulisan adalah cikal-bakal peradaban. Tulisan tinggal, lisan tanggal.

Tulisan jauh lebih akurat, tahan lama, dan efisien dalam melahirkan, menyimpan, memproses, dan memperkembangkan gagasan, sampai yang serumit-rumitnya dan seluas-luasnya. Dari gagasan ke tindakan hanya selangkah. Tanpa tulisan, tidak ada dunia modern, ilmu pengetahuan lambat berkembang, teknologi sebatas sederhana, komunikasi sejauh teriakan, transportasi sekuat tungkai selebar layar. Buta tulisan, biarpun kaya lisan, adalah resep kemiskinan dan ketakberdayaan.

Filsuf Yesuit dan pakar ilmu bahasa, Walter Ong, mendaftarkan beberapa ciri oralitas yang berkontras dengan budaya tulisan. Karena ingatan adalah satu-satunya alat memelihara pengetahuan, dalam dunia lisan kosakata sedikit, tata bahasa sederhana, kata dan konsep diulang-ulang, dan gaya formula umum dipakai, ciri-ciri yang memang masih kental dalam bahasa Indonesia. Formula seperti pantun dan syair misalnya sangat terkenal di dunia Melayu, yang tidak asing dengan pidato, pepatah-petitih, dan silat lidah.

Guru-guru yang hidup dalam dunia lisan selalu menuntut murid-murid menghafal, bahkan menghafal mati, sampai hal-hal yang seremeh-remehnya. Dalam dunia tulisan, hanya hal-hal mendasar yang perlu dihafal. Yang perlu adalah mengasah pemahaman, ketajaman berpikir, kemampuan analitis, abstraksi, dan seterusnya. Dalam lisan yang penting data. Dalam tulisan yang utama olah-data. Akibatnya, lisan itu statis menoleh ke belakang. Tulisan itu dinamis menatap masa depan.

Dunia oralitas juga penuh dengan ungkapan-ungkapan ekspresif seperti adil makmur, aman sentosa, dan lain-lain. Klise memang berkembang dalam dunia lisan. Dengan tulisan, kata-kata dalam ungkapan-ungkapan seperti itu bisa dipecah dan dianalisis sehingga timbul kompleksitas yang merombak dan memperkaya makna. Yang perlu bukan hanya kemampuan baca tulis, melainkan memfungsikan tulisan sebagai instrumen berpikir. Misalnya, hanya dengan tulisanlah bisa dikembangkan daftar, tabel, dan statistik. Bukan berpikir lalu menulis, melainkan menulis sebagai bagian dari proses berpikir canggih.

Tulisan meningkatkan pikiran. Pikiran meningkatkan tulisan. Pemikir adalah penulis.

SAMSUDIN BERLIAN Pemerhati Makna Kata

Kamus Matano Antisipasi Kepunahan Bahasa Daerah Soroako, Matano, Nuha dan Bure

Kamus Sekitar Danau Matano hadir untuk mengantisipasi kepunahan bahasa daerah, khususnya di sekitar Kawasan Danau Matano yang merupakan kawasan pertambangan nikel PT Inco, Tbk.

“Kamus ini hadir untuk menjawab kegelisahan kami, karena masyarakat yang berada di sekitar lokasi pertambangan sudah jarang menggunakan bahasa daerah setempat,” ujar pencipta Kamus bahasa daerah yang berjudul Kamus Sekitar Danau Matano, DR Djasruddin, di Makassar, Selasa.

Dikatakannya, kamus yang memuat empat logat bahasa yakni Bahasa Soroako, Matano, Nuha dan Bure akan menjadi penuntun bagi masyarakat lokal dalam melestarikan salah satu produk budayanya. Selain itu, kamus itu juga dapat digunakan oleh pendatang yang bekerja di kawasan pertambangan nikel milik PT Inco.

Menurut Djasruddin yang juga guru besar Universitas Negeri Makassar (UNM), setelah kamus tersebut dapat diterima dan diterapkan masyarakat di Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel), maka langkah selanjutnya adalah menjadikan Bahasa Soroako atau bahasa setempat menjadi salah satu bahan ajar muatan lokal di sekolah-sekolah.

“Hal itu agar bahasa daerah setempat tidak punah, dan generasi yang sudah hidup dengan serba teknologi, tidak melupakan karya budaya leluhurnya,” jelas pria kelahiran Luwu itu.

Penyusunan kamus itu, menurut dia, mendapat dukungan dari PT Inco melalui program pengembangan dan pelestarian budaya lokal. Kamus yang memuat bahasa daerah itu, juga menjadi bagian dari hasil produk 10 buku yang merupakan bahan ajar bagi SD hingga SMA di Soroako dan sekitarnya yang telah diluncurkan pada September 2008.

Mengenai isi kamus itu, Djasruddin mengakui, masih jauh dari kesempurnaan, karena itu pihaknya masih terus mencari kosa kata yang belum sempat dimasukkan dalam kamus saku tersebut.

Untuk membuat kamus yang dapat menjadi acuan bagi masyarakat di sekitar Danau Matano di Luwu Timur, ia menambahkan, harus menggali kosa kata yang digunakan masyarakat pada empat lokasi dengan logat dan arti yang berbeda-beda, selama kurang lebih setahun