Category Archives: Buku Sekolah

Novel Dewasa Tentang Seks dan Kekerasan Beredar Di Perpustakaan SD Hasil Proyek DAK Provinsi Jabar

Novel kategori dewasa yang dinilai tidak layak dibaca anak-anak, ditemukan di perpustakaan SD Cempaka Arum. Dua novel yang ditemukan berjudul ‘Tambelo’ dan ‘Tidak Hilang Sebuah Nama’.

Novel tersebut lebih banyak berisi cerita kekerasan dan seksual. Bukan hanya tak pantas dibaca siswa SD, novel itu juga dinilai tak layak dibaca siswa SMP dan SMA.

“Novel-novel ini lebih pantas dibaca orang dewasa atau 18 tahun ke atas,” kata Ketua DPD Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) Jabar Achmad Taufan dalam konferensi pers di Sekretariat Koalisi Pendidikan Kota Bandung, Jalan Kiliningan, Jumat (8/6/2012).

Novel itu ditemukan hari ini dan disinyalir juga terdapat di SD lain se-Jabar. Kronologi penemuan itu diawali setelah kemarin pihaknya mendapat instruksi dari Disdik Kota Bandung untuk mengecek keberadaan buku yang merupakan bantuan dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Provinsi Jabar.

“Tadi saya tugaskan petugas perpustakaan untuk mengecek buku bantuan tersebut. Hasilnya ditemukan dua buku itu,” kata Achmad yang juga kepala sekolah SD Cempaka Arum.

Setelah mengetahui novel itu ternyata tak pantas dibaca, novel langsung ditarik dari perpustakaan agar tak dibaca siswa. Namun belum diketahui apakah buku serupa ada di sekolah lain atau tidak.

Dijelaskan Achmad, buku itu merupakan proyek bagian dari DAK Provinsi Jabar yang dibagikan pada Maret lalu. Ada beberapa buku yang diberikan kepada SD dengan jumlah lima eksemplar untuk setiap judul buku.

“Yang masuk ke sekolah kami, saya kurang tahu jumlahnya. Tapi yang jelas tidak kurang dari lima eskemplar tiap bukunya,” tuturnya.

Berikut ini novel yang dinilai tidak layak dibaca siswa:
1. Tambelo, Kembalinya Si Burung Camar
Pengarang: Redhite Kurniawan
Penerbit: PT Era Adicitra Intermedia, cetakan 2008

2. Tidak Hilang Sebuah Nama
Pengarang: Galang Lutfiyanto
Penerbit: PT Era Adicitra Intermedia, cetakan 2008

Cara Menulis Buku Pelajaran Sejarah Perlu Lebih Humanis

Buku teks pelajaran sejarah perlu ditulis secara humanis. Pendekatan peristiwa sejarah dari sisi salah dan benar seperti yang selama ini berlaku dapat menimbulkan stigmatisasi pada kelompok tertentu.

Peneliti politik dan kekerasan sekaligus penulis buku Ladang Hitam di Pulau Dewata, I Ngurah Suryawan, mengatakan, pendekatan peran salah dan benar selalu digunakan pada penulisan peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) di buku-buku pelajaran sejarah. Penumpas gerakan adalah pahlawan, sedangkan Partai Komunis Indonesia adalah kambing hitam.

”Pembantaian massal dan pengasingan ribuan orang yang dianggap terkait partai itu ke Pulau Buru tanpa proses peradilan sangat sedikit dicantumkan,” katanya dalam diskusi buku ”Kuasa Stigma dan Represi Ingatan” yang diadakan Pusat Sejarah dan Etika Politik Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, pekan lalu.

Pada acara yang dihadiri sekitar 30 guru sejarah SMA se-DI Yogyakarta dan mahasiswa jurusan pendidikan sejarah itu, Suryawan menguraikan, pendidikan dan penulisan buku sejarah mestinya bertujuan mencari makna dari masa lalu untuk mengetahui implikasi pada masyarakat, tanpa terjerumus dalam dendam politik.

Untuk peristiwa G30S, cara lebih humanistik adalah menampilkan sisi kehancuran relasi sosial dan kekerabatan masyarakat, serta pudarnya rasa kemanusiaan dari banyaknya pembunuhan tanpa proses pengadilan. Dengan pendekatan humanistik, sejarah bisa menjadi pelajaran yang bermakna bagi masyarakat.

