Category Archives: Bahasa Indonesia

Pakar Bahasa Indonesia Anton Moedardo Moeliono Menninggal Dunia

Pakar Bahasa Indonesia Anton Moedardo Moeliono tutup usia pada hari Senin, 25 Juli 2011 pukul 23.27 WIB di rumahnya di Jalan Kartanegara No 51, Jakarta, dalam usia 82 tahun. Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang juga mantan Kepala Pusat Bahasa antara 1984-1989 ini sebelumya sempat kritis dan dirawat di ICU Rumah Sakit Medistra Jakarta.

Akir Juni lalu, penulis kamus dan ahli linguistik Universitas Atmajaya Bambang Kaswanti Purwo dalam postingan e-mail-nya mengabarkan Anton M. Moeliono dirawat di RS Medistra karena mendapat serangan jantung dan komplikasi dengan diabetes.

Lahir di Bandung, 21 Februari 1929, Anton dikenal sebagai pakar linguistik. Anton pernah menjadi Direktur Lembaga Bahasa dan Dewan Pembina Bahasa Indonesia. Anton juga pernah menjadi anggota Royal Institute of Linguistics and Anthropology.

Di era 1973-1977, wajah Anton Moeliono sering muncul dalam acara Siaran Pembinaan Bahasa Indonesia di TVRI. Ia juga menjadi sosok penting dalam kelahiran Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) tahun 1972 dan diresmikan Presiden Soeharto pada Peringatan Hari Kemerdekaan RI. Saat menjadi Kepala di Pusat Bahasa-lah, pada tahun 1988, Kamus Besar Bahasa Indonesia pertama kali diterbitkan.

Jenazah Anton Moeliono saat ini disemayamkan di rumah duka di Jalan Kartanegara No 51, Jakarta. Hari Rabu, 27 Juli 2011 besok diadakan misa requiem di Gereja Santa, dan siang harinya dikremasi.

Bahasa Indonesia: Akibat Bahasa Kumpul Kebo

Ada perbedaan yang jelas antara proses penyerapan kosakata asing zaman dulu dari yang sekarang. Dahulu penyerapan didasarkan pada pendengaran dan hasilnya ditulis dengan huruf yang dianggap paling dekat dengan bunyi vokal atau konsonan Indonesia. Misalnya, chaffeur (Belanda) menjadi sopir, winkel menjadi bengkel, dan luitenant menjadi letnan.

Menurut penelitian mahasiswa saya, bentuk serapan dari bahasa Belanda hingga awal Perang Dunia Kedua berjumlah kira-kira 4.000 butir. Di samping itu selama berabad-abad berlangsung penyerapan antara lain dari bahasa Sanskerta, Arab, Cina, Portugis, Tamil, dan Persia. Bahasa Melayu dan bahasa Indonesia dewasa ini paling banyak menyerap kosakata dari bahasa Inggris ragam Amerika, Britania, dan Australia.

Karena bangsa Indonesia sedang memasuki peradaban beraksara dan teknologi informasi, warga masyarakat bangsa Indonesia—di mana pun tinggalnya—diharapkan memakai unsur kosakata serapan dengan bentuk tulisnya sama dan seragam, sedangkan lafalnya dapat berbeda menurut suku etnis dan bahasa daerah yang masih dipakainya.

Ambillah kata Belanda dan Inggris bus, yang di Medan lafalnya mungkin mirip dengan atau , tetapi di Bandung lafalnya menjurus ke seperti kata beureum ‘merah’, dan di Yogya condong ke sebab orang ngebis. Akhir-akhir ini diperkenalkan bentuk busway, dan yang suku awalnya dilafalkan secara Inggris: . Demi keseragaman, yang menjadi ciri pembakuan, kita menetapkan ejaannya jadi bus.

Sejak 1972 dipakai pedoman berikut. Proses penyerapan bertolak dari bentuk tulisan tak lagi dari lafal ungkapan asing. Ejaan kata Inggris management diubah menjadi manajemen yang lafalnya oleh orang Yogya berbeda dari orang Padang. Namun, ejaan atau bentuk tulisannya sama. Namun, karena kita tidak merasa wajib mematuhi kaidah dan aturan, kecuali jika ada sanksi, atau denda, kata basement belum diserap menjadi basemen (ba-se-men) walaupun sudah ada aransemen, klasemen, dan konsumen. Kata basement dapat diterjemahkan jadi ruang bawah tanah dengan akronimnya rubanah.

