Category Archives: Puisi dan Sajak

Kumpulan Terbaru Puisi Baequni M Haririe

HARI JUM’AT

Jum’at
Maksiat dan munajat
Bersekat-sekat
Barangkali setipis selaput dara
Segala dosa dan doa
Membungkus jua

Jum’at
Malam dan siang
Bergantian
Barangkali soal waktu
Segalanya diburu
Terbungkus nafsu

Jum’at
Lelaki dan perempuan
Berkelamin
Barangkali soal keintiman
Menjadi halal dan haram
Dibungkus berkelanjutan

Membungkusi nikmat
Atas curahan jum’at

Cirebon, 27052010

DI TELAGA REMIS

Desahmu begitu nyaring sewaktu di Telaga
Nafasmu dingin, datang bersama angin
Entahlah, bila semua itu kau tujukan padaku
Aku tak tahu, tiba-tiba saja seperti ada yang meronta
Berusaha terlepas dari keangkuhan batu-batu tua

Rupanya dirimu yang bersemayam di sana
Berapa waktu dan berapa tamu menjadi tak perlu
Karena yang kau tunggu sepertinya diriku

Seingatku, aku sama sekali tak membakar dupa
Atau membaca mantra dulu untuk datang ke Telaga
Aku menyambangi tempat itu untuk mengenang
Dimana hasratku waktu dulu begitu menyatu
Dengan semua jenis daun dan bebatuan di situ

Suaramu tak teratur ketika menyambutku
Gemericik air menggemakan sendiri suaranya
Percik air yang menyentuhku pun begitu mesra
Mengalahkan rindu yang kau muliakan layaknya dewa

Kini, Telaga itu kembali pasrah
Seperti semula, semuanya menjadi kasat mata
Batu, daun, titik air dan kesejukan
Saling menyapa bergantian

Cirebon, 2010

_____Telaga Remis: sebuah objek wisata yang terletak di Desa Kaduela, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Jaraknya kurang lebih 37 km ke arah utara dari kota Kuningan dan kurang lebih 13 km kea rah selatan dari kota Cirebon. Terletak lebih 20 km dari kota Cirebon ke arah Majalengka, telaga ini tersembunyi di antara rerimbunan pohon pinus dan bebatuan cadas. Telaga yang asri dan sejuk ini belum tersentuh pengelolaan yang baik.

KESUCIAN

Kerut di lehermu
Seolah memberitahu
Betapa kehangatan
Dapat diterjemahkan

Rekah bibirmu
Pun memberitahuku
Betapa kerinduan
Dapat dilumatkan

Tidak pada matamu
Yang enggan terbuka
Justru dengan terpejam; katamu
Adalah tanda ketulusan dan kenikmatan

Tidak semata-mata
Musabab waktu yang lama
Dapat merubah ritme desah
Kadang sayup
Kadang samar
Kadang lirih
Kemudian diam
Dan terekam sepanjang malam

Tidak, bukan itu; katamu
Kesucian yang kau inginkan

Cirebon, 2010

KEPADA SIAPA AKU BERTANYA

Bertahun-tahun kita merayakan
Berulang-ulang meritualkan panjat pinang
Berkibar-kibar merah-putih kembali terpasang
Dimana-mana kita lantunkan Tujuh Belasan

Kawan,
Sebenarnya kita sedang memerdekakan apa?

Cirebon, 17082010

KARENA SENYUM

Ingin kudekati dirimu
Saat dimana kau sedang tertidur
Dengan wajah yang tulus
Dan separuh jiwamu terbang
Entah kemana
Bertemu dengan siapa
Atau sedang mengelana
Jauh ke segala arah

Ingin kudekap hatimu
Saat dimana kau sedang tertidur
Dengan detak jantung yang teratur
Dan separuh nafasmu memanduku
Untuk menunggu
Entah di mana
Di bahu atau di dadamu
Hingga sebelum fajar
Aku dibangunkan oleh senyum
Dari sisa bibirmu yang ranum

Cirebon, 23092010

DZIKIR KOPI

Hitam adalah nyawamu
Air panas lalu gelas
Menyetubuhimu senafas demi senafas
Pada keikhlasanmu, tuan dan permaisuri
Ia menyeduh banyak arti

Kental, pahit, manis dan pekat
Layaknya fase rapalan tirakat
Sendiri, berdua atau bersama-sama
Hitam, coklat atau bercampur susu
Dzikirnya tetaplah syahdu dan khusyu’

Sesekali, nyawamu menghangatkan tembakau
Yang dihembuskan mesra dingin danau
Atau ia dilepaskan di puncak gunung
Atau di gubuk sawah atau di pojok kampung
Atau di tengah hiruk-pikuk kota
Bahkan di ranah yang lebih hitam
Pagi, siang, sore maupun malam
Kemarau, cerah atau saat hujan
Nyawamu selalu bergentayangan

Kopi, dalam mantra jiwa
Dikutuk hanya bagi pecinta

Cirebon, 29092010

JUDUL MENYUSUL

Berjanjilah nanti di depan kuburku, sebagai perempuan tangguh. Menjadi seorang bunda dari cakrawala cinta. Deru angin sesungguhnya tak sengaja melepaskan gemuruh batin atau mengirimkan wangi kelabu kepadamu. Itu hanya tanda, betapa kesempurnaan adalah Tuhan. Bersaksilah nanti di depan kuburku, bahwa namaku dari ketidaksengajaan dan kini pantas untuk dibenamkan. Kau menunggu pelangi, dan aku mati.