Guru pendidikan sejarah perlu lebih kreatif mencari sumber sejarah alternatif dari buku, film, maupun situs-situs sejarah. Penulis Kuasa Stigma dan Represi Ingatan, Tri Guntur Narwaya, mengatakan, dia mencoba menganalisis peristiwa G30S untuk melihat kepentingan-kepentingan politik yang bermain di balik sejarah G30S.

Program Buku Murah Memerlukan Bantuan Pemerintah Daerah

Program buku murah bisa menjadi kenyataan kalau pemerintah daerah berani berinvestasi sekitar Rp 3 miliar untuk pengadaan mesin cetak. Keluhan soal mahalnya harga buku selama ini antara lain karena besarnya biaya distribusi buku oleh penerbit yang umumnya terpusat di Pulau Jawa.

”Jika ada percetakan di daerah, biaya distribusi bisa ditekan,” kata Direktur Polimedia Bambang Wasito Adi pada jumpa pers Indonesia Book Fair, Selasa (21/9) di Jakarta.

Bambang menjelaskan, saat ini ada sekitar 60 juta siswa dan 12 juta mahasiswa yang selama ini menjadi konsumen buku. Kalau setiap daerah punya mesin cetak, buku-buku keperluan siswa bisa dicetak dengan harga yang lebih murah.

Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Setia Dharma Madjid mengatakan, jika setiap daerah punya mesin cetak buku, industri perbukuan akan semakin berkembang, penulis akan menjadi lebih banyak. ”Bahkan, kearifan lokal daerah masing-masing bisa dibukukan untuk didokumentasikan dan menjadi pengetahuan,” katanya.

Setia Dharma menyatakan keprihatinannya karena banyaknya generasi muda yang tidak tahu kearifan lokal daerahnya masing-masing. Bahkan, pemahaman terhadap bahasa daerah juga sangat rendah. Ia mencontohkan, dalam salah satu lomba pidato berbahasa Inggris di Sumatera Utara, pesertanya bisa mencapai 250 orang. Namun, saat lomba pidato menggunakan bahasa daerah setempat, yakni Tapanuli, pesertanya hanya tujuh orang. ”Ini sangat memprihatinkan,” ujarnya.

A Journey Buku Terbaru Tony Blair

Massa demonstran antiperang mencemooh dan menghujani mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair dengan telur dan sepatu pada acara promosi buku memoarnya di Dublin, Irlandia, Sabtu (4/9). Saat yang sama, ratusan orang mengantre meminta Blair menandatangani bukunya yang mereka beli.

Insiden untuk mempermalukan Blair terjadi ketika ia baru saja keluar dari sebuah mobil BMW di luar toko buku Easons di Jalan O’Connel, Dublin. Ia berada di kota itu terkait acara penandatanganan publik pertama untuk buku memoarnya berjudul A Journey.

Buku terbarunya itu laris manis, tetapi telah membuat marah para penentang kebijakannya, khususnya terkait dengan invasi militer ke Irak tahun 2003. Sekitar 200 aktivis antiperang meneriaki Blair dengan kata-kata ”tangannya berlumuran darah”.

Para aktivis berteriak, Blair dan rekannya, George Walker Bush, telah membuat Irak menderita. ”Tangkap Blair si tukang jagal,” seru sekalian demonstran antiperang. Bersamaan dengan teriakan-teriakan yang mencaci maki Blair, para aktivis antiperang itu melemparinya dengan telur, sepatu, botol plastik, dan benda-benda lain.

Blair dituding sebagai salah satu tokoh di balik pembantaian atau genosida di Irak. Oleh karena itu, Blair harus diseret ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan kebijakannya yang menyebabkan Irak ”bersimbah darah jutaan orang”.

Akibat ketatnya kawalan petugas, Blair tidak sampai terkena benda-benda tersebut. Massa yang kesal karena merasa dihalang-halangi akhirnya berusaha menerobos barikade petugas keamanan. Ada yang rebah di jalan menghalangi petugas.

Massa kemudian terlibat bentrokan dengan aparat. Polisi mengamankan empat aktivis. Aktivis gerakan antiperang, Richard Boyd-Barrett, menuduh Blair telah meraup ”uang darah” dari penjualan buku memoarnya tersebut.

Blair menghabiskan waktu sekitar dua jam di dalam toko buku sebelum akhirnya dihujani telur, sepatu, dan berbagai benda lainnya. Di sisi lain di luar toko buku, lebih dari 300 orang yang telah membeli buku A Journey justru mengantre untuk meminta tanda tangan Blair.