Sikap taat asas juga perlu diterapkan pada unsur serapan yang berasal dari bahasa daerah Nusantara. Ungkapan kumpul kebo kita nasionalkan menjadi kumpul kerbau karena yang berkumpul serumah itu bukan kerbau-kerbau Jawa saja. Selanjutnya orang yang membangkang atau menentang perintah tidak mbalelo, tetapi membalela. Orang yang tidak berprasangka bahwa daya ungkap bahasa Indonesia masih rendah akan menemukan kata membalela di dalam kamus Poerwadarminta yang terbit pada tahun 1952.

Begitu pula ada kata merisak ‘menakuti atau menyakiti orang yang lebih lemah’ untuk memadankan to bully dan bullying, serta kata berlépak ‘menghabiskan waktu dengan duduk-duduk tanpa melaksanakan sesuatu yang bermanfaat’ untuk mengungkapkan budaya remaja to hang out.

Kita tidak mengenal kosakata Indonesia karena, menurut laporan terakhir, 50 persen dari sekolah dasar dan 35 persen dari sekolah lanjutan pertama pemerintah tidak memiliki koleksi pustaka, dan kamus tidak disertakan berperan dalam proses belajar-mengajar bahasa.

Anton M Moeliono Pereksa Bahasa, Guru Besar Emeritus UI

Bahasa Indonesia: Penggunaan Kata Iptek Yang Benar

BAHASA
Seolah Iptek

SALOMO SIMANUNGKALIT

Editor sebuah majalah keberatan dengan istilah iptek. Bukan lantaran dia muak dengan segala akronim yang direka pada masa Orde Baru, melainkan karena menurut dia ada yang mubazir di sana. Iptek merupakan akronim dari ilmu pengetahuan dan teknologi. ”Coba,” katanya. ”Ilmu searti dengan pengetahuan. Untuk apa dua kata semakna dideretkan? Saya lebih suka iltek, ilmu dan teknologi. Tak ada yang berlebihan di situ.”

Dari percakapan kami yang lapang mengenai bahasa Indonesia, saya menduga sang editor tak mengendus bahwa ilmu pengetahuan merupakan anggota keluarga kata ulang. Yang berlangsung bukan pengulangan kata an sich, melainkan penggabungan kata bersinonim untuk menyatakan keanekaan. Ilmu pengetahuan tak lain tak bukan ilmu-ilmu, sama halnya dengan tutur kata yang setali tiga uang dengan kata-kata. Ini bukan temuan baru, sekadar revitalisasi ingatan kepada kekayaan gatra kata ulang dalam khazanah bahasa-bahasa nusantara, yang barangkali tak dipunyai bahasa bangsa-bangsa yang berada di luar mandala [(950BT-1410BT), (60LU-110LS)].

Natural sciences kita padankan dengan ilmu pengetahuan alam, bukan ilmu alam. Ilmu pengetahuan alam terdiri dari astronomi, biologi, fisika, geologi, kimia, dan seterusnya. Social sciences kita pantarkan dengan ilmu pengetahuan sosial yang unsur-unsurnya berbagai bidang dalam lingkungan FISIP di universitas. Mungkin bisa ditawarkan di sini ilmu sosial sebagai padan bagi sosiologi seperti ilmu alam dulu dikenal selaku sinonim untuk fisika.

Akhir-akhir ini ada upaya tak sadar di kalangan wartawan dan penulis artikel menggerus kekayaan bahasa Indonesia melalui pembunuhan kata ulang. Beberapa saya kutip dari tulisan di koran. (1) Toleransi seakan menjadi penting hari-hari ini ketika kebinekaan bangsa terancam dan tercabik. (2) Pidato itu merupakan kecelakaan fatal atas sebuah kepemimpinan: seolah presiden tak berani menghadapi dua partai politik yang dianggap balela. (3) Sederetan panjang pohon yang dulu jadi paru kota ditebang di Jalan Sudirman demi jalur bus Transjakarta.

Setakat ini seakan dan seolah tak dikenal dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Melayu. Yang dimengerti luas oleh pemakai bahasa itu adalah seakan-akan dan seolah-olah, kedua-duanya adverbia yang kebetulan bermakna sama: ’seperti’. Begitu pula dengan paru. Sebagaimana andang-andang dan usar-usar, menurut penyusun Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, paru-paru merupakan pengulangan morfem yang mengacu pada bagian tubuh manusia. Bisa jadi penulis yang menggunakan paru pada artikelnya merupakan pelanggan warung tegal semasa mahasiswa. Di sana paru goreng dan paru semur dikenal sebagai pilihan bagi yang rudin akan asam urat.

Tak dapat diterima bahwa pembunuhan kata ulang itu atas nama ekonomi kata yang sesuai dengan tuntutan bahasa koran. Ini keliru sebab sering tersua penyia-nyiaan ”ruang” di koran dengan kata-kata mubazir oleh penulis yang enggan mempertajam pena seni mengarangnya.

