Bahasa Yang Salah Kaprah – Berpetualang

Ada satu kata yang kian populer di media cetak beberapa tahun terakhir ini. Sayangnya, kata itu sebetulnya bentuk yang salah kaprah. Yang saya maksud adalah kata berpetualang!

Kata berpetualang telah menggeser kedudukan kata yang kaprah, yakni bertualang. Tidak percaya? Menurut penelitian ”Profesor” Google (15 Juli 2008), berpetualang terdapat dalam 248.000 dokumen, sedangkan kata bertualang hanya dalam 60.600 dokumen.

Anehnya, berpetualang tidak hanya digunakan orang tak berpendidikan. Orang berpendidikan tinggi pun ikut larut dengan berpetualang. Simak saja kutipan berikut. ”Berpetualang untuk Berpromosi” judul berita Kompas, 2 Desember 2005. ”Di sana, anak-anak bisa diajak berpetualang di alam terbuka sambil belajar bercocok tanam dan kegiatan lain yang sulit dilakukan di daerah perkotaan” pada Kompas, 12 Juli 2008. ”Suatu kali, saya bisa ikut bersama Harry Potter berpetualang dengan bubuk floo, melawan sihir Voldemort ….” pada Matabaca, Desember 2005.

Janganlah kaget, kutipan terakhir berasal dari penulis berpendidikan S-3. Namun, kalau kita tanya apa arti berpetualang, pemakai kata itu mungkin akan bingung sendiri. Kenapa? Kata berpetualang tak kita temukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa) atau Kamus Umum Bahasa Indonesia (Badudu—Zain) atau Tesaurus Bahasa Indonesia (Eko Endarmoko).

Kata yang tercatat dalam kamus adalah bertualang, yang berasal dari akar kata tualang. Kata bertualang menurut KBBI Edisi Ketiga bermakna ’mengembara ke mana-mana’, ’selalu pergi ke mana-mana’. Tualang sendiri berarti ’beterbangan tidak keruan’ dan ’tidak tentu tempat tinggalnya (berkeliaran)’. Orang yang bertualang disebut petualang.

Proses pembentukan kata bertualang sama dengan berdagang dan berjuang. Kedua kata terakhir berasal dari akar kata dagang dan juang ditambah dengan awalan ber-. Selanjutnya, orang yang berdagang disebut pedagang, orang yang berjuang disebut pejuang. Kita hampir tak pernah mendengar atau membaca kata berpedagang atau berpejuang. Yang sering muncul hanya berpetualang dan frekuensinya sangat tinggi. Ini sudah terbukti dengan hasil penelitian ”Profesor” Google.

Kenapa muncul bentuk berpetualang? Saya menduga karena dua hal. Pertama, karena ketidaktahuan saja. Orang tak tahu bahwa berpetualang salah kaprah sehingga dipakai terus-menerus. Kedua, mungkin orang menganggap proses pembentukan kata itu sama dengan kata berpedoman dan berpengaruh. Kedua kata terakhir ini memang berasal dari kata pedoman dan pengaruh. Namun, haraplah diingat, kedua kata ini merupakan kata dasar yang mendapat awalan ber-.

Tidak demikian halnya dengan berpetualang. Memang berpetualang berasal dari petualang dan awalan ber-. Hanya saja kata petualang bukan kata dasar, seperti pedoman dan pengaruh. Kata petualang merupakan turunan dari tualang dan awalan pe-.

Pada hemat saya kita harus menghentikan petualangan kata berpetualang. Kalau Anda ingin bertualang, silakan saja, tetapi jangan bilang berpetualang.

PAMUSUK ENESTE Editor pada Sebuah Penerbit Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s