Category Archives: Bahasa Indonesia

Apa Beda Kritik Sastra, Kritikus Sastra, dan Latar Belakangnya

Kajian akademik terhadap karya sastra Indonesia dimulai sejak mulai dibukanya lembaga pendidikan seperti fakultas Sastra di UI berupa sekolah tinggi sastra dan budaya sejak tahun 1929, atau UGM dengan fakultas sastra, pedagogik, dan filsafatnya tahun 1950. Kita pun baru mengenal kritikus sastra seperti Teeuw, Jassin, Umar Junus, dan beberapa nama lain kurang dari 50 tahun ini. Lalu, bagaimana kehidupan kritik dan kajian sastra sebelumnya? Dan apa pentingnya membicarakan dan mengotak-ngotakkan kritikus dan apresiator sastra Indonesia?

Banyak media massa yang terbit pada masa penjajahan Belanda yang memuat berbagai apresiasi, analisis, komentar, resensi, dan bahkan polemik berkaitan dengan karya sastra yang diterbitkan. Kebanyakan kritik itu ditulis oleh para wartawan, penulis, dan masyarakat pembaca. Ambil contoh polemik terhadap karya sastra yang diterbitkan di sekitar Sumatera Barat dan Sumatera Utara pada akhir 1930-an. Banyak tulisan di surat kabar dan majalah yang membahas tentang keberadaan karya-karya itu. Terakhir kemudian diadakan konferensi roman di Medan pada akhir 1939.

Majalah-majalah dan surat kabar sudah memberikan ruang yang cukup luas untuk apresiasi dan polemik ini. Majalah Pujangga Baru dapat dijadikan contoh berlangsungnya perdebatan kritik seni dan budaya, termasuk di dalamnya sastra. Sutan Takdir Alisjahbana dapat dijadikan salah satu sosok yang ikut membangun wacana dalam bidang ini, selain nama-nama seperti Gayus Siagian dan Hamka.

Tentu saja, pengetahuan sastra dan kajian sastra para kritikus itu dilandasi pada pengetahuan, pengalaman, dan rasa yang ada pada mereka. Sebagian mungkin mendapatkan pengetahuan dari buku-buku, referensi agama, surat kabar, atau sumber lain. Yang pasti, belum ada sekolah atau universitas khusus yang mempelajari dan mengajarkan kajian sastra. Meski kajian kritik sastra di luar negeri sudah berlangsung beberapa dekade sebelumnya, tapi secara akademis belum terbentuk di Indonesia tersebab beberapa alasan akademik dan nonakademik.

Berlangsungnya kritik sastra Indonesia modern ini juga sebenarnya didukung dan berpusat pada keberadaan universitas yang membuka jurusan sastra dan ilmu budaya. Dengan landasan teoretis dan format berpikir yang terstruktur secara akademik, kajian kritik sastra dapat bertahan dari waktu ke waktu. Namun demikian, apresiasi para pengkaji sastra yang berasal dari luar wilayah akademik sastra turut memberikan sumbangan yang tidak kecil.

Media menjadi salah satu instrumen dalam membangun kajian sastra. Untuk kasus di Indonesia, surat kabar menjadi fondasinya. Banyak apresiasi dan kritik sastra berlangsung di surat kabar. Tidak sedikit yang memiliki pandangan tajam, kebaruan dalam melakukan kritik, dan juga ide-ide segar dalam perbincangan sastra. Tema-tema khusus dan menarik diolah menjadi esai yang sederhana dalam hal panjang tulisannya. Namun demikian, dari hal-hal yang terbatas kedalaman dan keluasan ruang itu, kajian dan apresiasi sastra Indonesia menjadi terjaga ritme dan perjalanannya.

Hal berbeda terjadi dalam majalah atau jurnal khusus sastra. Dengan tingkat akses yang terbatas, seleksi dan editing yang juga masih terbatas, oplah yang sedikit, menjadikan majalah dan jurnal khusus sastra belum sepopuler surat kabar. Tampaknya motivasi dalam publikasi ini juga berbeda, tersangkut masalah finansial dan juga motif publikasi, baik bagi pengelola media maupun penulisnya.

Masih berkaitan dengan media, tulisan-tulisan atau artikel yang membahas sastra Indonesia modern yang ditulis oleh para peneliti luar negeri dan dipublikasikan di berbagai jurnal internasional masih terus berlangsung. Beberapa jurnal di Inggris, Belanda, Perancis, Amerika, Malaysia, Singapura, dan Australia masih memuat kajian-kajian terhadap sastra Indonesia. Wacana yang berlangsung di berbagai jurnal internasional itu mungkin belum dijadikan referensi dan pendukung bagi wacana yang berlangsung di dalam negeri. Beberapa jurnal dan artikel itu bisa diunduh dengan bebas jika para pengkaji sastra ingin mendapatkannya.

Dalam praktiknya, perbedaan antara akademis dan nonakademis dalam pengkajian dan penelitian kritik sastra kita tak ada bedanya, atau dapat dikatakan kecil. Seperti disinggung oleh Damhuri Muhammad dalam kuliah publiknya di Yogyakarta pada Maret lalu, bertajuk ”Akademisi Sastra vs Esais Sastra Mencari Kutu dalam Seteru”. Bahkan, berbagai hasil apresiasi dan kajian sastra yang dilakukan oleh kalangan nonakademisi sastra telah memberikan pemahaman dan sudut pandang yang penting dalam kajian sastra secara keseluruhan.