Saya kira ini saat menghidupkan kembali pemakaian angka ”2” bagi penulisan kata ulang: ke-belanda2an, mata2, se-akan2, tumbuh2an, dan seterusnya. Selain menghemat ”ruang” dan tak sulit pula menciptakan program komputer pengolah kata untuk itu, hadirnya angka ”2” dalam penulisan teks menjadi penanda yang khas bagi bahasa-bahasa nusantara di antara berbagai bahasa di Alam Semesta.

Bahasa Indonesia: Wisma, Hotel dan Pondol Bedanya Apa?

Apakah kriteria penggolongan akomodasi dengan sebutan wisma, pesanggrahan, pondok, motel, dan hotel? Apakah penggolongan ini sekadar penyebutan saja?

Bila kita pergi ke daerah wisata di pegunungan, pantai, atau kota kecil lain di Indonesia, banyak sebutan untuk akomodasi dan umumnya sulit dibeda-bedakan. Ada wisma yang menyediakan penginapan sekaligus ruang seminar, pelatihan, rapat bahkan kongres. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, wisma adalah bangunan untuk tempat tinggal, kantor, dan sebagainya. Wisma oleh kamus itu adalah juga kumpulan rumah, kompleks perumahan, atau permukiman.

Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia memadankan wisma dengan balai, gedung, penginapan, pesanggrahan, dan rumah. Sebuah studi tentang akomodasi mendefinisikan wisma sebagai jenis akomodasi yang dibangun dan dimiliki suatu instansi untuk tempat peristirahatan bagi para pegawainya dan diperlengkapi dengan peralatan makan dan minum. Jadi wisma adalah sejenis rumah untuk tamu, guest house.

Ditilik dari sudut arti, wisma juga segolongan dengan pesanggrahan. Menurut KBBI, pesanggrahan berarti rumah peristirahatan atau penginapan dan biasanya milik pemerintah. Kendati demikian, penamaan tak selalu seiring dengan arti dalam kamus, gerak bisnis pariwisata, dan perubahan gaya hidup terkait liburan. Ada wisma milik perorangan yang berorientasi komersial dan mampu menampung 1.000 peserta kongres sehingga bukan lagi semata-mata ”tempat peristirahatan atau penginapan”.

Demikian juga pondok yang, menurut KBBI, bermakna sebagai bangunan tempat tinggal yang berpetak-petak, berdinding bilik, dan beratap rumbia, namun kenyataannya justru berupa bangunan megah bak hotel berbintang dan mampu menampung 500 peserta seminar. Sebaliknya, hotel yang dibayangkan sebagai gedung jangkung nan megah dengan ratusan kamar dan ruang-ruang mewah justru meleset dari bayangan. Ada bangunan hotel yang sekelas losmen atau asrama. Dalam dunia perhotelan, hotel dengan fasilitas losmen digolongkan ”kelas melati”. Menurut KBBI, losmen adalah penginapan yang menyewakan kamar tanpa menyediakan fasilitas makan.

Sebuah sumber mengatakan bahwa hotel berasal dari kata Latin hospitium ’ruangan tamu dalam sebuah biara’. Dalam perkembangan selanjutnya, ruangan tamu tersebut disebut hostel. Lambat-laun orang menghilangkan ”s” pada kata hostel sehingga menjadi hotel. Jadi, pada awalnya, arti hotel sama dengan wisma dalam arti ’kamar tamu’.

Dunia pariwisata juga mengenal istilah motel. Menurut KBBI, motel adalah penginapan yang ditujukan terutama untuk pelancong bermobil, kamar-kamarnya mudah dicapai dari tempat parkir yang tersedia. Namun, di berbagai kota atau kawasan wisata, tak jelas lagi beda hotel dengan motel. Ada motel yang tak semata-mata berfungsi sebagai penginapan, tetapi juga ruang untuk keperluan rapat dan pelatihan.

Arti dalam KBBI ternyata tak selalu sejalan dengan perkembangan bisnis pariwisata dan akomodasi. Padahal, penggolongan jelas berimplikasi pada tarif pajak menurut peraturan pemerintah. Pajak untuk losmen pasti berbeda dengan hotel berbintang, hotel kelas melati, motel, wisma, dan seterusnya. Tahun 2010 kita sempat dikagetkan berita media massa bahwa tempat kos akan dikenakan pajak. Nah, tempat kos ternyata masuk golongan bisnis akomodasi seperti halnya hotel, motel, dan seterusnya.

Bahasa Indonesia: Arti Kata Politikisasi

Ketika seorang pejabat tinggi Batak mengusulkan pemberian gelar Raja Batak kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono belum lama berselang, banyak orang sesukubangsanya yang kaget dan marah. Mereka langsung berdemo melancarkan tuduhan politisasi dengan lantang dan garang.