Para demonstran menuding para pembeli buku itu sebagai orang dungu dan pengkhianat. Akibat gelombang unjuk rasa yang disertai bentrokan antara polisi dan demonstran, layanan trem kota dan toko-toko di sekitar lokasi kejadian ditutup sementara waktu.

Buku memoarnya itu berisi kebijakannya di Downing Street 10 pada satu dekade, yakni 1997-2007. Blair mempertahankan keputusannya untuk melakukan invasi militer ke Irak bersama AS dan sekutu-sekutu lainnya pada tahun 2003. Ia tidak pernah menyesal atas keputusannya, tetapi tidak menyangka bakal terjadi sebuah ”mimpi buruk” di Irak di kemudian hari.

Blair membela keputusan menyerang Irak meskipun Saddam Hussein ternyata tidak memiliki senjata pemusnah massal seperti yang dicurigai sebelumnya.

”Blair telah menyeret dunia untuk terlibat dalam perang di Irak dan Afganistan atas dasar kebohongan,” kata MacFhearraigh Donal, demonstran. Ia mengatakan, Blair harus didakwa sebagai penjahat perang.

Buku yang dirilis awal pekan ini telah menjadi salah satu otobiografi penjualan tercepat dalam sejarah penerbitan buku Inggris dan menjadi buku best seller. Toko buku online, Amazone, mencatat, buku itu termasuk 10 besar terlaris.

Rencananya, pada hari Rabu (8/9) ia akan meluncurkan bukunya itu di London. Para aktivis antiperang di kota ini pun sudah bersiap-siap untuk melakukan aksi serupa dengan rekan-rekannya di Dublin.

Lebih dari 2.500 orang telah bergabung melalui situs jejaring sosial Facebook untuk melanjutkan propaganda melawan peredaran buku memoar Blair tersebut. Mereka menyerukan para pembeli untuk mengembalikan buku A Journey yang ditulis Blair itu ke toko buku dan menempatkannya dalam seksi kriminalitas.

Blair yang dilaporkan telah menerima 4,6 juta pound (7,2 juta dollar AS) akan menyumbangkan dana itu kepada Royal British Legion, lembaga amal yang bergerak untuk membantu para veteran perang. Meskipun dicemooh terkait konflik Irak, Blair dipuji oleh banyak orang karena peran kuncinya dalam proses perdamaian Irlandia Utara.

Mendaki Gobang untuk Berbagi Buku Sekolah

Waktu menunjukkan pukul 7.00 pagi hari Sabtu (31/7). Udara pagi yang sejuk masih terasa menusuk badan, tetapi orang-orang yang biasa bersepeda di trek offroad Jalur Pipa Gas sudah banyak yang berkumpul di sekitar Warung Mpok Cafe.

Sebagian dari mereka yang berjumlah 30 orang itu sudah bersiap-siap untuk bersepeda ke daerah terpencil di kawasan Gobang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Jarak tempuh BSD Serpong-Gobang pergi pulang sekitar 90 kilometer.

Namun, sebagian perjalanan yang dilalui penuh dengan siksaan tanjakan, melewati jalan setapak perkampungan penduduk, tegalan sawah, dan ladang pertanian.

Meski demikian, hamparan padi yang menguning serta gemercik air sungai yang bening mengiringi niat hati kami—para pesepeda—untuk berbagi dengan masyarakat Gobang, terutama anak-anak sekolah yang ada di daerah terpencil itu.

Kami pergi ke Gobang tidak hanya sekadar bersepeda, tetapi sekaligus melakukan misi sosial, yakni memberikan bantuan berupa buku dan uang kepada masyarakat, khususnya anak-anak sekolah yang tinggal sekitar 58 kilometer dari Ibu Kota itu.

Uang sumbangan yang berhasil dikumpulkan memang tidak banyak, hanya Rp 7.720.000, tetapi semoga perbuatan ”kecil” ini bisa berdampak ”besar”.

Menurut Agung Green T, ketua rombongan pesepeda, sumbangan uang diperoleh dari beberapa penyumbang dan hanya memanfaatkan jalur media sosial Facebook, Twitter, dan forum sepedaku.com.

Sementara buku-buku yang disumbangkan ada yang sengaja dibeli dan sebagian lagi berasal dari sumbangan Kompas-Gramedia Cyclist dan dukungan dari Djarum Cycling Community.