Surat kabar dalam rubrik seni dan budaya juga diisi oleh berbagai kalangan. Memang tidak berbanding dengan isi jurnal yang didominasi oleh kalangan dari perguruan tinggi. Namun, untuk majalah dan berkala yang diterbitkan di luar lingkungan akademik, tetap menunjukkan kontribusi yang berimbang. Hal ini tidak terlepas dari ranah dan lingkup serta tujuan penerbitannya.

Tampaknya, sastra menjadi medan terbuka yang menarik banyak orang untuk terlibat di dalamnya. Hampir semua orang membaca karya sastra, baik dalam bentuk buku maupun yang terbit di surat kabar dan berbagai media lain. Semua orang berhak dan terbukti terlibat dalam proses produksi dan reproduksi sastra. Banyak komunitas sastra muncul. Pembaca baru dan lama saling merangsek masuk. Apresiasi pun hendaknya merangkum sifat keterbukaan ini.

Bila kemudian institusi akademis sastra dijadikan satu bagian penting dalam kajian dan kehidupan sastra, itu karena mereka hidup dan bekerja dalam sebuah lingkungan yang sebenarnya kemudian harus bertanggung jawab untuk menjaga kelangsungan dunia sastra lewat pengajaran, kajian, dan penelitiannya yang terwujud dalam berbagai tulisan. Bila tidak terjadi, tentu saja kalangan yang lain, yang tidak berlatar belakang akademi sastra dipersilakan untuk menutupinya. Seakan-akan ini menjadi medan perebutan makna, yang ternyata tidak ada otoritas mutlak di dalamnya.

Kita juga melihat, banyak redaktur sastra, sebagai bagian yang juga penting, yang tidak berlatar akademi sastra. Demikian juga dengan para penulis karya sastra. Lalu, kenapa harus ditunggu para akademis sastra untuk bangun dan sadar akan peran dan tanggung jawabnya? Ah, ternyata mereka, termasuk saya, belum betul-betul sadar dengan tugasnya.

Sudarmoko Dosen Sastra Indonesia FSUA, Padang, Dosen Tamu Jurusan Melayu-Indonesia HUFS, Yongin, Korea

Bahasa Antara Tulisan dan Lisan

”…bahasa pada hakikatnya adalah lisan, bukan tulis,” kata Lie Charlie dalam kolom Bahasa edisi Jumat, 11 Juni 2010. Ini hanya benar secara kronologis. Bahasa memang berevolusi dari lisan ke tulisan, budaya bergerak dari orality ke literacy. Dengan percetakan, teks menjadi makin utama. Kini radio, televisi, dan internet pun hanya bisa ada dan berfungsi dengan tulisan. Tulisan tidak akan ada tanpa lisan, tetapi bahasa tulisan bukan sekadar bahasa lisan yang dituliskan. Hakikat bahasa tidak lagi lisan.

Baik dunia oral maupun literer kaya makna, tetapi ciri dan dampaknya pada proses pikiran manusia, dan sebagai kekuatan pengarah evolusi sosial, sangat berbeda. Bukan hanya itu, sejak tulisan pertama lahir lebih dari 5.000 tahun lalu di Sumeria (Irak Selatan), disusul Mesir, China, dst, dan sampai detik ini, sejarah mencatat bahwa bangsa bertulisan lebih unggul daripada bangsa berlisan saja. Nyatanya, sejarah adalah tulisan. Tulisan adalah cikal-bakal peradaban. Tulisan tinggal, lisan tanggal.

Tulisan jauh lebih akurat, tahan lama, dan efisien dalam melahirkan, menyimpan, memproses, dan memperkembangkan gagasan, sampai yang serumit-rumitnya dan seluas-luasnya. Dari gagasan ke tindakan hanya selangkah. Tanpa tulisan, tidak ada dunia modern, ilmu pengetahuan lambat berkembang, teknologi sebatas sederhana, komunikasi sejauh teriakan, transportasi sekuat tungkai selebar layar. Buta tulisan, biarpun kaya lisan, adalah resep kemiskinan dan ketakberdayaan.

Filsuf Yesuit dan pakar ilmu bahasa, Walter Ong, mendaftarkan beberapa ciri oralitas yang berkontras dengan budaya tulisan. Karena ingatan adalah satu-satunya alat memelihara pengetahuan, dalam dunia lisan kosakata sedikit, tata bahasa sederhana, kata dan konsep diulang-ulang, dan gaya formula umum dipakai, ciri-ciri yang memang masih kental dalam bahasa Indonesia. Formula seperti pantun dan syair misalnya sangat terkenal di dunia Melayu, yang tidak asing dengan pidato, pepatah-petitih, dan silat lidah.

Guru-guru yang hidup dalam dunia lisan selalu menuntut murid-murid menghafal, bahkan menghafal mati, sampai hal-hal yang seremeh-remehnya. Dalam dunia tulisan, hanya hal-hal mendasar yang perlu dihafal. Yang perlu adalah mengasah pemahaman, ketajaman berpikir, kemampuan analitis, abstraksi, dan seterusnya. Dalam lisan yang penting data. Dalam tulisan yang utama olah-data. Akibatnya, lisan itu statis menoleh ke belakang. Tulisan itu dinamis menatap masa depan.