Anggapan mereka, si pengusul sedang mengejar keuntungan politik dengan mengorbankan budaya leluhur dan mengabaikan pendapat mayoritas masyarakat Batak.

Bulan sebelumnya, di tengah euforia langka sepak bola, Golkar meraup tuduhan politisasi ketika pemain-pemain Tim Nasional PSSI yang sedang berjuang meraih posisi nomor satu di Asia Tenggara, tiba-tiba diundang ke rumah sang ketua partai. Padahal, lebih baik mereka bermandi keringat di lapangan rumput atau melepas lelah di kamar sendiri. Sampai-sampai sang pelatih yang penuh dedikasi dari negeri seberang bersitegang leher memendam murka.

Memang kata politisasi umum dipakai dalam arti negatif. Kata itu lazim diteriakkan ketika pejabat dan orang partai dianggap tidak tulus, berusaha mengukuhkan kekuasaan politik diri dengan mengorbankan orang banyak atau menyelewengkan makna sejati suatu situasi yang sebetulnya tidak bernilai politis. Tentu saja si penuduh juga tak luput dari tuduhan balik bahwa mereka sendiri melakukan politisasi dengan cara menuduh orang lain berpolitisasi!

Politisasi diambil persis dengan makna konotatifnya dari kata Inggris politicization. Politisir dari Belanda sudah diapkir. Arti denotatif to politicize adalah menjadikan sadar politik atau menjadikan bersifat politik. Jadi tidak dengan sendirinya buruk negatif, tapi dalam pemakaian umum hampir selalu.

Entah bagaimana, bentukan sederhana politic+ization mengalami sunatisasi hingga lahirlah politisasi, bukan yang seharusnya politikisasi atau politisisasi. Kedua pilihan yang lebih tepat ini muncul karena ada keraguan tentang keabsahan akhiran non-Melayu yang berarti menjadikan itu.

Apabila –isasi dianggap baku, politikisasi sudah pas. Bila tidak, bentukan Inggris diambilalih seluruhnya, politisisasi. Ini analogis dengan standardisasi yang diambil komplet dari standardization dan bukan dari gabungan standar+isasi. Kalau pembaca termasuk pembenci –isasi, bolehlah pakai kata pemolitikan. Sayang ini kurang laku.

Politisasi haruslah dianggap berasal dari polit+isasi, atau politization. Ini meruwetkan perkara karena walaupun politization tidak baku, to politize sebetulnya ada, tetapi artinya lain. Menurut Oxford English Dictionary, ia berarti menjadikan (seseorang) warganegara, menangani sesuatu secara diplomatis, atau menjalin hubungan politik dengan. Sedangkan menurut Webster, artinya berbalah seperti politikus. Kata ini sudah sekarat, tiada lagi penuturnya. Hari ini, hanya kamus-kamus raksasa yang masih ingat to politize.

Hampir pasti politisasi salah kaprah akan terus menghiasi spanduk protes dan judul berita karena politikus di mana-mana memang doyan politikisasi. Sementara itu, Indonesianisasi istilah asing masih karut. Perlu matangisasi.

Samsudin Berlian Penyuka Bahasa

Bahasa Batak: Sewa dan Penumpang

Rubrik ini pekan lalu berisi ”Matinya Penumpang”. Dalam tulisan itu Mulyo Sunyoto membuat hipotesis bahwa para pengemudi dan kenek bus pengangkutan umum di Jakarta menggunakan kata sewa, bukan penumpang, karena numpang berkonotasi gratisan, sementara sewa berkonotasi membayar. Hipotesis Mulyo ini salah. Sewa dalam konteks pengangkutan umum di Jakarta bukan berasal dari sewa bahasa Indonesia ’pemakaian sesuatu dengan membayar’, melainkan sewa dialek Medan dari bahasa Batak Toba yang memang berarti ’penumpang’.

Penggunaan istilah sewa sebagai padan penumpang di Jakarta mulai marak tahun 1970-an. Pada tahun-tahun itulah etnisitas Batak banyak masuk Jakarta dan sebagian berprofesi sebagai pengemudi serta kenek pengangkutan umum. Merekalah yang telah membawa kata sewa langsung dari Tanah Tapanuli. Lambat laun sopir dan kenek dari semua etnisitas di Indonesia ramai-ramai ikut menggunakan kata sewa sebagai padan kata penumpang. Meski demikian, kata penumpang tidak serta-merta mati. Di bus antarkota, kereta api, kapal laut, bahkan pesawat terbang, kata penumpang tetap digunakan meski ada pengangkutan umum yang mulai memelopori penggunaan kata tamu dan pelanggan sebagai padan penumpang.