Bersepeda mendaki ke kawasan Gobang tidak disarankan bagi pemula karena medan yang dilalui cukup terjal dan butuh kemampuan fisik serta keahlian lebih dalam bersepeda.

Untuk menjangkau daerah terpencil di Gobang, hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki, motor, dan bersepeda. Lebar jalan yang dilewati sangat sempit sehingga kalau motor atau sepeda berpapasan di jalan, salah satu harus berhenti.

Oleh karena itu, tidak heran, beberapa pesepeda terpaksa harus mengatur napas saat mendaki tanjakan terjal agar bisa sampai di tujuan akhir, yakni Madrasah Ibtidaiyah (MI) Uswatun Hasanah di Kampung Cimanceuri, Desa Banyu Asih, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Menurut Citra (44), yang sudah mengajar sekitar lima tahun di sekolah tersebut, di MI Uswatun Hasanah ada 6 guru dan jumlah murid 98. Namun, jumlah ruangan hanya dua karena itu jadwal sekolah anak-anak di sana harus diatur. Kelas 1-2 antara pukul 08.00 dan 10.00, kelas 3-4 pukul 09.30-11.00, dan kelas 5-6 pukul 11.00-12.30.

Gedung sekolah itu baru ada sekitar tiga tahun yang lalu dan hanya berisikan bangku serta kursi sederhana, tanpa ada buku-buku sebagai referensi mereka belajar.

Sebagian buku-buku yang dibawa pesepeda kemudian dibagikan setelah tiba di MI Uswatun Hasanah. Begitu kami datang, anak-anak di sekolah itu tampak riang, apalagi Oolyne, seorang host acara TV Jakarta Bersepeda, mengajak anak-anak tersebut untuk bermain dan bernyanyi bersama.

Meski sudah mengenakan pakaian seragam, tetapi beberapa murid masih ada yang terpaksa memakai sandal ke sekolah. ”Tidak punya uang untuk beli,” kata sebagian dari mereka ketika ditanya mengapa tidak menggunakan sepatu ke sekolah.

Acara penyerahan sumbangan buku dan uang disaksikan guru dan para murid sekolah MI Uswatun Hasanah. Setelah itu, para pesepeda menikmati sajian makan siang karya penduduk setempat.

Tentu saja kami sangat lahap menikmati sajian makanan kampung yang sederhana tetapi nikmat itu. Nasi panas, ikan asin, pete segar dan bakar ditambah sambal terasi, sayur asem, semua terasa nikmat saat tenaga terkuras dan suasana membawa semua ke sebuah memorabilia kampung dan masa kecil.

Namun, segarnya air kelapa yang disajikan penduduk terasa hambar dan pahit diterima lidah saat dihadapkan pada ketimpangan pembangunan sebuah sarana pendidikan di daerah itu.

Bagi pesepeda, Gobang adalah trek yang unik. Perpaduan antara tanjakan ekstrem dan turunan yang aduhai. ”Boleh dibilang light down hill track,” ujar Agung yang sudah berulang kali ke kawasan Gobang.

Awal tahun 2000, saat jalur ini ditemukan beberapa pesepeda, listrik ke daerah terpencil ini belum masuk. Sementara bangunan sekolah hampir rubuh, masyarakat yang dilewati tidak jarang menutup pintu rapat-rapat saat beberapa pesepeda melewati depan rumah mereka.

Pertanian vs industri

Namun, satu-dua kali dilewati, akhirnya mereka mencair, setidaknya air minum selalu ditawarkan oleh setiap penduduk. Kesan ramah tanpa pamrih tergambar dari raut wajah mereka.

Dalam rentang 10 tahun hingga sekarang, suasana itu sedikit berubah. Beberapa anak muda lebih memilih menjadi tukang ojek daripada meneruskan menggarap ladang pertanian yang subur milik orangtua mereka.

Karena itu, akhirnya sebagian lahan sawah yang sangat subur itu dialihkan untuk kegiatan tambang emas. Kawasan Gobang memang berdekatan dengan lokasi penambangan emas Pongkor di Bogor.

Masyarakat setempat yang sebetulnya mampu bertahan dari pertanian lantas tergiur untuk mendapatkan uang lebih dengan mengonversi sebagian lahan pertanian mereka dengan area tambang. Akhirnya, lahan pertanian ditinggalkan dan sebagian di antaranya memilih menjadi penambang gelap dengan upah yang relatif kecil.