Dunia oralitas juga penuh dengan ungkapan-ungkapan ekspresif seperti adil makmur, aman sentosa, dan lain-lain. Klise memang berkembang dalam dunia lisan. Dengan tulisan, kata-kata dalam ungkapan-ungkapan seperti itu bisa dipecah dan dianalisis sehingga timbul kompleksitas yang merombak dan memperkaya makna. Yang perlu bukan hanya kemampuan baca tulis, melainkan memfungsikan tulisan sebagai instrumen berpikir. Misalnya, hanya dengan tulisanlah bisa dikembangkan daftar, tabel, dan statistik. Bukan berpikir lalu menulis, melainkan menulis sebagai bagian dari proses berpikir canggih.

Tulisan meningkatkan pikiran. Pikiran meningkatkan tulisan. Pemikir adalah penulis.

SAMSUDIN BERLIAN Pemerhati Makna Kata

Perbedaan Puisi dan Prosa

Puisi dan prosa sering dianggap sebagai sepasang ”lawan kata”. Bahkan, tak hanya itu, puisi dianggap lebih tinggi dari prosa. Yang ”puitis” umumnya berkonotasi positif, sedangkan yang ”prosaik” sebaliknya. Mengapa bisa demikian? Dan betulkah puisi dan prosa adalah sepasang ”lawan kata”?

Mungkin kerja sastra yang telah berabad-abad lamanya mengukuhkan dikotomi itu. Puisi digubah dengan kesadaran yang intens (bahkan ”neurotik”) terhadap bahasa, sementara prosa ditulis dengan fokus utama terhadap ”isi” (cerita, perwatakan, argumen, dan sebagainya) dan konon perhatian seperlunya saja terhadap bahasa. Jika puisi adalah sebentuk komposisi berirama, maka seolah-olah prosa ditulis tanpa irama. Jika puisi menggarap unsur bunyi (juga sunyi) dan citraan serta pilihan kata secara ketat, maka semua hal itu seakan-akan tak terjadi pada prosa. Dengan kata lain: jika bahasa berlaku sebagai ”pemeran pembantu” dalam prosa, maka dalam puisi bahasa adalah ”pemeran utama”. Ada kalanya muncul kiasan lain: prosa adalah bahasa dalam bentuk cair, puisi adalah bahasa dalam bentuk padat.

Pandangan semacam itu mungkin tak sepenuhnya keliru, tapi memang sangat menyederhanakan, tak setimbang, dan akhirnya bisa menyesatkan. Sebab, dilihat dari sisi seberang, bisa tampak gambaran sebaliknya. Puisi adalah ungkapan bahasa yang gemar bersolek, aneh, samar-samar, bahkan gelap, sementara prosa adalah ungkapan bahasa yang wajar dan terang, makin wajar dan terang-benderang, makin baguslah prosa itu. Puisi mengigau sendiri; prosa berkomunikasi. Puisi doyan melanggar konvensi, dengan tameng licentia poetica; sedangkan prosa mesti mantap menjalankan tata bahasa (tanpa mengenal licentia prosaica). Dan seterusnya.

Daftar bias dari satu dan lain pihak tentu bisa diperpanjang. Namun, ada baiknya itu diperlakukan sebagai semacam permainan ”melihat dengan sebelah mata” secara bergantian—sebelum akhirnya kedua belah ”mata” dibuka lebar hingga tampaklah segenap kedalaman dan ukuran secara lebih jernih dan tajam.

Puisi dan prosa mungkin saja adalah ”kawan” sekaligus ”lawan”: berseberangan, berdekatan, bergelutan, tapi toh menghirup udara yang sama. Ritme atau irama, misalnya—pola ungkap yang menentukan karakter ”suara” sebuah karya sastra—nyatanya bisa hadir baik dalam puisi maupun prosa. Pentingnya diksi yang jitu serta susunan yang padu juga berlaku bagi keduanya. Prosa yang mantap, sebagaimana puisi yang kuat, sama-sama mengolah segenap unsurnya hingga ke taraf ”puncak pas”, tak lebih dan tak kurang.

Sementara itu, hubungan antara puisi dan prosa telah berlangsung jauh dan dalam pelbagai cara, kadang dalam kelindan ataupun bauran yang tak sederhana. Tak sedikit pula sastrawan yang sesekali atau banyak kali bergerak di wilayah kelabu antara puisi dan prosa, misalnya menulis karya yang lazim disebut prosa lirik atau prose poem. Demikianlah, prosa bisa merasuki puisi, atau sebaliknya, saling meresap dan bersenyawa, dan menjelmakan pelbagai jenis hibrida yang membuat pemilahan (maupun pemeringkatan) antara puisi dan prosa, antara yang ”puitis” dan yang ”prosaik”, mesti dipertanyakan lagi, terus-menerus.

HASIF AMINI

Bahasa Indonesia Yang Tiba Tiba Menjadi Bahasan

Setiap muncul persoalan, orang Indonesia memiliki kebiasaan unik; mencari kambing hitam. Dalam persoalan apa pun, rasanya tidak akan marem bila kambing hitamnya belum dimunculkan. Tak mengherankan bila akhirnya bisnis paling prospektif di negeri ini adalah blantik kambing. Sayang, orang Indonesia memang termasuk “kapitalis tanggung”, maka peluang untuk mendirikan perusahaan outsourcing penyedia kambing hitam sampai sekarang belum dibangun. It’s only a joke.