Berkaitan dengan bahasan ini, makna penumpang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat bukanlah ’naik tanpa bayar’, melainkan ’orang yang menumpang atau orang yang naik kereta, kapal, dan sebagainya’. Untuk mewadahi ”naik tanpa bayar”, kamus itu menggunakan frasa penumpang gelap.

Definisi kata penumpang dan menumpang dalam KBBI Pusat Bahasa Edisi Keempat itu diadopsi dari Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan WJS Poerwadarminta. KUBI sendiri menyerap kata tumpang dari Baoesastra Djawa, juga susunan WJS Poerwadarminta. Di situ tersua toempang dengan makna soengsoen, tetoempoekan, dan soemèlèh ing sadhuwuré. Arti kata tumpang sebagai ’naik tidak bayar’ baru muncul belakangan dan berasal dari frasa penumpang gelap. Karena itu, tak mungkin sopir dan kenek di Jakarta enggan menggunakan kata penumpang karena konotasinya tidak membayar.

Kata sewa dalam arti penumpang masih digunakan kalangan khusus dan terbatas. Artinya, kata sewa sebagai padan penumpang adalah istilah khusus di dunia pengangkutan umum darat. Itu pun masih sebatas kalangan kecil: sopir, kenek, dan kondektur (bus). Para penumpang sendiri dan pemilik kendaraan tetap menggunakan istilah naik dan penumpang. Taksi mulai menggunakan istilah tamu, sementara kereta api, kapal laut, dan pesawat terbang juga tetap menggunakan istilah penumpang.

Istilah sewa sebagai padan (bukan pengganti) penumpang masih akan lama memasyarakat karena media massa belum menggunakannya. Dunia pendidikan pun melalui buku-buku pelajaran masih belum mengajarkan bahwa sewa merupakan pengganti kata penumpang. Saya yakin kata penumpang belum akan mati dan, sebaliknya, sewa sebagai padannya juga tidak akan mudah keluar dari pengguna khusus dan terbatas: kalangan sopir dan kenek.

Kata sewa di kalangan terbatas itu sama sekali tak ada kaitannya dengan makna pemakaian sesuatu dengan membayar. Penumpang juga bukan bermakna ’naik tidak bayar’. Sewa bukan pengganti, melainkan sinonim penumpang, diambil dari kosakata dialek Batak Toba. Dibawa ke Jakarta, kemudian menyebar ke seluruh Indonesia karena semua sopir dan kenek, apa pun etnisitasnya, merasa lebih pédé berteriak: ”Sewa!”

F Rahardi Sastrawan

Lihat: Bahasa Indonesia: Matinya Penumpang

Bahasa Indonesia: Matinya Sang Penumpang

Sebuah bus pengangkutan umum berjalan perlahan keluar dari Terminal Kampung Rambutan Jakarta. Di belakang kendaraan itu, dalam jarak sepelempar, seseorang bergegas mengejar bus. Sopir tak menghentikan kendaraannya. Kenek melihat gelagat orang itu lewat kaca spion. Kepada sopir, sang kenek berteriak, ”Ada sewa, ada sewa.”

Sewa, bukan penumpang. Sopir dan kenek kendaraan pengangkutan umum di Jakarta seolah tabu menggunakan kata penumpang menyebut ‘orang yang naik kendaraan umum’. Sejak kapan dan mengapa para awak kendaraan umum di Jakarta memilih sewa dan menampik penumpang? Saya tak tahu. Yang pasti, di Sumatera Utara hal itu kaprah belaka.

Namun, saya punya hipotesis mengapa mereka menyingkirkan penumpang dari perbendaharaan bahasa mereka. Di tahun 1980 saya pertama kali menginjak Jakarta. Dua hari saya berpelesir di atas bus kota, yang saat itu populer sebagai bus PPD. Maksudnya, Perusahaan Pengangkutan Djakarta. Dengan tarif Rp 50 sekali naik, sepanjang perjalanan Cililitan-Lapangan Banteng saya manjakan mata mengamat-amati lanskap ibu kota. Hari kedua saya melanglang di atas roda PPD dengan rute lain.

Sebagai pelajar SMA di kota kecil, 1.000 kilometer dari arah timur Jakarta, saya terperangah bukan oleh pemandangan di luar, tapi kejadian di dalam bus! Beberapa kali peristiwa itu berlangsung. Anak-anak SMA menghentikan bus. Mereka naik. Kondektur minta ongkos. Dengan nada datar mereka membalas, ”Numpang, Bang.” Yang disapa Bang melengos dengan muka kecut. Dalam sehari, sepekan, sebulan, setahun, berapa kali para kondektur mendengar kosakata yang masam ini? Itu sebabnya mereka membalas dendam: tak sudi mengucapkan kata itu beserta turunannya. Mampuslah kau penumpang!

