Category Archives: Pengarang Buku

Novelis Prancis Patrick Modiano Raih Nobel Sastra

Novelis Prancis, Patrick Modiano, memenangi hadiah Nobel 2014 untuk bidang sastra, kemarin. Meski tak terlalu terkenal di luar Prancis, Modiano dikenal sebagai penulis novel, buku cerita anak-anak, dan naskah film.

Beberapa karya Modiano, dari sekitar 30 karyanya, termasuk The Trace of Malice dan Honeymoon. Karya terbarunya adalah novel Pour que tu ne te perdes pas dans le quartier. “Dia tidak diragukan lagi, salah satu penulis terbesar dalam beberapa tahun terakhir, dari awal abad ke-21,” puji Perdana Menteri Prancis Manuel Valls.

Modiano lahir di pinggiran Paris Boulogne-Billancourt pada Juli 1945, beberapa bulan setelah pendudukan Nazi resmi berakhir pada akhir 1944. Dia adalah anak didik novelis Raymond Queneau, yang terkenal atas eksperimennya dengan bahasa.

Nama Modiano mencuat pada akhir 1970-an, tapi kemudian menarik diri dari publisitas. Ia ikut menulis naskah kontroversial bersama Louis Malle tentang film Lacombe Lucien pada 1974. Film ini menceritakan seorang remaja yang hidup di bawah pendudukan, ditolak oleh pejuang Prancis, dan jatuh dengan kolaborator pro-Nazi.

“Salah satu yang unik dari dirinya adalah gaya yang sangat tepat, sangat ekonomis. Dia menulis dengan kalimat sangat elegan,” kata Peter Englund, sekretaris tetap Akademi Nobel Swedia, kemarin.

Modiano mengalahkan kandidat lain, yakni penulis Kenya, Ngugi wa Thiong’o; sastrawan Jepang, Haruki Murakami; jurnalis investigasi Belarus, Svetlana Alexievich; dan penyair Suriah, Adonis. Modiano menjadi orang Prancis kesebelas yang memenangi hadiah Nobel sastra. Yang terakhir adalah Jean-Marie Gustave Le Clezio pada 2008.

Gabriel Garcia Marquez Peraih Nobel Kesusastraan Asal Kolumbia Meninggal Dunia

Penulis peraih Nobel Kesusastraan asal Kolombia, Gabriel Garcia Marquez, telah meninggal dunia dalam usia 87 tahun, Kamis 17 April 2014. Dia sering dianggap sebagai salah seorang penulis terbesar yang menggunakan Bahasa Spanyol. “Gabriel Garcia Marquez sudah meninggal dunia,” kata salah seorang juru bicara keluarga, Fernanda Familiar, lewat pesan Twitter.

“Mercedes (istrinya) dan kedua putranya, Rodrigo dan Gonzalo, memberikan wewenang kepada saya untuk menyampaikan informasi tersebut. Kesedihan yang mendalam,” tambahnya. Karya Marquez yang paling terkenal adalah yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia, termasuk Bahasa Indonesia.

Novel yang ditulisnya pada tahun 1967 itu sudah terjual lebih dari 30 juta buku di seluruh dunia dan meraih Nobel Kesusastraan pada tahun 1982. Beberapa novel lainnya yang juga mendunia antara lain dan Gaya bertuturnya yang hidup dengan cerita mencampurkan kenyataan serta gaib menempatkan dia menjadi pelopor aliran sastra yang disebut realisme magis.

Dia berada dalam keadaan sakit beberapa waktu belakangan dan bulan lalu sempat dirawat di rumah sakit karena menderita karena gangguan pernafasan dan infeksi air seni. Pekan lalu Marquez dipulangkan kembali ke rumahnya namun kondisi kesehatannya dilaporkan ‘amat ringkih’ karena usia tuanya.

Dia tinggal di Meksiko selama 30 tahun belakangan. Presiden Kolombia, Juan Manuel Santos, menyampaikan penghormatan kepadanya melalui Twitter. “One Hundred Years of Solitude dan kesedihan atas kematian warga agung Kolombia sepanjang masa.”

Novelis terkenal asal Kolombia yang juga meraih nobel untuk sastra, Gabriel Garcia Marquez meninggal dunia. Dari presiden, penulis hingga artis mengutarakan bela sungkawanya terhadap novelis raksasa Amerika Latin berusia 87 tahun itu. Berikut adalah kutipan dari teman dan pengagum terkenal penulis pemenang Nobel dari “Seratus Tahun Solitude”, seperti yang dilansir AFP, Jumat (18/4/2014).

Presiden Barack Obama mengatakan, dunia telah kehilangan penulis visioner terbesar dan menjadi salah satu favorit dirinya sejak muda. “Seperti dieketahui ‘Gabo’ memiliki jutaan penggemar, dia pertama memenangkan pengakuan internasional dengan karya-Nya ‘Seratus Tahun Solitude’. Dan saya pernah mendapatkan kesempatan istimewa untuk bertemu dirinya di Meksiko di mana dirinya mempersembahkan salinan tertulis miliknya yang saya hargai sampai hari ini. Dan saya sampaikan kepada keluarga dan teman-temannya, yang saya harapkan bisa memberikan penghiburan di mana kenyataanya apa yang telah dilakukan oleh Gabo akan hidup di generasi yang akan datang,” ujar Obama.

Selain Obama, Mantan Presiden AS Bill Clinton juga mengutarakan bela sungkawanya. “Saya sedih mengetahui telah meninggalnya Gabriel Garcia Marquez. Dari waktu saya membaca Seratus Tahun Solitude lebih dari 40 tahun yang lalu, saya selalu kagum dengan imajinasinya yang unik, kejernihan pikiran, dan kejujuran emosionalnya. Saya menangkap rasa sakit dan sukacita kemanusiaan kita dalam pengaturan baik yang nyata dan ajaib. saya merasa terhormat untuk menjadi temannya dan untuk mengetahui hati yang besar dan pikiran yang cemerlang selama lebih dari 20 tahun,” ujar Clinton.

Presiden Colombia Juan Manuel Santos juga tidak lupa mengutarakan bela sungkawanya. Menurutnya, Gabo selalu menjadi yang terbaik di Kolombia. “Seribu tahun kesendirian dan kesedihan atas kematian penulis terbesar Kolombia sepanjang masa. Solidaritas dan belasungkawa kepada (istri Garcia Marquez Mercedes) Gabo dan keluarga. Gabo tidak pernah mati,” ujarnya. Selain para kepala negara, ucapan belasungkawa juga hadir dari para artis kebangsaan Kolombia. Penyanyi Shakira juga mengutarakan kesedihanya.

“Untuk Gabo, dirimu pernah berkata hidup ini bukan hanya apa yang hidup, tetapi bagaimana kita mengingat kehidupan tersebut. Gabo, kau akan selalu dikenang oleh kita semua sebagai orang yang unik dan yang paling original dari semua. Sangat berat untuk mengucapkan selamat tinggal kepadamu dengan apa yang telah kau berikan kepada kita semua. Kau akan berada di hati saya dan di hati semua orang yang menyayangi dan mengidolakanmu,” terang Shakira.

Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto dan Presiden Ekuador Rafael Correa juga tidak lupa memberikan ucapan belasungkawanya. Menurut mereka, Gabo ialah penulis yang terbaik di Amerika Latin.

Seni dan Sastra Mengikuti Zaman dan Tidak Statis

Seni bukanlah sesuatu hal yang monoton. Hampir tiap tahun, tiap era, seni selalu berubah. Hal itu pula yang disadari oleh sastrawan dan budayawan Sapardi Djoko Damono. Dalam kuliah umum My City My Literature di Aula Profesor Mattulada, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas), Sapardi mengajak peserta untuk memikirkan ulang tentang sastra. Ia pun tidak memungkiri perubahan sastra yang mengikuti perkembangan zaman. “Sastra memang selalu berkembang,” kata Sapardi, Rabu, 26 Juni 2013.

Menurut Guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini, sastra tidak hanya berupa tulisan, bunyi, gambar, tulisan dan gambar atau komik, maupun gabungan dari ketiganya, yakni film. Sastra juga bisa ‘meloncat-loncat’ seenaknya sendiri di layar komputer. Maksudnya, era teknologi canggih telah ikut serta memberikan kontribusi pada perkembangan sastra. “Melalui internet, anak muda menyalurkan kreativitas sastranya, dan menghasilkan karya baru yang bermanfaat bagi masyarakat.”

Sapardi memberikan contoh novel 140 Karakter. Buku karya Fira Basuki itu merupakan kumpulan isi hati si penulis yang dituangkan melalui sosial media Twitter. Pada konteks lain, ada film yang lahir dari kumpulan lagu The Beatles. Semua itu bukti dari kata ‘meloncat-loncat’ yang dimaksud Sarpadi. Sebuah buku bisa menjadi film, dan lainnya.

Soal dongeng atau cerita rakyat, Sapardi berpendapat bila keduanya juga mesti berubah mengikuti perkembangan zaman. Sebab, cerita sastra yang tidak diubah akan ditinggalkan atau terkubur. Menurutnya, tradisi adalah sebuah proses, dan cara mempertahankan tradisi sastra adalah dengan mengembangkan kreativitas. “Bukan menjaganya tetap pada cerita awal diciptakannya,” kata Sapardi. “Yang tidak berubah-ubah itu akan mati, artinya masuk museum dan selesai.”

Sapardi melanjutkan, film animasi Shrek adalah kisah yang diadaptasi dari buku dongeng. Begitu pula dengan film Twilight yang mengisahkan vampir. Sejak dulu vampir sudah ada, namun pembuat film meramunya menjadi sesuatu yang baru. “Orang bisa menulis karena bisa membaca,” kata Sapardi. “Karena itu, generasi muda tidak hanya menulis tetapi harus tekun membaca.”

Kuliah umum My City My Literature merupakan salah satu kegiatan dari rangkaian acara Makassar International Writers Festival 2013. Pagelaran yang diselenggarakan Rumata’ ini berlangsung sejak 25-29 Juni 2013. Dalam kuliah umum Sapardi, Rumata’ bekerja sama dengan mahasiswa Pascasarjana Sastra Unhas.

Jejak Perjuangan Pendidikan Pengarang Laskar Pelangi

Tokoh utama di balik Laskar Pelangi adalah Andrea Hirata. Lelaki asli Desa Linggang, Kecamatan Gantong, Belitong, ini menerbitkan novel pertamanya pada 2005. Karyanya langsung mendapat sambutan hangat dan mencatat penjualan hingga 5 juta eksemplar. ”Tapi, ada yang pernah menghitung, buku bajakannya mencapai 12 juta eksemplar,” kata Andrea.

Karya ini mengisahkan 10 anak kampung miskin yang bersekolah di SD Muhammadiyah Gantong. Mereka berjuang mengatasi keterbatasan ekonomi keluarga dan minimnya fasilitas pendidikan sekolah.

Dengan menamakan diri Laskar Pelangi, mereka bahu-membahu untuk saling menyemangati agar tetap bisa bersekolah. Meski tak semua berhasil, beberapa di antara mereka kemudian melanjutkan kuliah. Termasuk Andrea Hirata, yang dalam novel itu bernama Ikal.

Dari Belitong, Andrea hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan ekonomi di Universitas Indonesia (UI). Dia kemudian mendapat beasiswa untuk studi Master of Science di Universite de Paris, Sorbonne, Perancis. Perjalanannya menempuh pendidikan dari pulau kecil di Sumatera merambah Jakarta dan Eropa itu yang kemudian diceritakan dalam novel-novelnya.

Selain Laskar Pelangi, dia juga menulis Sang Pemimpi (2006), Edensor (2007), serta Maryamah Karpov (2008). Semua buku itu tercatat sebagai best seller. ”Bagi saya, yang penting adalah bagaimana menularkan dan mempertahankan nilai-nilai edukatif bagi masyarakat,” katanya.

Komitmen itu pula yang mendorong Andrea mau pulang kampung untuk menyelenggarakan Festival Laskar Pelangi. Dengan mengambil sebagian dari royalti penjualan bukunya, dia membangun Rumah Puisi. Rencananya, bangunan itu dijadikan tempat residensi bagi seniman untuk tinggal secara gratis sambil menulis.

Semangat itu juga dicatat pada papan nama Jalan Laskar Pelangi yang melewati rumahnya.

”Laskar Pelangi menandai jejak-jejak perjuangan pendidikan anak-anak Indonesia. Jejak itu dimulai di jalan ini. Jalan yang menjadi saksi bahwa anak-anak Indonesia bukanlah anak-anak yang mudah menyerah. ’Laskar Pelangi’ merupakan karya fenomenal yang telah merambah dunia. Penulis ’Laskar Pelangi’, Andrea Hirata, tinggal di jalan ini.”

Jangan Main Main Dengan Sastrawan

ada 29 September 2010, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim menggelar Temu Sastra Jatim 2010. Perhelatan yang ke-5 ini diusung dengan tajuk ”Prosa dan Realitas Sastra Kini”.

Bila membicarakan realitas sastra, baiknya kita menyepakati bahwa karya sastra tidak jatuh dari langit. Melainkan diciptakan oleh para sastrawan untuk dinikmati, dihayati, dipahami, dan dimanfaatkan masyarakat.

Secara sosiologis, sastrawan merupakan bagian dari masyarakat sebab terikat oleh kelompok sosial yang berkaitan dengan pendidikan, agama, adat istiadat, dan semua lembaga sosial yang mengelilinginya. Sastrawan menggunakan bahasa sebagai medium menyampaikan gagasan, gambaran, ide dan segala perenungan. Sastrawan merekam semua kenyataan sosial yang saling bertaut dalam hubungan antarmanusia kemudian dipantulkannya kembali dengan memakai bahasa. Jadi, bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial.

Fahrudin Nasrulloh dalam makalahnya yang berjudul Dewan Kesenian dan Problematik Sastra Jatim menuliskan bahwa 38 kabupaten dan kota yang ada di Jatim mempunyai 10 subkultur kebudayaan. Berdasarkan pemetaan Ayu Sutarto dan Setya Yuwana Sudikan, 10 subkultur itu adalah Jawa Mataraman, Jawa Ponoragan, Arek, Samin, Tengger, Osing, Pandalungan, Madura Pulau, Madura Bawean, dan Madura Kangean. Kemudian ditambahkan juga dengan budaya China dan Arab. Masing-masing subkebudayaan itu mengembangkan lingkup kebudayaannya dengan sangat kaya dan luas, termasuk berbahasa dan bersastra.

Dari realitas yang heterogen itu, lahirlah berbagai motor penggerak sastra di Jatim. Mulai dari sastra pedalaman, sastra pesisir, sastra buruh migran, sastra Melayu Tionghoa, sastra peranakan sampai sastra pesantren, dan sebagainya. Sapardi Djoko Damono dalam esainya yang berjudul Poerbatjaraka, Sastra Klasik dan Kita : Sebuah Kasus Kritik Sastra Indonesia menyebutkan bahwa para satrawan mempunyai ”sejarah sastra” sendiri-sendiri.

Namun, Sumpah Pemuda 1928, yang pada salah satu sumpahnya menyatakan: menjunjung tinggi bahasa persatuan: bahasa Indonesia, membawa dampak langsung bagi perjalanan sejarah sastra di Tanah Air. Yaitu: dengan berbagai latar belakang sosial, ekonomi, kultur, geografi dan agama, para sastrawan menuangkan rekaman kehidupan masyarakat dari bahasa dan kebudayaan masing-masing ke dalam bahasa Indonesia.

Maka sebagaimana bahasa Mandarin menuliskan sastra China, bahasa Arab menuliskan sastra Arab, bahasa Inggris menuliskan sastra Inggris, bahasa Melayu menuliskan sastra Melayu, begitu pula bahasa Indonesia menuliskan sastra Indonesia.

Jadi acara tersebut lebih tepat disebut sebagai : Temu Sastrawan Jatim. Sebab, tidak ada bahasa Jatim yang menuliskan sastra Jatim. Jadi akan lebay bila masih memerkarakan seperti apakah sastra Jatim, efektivitas Dewan Kesenian Jatim, dan berbagai macam problem klasik lainnya. Seharusnya yang menjadi wacana adalah bagaimana peningkatan produktivitas dan kualitas para sastrawan Jatim sehingga bisa berkontribusi bagi perkembangan sastra Indonesia.

Tjahjono Widarmanto mencermati perjalanan sejarah sastra di Jatim melalui makalahnya Menengok Tradisi Sastra. Ia menjabarkan karya-karya sastra fenomenal yang lahir pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan Hindu Buddha yang berpusat di Jatim. Misalnya, Kitab Pararaton yang meriwayatkan Ken Arok dan raja-raja Singgasari, Kitab Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca.

Setelah Majapahit runtuh, Islam masuk dan berkembang ke Jawa. Dalam siar Islam, para wali juga menggunakan sastra sebagai salah satu medianya. Sunan Kalijaga menganggap kesusastraan adalah bagian kebudayaan terpenting untuk memahami masyarakat Jawa. Maka lahirlah karya-karya sastra Islam seperti Suluk Wujil yang menceritakan wejangan Sunan Bonang kepada siswanya yang bernama Wujil.

Industri media

Akhirnya, makalah Mashuri yang berjudul Masih Ada Cerpen di Jawa Timur mengamati kiprah dan eksistensi para sastrawan Jatim di era industri media dan teknologi seperti digital, blog, facebook, dan sebagainya.

Tidak bisa dinafikan bahwa sastrawan membutuhkan teknologi, media, kekuatan kekuasaan politik dan pasar untuk mempermudah proses kreatif serta sarana publikasi. Sebab, nilai-nilai instrinsik karya sastra tidak mungkin terangkat ke permukaan dengan sendirinya tanpa campur tangan kekuatan ekstrinsik. Tetapi perlu diingat bahwa sastrawan bukan cabup, cawali, cagub, atau caleg yang memopulerkan diri untuk mendapatkan dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya.

Sebaliknya, sastrawan yang baik adalah seniman sekaligus ilmuwan yang mau terus belajar, mengamati, dan menyikapi seluruh aspek-aspek kehidupan. Sebab, popularitas yang akan atau dan telah didapatkannya lahir dari rahim karya yang berkualitas. Hal itu tidak mungkin tercipta melalui pemikiran serta pemahaman yang dangkal dan instan.

Aguk Irawan MN dalam tulisannya yang berjudul Sastra Islam dan Perjuangannya (Kompas, 25 September 2010) menuliskan bahwa Al Quran dengan sangat terang sebanyak 10 kali dan dengan bentuk sinonimnya sekitar 60 kali dan secara istimewa menyebut satu suratnya dengan nama As-Syu’ara atau ”penyair” (QS As-Syu’ara [26], 24-27). Melalui surat itu, Al Quran secara khusus mengapresiasi penyair (baca : sastrawan) sebagai sebuah profesi atau pekerjaan dan ekspresi manusia yang istimewa karena kemampuannya berkata-kata dengan memesona sekaligus juga sugestif, imajinatif dan kontemplatif. Karena itu, siapa pun jangan main-main dengan sastra(wan).

Lan Fang Penulis Esai, Prosa, dan Puisi, Bertempat Tinggal di Surabaya. Novel terbarunya: Ciuman di Bawah Hujan (2010)

Keindahan Islam dalam Kaligrafi

Mengaji dan Berkreasi di Kampus Seniman Muslim Lemka”. Slogan yang ditulis dengan kaligrafi Arab itu tergores pada tembok sebuah gang kecil di Kelurahan Karamat, Kecamatan Gunung Puyuh, Sukabumi, Jawa Barat.

Gang ini menjadi pintu masuk ke Pesantren Lemka (Lembaga Kaligrafi Al Quran). Suasananya bersahaja. Begitu memasuki area pesantren, terdapat beberapa bangunan terpisah. Ada asrama putra, asrama putri, kantor pesantren, dan pendopo yang digunakan sebagai ruang belajar.

Di pendopo, tampak beberapa santri sedang asyik menggoreskan kalam (semacam pena dari bambu) untuk membentuk aksara Arab di atas kertas karton. Ada kaligrafi bergaya tsuluth, dewani, kufi, atau naskhi. Tiap-tiap gaya memperlihatkan keindahan anatomi huruf yang lentur dan ekspresif.

”Saya ingin pesantren ini menjadi tempat bermukim seniman-seniman Muslim,” kata pendiri Pesantren Lemka Didin Sirojuddin saat ditemui di pesantren tersebut, Kamis (26/8) sore. Pesantren ini memang didirikan untuk mewadahi santri yang hendak mengasah keterampilan dan wawasan dalam kaligrafi Arab.

Sejak didirikan tahun 1998, pesantren telah membina sekitar 600 santri dari beberapa lokasi di Indonesia. Tahun 2010, sebanyak 115 santri dari 17 provinsi menetap selama setahun penuh untuk belajar kaligrafi.

Apa menariknya kaligrafi untuk dipelajari? Bagi Didin, kaligrafer dapat memperoleh manfaat batiniah dan lahiriah ketika menguasai keterampilan menulis halus Arab ini. Selain menyajikan keindahan tulisan dan kedalaman makna dari pesan teks, kaligrafi juga bisa dijadikan media komunikasi dengan Sang Khalik. Lewat tulisan halus ini, seorang Muslim dapat semakin mendekatkan diri pada Tuhan.

Kaligrafi juga menjadi salah satu perwujudan dari wajah indah Islam. Setiap kaligrafer dapat mengacu pada gaya-gaya kaligrafi klasik sekaligus mencoba bereksperimen dengan gaya baru. Karya kaligrafi yang baik bisa mengajak siapa pun, tak harus umat Muslim, untuk menikmati estetika permainan huruf.

Dimensi estetik ini memang kerap tertutupi oleh dimensi hukum (fiqh) dan ritual (ibadah) yang lebih menonjol. ”Islam tidak menebar kebencian, tetapi rasa cinta. Jika nilai itu telah tertancap di hati, semuanya akan terasa indah,” ucap Didin, yang juga dosen pada Universitas Islam Negeri Jakarta.

Kaligrafi juga menumbuhkan ketenangan bagi penulisnya. Dodi (20), salah satu santri asal Riau, mengaku sering lupa diri jika sedang menulis kaligrafi. Dalam sehari, dia bisa menghabiskan waktu lima jam untuk mengutak-atik huruf-huruf indah itu. ”Saat menulis, hati saya tenang dan damai,” ujarnya.

Menurut Didin, kaligrafi tidak hanya dapat digoreskan di atas karton, tetapi juga bisa diterapkan pada media lain, seperti kanvas dan tembok. Di pesantren seluas 6.400 meter persegi ini, tembok-tembok kelas dan asrama memang dipenuhi dengan mural-mural kaligrafi yang sejuk dipandang.

Proses pengajaran di pesantren ini juga menarik. Meski punya pendopo, proses belajar kadang dilakukan di tengah sawah, kebun teh, ataupun di tepi sungai. Dengan metode yang rekreatif dan interaktif itu, para santri diharapkan mampu mengeksplorasi makna dan estetika kaligrafi lebih luas lagi.

Tak heran, pesantren kaligrafi pertama di Indonesia ini telah melahirkan ratusan seniman kaligrafi atau khattat. Sekadar gambaran, pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) 2010 di Bengkulu, dari 190 peserta kaligrafi, 90 santri di antaranya merupakan jebolan Pesantren Lemka. Santri lulusan Lemka juga pernah menjadi juara 1 dalam lomba penulisan kaligrafi tingkat Asia Tenggara di Brunei.

Antara Seni Sastra dan Agama

Ilham Khoiri

Alif, alif, alif!/ Alifmu pedang di tanganku/Susuk di dagingku, kompas di hatiku/ Alifmu tegak jadi cagak, meliut jadi belut/ Hilang jadi angan, tinggal bekas menetaskan/Terang/Hingga aku/ Berkesiur/ Pada/ Angin kecil/ Takdir-Mu

Fragmen puisi berjudul ”Dzikir” itu didaras dengan penuh penghayatan oleh penulisnya sendiri, D Zawawi Imron. Meski sudah berusia 65 tahun, suara penyair asal Madura itu tetap memendarkan energi.

Saat ia melafalkan kata-kata puisi itu secara susul-menyusul terdengar mirip sebuah mantra atau zikir yang berulang-ulang. Suaranya yang keras dan agak serak memenuhi ruang teater.

Sebagian penonton mungkin sudah akrab dengan puisi yang terkenal pada tahun 1980-an itu. Namun, tetap pendarasan itu menggedor kita untuk merenung soal kefanaan nasib dan hidup manusia serta hubungan kita dengan Tuhan. Penyebutan benda-benda sebagai manifestasi Tuhan mungkin mengajak kita memikirkan kemungkinan semangat penyatuan Tuhan dan semesta sebagaimana diyakini dalam filsafat emanasi.

Penyebutan kata yang berulang mengingatkan kita pada doa, mantra, atau zikir yang dilantunkan dengan cara ritmis setelah shalat. ”Puisi ini hasil penghayatan saya akan Tuhan dan kehidupan. Ini pergulatan saya sejak lama yang kemudian muncul tanpa direka-reka dalam bentuk puisi,” kata Zawawi seusai membaca puisi.

Pentas itu menjadi bagian dari pertunjukan ”Mendaras Puisi: Pembacaan Puisi di Bulan Puasa” di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (19/8) malam lalu. Hadir juga membacakan puisinya, penyair Acep Zamzam Noor, Joko Pinurbo, dan Remy Sylado. Dalam catatan panitia, para penyair ini dianggap berkarya dengan ilham dari iman atau agama.

Memang, keimanan atau agama yang diyakini para penyair itu memperkaya bahasa ungkap para penyair. Tak seperti Zawawi menyerap semangat penghayatan ketuhanan untuk menciptakan puisi zikir, Acep Zamzam Noor merefleksikan pengalaman keagamaan dalam diksi penuh metafor. Puisi-puisinya banyak mengolah kesan tentang alam semesta yang dengan bahasa romantis.

Simak saja karyanya yang berjudul ”Trasimeno”: Kulihat bukit-bukit bersujud/Pohon-pohon merunduk, daun-daun basah/ Lampu-lampu meredupkan cahaya/Angin dan kabut bergulung di angkasa/Senja membelitkan kerudung kuningnya/Semuanya bersujud kepadamu. Sebuah danau/Hamparan sajadah bagi semesta/ Adalah ketenangan yang sempurna.

”Agama tak saya ungkapkan sebagai slogan yang permukaan, melainkan sebagai kesadaran batin yang penuh perenungan,” kata Acep yang lahir dan besar dalam lingkungan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya.

Keseharian

Bagi Joko Pinurbo, agama juga memang tak perlu dipanggungkan dalam puisi penuh jargon mentah. Dia memilih untuk mengolah religiusitasnya dalam agama Katolik dengan berangkat dari cerita sehari-hari, seperti tukang bakso, tukang ojek, tukang becak, lantas mengajak orang berempati kepada orang lain. Dari empati ini, lantas dia menyentuh nilai kemanusiaan yang lebih mendalam.

Dia kerap mengulik narasi yang lebih manusiawi sehingga mudah menyentuh publik umum. Cerita Yesus, misalnya, dimainkan secara lebih lumer dengan mengeksplorasi sisi manusiawinya. Kadang, dia membenturkannya dengan suasana ironis yang nakal.

Salah satu puisinya cukup terkenal karena pendekatan ini, yaitu yang berjudul ”Celana Ibu” (tahun 2004).

Maria sangat sedih menyaksikan anaknya/mati di kayu salib tanpa celana/dan hanya berbalutkan sobekan jubah yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit/dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang/ ke kubur anaknya itu, membawakan celana/ yang dijahitnya sendiri dan meminta/Yesus untuk mencobanya.

”Paskah?” tanya Maria./ ”Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana buatan ibunya,/Yesus naik ke surga.

Menurut Ayu Utami, kurator sastra di Salihara yang malam itu sekaligus menjadi pembawa acara, karya-karya penyair itu memperlihatkan, sastra dan iman atau agama bisa berkelindan tanpa satu menaklukkan yang lain. Agama memberi artikulasi bagi sastrawan saat melihat peristiwa. Hubungan itu berlangsung secara leluasa dan saling memberikan inspirasi dan nilai-nilai, tanpa jatuh menjadi dakwah yang verbal.

Agama atau iman sudah lama mengendap dalam diri penyair, lantas mereka membuat karya. ”Mereka kemudian bisa bermain tanpa rasa kikuk, bebas, dan santai menggambarkan apa yang ada dalam dirinya. Ini selaras dengan semangat seni yang membebaskan dan membuka berbagai kemungkinan,” kata Ayu.