Dalam persoalan ujian nasional (UN), hobi mencari kambing hitam pun mulai terlihat bermunculan. Beberapa pihak mulai menuding guru bahasa sebagai pihak yang perlu dikambinghitamkan. Guru bahasa dianggap tidak seandal Mama Laurent dalam memprediksi soal. Beberapa pihak juga menuding guru terlalu menyepelekan karena bidang bahasa selama ini dianggap sebagai pelajaran mudah. Bahkan, seorang profesor ilmu bahasa, dalam beberapa media massa, mulai ikut-ikutan mengatakan ada yang salah dalam teknik pengajaran ilmu bahasa di sekolah.

Mana yang benar, mana yang salah, entahlah. Terlalu riskan untuk mencari kebenaran di negeri ini. Satu-satunya cara mencari kebenaran yang paling populer hanya dititikberatkan pada azas kebersamaan; asal temannya banyak, pasti itu yang benar. Maka dapat dipastikan, pengambilan keputusan melalui voting begitu populer di negeri ini. Tak peduli, apakah yang divoting sama-sama benar atau tidak. Inilah negeri dagelan. Banyak profesor hebat tinggal, tetapi tidak pernah lahir pemikiran empiris untuk menentukan sebuah kebenaran ilmiah.

Ya. Pada setiap kegagalan, memang wajar-wajar saja kalau “sang arsitek” dipersalahkan. Kegagalan sebuah tim sepak bola yang dipersalahkan pasti pelatihnya. Kegagalan sebuah konstruksi bangunan yang dipersalahkan pasti arsiteknya. Begitu pula kegagalan sebuah lembaga, yang dipersalahkan pasti pimpinannya. Secara pertanggungjawaban, guru memang layak dituding karena mereka memang bertanggung jawab penuh pada proses belajar mengajar di sekolah.

Namun, dalam kasus ini, apakah benar guru bahasa memang berada dalam posisi bersalah? Gedung roboh belum tentu salah arsitek, bisa jadi ada pekerja nakal yang mengurangi jumlah rangka besi dalam bangunan. Begitu pula dalam kasus kekalahan tim sepak bola, belum tentu pelatihnya salah meramu formasi, bisa jadi ada pemain yang “main mata” dengan tim lawan. Namun, dalam konteks pertanggungjawaban, guru bahasa memang harus menjadi pihak yang harus bertanggung jawab. Namun, dalam konteks penyalahan, guru bahasa tidak bisa serta-merta dipersalahkan.

Perlu disadari oleh banyak pihak, setiap orang yang bersalah memang harus bertanggung jawab, tetapi tidak semua orang yang bertanggung jawab itu pasti bersalah. Guru hanya “ketiban apes” dari sebuah sistem pendidikan yang tidak dirancang tidak komprehensif integral. Guru hanya pihak yang harus bertanggung jawab, tetapi bukan pihak yang bersalah.

Bila kita bersedia berpikir lebih jernih, ada permasalahan akut dalam sistem pendidikan yang dibangun dengan kebijakan tidak komprehensif integral. Di manakah letak permasalahan tersebut? Perhatikan saja dalam sistem pengajaran dan sistem evaluasinya. Sistem pengajaran yang seharusnya satu paket dengan sistem evaluasi ternyata diatur oleh kebijakan yang tidak sinkron. Di satu sisi, proses pengajaran yang dijabarkan melalui kurikulum mengamanatkan pengajaran yang berorientasi pada keahlian penerapan keilmuan pada siswa (lebih bersifat praktik). Di sisi lain, proses evaluasi yang dijabarkan pada UN justru menitikberatkan pada aspek kognitif (lebih bersifat teoritis).

Masalah ketidaksinkronan ini telah berjalan lama. Bahkan, sudah sejak lama pula banyak orang mengatakan, gesekan besar antara dua kebijakan tersebut hanya tinggal menunggu waktu. Alhasil, waktu-waktu inilah yang ditunggu itu. Gesekan telah terjadi, dan yang tergencet adalah kaum guru. Guru menjalankan kurikulum dengan baik, tetapi karena sistem evaluasinya tidak berjalan sinkron, hasil pengajaran guru menjadi sia-sia. Naasnya, sistem evaluasilah yang menjadi algojo bagi penentu kelulusan.

Lalu bagaimana sebenarnya capaian dalam pengajaran bahasa? Bila disesuaikan amanat kurikulum, harusnya pengajaran bahasa dianggap sukses apabila siswa sudah dapat memanfaatkan ilmu bahasa secara baik. Siswa pandai cas-cis-cus pakai bahasa Inggris, itu sudah sukses. Atau siswa berkali-kali menerbitkan buku karya sastra, itu pun sudah bisa dikatakan sukses. Dan lihat saja pada anak-anak sekarang, kalau dalam bahasa banyolan, mimpi pun mereka sudah pakai bahasa Inggris. Lantas di mana letak kegagalan seorang guru?

Dengan demikian, permasalahannya sebenarnya justru terletak pada masalah ketidaksinkronan antara sistem pengajaran dan sistem evaluasi. Untuk menyinkronkan tidak perlulah sampai dibentuk “Pansus” segala. Keduanya sama-sama bisa diubah supaya menjadi sinkron. Yang perlu menjadi patokan hanyalah azas kemanfaatan. Bila kurikulum diubah lebih bermanfaat, ubah sajalah kurikulumnya. Sebaliknya, bila sistem evaluasi diubah lebih membawa manfaat, ubah sajalah sistem evaluasinya.