Meski bukan linguis, mereka jitu tatkala menemukan sewa sebagai alternatif. Maksud mereka tentulah penyewa. Urusan keringkasan dengan melesapkan awalan, buat mereka, lebih utama ketimbang formalisme linguistik, yang memilah kata dalam kelas-kelas. Bukankah rampok sudah halal dipadankan dengan perampok, meski rompak terasa haram disepantarkan dengan perompak?

Kamus-kamus memaknai sewa sebagai ‘pemakaian sesuatu dengan membayar uang’. Frasa kuncinya: membayar dengan uang. Itu berlainan arti dengan tumpang yang menurunkan (me)numpang dan penumpang. Makna tumpang: ‘turut, ikut serta, membonceng’. Lazimnya orang yang turut, ikut serta, atau membonceng tak diwajibkan membayar dengan uang.

Kini perkara sewa beralih ke pundak pekamus. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV Pusat Bahasa dan Tesaurus Bahasa Indonesia Eko Endarmoko belum menambahkan arti sewa sebagaimana dimaksud para penggunanya. Kalau jumlah kendaraan pengangkutan umum di Jakarta ratusan ribu, sedikitnya ada lebih dari angka itu pengucap kosakata sewa. Sopir, kenek, calo, timer (nah, mereka menciptakan satu lagi makna baru untuk alat pengukur waktu) di ibu kota pastilah pernah mengucapkan sewa untuk arti yang Inggrisnya adalah passenger.

Penggusur penumpang tampaknya tak cuma awak kendaraan umum darat, pramugari maskapai penerbangan swata pun menyapa ”bapak dan ibu terhormat” alih-alih ”penumpang terhormat” saat hendak memeragakan penggunaan perlengkapan keselamatan sebelum pesawat tinggal landas. Bagaimana dengan awak kapal laut? Cepat atau lambat mereka pun sepakat menolak kehadiran penumpang yang hanya bikin perusahaan merugi kalau bukan bangkrut. Penumpang akhirnya terkubur setelah disingkirkan dari matra darat, udara, dan laut. RIP for penumpang.

Mulyo Sunyoto Magister dalam Linguistik

Bahasa Iklan Yang Membuat Orang Tersesat Dialam Pikirannya Sendiri

Iklan tentulah bagus untuk menekan harga serta memulai dan memperbesar usaha. Masalah muncul ketika bahasa iklan tidak lagi sekadar memperkenalkan atau memuji-muji barang dan jasa pengiklan. Ada beragam taktik yang banyak dipakai sekarang untuk menyesatkan pelanggan sehingga membeli barang atau jasa yang tidak sesuai dengan harapannya.

Obral dengan ungkapan up to atau sampai adalah salah satu yang paling umum dijumpai. Diskon up to 70% biasanya berarti bahwa dari 10.000 barang yang ditawarkan, ada 10 yang harganya dipotong 70 persen, 9.990 lagi dipotong kurang dari itu atau tidak sama sekali. Dalam banyak kasus, harga asli pun sudah lebih dahulu dinaikkan sebelum rabat. Ada lagi diskon 50%+20%. Pelanggan yang mengerti aturan penulisan dalam matematika maupun fisika untuk penjumlahan akan mengira ini 70%. Namun, yang dimaksud rupanya adalah 60%, yakni 50% ditambah dengan 20% dari 50%.

Begitu pula sambungan internet up to 1 Mbps—satu juta bit per detik—berarti kadang-kadang kecepatan unduh pelanggan akan mencapai angka itu, tetapi biasanya hanya separuhnya atau bahkan kurang. Apabila pelanggan mengeluhkannya, penyedia ISP selalu beralasan bahwa penyebab kelambatan itu ada di luar kekuasaannya atau kemungkinan besar masalahnya ada pada komputer atau kabel di dalam rumah pelanggan sendiri!

Pembuat perangkat komputer juga sering mencampuradukkan standar dunia komputer (biner atau basis-2) dengan standar metrik (desimal atau basis-10) yang berbeda. Misalnya, kalau Anda membeli cakram keras yang diiklankan sebesar 1 gigabyte (GB), yang Anda dapat biasanya bukan yang seharusnya 1.073.741.824 bytes (B), melainkan 1.000.000.000 B saja. Itulah sebabnya komputer Anda akan menunjukkan, kapasitas cakram keras itu hanya 0,93 GB, kurang 7 persen dari yang diiklankan!