Penambang perseorangan hanya mendapat upah Rp 5.000 per gram. Dalam sehari, rata-rata tiap orang hanya memperoleh 5-10 gram dari gilingan batuan.

Sebagian penduduk yang tergoda menjadi penambang gelap umumnya berpikir terlalu sederhana. Mereka tidak perlu lagi terlalu capai menjaga lahan pertanian atau suntuk menunggu datangnya musim panen tiba.

Namun, kalau alam yang asri sekarang berubah menjadi industri tambang, siapa yang harus bertanggung jawab atas kerusakan ekosistem dan pola hidup masyarakat di sekitar Gobang dan Pongkor? Pertanyaan tersebut terus mengusik pikiran kami selama mengayuh sepeda pulang ke rumah.

Buku Sekolah Masih Memberatkan Siswa

Pengeluaran untuk pembelian buku teks pelajaran di sekolah-sekolah masih dirasakan berat oleh masyarakat. Padahal, pemerintah sudah mencanangkan program buku murah lewat proyek buku sekolah elektronik yang bisa diunduh secara gratis untuk meringankan siswa.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sejumlah siswa dan orangtua, Sabtu (7/8), ternyata masih banyak sekolah yang lebih memilih buku teks pelajaran dari penerbit buku sekolah. Di sebuah SMA negeri di Jakarta, seorang siswa baru, Kila (15), mengatakan, pengeluaran untuk buku pelajaran kelas I mencapai Rp 850.000.

”Buku sekolahnya dari beberapa penerbit. Siswa membeli dari sekolah. Tidak tahu apakah nanti semester II harus membeli lagi,” ujar Kila. Dia mengatakan, tidak ada buku versi buku sekolah elektronik (BSE) yang sebenarnya bisa diakses masyarakat sejak tahun lalu. Guru juga tak memperkenalkan BSE kepada siswa.

Sementara di sekolah swasta di Jakarta, harga buku untuk siswa SD kelas II sebesar Rp 600.000. ”Buku harus dibeli di sekolah,” kata Wati (35), orangtua siswa.

Di lain pihak, sekolah-sekolah yang meminjamkan buku pelajaran kepada siswa, buku dibeli dengan dana bantuan operasional sekolah (BOS), tetap mewajibkan pembelian buku latihan atau lembar kerja siswa. Ny Susi (34), warga Jakarta, mengatakan, tahun ini anaknya di bangku SD negeri diwajibkan membeli LKS Rp 50.000 untuk lima mata pelajaran. ”Tidak semua LKS mesti beli, beda dengan tahun lalu. Katanya karena bisa pakai dana BOS,” ujar Susi.

Program BSE yang bisa diakses di laman http://www.bse.kemdiknas.go.id itu ditujukan untuk menjawab keluhan masyarakat soal buku pelajaran yang mahal. Siswa, guru, dan masyarakat bisa mengakses BSE gratis untuk tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK karena hak ciptanya telah dibeli pemerintah. Buku itu bisa digandakan, tetapi harganya dibatasi dengan harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Untuk versi cetak, harganya diperkirakan hanya seperempat harga buku dari penerbit.

Saat ini di laman tersebut telah diunggah 901 buku, terdiri dari 292 buku SD, 126 SMP, 279 SMA, dan 204 SMK.

Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional Suyanto mengatakan, ketika pemerintah menyediakan fasilitas buku pelajaran murah, semestinya semua pihak, terutama sekolah, memanfaatkan sebaik-baiknya.

”BSE tidak hanya untuk sekolah yang punya internet. Itu bisa diperbanyak atau dibuat versi cetaknya. Harganya bisa jauh lebih murah (dibandingkan buku dari penerbit). Itu cara pemerintah membantu sekolah dan masyarakat agar tak terbebani biaya tinggi untuk buku. Masa pakainya lima tahun. Ada fleksibilitas buat guru untuk memakai seluruh isi atau sebagian saja dari buku itu,” ujar Suyanto.

Firdaus Oemar, Ketua Umum Gabungan Toko Indonesia, mengatakan, sekolah yang juga menjadi distributor buku pelajaran itu mengakibatkan matinya toko-toko buku di daerah. Tahun lalu, misalnya, terdaftar sekitar 5.000 toko buku, sekarang lebih dari separuhnya, gulung tikar.

Kualitas Buku Pelajaran Sekolah Masih Rendah

Kualitas buku teks pelajaran masih terbilang rendah. Buku pelajaran menyajikan materi yang terlalu padat dan penyajiannya kurang sesuai dengan pola pikir anak.