Untuk menentukan langkah strategis seperti ini, tentu saja saya menyarankan pada para pemangku kebijakan dan para profesor bidang pendidikan untuk duduk bersama merembuk persoalan ini. Siapa lagi yang bisa menyelesaikan persoalan bila bukan pemangku kebijakan dan para profesor pendidikan. Namun, jangan sampai ada profesor bilang, untuk menyinkronkan sistem pengajaran dan sistem evaluasi sangat sulit. Sulit bukan berarti tidak bisa dilakukan. Dan bukankah seorang profesor digaji tinggi memang untuk berpikir yang sulit-sulit? Yah, barangkali benar, kita perlu banyak-banyak merenung, sebab mencari kambing hitam jauh lebih mudah daripada menguraikan persoalan. ZAINAL ARIFIN Pemerhati Pendidikan Dosen IKIP PGRI Semarang

Bahasa Embara … Siapa Yang Lupa?

Embara? Kedengarannya asing di telinga kita. Padahal, kata itu sangat sering dipakai dalam rupa berimbuhan: mengembara dan pengembara. Pengembara dapat dipadankan dengan kelana (mengapa harus pengelana?), kata puitis yang sering tersua pada cerita tempo hari. Embara adalah kata asal, tetapi lebih kerap kita jumpai dalam bentuk kembara.

Kita sering lupa dengan asal-usul kata sehingga acap kali menggunakan deretan kata berimbuhan dalam kalimat. ”Pak Ahmad sangat memedulikan anak-anaknya”, padahal kalimat itu dapat ditulis sebagai ”Pak Ahmad sangat peduli anak-anaknya”. Contoh lain: ”Pemerintah memperingatkan agar pelaksanaan peraturan perlalulintasan serta pengawasannya dapat terlaksana dengan melakukan penataan birokrasi kepolisian.” Terlalu banyak kata berimbuhan. Tentu saja kalimat semacam itu tak mudah dicernakan, selain tak terang-benderang. Kenapa bukan: ”Pemerintah ingatkan agar laksana peraturan lalu lintas serta awasannya dilakukan dengan tataan birokrasi kepolisian” saja? Dalam hal ini, apa beda arti pelaksanaan dengan laksana, pengawasan dengan awasan, atau antara memperingatkan dengan ingatkan? Begitu pula antara penataan dengan tataan?

Kata kembara memang lebih dihargai di Malaysia. Juga Brunei. Ia sering digunakan tidak hanya dalam bentuk cerita, tetapi juga dalam lirik lagu. Di Indonesia paling Titik Hamzah, pencipta lagu, yang menggunakan kata ini dalam karyanya, ”Kembara di Tepi Senja”, yang masuk tiga besar dalam Festival Lagu Populer Tingkat Nasional 1981.

Adalah Aishah, penyanyi Malaysia sekelas Berlian Hutauruk di sini, yang membawakan nyanyian liris: Tiada kata secantik bahasa/kan ku puji kakanda/Tiada gambar secantik lukisan/kan ku tunjukkan perasaan; kakak puspa kemala/mengharum jiwa/ mm.. kakak puspa kemala/mustika dinda/Namun musim berubah/suasana berubah/tapi ikatan mesra/sedikitpun tak berubah/Tiada kata secantik bahasa/ku puji kakanda.

Jangan bayangkan lagu itu di zaman P Ramlee. Aishah menyanyikannya dengan langgam jazz-tango, enak diikuti, dan dibawa ke kalbu. Bandingkan dengan lirik lagu-lagu pop kita yang miskin makna selain mengada-ada kata.

Ada apa dengan puspa, kemala, mustika, atau kakanda sekalipun? Bukankah itu kata-kata berpangkal dari sini? Banyak sekali kata milik kita yang dilupakan, tetapi diserap oleh Malaysia? Malukah bila kita tuding mereka telah membajak milik kita? Seakan lagu itu menyindir tiada kata secantik bahasa? Malaysia memanfaatkan betul forum Majelis Bahasa Brunei Indonesia dan Malaysia yang telah lama ada dan selalu bersidang secara berkala untuk mengembangkan bahasa.

Siapakah yang dapat disalahkan? Televisi? Mungkin. Zaman? Memang karut-marut. Budaya? Memang menurun. Lihatlah siaran televisi, anggota DPR, atau adab berlalu lintas. Mungkin banyak yang kita salahkan. Saya hanya ingin mencatat satu hal: tidakkah perlu meningkatkan peran Pusat Bahasa, lembaga di bawah Kementerian Pendidikan Nasional? Di Malaysia yang menangani urusan ini adalah Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP). Institusi itu berpengaruh atas bahasa dan penerbitan. Ia berwenang dan proaktif soal bahasa, semantik, dan produksi kata (penerbitan). Media massa patuh dan merujuk pada buku panduan yang dikeluarkan DBP. Kita? Media massa dengan segala lagaknya leluasa memproduksi kata yang lalu ditelan orang banyak. Peran Pusat Bahasa? Ia seperti lemah syahwat karena tidak diperhatikan.

Zulhasril Nasir Pengamat Komunikasi, Pusat Tamadun Melayu UI

Bahasa Indonesia Bahasa Kematian

Muslim menyebut Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (Quran 2:156, ”Sungguh, kita adalah milik Allah, dan kepadaNya kita kembali”—terjemahan HB Yassin) bila mendengar tentang kematian seseorang. Ketika kemalangan tiba, seorang Muslim berserah kepada Allah dan bersyukur atas segala apa yang dia terima, pahit sekalipun, dan tetap bersabar.

Kristen Katolik umum memajang RIP (Requiescant in pace ”semoga dia (mereka) beristirahat dalam damai”) di batu nisan. Ini bagian dari doa penguburan: Anima eius et animae omnium fidelium defunctorum per Dei misericordiam requiescant in pace ”semoga jiwanya dan jiwa-jiwa orang beriman yang sudah meninggal beristirahat dalam damai karena belas kasih Tuhan”.

Kristen Protestan biasanya mengutip ungkapan ”pulang ke rumah Bapa” mengikuti ucapan Yesus dalam Yohanes 14:2, ”Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu”.

Bagi Buddhis, kematian adalah kelanjutan hidup ini, suatu titik berangkat baru, bergantung pada karma atau kamma (sebab yang menentukan vipaka atau akibat dalam prinsip universal kausalitas), menuju entah nirwana (damai sempurna, tanpa-duka, tanpa-reinkarnasi) atau kelahiran kembali di dunia ini, serta merupakan peringatan bagi semua manusia akan kefanaannya.

Di Bali Hindu, Ngaben atau Pitra Yadnya, upacara suci untuk arwah manusia yang sudah meninggal, mempercepat pengembalian jasad lewat meralina (kremasi) kepada Pancamahabhuta atau lima unsur alam: akasa (eter), bayu (udara), teja (api), apah (air), dan pertiwi (tanah).

Tradisi dan ungkapan berbeda tentulah biasa di Nusantara beratusan suku bangsa dengan budaya bermacam ragam. Segala upaya menjunjung harmoni, tenggang rasa, solidaritas, dan kerukunan justru baru punya arti dalam konteks kepelbagaian itu. Namun, pada akhirnya yang berlaku bukanlah ”maut menyetarakan yang tinggi dan yang rendah” melainkan ”sampai maut memisahkan kita”.

Tiada cermin lebih paripurna yang menampilkan keterpisahan manusia beragama daripada kompleks perkuburan di Indonesia. Kapling-kapling kuburan yang dipilah-pilah berdasarkan agama membuktikan kebersatuan parsial pemeluk agama dan keterpisahan global umat manusia. Mereka lebih nyaman hidup dan mati dalam kelompok-kelompok kebenaran daripada dalam kemanusiaan universal. Tidak ada rasionalisasi atau apologetika yang bisa menyembunyikan kebenaran ini—bahwa manusia Indonesia lebih menjunjung keyakinannya daripada kemanusiaannya.

Dialog antarkeyakinan tak putus-putus (baru saja Indonesia mengirim delegasi untuk mengikuti dialog antariman di Madrid, Spanyol), toh masing-masing akan menuju pelabuhan kekal berbeda. Paling tidak, dalam perjalanan terakhir, masing-masing menuju kapling kuburan atau tempat kremasi berbeda.

Mungkin sebenarnya yang dianut sebagian besar orang Indonesia adalah bahwa ada aneka surga dan nirwana, tetapi satu neraka.

SAMSUDIN BERLIAN Peminat Semantik

Membangkitkan Minat Baca Lewat Taman Bacaan Masyarakat

Usaha untuk meningkatkan minat baca masyarakat tidak pernah hilang, salah satunya dengan menyediakan taman bacaan masyarakat. Kalau biasanya dibuat di perkampungan, di Banten, taman bacaan masyarakat ini dibangun di pasar atau pusat belanja, tempat yang sering dikunjungi masyarakat.

Bertepatan dengan Peringatan Hari Pendidikan Nasional pada Minggu (2/5), Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah meresmikan sebuah taman bacaan masyarakat di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Serang, Provinsi Banten.

Tahun ini, Serang memang menjadi satu di antara tiga kota di Indonesia yang ditunjuk menjadi tempat peluncuran program TBM@Mall, yakni taman bacaan masyarakat di mal atau pusat perbelanjaan. Dua kota lainnya adalah Jakarta dan Makassar.

Sesaat setelah membuka secara resmi gerai TBM@Mall tersebut, Atut sempat bercengkerama dengan Naila, seorang bocah perempuan dari pendidikan anak usia dini Al Kautsar yang sejak pagi sudah duduk di dekat rak buku. Rak buku TBM@Mall itu berada di dekat pintu masuk.

”Sedang apa Nak?” tanya Atut sambil menunduk untuk menyesuaikan diri dengan ketinggian badan si bocah. ”Sedang membaca,” kata Naila.

Dikerumuni para pejabat dan undangan yang hadir dalam peluncuran TBM@Mall itu, Naila didaulat membaca buku cerita anak yang barusan diambilnya dari rak. Tema buku yang dibacanya itu tentang seorang anak yang senang berkata benar.

Suara bening bocah perempuan yang sedang membaca larik kisah itu tak pelak kian menambah panjang kerumunan warga yang sedang belanja untuk menengok ke gerai TBM@Mall.

Dengan lantai beralas gabus warna-warni, rak buku berwarna cerah, dan pencahayaan ruang yang terang, gerai TBM@Mall menjadi tempat membaca yang nyaman. Ini bisa menjadi alternatif tempat menunggu bagi anak ketika orangtuanya sedang berbelanja.

”Asyik juga ada tempat membaca ini, jadi bisa baca-baca sambil nunggu istri selesai belanja,” tutur Rian, warga Serang. Namun, dia kemudian beranjak keluar ketika melihat buku-buku yang dipajang di rak kebanyakan buku anak-anak.

Pendiri Rumah Dunia, sebuah lini sosial Yayasan Pena Dunia, Heri Hendrayana, atau yang dikenal dengan nama pena Gola Gong, menuturkan, secara bertahap koleksi buku di TBM@Mall tersebut akan ditambah. ”Kami pun membuka kesempatan bagi warga yang ingin menyumbangkan buku ke sini,” kata Gola Gong.

Rumah Dunia dipercaya menyelenggarakan program TBM@Mall di Kota Serang karena selama ini dinilai berhasil dalam mengelola dan bahkan menjadi model rujukan pengelolaan TBM.

Gola Gong menuturkan, sasaran program TBM@Mall ini terutama kalangan generasi muda, yakni untuk menumbuhkan secara dini budaya membaca mereka sebagai penyeimbang di tengah budaya konsumerisme.

Selain sebagai tempat membaca, kata Gola Gong, TBM@Mall juga akan dimanfaatkan untuk menggelar aktivitas yang bisa merangsang pemikiran. Melalui kegiatan lomba menggambar atau mewarnai buat anak-anak hingga diskusi dan bedah buku.

Dengan pengelolaan semacam ini, TBM@Mall diikhtiarkan untuk tidak berhenti sebagai book corner atau sudut baca dengan rak bukunya yang statis, tetapi juga sebagai wahana berkegiatan yang dinamis.

Gola Gong yang juga menjabat Ketua Umum Taman Bacaan Masyarakat Indonesia ini mengungkapkan, pemerintah memberikan dana stimulan bagi penyelenggara TBM@Mall ini senilai Rp 70 juta. Dana itu dipakai untuk membiayai operasional TBM@Mall setahun.

Corporate Affair Director Carrefour Indonesia Irawan D Kadarman mengatakan, pengembangan sumber daya manusia harus dimulai sejak dini. ”Kami melihat program TBM@Mall ini ide yang kreatif. Ketika ibunya belanja, anaknya bisa belajar dengan membaca-baca buku,” kata Irawan.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten Eko Endang Koswara berharap program ini dapat meningkatkan minat baca.

Bahasa Indonesia Sajak dan Puisi

Bahasa Indonesia memiliki hanya sedikit perbendaharaan untuk menyebut kata-kata yang terangkai menjadi larik-larik dan bait berirama yang penuh citraan atau kiasan: ”sajak” dan ”puisi”—ada kalanya ”syair” juga dipakai, dan dulu (atau kini sesekali) kata ”sanjak” pun beredar. Tetapi itu rupanya tak hanya terjadi dalam bahasa kita. Bahasa Inggris, misalnya, dengan latar tradisi sastra yang begitu panjang dan luas, pun hanya punya nomina poem, poetry, dan verse, untuk menyebut hal yang lebih-kurang sama.

(Adapun sajak atau sanjak atau syair atau puisi itu tentulah sangat banyak ragam atau bentuknya: gurindam, haiku, pantun, sajak bebas, sestina, soneta, talibun, villanelle, dan seterusnya. Jika dikumpulkan dari pelbagai khazanah sastra di segenap penjuru dunia, mungkin ada ratusan atau bahkan ribuan bentuk puisi yang pernah hidup sejak manusia mulai berbahasa dan bernyanyi dengan kata-kata hingga hari ini.)

Namun, kembali kepada empat patah nama di kalimat pembuka di atas, kosakata yang sedikit itu barangkali sudah sewajarnya: nama umum/generik untuk menyebut sesuatu memang tak perlu bervariasi. Yang penting adalah bahwa cukup tersedia nama diri untuk menyebut atau menandai masing-masing jenis atau ragam yang lebih khusus, sebagaimana dicontohkan pada alinea kedua.

Dalam penggunaan sehari-hari, kata ”sajak” dan ”puisi” kerap dipertukarkan sebagai sinonim, tetapi kadang-kadang digunakan untuk menunjuk dua ihwal yang sedikit berlainan. Kata ”sajak” tak jarang merujuk pada wujud formal yang tampak pada sebuah komposisi verbal yang berirama—termasuk di dalamnya rima, panjang-pendek larik, dan pembagian bait. Karena itu, frase ”pola persajakan” mengacu pada penyusunan unsur-unsur tersebut dalam sebuah karya. Sedangkan ”puisi” bisa mengarah pada watak sugestif bahasa yang digunakan atau kekuatan dan kepadatan imajinasi yang terkandung dalam suatu karya tulis, entah karya itu mengandung ”pola persajakan” ataupun tidak. Bahkan, kawasan ”puisi” kini seakan lebih luas dari sastra: sekali waktu kita mendengar sebuah film atau lukisan disebut ”puitis” atau dikatakan sebagai sebuah ”puisi”—bukan karena ada kata-kata bersajak di dalamnya, melainkan karena kekuatan visualnya.

Jalan berliku

Kata ”syair”, setidaknya sebagaimana terpetik dari khazanah sastra Melayu, semula merujuk pada suatu bentuk puisi terikat, tetapi dalam pemakaian umum kini barangkali lebih banyak berlaku sebagai padanan ”lirik lagu”. Padahal kata dasar ini telah membentuk kata ”penyair” dan ”kepenyairan”—nah, di sini pun kita mungkin akan mendengar pertanyaan: kenapa bukan ”pesyair” dan ”kepesyairan”? Sementara dalam bahasa Arab, khazanah asal istilah itu, kata sya’ir sebetulnya justru merujuk kepada orang yang menulis sajak, sedangkan sajak adalah syi’ir. Apa mau dikata: demikianlah jalan berliku yang bisa dan biasa ditempuh sebuah kata, apalagi dari zaman ke zaman, melintas dari satu ke lain bahasa.

Sedangkan kata ”sanjak”, yang bersinonim dengan ”sajak”, kini terasa kuno, arkais. Rasanya sudah jarang orang menggunakannya dalam tulisan atau ujaran sehari-hari. Namun, di tahun 1954, pernah terbit buku Sandjak-sandjak Muda Mr. Muhammad Yamin susunan Armijn Pane. Pun, beberapa tahun kemudian, terbit Priangan Si Djelita: Kumpulan Sandjak karya Ramadhan KH. Setelah itu agaknya kata ini pelan-pelan menepi dan menghilang.

Jadi, manakah yang mesti dipakai: ”sajak”, ”sanjak”, ”syair”, atau ”puisi”? Silakan pilih sendiri—salah satu, salah dua, atau semuanya, atau menggilir masing-masing sesuai keperluan dan selera. Tak ada anjuran apalagi larangan. Jika kami akhirnya memilih menggunakan ”puisi” sebagai nama rubrik, itu semata demi alasan akomodasi: semua sajak adalah puisi, sedangkan tidak semua puisi bersajak.

Bahasa Gaul Ternyata Merusak Remaja dan Menutup Kesempatan Berkarir

Ternyata 75 persen siswa Sekolah Menengak Kejuruan (SMK) gagal dalam memasuki lapangan kerja dunia usaha, karena hasil wawancara yang buruk, demikian hasil penelitian Forum Peduli Pendidikan Pelatihan Menengah Kejuruan Indonesia (FP3MKI).

“Saat dirinci lebih jauh, 40 persennya tidak berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bahasa gaul lebih banyak merusak siswa dalam berbahasa Indonesia,” kata Ketua Musyawarah Guru Mata  Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia Jakarta Timur Sudarwati SPd, Kamis.

Berpijak dari itulah, MGMP Bahasa Indonesia tingkat nasional, di antaranya menyelenggarakan Lomba Gelar Prestasi dan Bela Negara. “Kami di tingkat wilayah juga ikut menggelar kegiatan tersebut, khususnya lomba menulis dan bercerita,” ujar Sudarwati.

Lomba yang dibuka Kasi SMK Sudin Pendidikan Menengah (Dikmen) Jakarta Timur, Hadi Waulat, di SMK 10 Jalan Jenderal Sutoyo, Cililitan kemarin diikuti siswa dari 22 SMK.

“Tiap sekolah mengirim dua siswanya. Pemenangan nanti akan mengikuti perlombaan sejenis di tingkat provinsi sampai ke tingkat nasional,” jelas Sudarwati

Kamus Matano Antisipasi Kepunahan Bahasa Daerah Soroako, Matano, Nuha dan Bure

Kamus Sekitar Danau Matano hadir untuk mengantisipasi kepunahan bahasa daerah, khususnya di sekitar Kawasan Danau Matano yang merupakan kawasan pertambangan nikel PT Inco, Tbk.

“Kamus ini hadir untuk menjawab kegelisahan kami, karena masyarakat yang berada di sekitar lokasi pertambangan sudah jarang menggunakan bahasa daerah setempat,” ujar pencipta Kamus bahasa daerah yang berjudul Kamus Sekitar Danau Matano, DR Djasruddin, di Makassar, Selasa.

Dikatakannya, kamus yang memuat empat logat bahasa yakni Bahasa Soroako, Matano, Nuha dan Bure akan menjadi penuntun bagi masyarakat lokal dalam melestarikan salah satu produk budayanya. Selain itu, kamus itu juga dapat digunakan oleh pendatang yang bekerja di kawasan pertambangan nikel milik PT Inco.

Menurut Djasruddin yang juga guru besar Universitas Negeri Makassar (UNM), setelah kamus tersebut dapat diterima dan diterapkan masyarakat di Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel), maka langkah selanjutnya adalah menjadikan Bahasa Soroako atau bahasa setempat menjadi salah satu bahan ajar muatan lokal di sekolah-sekolah.

“Hal itu agar bahasa daerah setempat tidak punah, dan generasi yang sudah hidup dengan serba teknologi, tidak melupakan karya budaya leluhurnya,” jelas pria kelahiran Luwu itu.

Penyusunan kamus itu, menurut dia, mendapat dukungan dari PT Inco melalui program pengembangan dan pelestarian budaya lokal. Kamus yang memuat bahasa daerah itu, juga menjadi bagian dari hasil produk 10 buku yang merupakan bahan ajar bagi SD hingga SMA di Soroako dan sekitarnya yang telah diluncurkan pada September 2008.

Mengenai isi kamus itu, Djasruddin mengakui, masih jauh dari kesempurnaan, karena itu pihaknya masih terus mencari kosa kata yang belum sempat dimasukkan dalam kamus saku tersebut.

Untuk membuat kamus yang dapat menjadi acuan bagi masyarakat di sekitar Danau Matano di Luwu Timur, ia menambahkan, harus menggali kosa kata yang digunakan masyarakat pada empat lokasi dengan logat dan arti yang berbeda-beda, selama kurang lebih setahun