Ada pula biaya tersembunyi atau tersamar. Banyak harga makanan restoran misalnya diiklankan tanpa biaya pajak dan tip wajib, service charge. Operator telepon genggam pandai beriklan tentang harga murah pulsanya, tetapi boleh dikata tidak ada yang menyatakan bahwa harga terendah biaya pemakaian telepon dibatasi oleh masa berlaku pulsa aktif. Apabila harga pulsa senilai Rp 10.000 berlaku selama dua minggu, paling tidak Anda tetap harus mengeluarkan uang sebesar itu setiap dua minggu, sekalipun operator menetapkan biaya panggil dan SMS Rp0!

Barang kemasan pun bisa dipakai untuk menipu. Isi semut kotak gajah. Belum lagi tawaran menggiurkan dengan ”syarat dan ketentuan berlaku” dan jangan lupa, hadiah menawan ”selama persediaan masih ada”.

Dalam banyak kasus, iklan menyesatkan tidak bisa dibuktikan. Namun, iklan berdampak menyesatkan karena memanfaatkan psikologi atau budaya pelanggan itu sehingga ia mengambil kesimpulan yang keliru, tetapi sesuai dengan kehendak pengiklan. Di sinilah peran perlindungan dari lembaga konsumen, DPR, dan pemerintah sangat diperlukan. Yang ini tak perlu studi banding sebab studi banding menyesatkan juga: ”jalan-jalan ke luar negeri dengan uang negara”.

SAMSUDIN BERLIAN Pemerhati Makna Kata

Koran Tempo Mendapat Predikat Media Massa Pengguna Bahasa Indonesia Terbaik

Pusat Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional, Kamis (28/10) di Jakarta, dalam puncak acara Bulan Bahasa dan Sastra, mengumumkan 10 media massa pengguna bahasa Indonesia yang baik tahun 2010. Harian Kompas menempati peringkat kedua setelah Koran Tempo di peringkat pertama. Peringkat ketiga pengguna bahasa Indonesia yang baik adalah Media Indonesia.

”Penilaian penggunaan bahasa Indonesia yang baik di media massa rutin digelar setiap tahun, memperingati Bulan Bahasa dan Sastra. Diharapkan, penggunaan bahasa Indonesia oleh media massa dari tahun ke tahun semakin baik sehingga juga berdampak baik kepada masyarakat pembaca,” kata Koordinator Intern Pusat Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional, Yeyen Maryani.

Sepuluh media massa pengguna bahasa yang baik, berturut-turut sesuai peringkatnya, yaitu Koran Tempo (Jakarta), Kompas (Jakarta), Media Indonesia (Jakarta), Republika (Jakarta), Sinar Harapan (Jakarta), Suara Pembaruan (Jakarta), Pikiran Rakyat (Bandung), Seputar Indonesia (Jakarta), Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), dan Jawa Pos (Surabaya).

Adapun untuk Penghargaan Karya Sastra Pusat Bahasa, tahun 2010 diraih Afrizal Malna dengan judul puisi Teman-temanku dari Atap Bahasa, Linda Christanty dengan cerita pendek Dari Jawa Menuju Atjeh, dan Nukila Amal dengan karya cerpen Laluba.

Sastrawan Afrizal Malna juga sekaligus ditetapkan sebagai penerima SEA Write Award 2010 yang akan ia terima langsung dari Raja Thailand di Bangkok.

Menurut Yeyen Maryani, dalam puncak acara Bulan Bahasa dan Sastra juga diserahkan hadiah bagi pemenang sayembara penulisan proposal penelitian kebahasaan dan kesastraan, pemenang sayembara penulisan esai sastra, pemenang sayembara penulisan naskah drama tingkat nasional, serta sejumlah lomba lainnya.

Bangga Berbahasa Indonesia Di Australia

Beberapa mahasiswa The University of New South Wales, Australia, ditemani dua dosen berkunjung ke Pesantren Tebuireng diantar oleh Prof Kacung Marijan dari FISIP Unair.

Mereka belajar bahasa Indonesia dan ingin mengetahui lebih banyak Indonesia, negara dan rakyatnya. Dalam dialog dengan mahasiswa Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, mereka menggunakan bahasa Indonesia.

Mereka belum lancar, tetapi berusaha keras menggunakan bahasa Indonesia. Tidak mudah mengikuti dan memahami apa yang mereka ucapkan karena logatnya memang amat berbeda. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang banyak dipelajari warga Australia setelah bahasa Jepang dan Mandarin.

Saya bertanya mengapa mereka tertarik belajar bahasa Indonesia? Ada yang menjawab bahwa Indonesia adalah negara yang besar dan penting serta mempunyai masa depan yang baik. Karena itu, dia belajar bahasa Indonesia supaya bisa memperoleh manfaat. Ada yang menjawab bahwa bahasa Indonesia itu menarik. Memang bahasa Indonesia menarik karena banyak perbedaan dengan bahasa Inggris (tidak punya kata kerja terkait waktu). Juga karena tidak mengikuti hukum MD, melainkan hukum DM.