Hal itu terungkap dalam pemaparan hasil penelitian buku teks pelajaran sekolah dasar Kelas I dan V yang dilaksanakan oleh Institute of Education Reform (IER), Senin (22/12). Terdapat 17 buku pelajaran SD kelas I dan kelas V yang diteliti.

Direktur IER Utomo Dananjaya mengatakan, standar isi dan standar kompetensi lulus menjadi dasar penyusunan buku teks pelajaran. Semua buku pelajaran yang diteliti tersebut dibuka oleh daftar isi dengan substansi standar kompetensi kelulusan.

Setiap bab dimulai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran. Namun, pengembangannya menjadi buku teks pelajaran sangat bergantung kepada penalaran pengarang dalam menafsirkan kedalaman dan keluasan bahan pelajaran.

Pusat perhatian dari penelitian itu terutama menyangkut sisi bahasa dan kecenderungan metode. Mereka melihat, masih terdapat sejumlah kelemahan, seperti terlalu berlebihan dan tingginya materi bagi anak-anak, logika juga di luar jangkauan anak, dan terjadi kesalahan konsep.

Dalam sebuah buku sains untuk kelas V, misalnya, terlihat terlalu tingginya tingkat materi dan konsep. ”Dalam buku itu dibahas pentingnya pelestarian jenis makhluk hidup untuk perkembangan sains dan kehidupan manusia. Ada kalimat, Peran bioteknologi untuk mencegah kepunahan jenis hewan dan tumbuhan.. Konsep yang disajikan terlalu tinggi dan sulit dipahami,” ujar Dananjaya.

Dalam buku pelajaran yang dikaji tersebut juga miskin bahasa penuturan, tidak mengundang rasa ingin tahu, tidak mengandung masalah yang harus dipecahkan, dan tidak merangsang munculnya pertanyaan kritis.

Materi yang terlalu padat itu menyebabkan guru akan menggunakan metode pengajaran ceramah agar semua materi tersampaikan dengan cepat meski tidak menimbulkan sikap kritis aktif. Hal itu membuat anak menjadi pasif

Komunitas Muda Pecinta dan Penggemar Komik

Acara ”MuDA Creativity”, selain ada ”MuDA Musikustix”, juga ada workshop komik yang diikutin sama putih abu-abuers dan komunitas komik Bandung. Dengan pembicara dua kartunis dari papa Kompas, Jitet Koestana dan Didie SW, juga Mas Rendra M Ridwan dari sekolah komik Pipilaka Bandung, kita nggak cuma dengerin mereka ngomong doang, tetapi juga ada aksi ngegambar bareng.

Pas acara ngobrol, banyak yang nanyain, gimana nih nasib komik-komik asli Bandung yang sekarang kedengarannya cuma sayup-sayup. Emang sih, masalah pemasaran tuh jadi satu masalah tersendiri, selain soal bikin gambarnya. Wah, jadi sedih emang kalo ngomongin nasib komik kita ya.

Selesai sesi ngobrol alias tanya jawab, pembawa acaranya, Sherry Lauda dan Zefri Al Faruqy dari Radio 99ers Bandung, yang super seru dan heboh itu, bikin lomba gambar wajah mereka hanya dalam waktu 5 menit! Narsis euy…. Walau emang seru dan bikin kita ketawa, abis ekspresi gambar yang dibikin temen-temen itu lucu-lucu.

Abis itu, giliran peserta workshop gambar komik bareng-bareng untuk dikomentarin sama tiga pembicara kita. Temanya bebas, yang penting, setiap peserta bisa mengekspresikan dirinya. Sebenarnya gak susah, yang penting loe kudu berani kreatif dan berekspresi. Kalo masalahnya gak terlalu bisa gambar, itu masih bisa dipelajarin dan dilatih.

Hasil gambar komik bareng tuh macem-macem banget. Ada tentang balon bergambar bendera merah-putih yang terbang kena dahan berduri (maksudnya apa neh yah?), ada juga tentang nyamuk kecebur di mi rebus, sampai isu koruptor yang emang perbuatannya itu bikin sebel kita semua.

MuDA pengin banget nunjukkin gambar semua teman-teman ke pembaca, sayangnya cuma beberapa yang bisa ditampilin di halaman ini. Selamat menikmati….

Awas Mafia Buku Sekolah Gentayangan Dimana Mana

Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Diskusi Mahasiswa (Fordisma) unjukrasa di Kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Cirebon, Selasa.

Mereka meminta Disdik menghentikan mafia penjulan buku yang gentayangan di sejumlah sekolah, serta menindak oknum guru yang terlibat.

Dalam orasinya, mahasiswa melihat mafia penjualan buku sengaja dilakukan pihak sekolah dan modusnya menjalin kerjasama dengan pihak penerbit.

Orangtua siswa berada pada kondisi tidak ada pilihan. Pasalnya, buku-buku yang dianjurkan tersebut memang tidak ada di pasaran. Artinya, penerbit memang melakukan simbiosis mutualisme dengan tidak menjualnya ke toko-toko buku.

“Karena tidak tersedia di pasaran, akhirnya orangtua siswa terpaksa membeli buku di sekolah tersebut dengan harga tinggi,” kata Azhar ketua aksi.

Aksi mahasiswa yang dilakukan dengan membakar ban bekas di pintu masuk ruang kantor Disdik tersebut mendapat pengawalan ketat aparat Polresta Cirebon.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Cirebon Dedi Widyagiri yang menemui mahasiswa menjelaskan, dirinya tidak pernah didatangi oleh penerbit manapun terkait dengan peredaran buku-buku di sejumlah sekolah.

“Saya tidak pernah didatangi penerbit, atau memberikan rekomendasi kepada sekolah untuk membeli produk buku dari satu penerbut,” tegasnya.

Sementara itu, Walikota Cirebon Subardi, mengaku prihatin jika memang ada mafia penjualan buku di sejumlah sekolah sebagaimana diributkan akhir-akhir ini.

Dirinya menyadari anggaran BOS memang masih kecil, yakni Rp11.000 persiswa pertahun. Sedangkan harga satu buku dua kali lipat dari alokasi BOS tersebut.

“Saya akan mencoba mencari solusi mengenai persoalan buku mata pelajaran yang saat ini memang menjadi momok menakutkan bagi orangtua siswa,” janjinya.

Siswa Menilai Cara Penyuluhan Anti Narkoba Sama Sekali Tidak Menarik

Siswa-siswi SMA Negeri 1 Wates mengeluhkan acara penyuluhan tentang bahaya narkotika dan obat-obatan terlarang atau narkoba oleh Badan Narkotika Kabupaten Kulon Progo.

Acara itu dinilai tidak menarik karena cara penyampaian materi kurang interaktif. Lokasi penyuluhan pun dirasa tidak tepat karena berada di ruangan terbuka. Acara penyuluhan tersebut berlangsung Sabtu (9/8) di lapangan basket SMAN 1 Wates. Selain di SMAN 1 Wates, acara bertajuk BNK (Badan Narkotika Kabupaten) Goes to School itu rencananya digelar di delapan SLTA lain di Kulon Progo selama beberapa pekan ke depan.

Sejak dimulai sekitar pukul 10.00, hanya sedikit siswa SMAN 1 Wates yang tertarik menyimak penyuluhan. Mereka memang berkumpul di lapangan basket, namun hanya duduk-duduk di tepi lapangan yang ditumbuhi pepohonan. Selama acara berlangsung, nyaris tidak ada siswa yang bersedia maju ke tengah lapangan untuk menyimak penyuluhan yang disampaikan pihak BNK dan Kepolisian Resor Kulon Progo.

Menurut Surya (17), salah seorang siswa, penyuluhan itu terkesan membosankan karena tidak ada unsur interaktif. Siswa hanya dijadikan pendengar pasif yang tidak diberikan kesempatan untuk bertanya atau menyampaikan tanggapan. Seharusnya acara penyuluhan di luar ruangan seperti ini juga diisi dengan bentuk-bentuk kesenian yang memancing minat siswa.

Bisa berupa seni teater, drama komedi, atau apa saja, yang penting menarik, tutur Surya. Anugerah (16), siswa kelas X, menambahkan, kalau memang penyuluhan hendak dilakukan secara searah, seharusnya acara dilangsungkan di dalam ruangan saja. Pelaksanaan penyuluhan di luar ruangan justru membuat siswa tidak fokus pada penyampaian materi.

Ketua Panitia BNK Goes to School Saryono mengatakan, Tadinya kami pikir acara di luar ruangan tidak akan menjemukan bagi siswa, tapi ternyata yang terjadi sebaliknya.