Cirebon, 19102011

JALAN PEMUDA

Kopi hitam ini pahit, padahal telah kuaduk dengan manis senyummu. Di tepian jalan, aku tak bisa membedakan lagi; mana asap rokok dan asap dari kebisingan itu. Penjaga Cafe memotong daun, menyiramkan air, merawat tetumbuhan agar terus berdzikir. Aku masih di sini. Mencairkan hiruk-pikuk jalanan yang padat. Terik mentari kian menyilaukan, kursi dan meja begitu kaku memamerkan lapisan debu. Kau tahu, aku masih di sini. Di sebelah ada yang berulang tahun, entah yang keberapa, tubuhnya basah. Tapi ia sumringah ditasbihkan teman-temannya sebagai lelaki paling bahagia. Setidak-tidaknya untuk hari ini, semoga sampai akhir hayatnya. Dengarlah, aku masih di sini. Merekam segala harapan dan penantian. Pisang goreng tinggal satu, sendok dan garpu seolah buntu, tak bisa lagi menghidupkan rindu. Perlahan-lahan langit mulai menua. Aku, masih terus menantang senja. Segelintir karyawan curiga, seperti menyimpan gelisah yang sama. Maka, aku pergi dari sini, mengikuti angin barat yang katanya sedang sekarat. Tuhan, aku tinggalkan kopi hitam untukMu.

——–

Baequni M Haririe, lahir di Cirebon, 19 Juli 1975. Senang menulis puisi, cerpen dan novel serta melukis. Sampai saat ini aktif di Komunitas Seniman Santri (KSS).

Kumpulan Puisi Fitra, Fitri dan Zelfina Wimra

Zelfeni Wimra

sirih dan pinang

sirih:

apa yang tidak ada pada diriku ada pada dirimu

aku punya gagang, kau punya batang

bolehkanlah gagangku memanjat batangmu

banyak cita yang ingin kujalarkan

pinang:

tanyakan dulu pada carano,

ujung jari siapa yang sudah dipacari

ujung lidah siapa yang rindu perundingan

semusim lagi, araiku sempurna jadi buah

juluklah aku

2011

Zelfeni Wimra

hulu dan hilir

orang merantau kita katakan berangkut ke hilir

perantau pulang kita sebut balik ke hulu

pengantin kawin, bayi lahir, dan orang mati

kita anggap melingkari putaran

yang berakhir di pelabuhan matahari

kita sendiri sedang apa?

berjuntai-juntai diguyur arus

beruntung ada ikan yang suka, lalu memakan kita

atau ada peternak sapi datang membawa sabit dan karung

baru boleh dikatakan nasib kita sempurna sebagai rumput

melumatkan diri ke dalam usus dan anus ternak

kalau tidak demikian,

selamanya kita di tepi sungai ini

menggigit lidah, berputih mata

orang-orang terus merantau

orang-orang terus pulang

dan anak pinus yang dulu berlindung di balik rimbun daun kita

telah besar menjulang

2011

FITRA YANTI

euthanasia

1)

ke sinilah

duduk di dekat jantungku

kita habiskan malam anggur ini dengan secawan lagu

menjelang pagi sebelum pintu ini mengutukiku

sebelum ia yang bernama waktu

menyeret dan membasuh jejakku di depan pintumu

ke sinilah

sebelum tali kepergian menjerat jantungku

tentu kau akan menancapkan sebuah paku pada kayu bendul pintumu

menggantungnya di sana

mematut-matutnya hingga kering

tiap ada kesempatan

atau malah tak pernah memperhatikannya lagi

sama sekali

ke sinilah

dengarkan cerita jantungku

mari kita hitung detak-detak lamat yang tersisa.

tekan dadaku lalu masukkan nama-nama

nama-nama yang hendak kutinggalkan

nama-nama yang menyudahi denyutku sebentar lagi

ya sebentar lagi semua pintu akan tertutup untuk suara jantungku

ke batas nisbi

ke puncak dari seluruh puisi

sekalipun berarti diam

2)

malam ini tuhan duduk di tepi gaunku dan berfirman:

“takkan sakit, hanya seperti gigitan semut rangrang,

setelah itu kau akan sampai”

2010-2011

FITRA YANTI
sesaji

perasan ini belum kering juga.

bejana abu-abu yang kugunakan sebagai penampung penuh lagi

di perasan keberapa ia akan kering? tanyaku padamu

tampung saja, jawabmu

baiklah jika begitu

terimalah isi bejana ini sebagai sajian magribku kekasih

tanpa asap kemenyan

atau pun semerbak dupa

hanya beberapa kembang rosella yang kubenamkan ke dasar bejana

terimalah sesaji cair ini kekasih

sesaji berwarna merah yang kutampung dari robekan sepi

sesaji yang menetes dari koyakan lapisan terdalam dari selaput rinduku yang tipis

2011

FITRA YANTI
untuk penjaga anggur

bisik-bisik malam menyulap orang-orang

menjelma iblis berhati lunak

di kebun-kebun anggur yang gelap

mengunyah segala yang lunak

meminum segala yang keras

ia yang kukira berhati lindap

menyimpan bau anggur di matanya yang merupa pepohonan

lalu mengerling ke kanan:

“aku tak sedang mabuk

aku tengah menjaga kebun anggur!”

bau anggur menyemaki hidungnya

matanya menghijau

bukan karena teduh dalam lindap pokok-pokok anggur

ia mabuk dengan sesuatu yang jahat

sesuatu yang datang dalam kecepatan cahaya yang hilang

2010-2011

FITRI YANI
Teluk Betung

dari pusaran kota tanjungkarang

dan keringat subuh

para perempuan di selasar pasar

kubentangkan untukmu

sebuah jalan dengan seribu tiang lampu

jalan yang mengarah ke ujung pulau

tempat kehidupan lain

mengigaukan nafas masa lampau

kutampakkan pula kepadamu

patung-patung pemikul air mata purba

gedung-gedung yang memandang lautan

serta seorang tua di ujung dermaga

yang setiap sore datang bernyanyi

nyanyiannya adalah suara samar

penduduk bandar yang menua

“kau tak perlu lagi bertanya

di mana para lelaki menyimpan tombaknya

dan mengapa anak dara

mengurung diri di balik nyala api”

sunyi membubung setinggi awan

lembab tanah makam di atas bebukitan

cahaya kuning

remang

di pintu-pintu pertokoan:

menyapamu.

(2011)

FITRI YANI
Lingkaran Drupadi

“mengapa warna merah selalu mendahului timbul dan tenggelamnya matahari…”

pada sebuah subuh aku menjadi wanita yang tak merasa yakin pada apa yang tengah kuperjuangkan. seperti tiba-tiba tersesat di sebuah lembah yang semula kuduga sebagai lembah asmara. hingga pagi itu, engkau membuatku ada sekaligus tiada.

demi anak-anak yang kelak kulahirkan, kujaga sebutir permata yang senantiasa bercahaya di dalam dada. tuanku, takdir memang tak dapat kuelakkan. namun izinkan aku sejenak saja melihat rautmu, agar karam segala dendam di meja dadu yang kauciptakan itu.

(2010-2011)

Fitra Yanti lahir di Alahanpanjang, 17 Februari 1987. Ia mahasiswi pascasarjana Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang.

Fitri Yani lahir 28 Februari 1986. Buku kumpulan puisinya adalah Dermaga Tak Bernama (2010). Ia tinggal di Bandar Lampung.

Zelfeni Wimra lahir di Sungai Naniang, Limopuluah Koto, Minangkabau, Sumatera Barat. Ia bergiat di Magistra Indonesia, Padang, dan sedang merampungkan buku puisi Air Tulang Ibu.

Kumpulan Puisi: Guruku Inspirasiku

Kau adalah orangtuaku di sekolah

Yang juga menyayangiku

Jika ada kesulitan

Aku bertanya padamu

Kau tulis dan sabar dalam mengajarku

Walaupun lelah dan berkeringat

Betapa besar jasamu bagiku

Aku akan menghormatimu sepanjang masa

Guruku…

Inspirasiku

Bina Vidyaistanti

Kelas IV SDN Winong 01, Pati,

Jawa Tengah

Guruku

Engkaulah yang mengajariku

Menghitung dari angka satu sampai menjadi perkalian

Engkaulah yang mengajariku

Membaca dari huruf A sampai menjadi satu kalimat

Pagi sampai siang kau memberikan waktumu

Untuk murid-muridmu

Engkaulah yang membuat kami tahu banyak hal

Guruku

Engkau mengajari murid-muridmu

Dengan tekun dan tanpa lelah

Tanpamu kami tidak pintar menulis

Membaca dan menghitung

Tanpamu kami tidak tahu tentang peta Indonesia

Dan terjadinya gerhana

Guruku

Engkau yang disebut pahlawan tanpa tanda jasa

Kehadiranmu tak tergantikan

Terima kasih atas jasa-jasamu kepada kami

Tetaplah semangat dalam mencerdaskan bangsa

Yacinta Mutiara Herdyani Santosa

Kelas IV SD Kanisius Babadan, Yogyakarta

Terima Kasih Guru

Setiap pagi kuucapkan selamat pagi untukmu

Tak henti-henti kata-katamu mengalir

Memenuhi gelas pikiranku

Agar menjadi anak pandai

Engkau adalah jendela dunia

Setiap pagi pintu hatimu terbuka

Bagi kami

Untuk menatap masa depan yang bahagia

Agar tak terlindas era globalisasi

Oh… kau sangat berjasa kepada kami

Terima kasih guru

Nurul Fitria Kelas VII SMPN 2 Babelan, Bekasi

Puisi Marhalim Zaini

mitos satu:

indrapura, melayu champa

yang tumbang, saat ia menyerang

dari arah laut

adalah betismu, puteri dai viet

yang tengah rekah meminum embun

dari langit champa

adalah bibirmu, mengucap-ucap

daulat rajaku, daulat tuhanku

bahwa pedang pipih (yang kelak menancap)

pada rahim pantaimu

pada ruas arus di dadamu

darahnya akan jadi sejarah

yang terus berlayar

mengaji sungai merah

mengurai marwah

maka sebagai penunggu laut

aku kenali dikau

lewat isyarat warna langit

seperti warna punggungmu

yang keperakan

berkejaran bagai kaki hujan

di permukaan gelombang

tapi di kedalaman sempadan

pada rahang panjang

ikan-ikan berkulit licin

kutemukan sebutir pasir

berwarna lumut

seperti warna matamu

yang kerap sembab

di lembab batu

didekap rindu

tapi bukankah hanya karena sisik

maka kita dapat saling bertemu

dalam sangkar emas

di kota-kota mati

dari majapahit ke vietnam

(ketakutan itu, katamu

dapat membunuh ingatan

tentang rasa cemburu

melukai keyakinan

iman para pemburu)

lalu apa yang kau tulis

di atas ranjang raja jaya

saat aku kini nakhoda buta

hendak jadi jatnaka

atau hang tuah yang setia

apakah syair cinta itu

yang menggoda malaka

untuk mencium indrapura

tapi aku orang cham

orang cham yang pelupa

bahwa di tahun seribu itu

kau menyerang dari laut

sambil berteriak

todak, todak, todak

(apa yang kau rampas

adalah bendera putih

dari sobekan kelambu

ranjang kayu masa lalu

adalah sakit hati

atas kekuasaan waktu

yang hendak kau pinang

yang hendak kau timang)

tapi bukankah berkali-kali

kita menjauh dari remang

berkali-kali pula jatuh

sebelum terbang

mitos dua:

kampung gelam, melayu singapura

telur itik di singgora

pandan terletak dilangkahi

darahnya titik di singapura

badannya terhantar di langkawi

lihatlah telapak tanganku, puan

dari pasai, garis-garis itu bersilangan

tak ada ujung yang patah, pada pangkal

ia tersadai

mungkin pinang terbelah itu,

bukan sihir di matamu, bukan pada dendam

mestinya dikutuk, tapi sebagai tun,

merantau adalah janji, seperti pantun

sampiran adalah juga isi

aku pernah datang pada maghrib,

saat suamimu raib, di hujung pasar

sebuah kampung pernah gusar, padahal

tak sampai ke ceruk aku bertamu, tak pula

ke lubuk sampaiku di hatimu

apakah ini cinta, atau gelap mata,

kadang orang tumbang di tengah dendang,

saat orang bilang maling pada pendatang,

kadang, aku bimbang pada tumbang,

saat kau telanjang sambil melenggang

alahmak, aduhai, alangkah,

bahwa murka, adakah ia lupa pada tuhan,

sebab wahai, kezaliman ini milik siapa,

jika tertangkap kita, mari selingkuh,

atau dibunuh

maka aku mati, kerismu menusuk

di hatiku, kelak kau luka jika tak berduka,

tapi suamimu raja singapura, tegak berdoa

bagai tak rela, entah kau si penabur bunga,

entah menangis entah menahan tawa

todak, todak, todak, suara siapakah

yang bergelombang itu, nelayan tak melaut

seribu tahun lalu, maka takutlah sejarah,

pada dayung patah, pada sampan terbang,

ikan-ikan yang tak pandai berenang

tapi si gladius menombak,

menyibak air birahimu, ini jantan atau betina,

pada puncak arus ikan-ikan kecil berdansa,

si tuna atau brakuda, tak penting pada siapa

ia memangsa, makan, makan, makan

lalu itukah hening, yang kau ceritakan

pada anak sungai, sehabis badai, setelah kematian

merebak di mana-mana, padahal itulah asin,

anyir darah dari nyeri, rasa sakit pulau-pulau,

itulah sepi, detak jam yang mati

hang nadim, hang nadim, hang nadim,

lalu anak-anak bangkit, orang tua yang pandai

membunuh, yang tumbuh tak mesti api, tapi sirih

merambat di tiang langit, memanjat bagai semut,

dan tengoklah, tangan tuhan siap menyambut

maka jadilah kami batang pisang,

berbaris di sepanjang tanjung, sepanjang tahun,

atau jadilah kami cumi-cumi, yang menanti janji

di akhir hari, sebilah keris akan kami warisi,

setelah jantung dan lambung kami, terburai

di paruh hiu bertulang sejati

mitos tiga:

pulau halimun, pulau laut

yang menyerang, saat tubuh datu’ semedi,

dari arah laut,

adalah ribuan ikan bergigi tajam

kau bertanya, apakah sejarah ikan

adalah sejarah perang,

laut tak pernah bertanya

kenapa tubuhnya bergelombang

beginilah ia, mereka,

percakapan dimulai dari rasa haru

memandang biru sebagai gemuruh

dari dasar hitam matamu

apakah kau berdusta,

pada raja todak, atau pada segala

yang bernama air, bahwa samudra

telah pecah,

dan berkawin dengan tanah

maka terpelantinglah aku,

ke lubuk, mungkin rawa yang dulu

kau cintai, bukan teluk yang buruk

oleh musim abu,

jerebu dari api gambut

dan tengoklah,

yang melompat dari dasar laut,

melepas hama di sekujur tubuhmu,

ini anak-anak kandungku, katamu,

tapi siapa yang mengutuk batu

hingga pulau ini tenggelam,

dan kau tangisi saban malam

padahal wahai,

yang seketika timbul ke bumi,

tumbuh dari kesetiaan adalah

sebuah daratan,

inikah harapan itu,

hujan yang seketika jatuh dari

mata langit, juga matamu,

inikah mitos

pengkhianatan itu

Pekanbaru-Yogyakarta, 2010

Marhalim Zaini lahir di Teluk Pambang, Bengkalis, Riau. Buku puisinya adalah Segantang Bintang Sepasang Bulan (2003) dan Langgam Negeri Puisi (2004). Kini ia tengah mengupayakan penerbitan buku puisinya yang ketiga, Jangan Kutuk Aku Jadi Melayu

Kumpulan Puisi Anak Pendidikan

Nilai UTS-ku

Nilai UTS-ku merah menyala

Kata adikku seperti lagu balonku ada lima

Ayah dan Ibu marah

Ini karena kebanyakan main PS saja

Ini karena kebanyakan nonton teve saja

Akhirnya

Aku tak boleh nonton teve acara bola

Aku tak boleh main PS untuk sementara

Aku sadar aku kurang baca

Kata Ayah, banyaklah membaca

Karena membaca itu jendela dunia

Kata Ibu, kamu harus jadi orang berguna

Kata Bu Guru aku pasti bisa

Semoga yang kulakukan tidak sia-sia

Alkautsar Rizki Arifinsa Kelas V SD Simomulyo, Surabaya

***

Cita-citaku

Merajut mimpi

Saat melihat orang terluka

Merintih kesakitan wajah memelas

Bayangan itu selalu hadir

Kutekadkan diri menjadi dokter

Sekarang belajar giat mencari ilmu

Juga menabung sebab pendidikan mahal

Mohon doa dan dukungan sahabatku

Masih jauh untuk diwujudkan nyata

Nabilla Nurjannah Kelas VI SDN Cijawura, Bandung

***

Buku PKn Ajaib

Suatu siang yang terang, aku bersama teman-teman bermain di halaman rumah. Tiba-tiba terdengar suara helikopter berputar-putar tepat di atas kepala kami. Heli itu mengangkut pasukan tentara perang yang mengepung dan menghancurkan perumahan kami.

Aku dan teman-teman berlarian bersembunyi. Akan tetapi, mereka bisa mendeteksi tempat persembunyian kami. Mereka bisa menemukan aku yang bersembunyi di belakang pohon besar milik Pak Haji tetanggaku.

Aku terkulai lemas tak berdaya. Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang ada di tas gendongku. Akhirnya aku menyerahkan buku PKn kepada pasukan yang menangkapku. Aku berharap mereka membaca buku PKn itu sehingga mereka tak jadi menghancurkan kami.

Waktu pelajaran PKn, Bu Guru mengajarkan kami untuk saling menyayangi sesama manusia dan tidak boleh memerangi orang yang tidak bersalah. Setelah membaca buku PKn, gerombolan tentara itu membebaskanku. Wah, memang ajaib buku PKn itu, ya.

Tiba-tiba aku mendengar bibi memanggil-manggil namaku. Aku pun sadar, ternyata yang baru aku alami hanyalah sebuah mimpi. Aku melihat buku PKn ada di sampingku. Aku ingat semalam, sebelum tidur aku membaca buku PKn itu!

Humaira Puspita Putri Utami Kelas III SD Al-Ihsan, Jakarta

Puisi Dea Prastika Anak Kelas 5 SD

Suara Emas

Aku menangis

Bahagia serta terharu

Mendengar namaku disebut

Alhamdulillah… puji syukurku

Aku menjadi juara satu

Ajang lomba nyanyi pencari bakat

Sekali lagi terima kasih ya Allah

Semua ini berkat karunia besarMu

Kau berikan aku suara emas hingga

Aku bisa melantunkan

Bait-bait lagu secara indah

Sampai kini

Aku janji akan menggunakan

Bakat suara emasku sebaik-baiknya

Demi kebanggaan keluarga,

Sekolah, dan bangsa

Dea Prastika, Kelas V SD Burikan I, Kudus

Kumpulan Puisi Inggit Putria Marga

memasuki pintu, menaiki tangga, tiba di ruangan tertinggi sebuah gedung: ruangan berdinding coklat pala, beberapa lukisan hewan tergantung di dinding-dindingnya, sebuah cermin bundar roda, sepasang jendela kaca berukuran dua kali tinggi orang dewasa menghamparkan panorama: suatu bukit berwarna api seperti akan padam oleh laut yang berhempasan di kakinya. kapal berlayar, kapal bersandar, kapal terbakar: asapnya berpencar di udara, mengapung, membentuk gerombolan burung, menjalar bagai jalan sunyi tak berujung: jalan yang meletakkan ingatanku lagi pada jalan yang kulalui saat menuju gedung ini.

berpagar pohon-pohon bungur yang bunganya gugur, aku seolah melangkah di permadani warna anggur. di kananku, kau berjalan dan berkata kau tak lagi ingin memelihara hewan. di kirimu, aku berjalan tanpa suara apalagi tangisan. tiba di perempatan kita berdiri berhadapan. kau memandangku, aku melihat matamu. katamu, selamat tinggal, hewan. aku menatap kau pergi tanpa suara, tanpa kata, tanpa tanda. jalan yang kutempuh menuju gedung ini semakin sunyi. aku ingin singgah di kedai tempat kau biasa minum-minum, namun tempat itu hanya terbuka bagi suatu kaum. di atas permadani panjang berwarna anggur, aku berjalan menghitung uang yang kau lempar ke wajahku setelah kau selesai dengan tubuhku. bunga-bunga bungur yang gugur, warna matahari yang nyaris luntur, menemani perjalananku ke gedung ini.

aku mencarimu, memasuki pintu, menaiki tangga, tiba di ruangan tertinggi, dan kau tak ada, hanya ruangan berdinding coklat pala dengan lukisan-lukisan hewan yang tergantung di tembok, cermin bundar roda, sepasang jendela kaca berukuran dua kali tinggi orang dewasa. ruangan ini menjelma peti tak terkunci, dinding-dindingnya menggemakan teriakan, tangisan, tembakan, tamparan, desah persetubuhan. lukisan-lukisan hewan yang terpaku di tembok seperti mengganti sendiri gambar dirinya dengan coretan-coretan abstrak bermakna tak tertebak. pada cermin berbentuk roda, aku melihat jelas gerakan tanganmu menjambak rambutku, sebelum ke ranjang, tubuhku kau hempaskan. tangan yang ribuan kali membelai sekaligus membantai, tangan yang kucintai tetapi menistai.

dari sepasang jendela kaca kusaksikan sebukit api melontar percik-perciknya. ah, aku mencintai api, mencintai diriku, juga mencintai dirimu. kita terlahir pasti karena dan untuk sebuah alasan. sepanjang jalan, bersama bunga-bunga bungur yang gugur dan warna matahari yang luntur, alasan kelahiranku telah kutetapkan: di ruangan yang menjelma peti, di tempat aku biasa disetubuhi dan diludahi ini, aku akan membakarmu. bayangkan, betapa bahagia menyaksikan semua yang kucintai bersatu: api, kau, dan aku yang ribuan kali kau sebut hewan.

Inggit Putria Marga

di atas kepala

langit perak

awan berarak

di bawah tapak

permadani pasir

koyak

tertangkap mata

kelebat yang tak tampak:

tangan-tangan maut

mengangkat tepi laut jadi ombak

terbanting berkeping

bagai kelapa remuk di semak

dalam tubuh

jantung dingin berdetak

dalam pikiran

kenangan beranak pinak:

kematian anak

beras tumpah tak tertanak

hidup tak bersanak

nestapa getarkan pundak

mengikuti jalan angin

kaki terus bergerak

memasuki laut

: muara segala kehendak

A Mustofa Bisri

kesiur angin dan gemercik gelombang diterjang lancip hidung perahuku

kukira kelakar mereka yang menggunjingkan mabukku padamu

maka bintang-bintang yang berkedip-kedip di langit seperti mengejekku

tapi tak kuhiraukan aku tetap mengayuh sambil menutup dengan jemari kakiku

lobang-lobang pada dinding-dinding perahuku

yang dibuat khidir mengecoh lanun yang akan merampokku

sebelum ikan pepes sisa bekal musa meloncat ke samodera takjubku

haruskah aku membunuh bocah tak berdosa

menegakkan tembok nyaris runtuh secara sukarela

atau sekedar terus bertanya akan makna-makna

sebelum aku memutuskan akan ikut siapa

khidir atau musa?

Rembang, 15042010

A Mustofa Bisri

kureguk anggur abu nuwas hingga puas

kuminum bir tardji hingga lupa diri

sambil bertanya-tanya apakah dalam mabuk

abu nuwas dan tardji hilang bentuk?

tapi ku tak mabuk-mabuk juga

hanya terlena sekejap lalu terjaga

terlena sekejap lalu terjaga

tak sampai fana

jangan-jangan jalanku tak menujuMu

juga.

2007

A Mustofa Bisri telah menghasilkan sejumlah buku puisi, antara lain Ohoi: Kumpulan Puisi Balsem (1991), Wekwekwek (1996), Negeri Daging (2002), dan Gandrung: Sajak-sajak Cinta (2000/2007). Ia bermukim di Rembang, Jawa Tengah.

Inggit Putria Marga lahir di Tanjung Karang 1981. Ia menetap di Bandar Lampung. Buku puisinya adalah Penyeret Babi (2010).

Puisi Yang Bergerak Keluar Dari Waktu

Sebuah cerita niscaya berlangsung dalam suatu kerangka waktu. Adapun sebuah puisi bisa bergerak di dalam atau di luar waktu ataupun di batas antara keduanya.

Ada kalanya sebuah puisi menyatakan (dan menyuratkan tanda) waktu yang cukup jelas: pagi buta, siang bolong, malam larut, dan sebagainya, kadang berikut angka jam dan menitnya. Atau kadang kala yang tertulis di sana adalah rentang waktu: semalaman, sepagian, seharian, bahkan selamanya, dan seterusnya. Tak jarang pula tergambar rentetan peristiwa, rangkaian adegan, yang menyaran adanya waktu.

Tetapi, bagaimana dengan puisi yang tak memerikan, baik rangkaian peristiwa maupun tanda waktu? Bagaimana dengan puisi semisal ini: bayangan sosok putih/yang tak patah di tembok/ susah didekati/kecuali dengan diam//pada puncak kelembutan bicara/yang tinggal hanya menggeleng atau mengangguk//di gerbang kuil kata-kata terlalu tajam/ – seperti pisau belati/yang berdering jatuh di atas batu (Subagio Sastrowardoyo, ”Seperti Pisau Belati”).

Memang ada beberapa patah kata kerja di sana, tetapi keseluruhan puisi itu tak memberi kita serangkaian peristiwa yang berjalan dalam waktu, melainkan sederet citraan yang enigmatik dan mengundang penasaran. Seakan waktu berhenti atau raib dan kita mengalami sebuah dunia yang bisa dikenali, tetapi sekaligus asing: semacam dunia ambang, yang bukan juga antah berantah.

Dunia ambang semacam itu kerap pula tampak dalam puisi-puisi Sapardi Djoko Damono dalam wujud lukisan suasana di suatu momen, kadang dengan penanda waktu, kadang tidak. Beberapa di antaranya malah menyiratkan betapa sejumlah hal ihwal di dunia ini tak niscaya terbingkai atau terangkum oleh waktu. Misalnya ”bahasa batu” (terutama pada tiga larik terakhir) dalam puisi ”Terbangnya Burung”: terbangnya burung/ hanya bisa dijelaskan/dengan bahasa batu/bahkan cericitnya/yang rajin memanggil fajar/yang suka menyapa hujan/yang melukis sayap kupu-kupu/yang menaruh embun di daun/ yang menggoda kelopak bunga/ yang paham gelagat cuaca/ hanya bisa disadur/ ke dalam bahasa batu/ yang tak berkosa kata/ dan tak bernahu/ lebih luas dari fajar/ lebih dalam dari langit/ lebih pasti dari makna/ sudah usai sebelum dimulai/dan sepenuhnya abadi/tanpa diucapkan sama sekali.

Yang lebih sering lagi melepaskan diri dari bingkai waktu ialah puisi Sutardji Calzoum Bachri. Lewat sugesti bunyi, mulai dari bentukan ajaib semacam ”potapapotitu potkaukah potaku, sepisau sepisaupa sepisaupi sepisapanya sepikau sepi”, hingga bebunyian ritmis seperti ”izukalizu mapakazaba itasatali tutulita zukuzangga zegezegeze”, puisi Sutardji seakan melontarkan pembaca ke sebuah dunia yang terbebas dari garis waktu yang menata peristiwa ke dalam intensitas yang tak terduga. Namun, di antara pelbagai puisi ”bebas waktu” itu ada juga puisi-puisi Sutardji yang menegaskan jalan waktu yang tak tertawar. Contoh paling gamblang adalah ”Hemat”: dari hari ke hari/bunuh diri pelan pelan//dari tahun ke tahun/bertimbun luka di badan//maut menabungKu/segobang segobang.

Kumpulan Puisi Bulan November

Badruddin Emce

: Dewi Nawang Wulan

Seluruh yang engkau tulis, tengadah.

Seluruh yang tengadah, rekah.

Seluruh yang rekah, menggugah.

Perkenankan kami menjadi lebah!

Bagaimana terbang lepas

seperti makhluk paling bebas.

Berputar-putar seperti kerumunan gila belajar.

Lalu meluncur

seperti hanya akan ambil manis sarinya

menolak sepah kosongnya.

Sebelum sentuh membangkitkan,

tak perlu kiranya dituliskan.

Menyusuri jalan yang ditentukan angin

kami akan datang melupakan

rimbun pohon-pohon jauh tinggi!

Sepanjang engkau bebas dari napsu,

dengan seluruh urat daya,

pertahankan itu tengadah rekah.

Sentuhan demi sentuhan!

Nanti, yang berlagak

tak kehilangan miliknya direbut,

setelah kembali dalam sarang

bakal menemukan tubuhnya masih utuh kering.

Begitulah, setelah engkau pergi,

desa yang dulu memuja-muja kembang impianmu

Menjaga matamu dari tatapan berawan puncak Slamet,

terpaksa menyembunyikan kangennya

dalam relung-relung debur air terjun musim hujan.

Tepatnya, lelaki itu tak tega mengatakan

yang mesti dikatakan,

meski engkau tenang dalam dekapannya.

Tak leluasa melakukan yang mesti dilakukan,

meski engkau terseok di depannya.

Jika ia putra seorang pejuang.

Atau setidaknya pernah membuaimu dengan kisah

yang melingkari monumen-monumen di kotanya,

sepanjang musim ia hanya mendengung ingin.

Berputar-putar tak hinggap-hinggap.

Adakah lalu engkau rebut itu kuncup dirimu?

Kelopak-kelopak itu tak nuntut tahu,

yang terjadi barusan sebenarnya apa.

Tetapi tetap membuka,

menjaring dengung panjang

yang telah membangkitbesarkan para pejuang.

Di musim engkau kehilangan gairah,

patung-patung itu telah berdiri

dengan bambu runcing di kaki depan dan kaki belakang.

Di mata dan mulut. Di punggung dan perut.

Di sayap dan udara.

Di kata-kata dan bukan kata-kata.

Kroya, 2010

Badruddin Emce

: Ganjar Wisnu Murti

Laut mencoba menirunya!

Pagi itu, dengan ombak terjulur lunglai.

Tumpukan busa leleh.

Dengan gulung sedikit pincang

seperti habis dibrengkolang,

mengikuti ke mana engkau membawa kail.

Mengayuh sepeda di jalan pasir.

Lalu dari balik tanaman kacang

atau rimbun pisang,

mengawasi pikiranmu

tengah mencabuti akar bukit Selok

puluhan tahun mencengkeram muara Adireja.

Setelah lingsir, dengan debur yang sama,

menyusur ke barat

lubang-lubang pasir besi terus digali,

dikuras hingga tak berarti.

Terkadang di suatu Minggu sore

simpuh di teras rumah bapakmu,

seperti menunggu seseorang

yang balik dari Semarang,

kota istri dan anak-anakmu

selalu ingin menikmati rob bersamamu.

Tetapi di bawah langit selatan,

laut tak bisa sesempurna anjing itu.

Anjing yang keturunannya

dimasukkan karung dengan moncong terikat.

Lalu jika malam menuntut kegembiraan lebih,

di belakang sebuah warung

kepalanya dipukul dengan sekali pukulan.

Bukankah jika magrib terdengar,

laut segera menyisih ke tengah

yang sulit digapai,

dan hanya sedetik buih tertinggal di pantai?

Kemudian agar bisa paham,

engkau mencipta waktu.

Mengajak teman-teman berendam

di bawah purnama.

Di air yang katamu,

tiap butirnya menampung beribu peristiwa.

Lalu di sebutir yang tersisa di sebuah gelas

tergambar

betapa laut mulai mencumbu pasangannya.

Beberapa bulan kemudian

menjilati bulu anak-anaknya

yang mungil.

Mengajari berburu tikus sawah

atau kucing yang tersesat semak semangka.

Sayang sekali,

jika magrib kembali berkumandang,

laut segera menyisih.

Menjauhi dunia kata yang gemagus.

Lalu seperti para pencari anjing

kita tak jadi membaca

bagaimana laut meringkuk dalam karung

setelah berjam-jam kehausan dan tertipu.

Kroya, 2008

S Yoga

barongsai

cahaya keperakan, merah, kuning

hijau giok adalah pernak-pernik kesunyian

terbang ke atas, ke puncak cahaya

meledakkan malam yang buta

malam lampion yang bercahaya

karnaval perayaan musim tanam

malam menjulang bertabur bintang

kembang api menyembur

di kegelapan malam yang memanjang

mercon meledak di udara

tambur dimainkan, gemerencing genta

dan keras genderang yang menggema

di persimpangan jalan kau ragu

arah mana yang dituju

menari-nari di malam gemerlap

warna-warni merah api

bergantungan di udara

di sisimu seekor naga raksasa

meliukkan ekor hitamnya

dengan sisik kuning emas

penuh kenangan

dan derita yang memanjang

dari sejarah gelap yang terlupa

berlengak-lengok dalam tarian liong

dengan tubuh telanjang

ekor masa lalumu yang melumut

melingkar-lingkar di dasar angan

meliuk dan menyemburkan api

membelit tubuhmu yang mulai bersisik

Ngawi, 2010

S Yoga

obor-obor menyala berarak ke kampung

hutan, pantai, sawah, lembah dan gunung

ember, panci, sendok, piring seng

wajan, cutil, kompor, garpu, dandang

diseret berdencing dan dipukul bertalu-talu

bising dan memercikkan api masa lalu

blek blek ting tong, blek blek ting tong

berirama tak genah hingga memusingkan

membangunkan para penguasa malam

yang sembunyi di pohon-pohon waktu

bertahta di kursi megah kegelapan

yang telah mencuri malam-malamku

kelak kusumpah tujuh turunan

akan kupanggil raja kegelapan dari istana

untuk menghukummu dan membakarmu

dengan sembilan puluh sembilan cahaya

semua kegelapan telah kuterangi

dari sudut sempit, lebar, tinggi

rendah, pendek dan yang maha luas

dengan nyala obor dan doa-doa

namun tak kujumpai kau

yang menyita seluruh hidupku

Purworejo, 2010

Badruddin Emce lahir di Kroya, Cilacap, 5 Juli 1962. Di samping aktif di Tjlatjapan Poetry Forum, ia juga anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Tengah.

S Yoga lahir di Purworejo, Jawa Tengah. Buku puisinya berjudul Patung Matahari (2006). Kini ia tinggal dan bekerja di Ngawi, Jawa Timur.

Puisi-puisi Dorothea Rosa Herliany

Shang Hyang Wenang

tuhan akhirnya aku menemukanmu. tubuh yang menjulang

menuju puncak menara. ribuan lampu memudarkan warna senja.

kutemukan engkau dalam tubuh semerbak cengkeh dan ladang tembakau.

menyusuri jalanjalan penuh simpang, menembus kerumunan dan reriuh tanya.

sudah sejauh ini kuikuti sembarang langkahmu, di depan masih fatamorgana.

di bebukit dan gurun tak berbatas, sudah kubuang kitab dan mazmur dan kidung.

sembarang peta di tubuhmu sudah kukenal di luar kepala.

aku cuma pejalan yang tak berbekal, tapi pencari jejak yang pintar.

jika haus maka jejak kususuri hingga mengarungi hutan cengkeh dan tembakau.

kutemukan pancuran dari sungai ngungun. cukup kucecap embun dari setiap daun.

aroma rahasia membumbung dalam hasrat: menjangkau kalbumu.

tuhan akhirnya aku kehilangan engkau kembali.

sudah selarut ini aku berjalan dengan menanggung rindu dan sakit.

langkahku sarat jerat dan nafasku sesingkat ngengat.

Jakarta, 2010

tuhan, akhirnya kutemukan ibu yang kaukisahkan dalam sakitku.

wajah subuh yang kupandang sejauh rerumput dan hamparan ladang.

dalam dingin yang rapuh. tak pernah mampu kuurai sengkarut waktu.

ibu yang menjaga bayi lakinya dengan setia. memungut setiap kata jadi peta.

menyusun detik demi detik menjadi jarak tak terbaca. memungut setiap bebijian

dan menata lembar demi lembar dedaunan. lantas dia susun gegambar

seluas kebun.

dia menulis sajak di telapak tanganku. kubaca saban rindu.

kubakar dalam tungku. pijar menerangi sampai tepi haribaan mimpi

dia menuntunku mencari perahu. hingga kuarungi malam yang jauh,

menuju riwayatmu. tapi dalam bangun, yang tinggal cuma engkau.

diam di sudut hatiku: bergeming dalam sekerat ragu.

Kathedral, 2009

bunga-bunga rumput mendengar lagi derap kaki kuda beratus kereta

airmata berdenting di ranting. lalu cuma gelap. bukan sebab mendung,

tapi sesuatu yang memburu ajal. berdesingan seperti tak bermata.

ibu merintih selirih cinta. bapa meradang beribu hewan liar.

siapa yang diburu karena sekelebat niscaya hilang dalam rasa.

nafas ini merentang jarak dalam tikam dan lenguh hasrat.

beribu kaki penari menghentak sekarat kala. lantas siapa yang rubuh?

seperti tak akan pernah ada akhir. sejarah melaju dalam urat darah.

terkurung dalam labirin waktu. mengalir tak menemu hilir.

Magelang, 2010

– ranjaban

darah netes dalam denting ajal

waktu rubuh di kurusetra

lantas riuh di antara desingan anak panah

luka berebut tubuh

dinda, ambilkan kereta

sebab kanda tergesa

senja gugur

tak sempat cecap perih

lantas tercatat rintihan sekarat

lantas segala gelap

engkau hanya tidur kanda

tapi mimpi alangkah renta

kabur: antara takjub dan dera

waktu rubuh

luluh

dinda, ambilkan kereta

sebab kanda tergesa…

Jogya, 20-10-2010

di jalan menikung: rumah itu penuh dengan pintu.

pohon randu dan rerumput menembus horison tanpawarna.

di seberang pagar tergelar kebun gandum dan kandang kuda.

saban senja kuterima kiriman aroma tai ternak

dan malamnya tinggal sederet ringkik.

pagi membekas gerimis yang mendustai musim.

atau dingin sengit yang mengusir siput-siput tanparumah di punggung,

menuju semburat udara hangat tungku.

selalu kudengar percakapan asing pada setiap dinding.

sepenggal pertanyaan gagu menggarit luka kisah

dan ribuan butir rencana.

tak terjawab dalam buku harian bisu.

waktu teramat singkat. sudahkah kukenal kresna?

seorang tua penanam hujan dengan dadakaca

: dan jantung kayawarna.

seorang tua yang menuntunku pada hasrat dan kisah tua.

rumah dengan penuh pintu, kuambil satu untukku

: menjadi batas jarak pulang

ke ruang usia yang tak lagi panjang.

Langenbroich, 2009

telah tersurat: jika lunas waktu, aku segera berangkat.

bukan pulang atau mencari arah, teman. sebab kisah ini

pada akhirnya cuma berakhir sebagai riwayat.

tak terjanji siapa yang akan mencatat.

kita berangkat menuju batas cahaya dan gelap.

usia berjejalan: tiba-tiba matahari telah merunduk di barat

tahun merimbun seperti kebun: para pemetik menanam tanya

tak berjawab.

lantas siapa yang senantiasa berkelit dan meringkuk di lubuk?

seluruh rencana gugur seperti daundaun tua, mengubur kata.

maka telah tersurat: segulung waktu bergegas berangkat.

meninggalkan segala. cuma kita, akhirnya. bersitatap

: namun tak saling membaca riwayat!

Borobudur, 2010

Dorothea Rosa Herliany telah menerbitkan sejumlah buku puisi, antara lain Santa Rosa, Kill the Radio: Sebuah Radio Kumatikan, Nikah Ilalang, dan (yang akan terbit) Tambur Metamorfosa. Ia tinggal di Magelang, Jawa Tengah.