Kurang ada kebanggaan

Tampaknya di Indonesia nasib bahasa Indonesia tidak sebaik di Australia. Dalam Ujian Nasional 2010, di banyak daerah terutama DIY, banyak murid tidak lulus karena nilai bahasa Indonesia mereka amat buruk. Kondisi pengembangan bahasa Indonesia di negerinya sendiri ternyata lebih buruk dari dugaan saya. Menurut Rektor Unesa (saat itu, Mei 2010) Prof Haris Suparno, hal ini berlangsung sejak dulu. ”Bangsa kita tidak terlalu bangga dengan bahasanya sendiri. Banyak guru yang tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Sarjana kita dan guru besar kita juga demikian. Kondisi Itu memprihatinkan, sebab mencintai bahasa sesungguhnya tidak menurunkan martabat bangsa.”

Prof Bambang Yulianto, Guru Besar Bidang Ilmu Pembelajaran Bahasa di Unesa, dalam pidato pengukuhan berjudul ”Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah: Dari Mana Mau ke Mana”, menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi pembelajaran bahasa Indonesia. Kurikulumnya berganti-ganti, tetapi tetap tidak menghasilkan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik. Itu pun diperparah oleh kurangnya guru dengan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik.

Dalam pidato pengukuhan Guru Besar Unesa Bidang Linguistik Jepang Prof Djojok Soepardjo berjudul ”Masyarakat dan Bahasa Jepang sebagai Kekuatan dalam Mewujudkan Modernisasi Jepang”, disampaikan bahwa tonggak modernisasi di Jepang bukan sekadar Restorasi Meiji 1868. Namun, kekuatan pada budaya dan kecintaan pada bahasa Jepang yang membuat restorasi berjalan mantap. Karena itu, kendati hancur setelah Perang Dunia II, perekonomian Jepang bangkit dalam sepuluh tahun. Bahkan setiap tahun terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi di atas 10 persen. Kebanggaan untuk menggunakan bahasa Jepang, menurut Prof Djojok, menjadi kekuatan masyarakat Jepang menghadapi modernisasi.

Di Indonesia kita melihat kurang ada kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia, terutama di kalangan cendekiawan. Dalam pidato para pejabat, termasuk Presiden SBY, sering kali digunakan bahasa Inggris. Kita juga gemar mengambil alih kata bahasa Inggris dan menjadikannya kata dalam bahasa Indone- sia. Mungkin karena malas atau karena gemar (sok berbahasa Inggris). Padahal, ada kata padanan untuk kata-kata yang diserap itu.

Contohnya kata arogan, disparitas, kondusif, mitigasi, klir. Padahal, arrogant tak lain tak bukan ’sombong’; disparity itu ’perbedaan’; conducive for ’mendukung untuk’; mitigation ’peringanan bencana’; clear ’jernih’ atau ’jelas’. Masih banyak lagi kata-kata Inggris yang sering digunakan oleh para cendekiawan kita dalam kegiatan sehari-hari. Kita berharap pers ikut di dalam kegiatan mengurangi penggunaan kata-kata Inggris dalam percakapan sehari-hari.

Kampanye

Lebih jauh lagi kita perlu mengkaji sejauh mana pidato pengukuhan Prof Djodjok Supardjo itu dapat kita terapkan di Indonesia. Kalau banyak mengandung kesesuaian, kita bisa menyosialisasikan kandungan pidato itu supaya bisa menjadi renungan kita bersama. Kalau sudah mendapat tanggapan positif, bisa kita jalankan. Pers dan para pencinta bahasa Indonesia perlu memulai kampanye bangga berbahasa Indonesia dengan berbagai cara.

Memang upaya itu sungguh tidak mudah. Saya memaksa siswa di Pesantren Tebuireng untuk bisa menulis dalam bahasa Indonesia yang baik dengan mewajibkan siswa membaca buku cerita atau lainnya (dua minggu membaca satu buku) lalu membuat ringkasan tertulis dari apa yang dibaca. Ternyata guru pun kurang serius menanggapi usul saya itu sehingga program itu kurang berkembang. Buat mereka, mata pelajaran Bahasa Indonesia tak terlalu penting. Asal kita mampu bicara bahasa Indonesia, sudah cukup.

Dalam kenyataan, kemampuan mereka berbahasa Indonesia kurang baik, padahal kemampuan itu amat dibutuhkan untuk bisa maju, baik sebagai pribadi maupun sebagai bangsa. Butir ketiga Sumpah Pemuda yang pernah kita anggap sebagai salah satu kebanggaan bangsa mulai meredup. Kita perlu tumbuhkan kembali kebanggaan itu.

Salahuddin Wahid Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang