Category Archives: Pengarang Buku

Gabriel Garcia Marquez Peraih Nobel Kesusastraan Asal Kolumbia Meninggal Dunia

Penulis peraih Nobel Kesusastraan asal Kolombia, Gabriel Garcia Marquez, telah meninggal dunia dalam usia 87 tahun, Kamis 17 April 2014. Dia sering dianggap sebagai salah seorang penulis terbesar yang menggunakan Bahasa Spanyol. “Gabriel Garcia Marquez sudah meninggal dunia,” kata salah seorang juru bicara keluarga, Fernanda Familiar, lewat pesan Twitter.

“Mercedes (istrinya) dan kedua putranya, Rodrigo dan Gonzalo, memberikan wewenang kepada saya untuk menyampaikan informasi tersebut. Kesedihan yang mendalam,” tambahnya. Karya Marquez yang paling terkenal adalah yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia, termasuk Bahasa Indonesia.

Novel yang ditulisnya pada tahun 1967 itu sudah terjual lebih dari 30 juta buku di seluruh dunia dan meraih Nobel Kesusastraan pada tahun 1982. Beberapa novel lainnya yang juga mendunia antara lain dan Gaya bertuturnya yang hidup dengan cerita mencampurkan kenyataan serta gaib menempatkan dia menjadi pelopor aliran sastra yang disebut realisme magis.

Dia berada dalam keadaan sakit beberapa waktu belakangan dan bulan lalu sempat dirawat di rumah sakit karena menderita karena gangguan pernafasan dan infeksi air seni. Pekan lalu Marquez dipulangkan kembali ke rumahnya namun kondisi kesehatannya dilaporkan ‘amat ringkih’ karena usia tuanya.

Dia tinggal di Meksiko selama 30 tahun belakangan. Presiden Kolombia, Juan Manuel Santos, menyampaikan penghormatan kepadanya melalui Twitter. “One Hundred Years of Solitude dan kesedihan atas kematian warga agung Kolombia sepanjang masa.”

Novelis terkenal asal Kolombia yang juga meraih nobel untuk sastra, Gabriel Garcia Marquez meninggal dunia. Dari presiden, penulis hingga artis mengutarakan bela sungkawanya terhadap novelis raksasa Amerika Latin berusia 87 tahun itu. Berikut adalah kutipan dari teman dan pengagum terkenal penulis pemenang Nobel dari “Seratus Tahun Solitude”, seperti yang dilansir AFP, Jumat (18/4/2014).

Presiden Barack Obama mengatakan, dunia telah kehilangan penulis visioner terbesar dan menjadi salah satu favorit dirinya sejak muda. “Seperti dieketahui ‘Gabo’ memiliki jutaan penggemar, dia pertama memenangkan pengakuan internasional dengan karya-Nya ‘Seratus Tahun Solitude’. Dan saya pernah mendapatkan kesempatan istimewa untuk bertemu dirinya di Meksiko di mana dirinya mempersembahkan salinan tertulis miliknya yang saya hargai sampai hari ini. Dan saya sampaikan kepada keluarga dan teman-temannya, yang saya harapkan bisa memberikan penghiburan di mana kenyataanya apa yang telah dilakukan oleh Gabo akan hidup di generasi yang akan datang,” ujar Obama.

Selain Obama, Mantan Presiden AS Bill Clinton juga mengutarakan bela sungkawanya. “Saya sedih mengetahui telah meninggalnya Gabriel Garcia Marquez. Dari waktu saya membaca Seratus Tahun Solitude lebih dari 40 tahun yang lalu, saya selalu kagum dengan imajinasinya yang unik, kejernihan pikiran, dan kejujuran emosionalnya. Saya menangkap rasa sakit dan sukacita kemanusiaan kita dalam pengaturan baik yang nyata dan ajaib. saya merasa terhormat untuk menjadi temannya dan untuk mengetahui hati yang besar dan pikiran yang cemerlang selama lebih dari 20 tahun,” ujar Clinton.

Presiden Colombia Juan Manuel Santos juga tidak lupa mengutarakan bela sungkawanya. Menurutnya, Gabo selalu menjadi yang terbaik di Kolombia. “Seribu tahun kesendirian dan kesedihan atas kematian penulis terbesar Kolombia sepanjang masa. Solidaritas dan belasungkawa kepada (istri Garcia Marquez Mercedes) Gabo dan keluarga. Gabo tidak pernah mati,” ujarnya. Selain para kepala negara, ucapan belasungkawa juga hadir dari para artis kebangsaan Kolombia. Penyanyi Shakira juga mengutarakan kesedihanya.

“Untuk Gabo, dirimu pernah berkata hidup ini bukan hanya apa yang hidup, tetapi bagaimana kita mengingat kehidupan tersebut. Gabo, kau akan selalu dikenang oleh kita semua sebagai orang yang unik dan yang paling original dari semua. Sangat berat untuk mengucapkan selamat tinggal kepadamu dengan apa yang telah kau berikan kepada kita semua. Kau akan berada di hati saya dan di hati semua orang yang menyayangi dan mengidolakanmu,” terang Shakira.

Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto dan Presiden Ekuador Rafael Correa juga tidak lupa memberikan ucapan belasungkawanya. Menurut mereka, Gabo ialah penulis yang terbaik di Amerika Latin.

Seni dan Sastra Mengikuti Zaman dan Tidak Statis

Seni bukanlah sesuatu hal yang monoton. Hampir tiap tahun, tiap era, seni selalu berubah. Hal itu pula yang disadari oleh sastrawan dan budayawan Sapardi Djoko Damono. Dalam kuliah umum My City My Literature di Aula Profesor Mattulada, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas), Sapardi mengajak peserta untuk memikirkan ulang tentang sastra. Ia pun tidak memungkiri perubahan sastra yang mengikuti perkembangan zaman. “Sastra memang selalu berkembang,” kata Sapardi, Rabu, 26 Juni 2013.

Menurut Guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini, sastra tidak hanya berupa tulisan, bunyi, gambar, tulisan dan gambar atau komik, maupun gabungan dari ketiganya, yakni film. Sastra juga bisa ‘meloncat-loncat’ seenaknya sendiri di layar komputer. Maksudnya, era teknologi canggih telah ikut serta memberikan kontribusi pada perkembangan sastra. “Melalui internet, anak muda menyalurkan kreativitas sastranya, dan menghasilkan karya baru yang bermanfaat bagi masyarakat.”

Sapardi memberikan contoh novel 140 Karakter. Buku karya Fira Basuki itu merupakan kumpulan isi hati si penulis yang dituangkan melalui sosial media Twitter. Pada konteks lain, ada film yang lahir dari kumpulan lagu The Beatles. Semua itu bukti dari kata ‘meloncat-loncat’ yang dimaksud Sarpadi. Sebuah buku bisa menjadi film, dan lainnya.

Soal dongeng atau cerita rakyat, Sapardi berpendapat bila keduanya juga mesti berubah mengikuti perkembangan zaman. Sebab, cerita sastra yang tidak diubah akan ditinggalkan atau terkubur. Menurutnya, tradisi adalah sebuah proses, dan cara mempertahankan tradisi sastra adalah dengan mengembangkan kreativitas. “Bukan menjaganya tetap pada cerita awal diciptakannya,” kata Sapardi. “Yang tidak berubah-ubah itu akan mati, artinya masuk museum dan selesai.”

Sapardi melanjutkan, film animasi Shrek adalah kisah yang diadaptasi dari buku dongeng. Begitu pula dengan film Twilight yang mengisahkan vampir. Sejak dulu vampir sudah ada, namun pembuat film meramunya menjadi sesuatu yang baru. “Orang bisa menulis karena bisa membaca,” kata Sapardi. “Karena itu, generasi muda tidak hanya menulis tetapi harus tekun membaca.”

Kuliah umum My City My Literature merupakan salah satu kegiatan dari rangkaian acara Makassar International Writers Festival 2013. Pagelaran yang diselenggarakan Rumata’ ini berlangsung sejak 25-29 Juni 2013. Dalam kuliah umum Sapardi, Rumata’ bekerja sama dengan mahasiswa Pascasarjana Sastra Unhas.

Jejak Perjuangan Pendidikan Pengarang Laskar Pelangi

Tokoh utama di balik Laskar Pelangi adalah Andrea Hirata. Lelaki asli Desa Linggang, Kecamatan Gantong, Belitong, ini menerbitkan novel pertamanya pada 2005. Karyanya langsung mendapat sambutan hangat dan mencatat penjualan hingga 5 juta eksemplar. ”Tapi, ada yang pernah menghitung, buku bajakannya mencapai 12 juta eksemplar,” kata Andrea.

Karya ini mengisahkan 10 anak kampung miskin yang bersekolah di SD Muhammadiyah Gantong. Mereka berjuang mengatasi keterbatasan ekonomi keluarga dan minimnya fasilitas pendidikan sekolah.

Dengan menamakan diri Laskar Pelangi, mereka bahu-membahu untuk saling menyemangati agar tetap bisa bersekolah. Meski tak semua berhasil, beberapa di antara mereka kemudian melanjutkan kuliah. Termasuk Andrea Hirata, yang dalam novel itu bernama Ikal.

Dari Belitong, Andrea hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan ekonomi di Universitas Indonesia (UI). Dia kemudian mendapat beasiswa untuk studi Master of Science di Universite de Paris, Sorbonne, Perancis. Perjalanannya menempuh pendidikan dari pulau kecil di Sumatera merambah Jakarta dan Eropa itu yang kemudian diceritakan dalam novel-novelnya.

Selain Laskar Pelangi, dia juga menulis Sang Pemimpi (2006), Edensor (2007), serta Maryamah Karpov (2008). Semua buku itu tercatat sebagai best seller. ”Bagi saya, yang penting adalah bagaimana menularkan dan mempertahankan nilai-nilai edukatif bagi masyarakat,” katanya.

Komitmen itu pula yang mendorong Andrea mau pulang kampung untuk menyelenggarakan Festival Laskar Pelangi. Dengan mengambil sebagian dari royalti penjualan bukunya, dia membangun Rumah Puisi. Rencananya, bangunan itu dijadikan tempat residensi bagi seniman untuk tinggal secara gratis sambil menulis.

Semangat itu juga dicatat pada papan nama Jalan Laskar Pelangi yang melewati rumahnya.

”Laskar Pelangi menandai jejak-jejak perjuangan pendidikan anak-anak Indonesia. Jejak itu dimulai di jalan ini. Jalan yang menjadi saksi bahwa anak-anak Indonesia bukanlah anak-anak yang mudah menyerah. ’Laskar Pelangi’ merupakan karya fenomenal yang telah merambah dunia. Penulis ’Laskar Pelangi’, Andrea Hirata, tinggal di jalan ini.”

Jangan Main Main Dengan Sastrawan

ada 29 September 2010, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim menggelar Temu Sastra Jatim 2010. Perhelatan yang ke-5 ini diusung dengan tajuk ”Prosa dan Realitas Sastra Kini”.

Bila membicarakan realitas sastra, baiknya kita menyepakati bahwa karya sastra tidak jatuh dari langit. Melainkan diciptakan oleh para sastrawan untuk dinikmati, dihayati, dipahami, dan dimanfaatkan masyarakat.

Secara sosiologis, sastrawan merupakan bagian dari masyarakat sebab terikat oleh kelompok sosial yang berkaitan dengan pendidikan, agama, adat istiadat, dan semua lembaga sosial yang mengelilinginya. Sastrawan menggunakan bahasa sebagai medium menyampaikan gagasan, gambaran, ide dan segala perenungan. Sastrawan merekam semua kenyataan sosial yang saling bertaut dalam hubungan antarmanusia kemudian dipantulkannya kembali dengan memakai bahasa. Jadi, bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial.

Fahrudin Nasrulloh dalam makalahnya yang berjudul Dewan Kesenian dan Problematik Sastra Jatim menuliskan bahwa 38 kabupaten dan kota yang ada di Jatim mempunyai 10 subkultur kebudayaan. Berdasarkan pemetaan Ayu Sutarto dan Setya Yuwana Sudikan, 10 subkultur itu adalah Jawa Mataraman, Jawa Ponoragan, Arek, Samin, Tengger, Osing, Pandalungan, Madura Pulau, Madura Bawean, dan Madura Kangean. Kemudian ditambahkan juga dengan budaya China dan Arab. Masing-masing subkebudayaan itu mengembangkan lingkup kebudayaannya dengan sangat kaya dan luas, termasuk berbahasa dan bersastra.

Dari realitas yang heterogen itu, lahirlah berbagai motor penggerak sastra di Jatim. Mulai dari sastra pedalaman, sastra pesisir, sastra buruh migran, sastra Melayu Tionghoa, sastra peranakan sampai sastra pesantren, dan sebagainya. Sapardi Djoko Damono dalam esainya yang berjudul Poerbatjaraka, Sastra Klasik dan Kita : Sebuah Kasus Kritik Sastra Indonesia menyebutkan bahwa para satrawan mempunyai ”sejarah sastra” sendiri-sendiri.

Namun, Sumpah Pemuda 1928, yang pada salah satu sumpahnya menyatakan: menjunjung tinggi bahasa persatuan: bahasa Indonesia, membawa dampak langsung bagi perjalanan sejarah sastra di Tanah Air. Yaitu: dengan berbagai latar belakang sosial, ekonomi, kultur, geografi dan agama, para sastrawan menuangkan rekaman kehidupan masyarakat dari bahasa dan kebudayaan masing-masing ke dalam bahasa Indonesia.

Maka sebagaimana bahasa Mandarin menuliskan sastra China, bahasa Arab menuliskan sastra Arab, bahasa Inggris menuliskan sastra Inggris, bahasa Melayu menuliskan sastra Melayu, begitu pula bahasa Indonesia menuliskan sastra Indonesia.

Jadi acara tersebut lebih tepat disebut sebagai : Temu Sastrawan Jatim. Sebab, tidak ada bahasa Jatim yang menuliskan sastra Jatim. Jadi akan lebay bila masih memerkarakan seperti apakah sastra Jatim, efektivitas Dewan Kesenian Jatim, dan berbagai macam problem klasik lainnya. Seharusnya yang menjadi wacana adalah bagaimana peningkatan produktivitas dan kualitas para sastrawan Jatim sehingga bisa berkontribusi bagi perkembangan sastra Indonesia.

Tjahjono Widarmanto mencermati perjalanan sejarah sastra di Jatim melalui makalahnya Menengok Tradisi Sastra. Ia menjabarkan karya-karya sastra fenomenal yang lahir pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan Hindu Buddha yang berpusat di Jatim. Misalnya, Kitab Pararaton yang meriwayatkan Ken Arok dan raja-raja Singgasari, Kitab Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca.

Setelah Majapahit runtuh, Islam masuk dan berkembang ke Jawa. Dalam siar Islam, para wali juga menggunakan sastra sebagai salah satu medianya. Sunan Kalijaga menganggap kesusastraan adalah bagian kebudayaan terpenting untuk memahami masyarakat Jawa. Maka lahirlah karya-karya sastra Islam seperti Suluk Wujil yang menceritakan wejangan Sunan Bonang kepada siswanya yang bernama Wujil.

Industri media

Akhirnya, makalah Mashuri yang berjudul Masih Ada Cerpen di Jawa Timur mengamati kiprah dan eksistensi para sastrawan Jatim di era industri media dan teknologi seperti digital, blog, facebook, dan sebagainya.

Tidak bisa dinafikan bahwa sastrawan membutuhkan teknologi, media, kekuatan kekuasaan politik dan pasar untuk mempermudah proses kreatif serta sarana publikasi. Sebab, nilai-nilai instrinsik karya sastra tidak mungkin terangkat ke permukaan dengan sendirinya tanpa campur tangan kekuatan ekstrinsik. Tetapi perlu diingat bahwa sastrawan bukan cabup, cawali, cagub, atau caleg yang memopulerkan diri untuk mendapatkan dukungan masyarakat sebanyak-banyaknya.

Sebaliknya, sastrawan yang baik adalah seniman sekaligus ilmuwan yang mau terus belajar, mengamati, dan menyikapi seluruh aspek-aspek kehidupan. Sebab, popularitas yang akan atau dan telah didapatkannya lahir dari rahim karya yang berkualitas. Hal itu tidak mungkin tercipta melalui pemikiran serta pemahaman yang dangkal dan instan.

Aguk Irawan MN dalam tulisannya yang berjudul Sastra Islam dan Perjuangannya (Kompas, 25 September 2010) menuliskan bahwa Al Quran dengan sangat terang sebanyak 10 kali dan dengan bentuk sinonimnya sekitar 60 kali dan secara istimewa menyebut satu suratnya dengan nama As-Syu’ara atau ”penyair” (QS As-Syu’ara [26], 24-27). Melalui surat itu, Al Quran secara khusus mengapresiasi penyair (baca : sastrawan) sebagai sebuah profesi atau pekerjaan dan ekspresi manusia yang istimewa karena kemampuannya berkata-kata dengan memesona sekaligus juga sugestif, imajinatif dan kontemplatif. Karena itu, siapa pun jangan main-main dengan sastra(wan).

Lan Fang Penulis Esai, Prosa, dan Puisi, Bertempat Tinggal di Surabaya. Novel terbarunya: Ciuman di Bawah Hujan (2010)

Keindahan Islam dalam Kaligrafi

Mengaji dan Berkreasi di Kampus Seniman Muslim Lemka”. Slogan yang ditulis dengan kaligrafi Arab itu tergores pada tembok sebuah gang kecil di Kelurahan Karamat, Kecamatan Gunung Puyuh, Sukabumi, Jawa Barat.

Gang ini menjadi pintu masuk ke Pesantren Lemka (Lembaga Kaligrafi Al Quran). Suasananya bersahaja. Begitu memasuki area pesantren, terdapat beberapa bangunan terpisah. Ada asrama putra, asrama putri, kantor pesantren, dan pendopo yang digunakan sebagai ruang belajar.

Di pendopo, tampak beberapa santri sedang asyik menggoreskan kalam (semacam pena dari bambu) untuk membentuk aksara Arab di atas kertas karton. Ada kaligrafi bergaya tsuluth, dewani, kufi, atau naskhi. Tiap-tiap gaya memperlihatkan keindahan anatomi huruf yang lentur dan ekspresif.

”Saya ingin pesantren ini menjadi tempat bermukim seniman-seniman Muslim,” kata pendiri Pesantren Lemka Didin Sirojuddin saat ditemui di pesantren tersebut, Kamis (26/8) sore. Pesantren ini memang didirikan untuk mewadahi santri yang hendak mengasah keterampilan dan wawasan dalam kaligrafi Arab.

Sejak didirikan tahun 1998, pesantren telah membina sekitar 600 santri dari beberapa lokasi di Indonesia. Tahun 2010, sebanyak 115 santri dari 17 provinsi menetap selama setahun penuh untuk belajar kaligrafi.

Apa menariknya kaligrafi untuk dipelajari? Bagi Didin, kaligrafer dapat memperoleh manfaat batiniah dan lahiriah ketika menguasai keterampilan menulis halus Arab ini. Selain menyajikan keindahan tulisan dan kedalaman makna dari pesan teks, kaligrafi juga bisa dijadikan media komunikasi dengan Sang Khalik. Lewat tulisan halus ini, seorang Muslim dapat semakin mendekatkan diri pada Tuhan.

Kaligrafi juga menjadi salah satu perwujudan dari wajah indah Islam. Setiap kaligrafer dapat mengacu pada gaya-gaya kaligrafi klasik sekaligus mencoba bereksperimen dengan gaya baru. Karya kaligrafi yang baik bisa mengajak siapa pun, tak harus umat Muslim, untuk menikmati estetika permainan huruf.

Dimensi estetik ini memang kerap tertutupi oleh dimensi hukum (fiqh) dan ritual (ibadah) yang lebih menonjol. ”Islam tidak menebar kebencian, tetapi rasa cinta. Jika nilai itu telah tertancap di hati, semuanya akan terasa indah,” ucap Didin, yang juga dosen pada Universitas Islam Negeri Jakarta.

Kaligrafi juga menumbuhkan ketenangan bagi penulisnya. Dodi (20), salah satu santri asal Riau, mengaku sering lupa diri jika sedang menulis kaligrafi. Dalam sehari, dia bisa menghabiskan waktu lima jam untuk mengutak-atik huruf-huruf indah itu. ”Saat menulis, hati saya tenang dan damai,” ujarnya.

Menurut Didin, kaligrafi tidak hanya dapat digoreskan di atas karton, tetapi juga bisa diterapkan pada media lain, seperti kanvas dan tembok. Di pesantren seluas 6.400 meter persegi ini, tembok-tembok kelas dan asrama memang dipenuhi dengan mural-mural kaligrafi yang sejuk dipandang.

Proses pengajaran di pesantren ini juga menarik. Meski punya pendopo, proses belajar kadang dilakukan di tengah sawah, kebun teh, ataupun di tepi sungai. Dengan metode yang rekreatif dan interaktif itu, para santri diharapkan mampu mengeksplorasi makna dan estetika kaligrafi lebih luas lagi.

Tak heran, pesantren kaligrafi pertama di Indonesia ini telah melahirkan ratusan seniman kaligrafi atau khattat. Sekadar gambaran, pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) 2010 di Bengkulu, dari 190 peserta kaligrafi, 90 santri di antaranya merupakan jebolan Pesantren Lemka. Santri lulusan Lemka juga pernah menjadi juara 1 dalam lomba penulisan kaligrafi tingkat Asia Tenggara di Brunei.

Antara Seni Sastra dan Agama

Ilham Khoiri

Alif, alif, alif!/ Alifmu pedang di tanganku/Susuk di dagingku, kompas di hatiku/ Alifmu tegak jadi cagak, meliut jadi belut/ Hilang jadi angan, tinggal bekas menetaskan/Terang/Hingga aku/ Berkesiur/ Pada/ Angin kecil/ Takdir-Mu

Fragmen puisi berjudul ”Dzikir” itu didaras dengan penuh penghayatan oleh penulisnya sendiri, D Zawawi Imron. Meski sudah berusia 65 tahun, suara penyair asal Madura itu tetap memendarkan energi.

Saat ia melafalkan kata-kata puisi itu secara susul-menyusul terdengar mirip sebuah mantra atau zikir yang berulang-ulang. Suaranya yang keras dan agak serak memenuhi ruang teater.

Sebagian penonton mungkin sudah akrab dengan puisi yang terkenal pada tahun 1980-an itu. Namun, tetap pendarasan itu menggedor kita untuk merenung soal kefanaan nasib dan hidup manusia serta hubungan kita dengan Tuhan. Penyebutan benda-benda sebagai manifestasi Tuhan mungkin mengajak kita memikirkan kemungkinan semangat penyatuan Tuhan dan semesta sebagaimana diyakini dalam filsafat emanasi.

Penyebutan kata yang berulang mengingatkan kita pada doa, mantra, atau zikir yang dilantunkan dengan cara ritmis setelah shalat. ”Puisi ini hasil penghayatan saya akan Tuhan dan kehidupan. Ini pergulatan saya sejak lama yang kemudian muncul tanpa direka-reka dalam bentuk puisi,” kata Zawawi seusai membaca puisi.

Pentas itu menjadi bagian dari pertunjukan ”Mendaras Puisi: Pembacaan Puisi di Bulan Puasa” di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (19/8) malam lalu. Hadir juga membacakan puisinya, penyair Acep Zamzam Noor, Joko Pinurbo, dan Remy Sylado. Dalam catatan panitia, para penyair ini dianggap berkarya dengan ilham dari iman atau agama.

Memang, keimanan atau agama yang diyakini para penyair itu memperkaya bahasa ungkap para penyair. Tak seperti Zawawi menyerap semangat penghayatan ketuhanan untuk menciptakan puisi zikir, Acep Zamzam Noor merefleksikan pengalaman keagamaan dalam diksi penuh metafor. Puisi-puisinya banyak mengolah kesan tentang alam semesta yang dengan bahasa romantis.

Simak saja karyanya yang berjudul ”Trasimeno”: Kulihat bukit-bukit bersujud/Pohon-pohon merunduk, daun-daun basah/ Lampu-lampu meredupkan cahaya/Angin dan kabut bergulung di angkasa/Senja membelitkan kerudung kuningnya/Semuanya bersujud kepadamu. Sebuah danau/Hamparan sajadah bagi semesta/ Adalah ketenangan yang sempurna.

”Agama tak saya ungkapkan sebagai slogan yang permukaan, melainkan sebagai kesadaran batin yang penuh perenungan,” kata Acep yang lahir dan besar dalam lingkungan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya.

Keseharian

Bagi Joko Pinurbo, agama juga memang tak perlu dipanggungkan dalam puisi penuh jargon mentah. Dia memilih untuk mengolah religiusitasnya dalam agama Katolik dengan berangkat dari cerita sehari-hari, seperti tukang bakso, tukang ojek, tukang becak, lantas mengajak orang berempati kepada orang lain. Dari empati ini, lantas dia menyentuh nilai kemanusiaan yang lebih mendalam.

Dia kerap mengulik narasi yang lebih manusiawi sehingga mudah menyentuh publik umum. Cerita Yesus, misalnya, dimainkan secara lebih lumer dengan mengeksplorasi sisi manusiawinya. Kadang, dia membenturkannya dengan suasana ironis yang nakal.

Salah satu puisinya cukup terkenal karena pendekatan ini, yaitu yang berjudul ”Celana Ibu” (tahun 2004).

Maria sangat sedih menyaksikan anaknya/mati di kayu salib tanpa celana/dan hanya berbalutkan sobekan jubah yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit/dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang/ ke kubur anaknya itu, membawakan celana/ yang dijahitnya sendiri dan meminta/Yesus untuk mencobanya.

”Paskah?” tanya Maria./ ”Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana buatan ibunya,/Yesus naik ke surga.

Menurut Ayu Utami, kurator sastra di Salihara yang malam itu sekaligus menjadi pembawa acara, karya-karya penyair itu memperlihatkan, sastra dan iman atau agama bisa berkelindan tanpa satu menaklukkan yang lain. Agama memberi artikulasi bagi sastrawan saat melihat peristiwa. Hubungan itu berlangsung secara leluasa dan saling memberikan inspirasi dan nilai-nilai, tanpa jatuh menjadi dakwah yang verbal.

Agama atau iman sudah lama mengendap dalam diri penyair, lantas mereka membuat karya. ”Mereka kemudian bisa bermain tanpa rasa kikuk, bebas, dan santai menggambarkan apa yang ada dalam dirinya. Ini selaras dengan semangat seni yang membebaskan dan membuka berbagai kemungkinan,” kata Ayu.

Ayu Utami Ingin Semua Perempuan Bebas Dari Rasa Takut

Ayu Utami pernah menjadi wartawati beberapa berita mingguan. Ayu kemudian bergiat bersama para aktivis, termasuk bergabung bersama para jurnalis yang memperjuangkan kebebasan berekspresi dan berpendapat.

Ayu kemudian mengemuka sebagai novelis setelah novel pertamanya, Saman, menjuarai sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta pada 1998. Setelah itu novel-novelnya, Larung dan Bilangan Fu, hadir mewarnai kancah sastra Indonesia dengan gaya Ayu yang gamblang, terus terang, termasuk terkait isu gender, seks, dan spiritualisme.

***

Kak Ayu, kira-kira apa kiat jadi penulis yang produktif, sekaligus berbobot? Jujur saya kagum dengan novel Kak Ayu berjudul Bilangan Fu yang turut mewarnai dunia sastra Indonesia. Saya juga kebetulan mengikuti salah satu lomba yang dijurikan Kak Ayu. (Daniel Hermawan,xxxx@gmail.com)

Wah, kamu mengikuti lomba tulis yang saya jurikan? Aduh, antara peserta dan juri tidak diadakan surat menyurat, nih. He-he-he.

Tiga kiat menjadi penulis yang produktif dan berbobot: pertama, jadilah pembaca. Penulis harus banyak membaca. Membaca membuat kita punya banyak ide. Jadi, jangan narsis dan hanya pengin dibaca. Baca juga orang lain. Kedua, berdisiplin. Jangan hanya menulis kalau ada mood. Menulislah tiap hari. Kedua, jangan takut. Jangan takut kalau tulisan kita akan diejek, ditolak, atau dihujat orang. Juga jangan takut kalau terpaksa menulis malam-malam, sendirian….

Sudahkah Anda mengakhiri hidup lajang? Apakah itu sudah ”membatu”? (Wardoyo, Probolinggo)

Soal melajang. Hidup lajang yang saya pilih adalah ”keputusan politik”. Saya tidak anti-pernikahan, sejauh pernikahan itu melindungi pihak yang lemah. Pihak yang lemah dalam masyarakat patriarkis umumnya adalah perempuan dan anak-anak. Kenyataannya, perkawinan sering kali malah jadi lembaga yang menindas perempuan dan anak-anak. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) paling sering dilakukan suami terhadap istri dan anak- anak. Karena itu, harus ada kritik yang terus-menerus untuk memperbaiki struktur lembaga perkawinan.

Kenapa Mbak Ayu tertarik jadi novelis, padahal sebelumnya Anda adalah seorang jurnalis? (Arif Maulana, xxxx@yahoo.com)

Saya suka membaca novel sejak kecil. Itu yang membuat saya pengin bikin novel juga. Saya pernah gagal menerbitkan novel. Karena itu, saya jadi wartawan.

Lalu, sebagai wartawan pada era Presiden Soeharto saya juga jadi aktivis, memperjuangkan kebebasan informasi. Kami mendirikan Aliansi Jurnalis Independen, yang dianggap melawan pemerintah. Karena itu, kami dihukum. Beberapa teman saya masuk penjara. Saya hanya dipecat dari media tempat saya kerja. Nah, karena tak bisa jadi wartawan lagi, saya kembali menulis novel. Dulu gagal jadi novelis terus jadi jurnalis. Kini terbalik. Gagal jadi wartawan lalu jadi sastrawan. Namun, dunia jurnalistik membuat saya punya disiplin dan lebih matang sehingga kali ini saya berhasil jadi novelis.

Di dalam Bilangan Fu, Kak Ayu memasukkan dan menulis nama ”Ayu Utami” sebagai bagian dari cerita. Menurut Kak Ayu, apa perbedaan mendasar antara karya fiksi dan non-fiksi? (Yodie Hardiyan, Salatiga, xxxx@yahoo.co.id)

Dengan kata ”fiksi”, artinya karya tidak harus sesuai dengan kenyataan obyektif. Namun, kalau ada kesesuaian, ya, enggak apa-apa. Banyaknovel yang menggunakan tokoh dan peristiwa sejarah. Tengoklah karya-karya Pramoedya Ananta Toer dan YB Mangunwijaya, misalnya. Toh, meskipun nama-namanya ada betulan, penulis membikin tafsir bebas atas karakter dan kejadian itu. Kan, tidak untuk diuji di sidang tesis! Yang jelas, fiksi itu lebih bebas dari pada nonfiksi. Lebih asyik!

Setahu aku novelis-novelis yang bermutu seperti Mbak Ayu Utami di Indonesia ini masih segelintir saja. Apa sih penyebabnya? (Thomas Salvatore DF, Bandung)

Terima kasih, Thomas. Memang novelis di Indonesia masih sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk kita yang sudah lebih dari 200 juta orang. Itu karena bangsa ini tidak betul-betul diajar untuk membaca. Kebanyakan orang lebih senang menonton televisi daripada membaca. Orang yang tak biasa membaca pasti tidak bisa menulis. Orang yang hanya biasa dengar gosip pasti tidak biasa berpikir jernih. Padahal, pikiran jernih dibutuhkan untuk menulis buku.

Sebagai seorang penulis novel, bagaimana cara Mbak Ayu Utami supaya selalu mendapatkan ide yang fresh dan selalu menarik untuk dibaca? (Nemesius Pradipta II, Jakarta)

Caranya: tertariklah kepada orang lain. Kalau kita narsis, atau kenarsisan, alias terlalu tertarik kepada diri sendiri, kita bisa cepat kehabisan bahan. Namun, kalau kita tertarik kepada orang lain, mempelajari mereka, membaca mereka, niscaya kita punya banyak sekali bahan tulisan.

Apakah pendapat Anda mengenai seks sebelum menikah? (Rosa Nova D, Cinere, Depok)

Apa itu seks sebelum nikah? Apa bedanya dari seks di luar pernikahan? Cara kita merumuskan pertanyaan bisa jadi mengandung bias-bias tertentu. Sering kali orang menghujat seks sebelum nikah, tetapi lupa bicara tentang seks yang dilakukan para suami di rumah-rumah hiburan atau perselingkuhan mereka dengan bawahan di kantor. Para suami itu, kan, sudah menikah, jadi tidak melakukan seks sebelum nikah. Toh, mereka melakukan hal yang tidak menghormati istri mereka.

Biasanya orang mengatakan ”seks sebelum nikah” merujuk pada seks di kalangan remaja. Saya ingin mengatakan, seks itu berisiko. Karena itu, sebaiknya remaja yang umumnya belum bisa menanggung risiko itu jangan melakukan hubungan seks. Namun, saya juga tidak setuju pernikahan di bawah umur. Itu namanya meresmikan hubungan seks untuk anak-anak yang belum siap mengelola risikonya.

Dear Ayu, saya suka dengan gaya tulisan Anda. Bagaimana, sih, cara meyakinkan penerbit besar bahwa naskah kita itu layak muat? (Gregorius Subanti, xxxx@mq.edu.au)

Terima kasih, Greg. Penerbit besar biasanya sudah punya pengalaman mengenai mana yang menarik, mana yang tidak. Meski begitu, mereka tidak selalu benar. Harry Potter, misalnya, pada awalnya ditolak oleh banyak penerbit Inggris.

Berhadapan dengan penerbit besar, penulis baru sering harus banyak mengalah. Namun, sekarang sebetulnya bisa saja penulis menerbitkan buku sendiri. Tidak mustahil, kok. Memang harus punya sejumlah uang untuk menerbitkannya. Distribusinya bisa diserahkan kepada agen atau distributor. Promosinya lewat Facebook dan jejaring sosial lain. Memang, kalau tidak laku, risiko tanggung sendiri.

Cara lain, seperti yang saya alami: ikut lomba, menang, dan penerbit akan datang sendiri!

Kalau mau laku, ikuti tren pasar. Namun, bahayanya, penulis bisa kehilangan otentisitas dan tidak punya karakter. Selera pasar selalu berubah-ubah.

Gimana caranya supaya karya kita dilirik orang? Kasih tahu, ya, resepnya. Kalo boleh, saya pengin kontak langsung. (JW Harnas Putra, Bogor)

Caranya? Sama seperti gimana supaya kita dilirik orang. Setidaknya ada dua alasan kenapa kita dilirik: pertama, karena keren atau cantik atau ganteng. Kedua, karena punya karakter kuat. Kalau tidak punya karakter kuat, kamu harus jadi keren. Keren, dalam hal ini, maksudnya memenuhi selera umum pasar. Sayangnya, selera umum pasar bisa berubah seratus delapan puluh derajat. Satu kali mereka doyan seks, kali lain mereka doyan beragama. Pandai-pandailah menyesuaikan diri. Saya sih memilih punya karakter kuat daripada harus memenuhi selera umum.

Resep lain bisa lihat di http://www.ayuutami.com, ya, Jim.

Anda memilih tidak menikah. Apa yang membedakan pilihan Anda dengan para biarawati yang juga tidak menikah? (Lilik Sujamro, xxxx@yahoo.co.id)

Biarawati mempersembahkan kemurniannya bagi Tuhan. Saya tidak. Saya mengagumi para biarawati. Malah, waktu kecil saya pernah ingin jadi biarawati (penyanyi Madonna juga pernah ingin jadi biarawati).

Namun, selain tak sanggup, ada banyak persoalan yang harus saya jawab yang membuat saya memutuskan untuk tidak menjalani kemurnian itu.

Misalnya, sejak kecil, saya melihat begitu banyak perempuan yang tertekan karena tidak kunjung dapat suami. Mereka dilecehkan masyarakat, dianggap tidak laku, cerewet, judes, dan sebagainya. Stigma itu membuat perempuan jadi takut jika tidak menikah. Karena ketakutan itu, mereka memilih menikah meskipun dengan lelaki yang suka memukuli mereka.

Nah, saya ingin perempuan bebas dari rasa takut itu. Sederhananya, saya ingin menunjukkan bahwa tidak punya suami bukanlah hal yang mengerikan dalam hidup. Saya ingin semua manusia bebas dari rasa takut. Saya ingin kita berbuat baik bukan karena takut, melainkan karena masing-masing kita membutuhkan belas kasih dari manusia lain.

Apakah Anda berminat membuat film yamg mengangkat cerita kaum lajang? (Avilla AM, Jakarta, xxxx@yahoo.com)

Wah, saya tidak bisa membuat film sendirian. Biayanya besar sekali. Mencari pemodalnya akan lebih lama daripada menulis naskahnya. Mungkin Nia Dinata yang bisa membuat film itu. Dia punya modalnya dan sangat peduli soal gender dan perempuan.

Sering ada orang yang menampilkan hasil karya tulisnya di Facebook atau Twitter demi mendapatkan opini dari masyarakat sebelum menerbitkan karyanya. Pertanyaan saya: apakah cara ini tidak berkesan membocorkan alur cerita dan membuat masyarakat malas membaca versi aslinya? (Henry Kurniawan, xxx@gmail.com)

Setiap toko punya etalase. Setiap film punya teaser. Setiap pemancing punya umpan. Saya kira, ”bocoran” di Facebook atau Twitter bisa berguna sebagai umpan agar calon pembaca tertarik. Kalau mereka tertarik, kemungkinan besar mereka akan mencari versi lengkapnya. Jadi, kalau menggunakan dengan tepat, apa pun bisa jadi baik.

Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua penulis termasuk Ayu Utami yang mencerahkan bangsa ini melalui goresan penanya. Semoga tulisannya bisa memandu bangsa keluar dari keabu-abuan. Percikan apa yang mengawali Anda menulis dan apa target terbesar yang belum tercapai? (Jhon Rivel Purba, Padang Bulan, Medan)

Terima kasih, Jhon. Waktu kecil saya mulai menulis karena senang menulis. Ketika saya sudah jadi jurnalis, lantas jadi novelis, saya sering sekali menulis karena gelisah atas ketidakadilan yang terjadi di negeri ini. Misalnya, ketidakadilan ekonomi terhadap petani kecil dan ketidakadilan budaya terhadap perempuan membuat saya menulis Saman.

Kekerasan atas nama agama membuat saya menulis Bilangan Fu. Jika dunia ini sudah adil, saya pasti akan senang membikin komik yang lucu-lucu, seperti Tintin, Lucky Luke, Asterix dan Obelix, Doraemon.

Di mata saya, Mbak Ayu adalah penulis terhebat dan tergila di negeri ini. Yang ingin saya tanyakan adalah bagaimana semua fantasi tulisan Mbak bisa hadir dalam pikiran Mbak? (Angela Sawangie, Jakarta, xxxx@yahoo.com)

Terima kasih, Angela. Saya bisa berfantasi berkat orangtua saya yang tidak pernah melarang atau menyalah-nyalahkan saya karena fantasi yang aneh. Setiap anak punya fantasi aneh, tetapi sering kali kemampuan berfantasi itu dimatikan oleh orang dewasa.

Saya sudah membaca novel Mbak Ayu, Bilangan Fu. Isinya sangat menarik untuk memperkaya spiritualisme kita. Sedikit yang ingin saya tanyakan, dalam novel ini saya ”mencium” Mbak Ayu seakan mengampanyekan sesuatu yang anti-Tuhan yang monoteisme, bahkan hidup tanpa Tuhan. Sebetulnya secara pribadi bagaimana ketuhanan dalam diri Mbak Ayu? (Heru Heu, Solo, xxxx@yahoo.com)

Mas Heru…, Anda pasti tidak membaca Bilangan Fu dengan saksama. Sebab, dalam Bilangan Fu saya jelas membedakan antara sikap anti dan sikap kritis. Sikap anti artinya menolak. Sikap kritis bukan begitu. Sikap kritis adalah kemampuan untuk mengajukan pertanyaan dan keraguan dengan tulus, tanpa maksud jahat ataupun kesombongan. Karena itu, dalam Bilangan Fu, saya mengajukan istilah ”spiritualisme kritis”. Di dalamnya, kita bisa tetap beriman sekalipun kita punya keraguan. Kita tak perlu takut jika kita ragu. Kita bisa tetap menggugat konsep dan dogma agama, sembari menyediakan sebuah ruang di hati untuk adanya misteri ilahi. Dalam ”spiritualisme kritis”, yang harus dihilangkan adalah arogansi. Jangan takut untuk menggugat, asal bukan dengan maksud jahat. Jangan takut untuk beriman, asal bukan dengan kesombongan.

Bahasa Antara Tulisan dan Lisan

”…bahasa pada hakikatnya adalah lisan, bukan tulis,” kata Lie Charlie dalam kolom Bahasa edisi Jumat, 11 Juni 2010. Ini hanya benar secara kronologis. Bahasa memang berevolusi dari lisan ke tulisan, budaya bergerak dari orality ke literacy. Dengan percetakan, teks menjadi makin utama. Kini radio, televisi, dan internet pun hanya bisa ada dan berfungsi dengan tulisan. Tulisan tidak akan ada tanpa lisan, tetapi bahasa tulisan bukan sekadar bahasa lisan yang dituliskan. Hakikat bahasa tidak lagi lisan.

Baik dunia oral maupun literer kaya makna, tetapi ciri dan dampaknya pada proses pikiran manusia, dan sebagai kekuatan pengarah evolusi sosial, sangat berbeda. Bukan hanya itu, sejak tulisan pertama lahir lebih dari 5.000 tahun lalu di Sumeria (Irak Selatan), disusul Mesir, China, dst, dan sampai detik ini, sejarah mencatat bahwa bangsa bertulisan lebih unggul daripada bangsa berlisan saja. Nyatanya, sejarah adalah tulisan. Tulisan adalah cikal-bakal peradaban. Tulisan tinggal, lisan tanggal.

Tulisan jauh lebih akurat, tahan lama, dan efisien dalam melahirkan, menyimpan, memproses, dan memperkembangkan gagasan, sampai yang serumit-rumitnya dan seluas-luasnya. Dari gagasan ke tindakan hanya selangkah. Tanpa tulisan, tidak ada dunia modern, ilmu pengetahuan lambat berkembang, teknologi sebatas sederhana, komunikasi sejauh teriakan, transportasi sekuat tungkai selebar layar. Buta tulisan, biarpun kaya lisan, adalah resep kemiskinan dan ketakberdayaan.

Filsuf Yesuit dan pakar ilmu bahasa, Walter Ong, mendaftarkan beberapa ciri oralitas yang berkontras dengan budaya tulisan. Karena ingatan adalah satu-satunya alat memelihara pengetahuan, dalam dunia lisan kosakata sedikit, tata bahasa sederhana, kata dan konsep diulang-ulang, dan gaya formula umum dipakai, ciri-ciri yang memang masih kental dalam bahasa Indonesia. Formula seperti pantun dan syair misalnya sangat terkenal di dunia Melayu, yang tidak asing dengan pidato, pepatah-petitih, dan silat lidah.

Guru-guru yang hidup dalam dunia lisan selalu menuntut murid-murid menghafal, bahkan menghafal mati, sampai hal-hal yang seremeh-remehnya. Dalam dunia tulisan, hanya hal-hal mendasar yang perlu dihafal. Yang perlu adalah mengasah pemahaman, ketajaman berpikir, kemampuan analitis, abstraksi, dan seterusnya. Dalam lisan yang penting data. Dalam tulisan yang utama olah-data. Akibatnya, lisan itu statis menoleh ke belakang. Tulisan itu dinamis menatap masa depan.

Dunia oralitas juga penuh dengan ungkapan-ungkapan ekspresif seperti adil makmur, aman sentosa, dan lain-lain. Klise memang berkembang dalam dunia lisan. Dengan tulisan, kata-kata dalam ungkapan-ungkapan seperti itu bisa dipecah dan dianalisis sehingga timbul kompleksitas yang merombak dan memperkaya makna. Yang perlu bukan hanya kemampuan baca tulis, melainkan memfungsikan tulisan sebagai instrumen berpikir. Misalnya, hanya dengan tulisanlah bisa dikembangkan daftar, tabel, dan statistik. Bukan berpikir lalu menulis, melainkan menulis sebagai bagian dari proses berpikir canggih.

Tulisan meningkatkan pikiran. Pikiran meningkatkan tulisan. Pemikir adalah penulis.

SAMSUDIN BERLIAN Pemerhati Makna Kata

Produktif Menulis Akan Meningkatkan Daya Ingat

Kebahagiaan dan rasa syukur begitu terpancar di wajah Rosihan Anwar dan keluarga, Senin (10/5) malam di Hotel Santika, Jakarta. Puluhan tamu juga turut berbahagia dan memberikan ucapan selamat.

Malam itu, ada dua acara sekaligus. ”Peringatan hari ulang tahun yang ke-88 tahun atau sebelas windu. Di samping itu, ulang tahun ke-63 pernikahan saya dengan Siti Zuraida binti Sanawi (86), asal Betawi,” kata Rosihan Anwar.

Dipandu August Parengkuan, sebagai pemrakarsa acara, ulang tahun ditandai peluncuran buku Napak Tilas ke Belanda (Penerbit Buku Kompas, Mei 2010) yang kemudian diserahkan kepada 8 kerabat dekat perempuan dan 8 kerabat dekat laki-laki.

Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama mengatakan, produktif adalah salah satu sosok Rosihan. Produktivitasnya sebagai wartawan bertahan sampai usia relatif panjang, sekarang 88 tahun. ”Kualitas lain dari wartawan senior ini, dan ini yang mengagumkan, adalah daya ingatnya yang luar biasa tajam. Pemikirannya yang jernih, logis, dan yang khas; sinis,” katanya.

Menurut Jakob, kreativitasnya yang begitu produktif sampai usia lanjut adalah inspirasi bagi generasi berikutnya.

Sabam Siagian menilai, Rosihan Anwar selalu peka dengan nasib rakyat biasa, rakyat miskin. ”Ia juga ingin rekan-rekan jurnalis dan generasi muda jurnalis Indonesia tetap berpegang pada idealisme,” ujarnya.

Rosihan mengakui, kesenioran dia berdasarkan umur. ”Saya 67 tahun di profesi jurnalis. Semua itu karunia Tuhan,” katanya.

Nalar Uang dan Nalar Pengarang Sastra

Seorang lelaki suntuk membuat esai-esai kecil tentang harga sastra, sejarah ekonomi sastra, uang dalam jejak kolonialisme-modernitas, transformasi ekonomi-sosial-kultural dalam proyek menjadi Indonesia, dan rezim korporasi sejagat dalam sastra. Pembacaan dan pencatatan atas sekian teks sastra Indonesia membuat lelaki itu menundukkan kepala karena merasa kerepotan mendapati ilustrasi dan persemaian imajinasi atas pelbagai garapan tema-tema dalam sastra di Indonesia pada abad XX.

Tumpukan sekian novel sebagai pilihan untuk membaca tanda-tanda zaman hampir membisu. Lelaki itu memilih untuk melacak jejak uang kendati harus memilih dengan agak sembrono karena belum menemukan peta ”ekonomi sastra” di negeri ini.

Pembacaan terselamatkan ketika menggauli teks-teks sastra Melayu Tionghoa. Pengarang-pengarang dari kalangan Tionghoa dengan gairah tak biasa mulai membuka jalan kesadaran untuk memerkarakan uang dengan acuan-acuan ”faktual”. Pengisahan dalam anutan sastra dan jurnalistik kentara menampilkan kepekaan atas peran, makna, dan efek uang dalam pelbagai komunitas sosial di Hindia Belanda. Kepekaan ini mungkin ditunjang dengan antusisme kalangan Tionghoa mengurusi sektor-sektor ekonomi. Uang menjadi diskursus besar dan menentukan nasib di geliat kolonialisme.

Inilah daftar pendek mengenai penggarapan tema uang dalam sastra Melayu Tionghoa: Lo Fen Koei (1903) oleh Gouw Peng Liang, Oey Se (1903) oleh Thio Tjon Boen, Dengen Duwa Cent Jadi Kaya (1920) Thio Tjin Boen, Berkahnya Malaise (1933) oleh Kwee Tek Hoay, Satu Milliun (1938) oleh Soe Lie Piet, dan lain-lain. Deretan teks sastra ini merupakan dokumen zaman. Para pengarang kerap memberi klaim bahwa cerita itu dituliskan dengan pengajuan ada kejadian atau fakta. Pembaca digoda untuk memberi ”keberimanan” dan anutan atas pernyataan klaim. Simaklah keterangan dalam pembuatan judul dan tata bahasa pada sampul: ”cerita yang betul suda kejadian di pulo Jawa dari halnya satu tuan tana dan pachter opium di Res”, ”yaitu satu cerita yang amat endah dan lucu yang betul sudah kejadian di Jawa Tengah”.

Peka

Pencatatan mulai dilakukan untuk mengetahui wacana uang dalam sastra. Sekian teks sastra itu lumayan memberi ilustrasi tentang situasi Hindia Belanda dan persepsi orang atas pelbagai hal mengenai uang. Kisah mengejutkan muncul dalam Oey Se. Tokoh Oey Se takjub melihat bocah main layangan terbuat dari uang kertas. Hasrat uang pun tumbuh. Oey Se minta bertemu dengan bapak si bocah. Bapak ini tinggal di dalam hutan dan naif alias tidak tahu kalau kertas-kertas di keranjang itu adalah uang. Makna uang tak menyentuh nalar. Seni merayu dilancarkan untuk mendapati uang kertas dalam dua keranjang. Oey Se berhasil membeli uang itu dengan harga murah.

Simaklah: ”… maka sekarang Oey Se dapat harta kira-kira kurang lebih f 5.000.000 (lima miliun rupiah) tapi sebab di dusun tiada kenal itungan, maka ia dibayar f 14.” Uang telah membuat si bapak itu dan Oey Se ekstase: ”Si tuan rumah kaget lihat duit begitu putih sebab uang f 14 buat orang miskin begitu ada besar sekali harganya, lebih lagi si Oey Se jadi lemas dan merasa tida karuan di dalam dirinya….”

Persepsi atas uang terbentuk dalam kondisi perbedaan latar kelas sosial, derajat ekonomi, dan nalar. Persamaan dan kontras ini mesti diletakkan dalam konteks zaman pada saat gerak ekonomi di Hindia Belanda memusat pada kalangan tertentu. Nalar uang ada untuk kepemilikan otoritas. Persepsi kaum miskin terhadap uang terbentuk karena nalar lapar atau nalar pertahanan hidup. Perbedaan nalar uang untuk keserakahan atau hasrat kapitalistik melampaui dari nalar uang dalam jerat kemiskinan dan ketidaksanggupan masuk dalam lingkaran ekonomi produktif.

Pencatatan atas uang ini memang hampir menginsafkan atas pamrih seorang lelaki membuat proyek kecil untuk riset sastra. Lelaki itu mafhum ada tendensi untuk memperkarakan uang dalam sastra di luar Balai Pustaka atau pencapaian pengarang-pengarang Pujangga Baru. Pikat sastra Melayu Tionghoa melahirkan kesadaran tentang sensibilitas pengarang untuk memerkarakan uang secara reflektif, kritis, dan dokumentatif. Pikat ini menjadi modal untuk keluhan atas pengabaian peran sastra Melayu Tionghoa dalam penulisan sejarah (resmi atau baku) sastra di Indonesia. Data-data ini bisa dipakai untuk tidak meratapi atas ketidaksanggupan pengarang sastra Indonesia modern dalam menggarap tema uang. Lelaki itu sadar, tetapi merasa ada kegagalan atau kekurangan saat para pengarang dalam sejarah sastra resmi memakai tema uang sebagai instrumen atau wacana sekunder. Pemahaman atas kondisi ekonomi, fakta sosial-kultural, arus modernitas, kegenitan kolonialisme, atau represi politik.

Nalar

Lelaki itu sengaja memilih kutipan dari Berkahnya Malaise untuk menunjukkan kepekaan pengarang sastra Melayu Tionghoa terhadap makna uang dalam suatu zaman. Simaklah alinea pembuka ini sebagai tanggapan kreatif atas situasi 1930-an: ”Yang malaise atawa economisch depressie sudah mendatengken kasangsaraan heibat pada manusia di seluruh dunia, itulah semua orang sudah tau. Bagimana besar kadukaan, kasedihan, kasusahan dan kakalutan yang ditumbulkan oleh malaise, itu pun sudah cukup banyak dituturken satiap hari, hingga sekalipun anak-anak kecil bisa mengarti bagimana heibatnya kasukeran yang manusia musti tanggung dan hadepken di ini masa lantaran malaise punya gara-gara.”

Kutipan ini informatif dan kentara memiliki tendensi untuk mendedahkan fakta-fakta ekonomi, sosial, politik, dan kultural di Hindia Belanda saat malaise menimpa dunia. Makna uang menjadi menentukan dalam narasi Kwee Tek Hoay. Sastra tak sekadar bicara uang sebagai pemanis atau pelengkap. Kwee Tek Hoay justru mengantarkan pembaca untuk menelisik relasi uang dengan pelbagai lini kehidupan manusia. Garapan kritis dalam sastra memungkinkan model kritik sastra menjadi multidimensional ketika harus mengurusi uang.

Lelaki penulis esai ”Uang, Modernitas, dan Tafsir Sastra” (Kompas, 7 Maret 2010) memberi tawa kecil saat membaca esai tanggapan dari Binhad Nurrohmat dengan titel ”Mata Sastra Tak Melirik Mata Uang?” (Kompas, 14 Maret 2010). Binhad seperti mau mengoreksi tentang pernyataan ketidakpekaan pengarang di Indonesia dalam menggarap tema uang. Koreksi itu dikuatkan dengan pengajuan contoh: Telegram (1972) oleh Putu Wijaya, Pasar (1995) Kuntowijoyo, Belenggu (1940) oleh Armijn Pane, dan Ronggeng Dukuh Paruk (1982) oleh Ahmad Tohari. Binhad justru terkesan memihak kelihaian Nikolai Gogol dalam Shinel (1842). Binhad mengingatkan apa atau terpikat oleh apa? Silakan novel-novel itu diajukan sebagai contoh kendati kurang mengena dalam pamrih sorotan uang dan modernitas.

Lelaki itu masih memikirkan tentang keterputusan atau pergeseran wacana uang dalam garapan sastra di Indonesia. Sekian teks sastra Melayu Tionghoa telah jadi pemula. Antusiasme pengarang Tionghoa ini tentu dipengaruhi oleh pelbagai fakta kelas sosial, kekuatan ekonomi, nalar kapitalistik, imperatif politk-kolonialisme, atau hasrat modernitas. Mengapa pengarang-pengarang dalam jejak sejarah resmi sastra Indonesia dan sajian sekian teks sastra hari ini abai dengan uang. Apakah sudah tak ada titik temu atau intimitas antara nalar uang dan nalar (pengarang) sastra?

Bandung Mawar diPeneliti Kabut Institut Solo dan Redaktur Jurnal Kandang Esai