Olimpiade Sains Sarat Makna Untuk Memahami Alam Semesta

”Selama beberapa milenia (ribuan tahun), para astronom telah bekerja bersama melintasi batas apa pun, termasuk geografi, jender, usia, kultur, dan ras, sejalan dengan prinsip Piagam PBB. Dalam hal itulah, astronomi merupakan contoh klasik bagaimana sains bisa berkontribusi dalam memperluas kerja sama internasional.” (Pengantar PBB Menyambut Tahun Astronomi Internasional 2009)

Salah satu Olimpiade Sains Internasional adalah Olimpiade Astronomi Internasional (IAO). Inilah olimpiade tahunan bidang astronomi untuk murid SMA, yang pesertanya dipilih melalui olimpiade nasional. Dalam kompetisi ini, peserta menjalani tiga ujian, yakni bidang pengamatan, teori, dan praktik. Untuk bidang observasi, peserta antara lain diuji pengetahuannya untuk mengenali bintang, konstelasi bintang (seperti Salib Selatan dan rasi Aquarius), menaksir kecerlangan (magnitudo) bintang, serta jarak sudutnya. Sementara pada babak praktik, peserta akan diberi pertanyaan atas data yang diperoleh dari observasi/pengamatan. Adapun untuk teori, peserta akan diberi pertanyaan sekitar situasi hipotetik.

Menarik juga untuk dicatat bahwa sebagian besar peserta IAO datang dari Eropa Timur dan Asia. Satu-satunya negara kawasan Amerika yang ikut olimpiade, yang dimulai pada tahun 1996 ini, adalah Brasil. Di antara peserta rutin IAO adalah Indonesia.

Dalam perkembangan berikut muncul ide untuk mengadakan olimpiade astronomi yang dilengkapi dengan astrofisika. Menarik juga bahwa olimpiade ini, yang lalu mempunyai nama resmi International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA), diluncurkan untuk memperingati hari ulang tahun ke-80 Raja Bhumibol Adulyadej dan hari ulang tahun ke-84 kakak perempuannya, Putri Galyani Vadhana. Putri Galyani sendiri tutup usia pada 2 Januari 2008. Namun, IOAA tetap dilanjutkan. Setelah yang pertama diadakan di Thailand, yang kedua akan berlangsung di Bandung, Indonesia, 19-28 Agustus 2008, dan yang ketiga, tahun depan, di Iran (situs IOAA).

Sebagaimana IAO, IOAA juga dimaksudkan untuk memupuk minat dan pendidikan di bidang astronomi dan astrofisika di kalangan siswa SMA. Dengan mengikuti olimpiade ini, mereka akan punya kesempatan untuk bertemu dengan sesama rekan murid SMA negara lain yang punya minat sama. Hal ini akan meningkatkan saling pengertian di antara negara peserta dan berikutnya juga kerja sama dalam riset.

Dalam IOAA I pada Desember 2007 di Chiang Mai, Thailand, peserta dari Indonesia memperoleh medali, sementara tim tuan rumah Thailand meraih sebutan tim terbaik.

Astronomi dalam perspektif

IOAA II yang dijadwalkan dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara pada 20 Agustus 2008 akan diikuti oleh 100 peserta (ditambah 58 pembimbing) dari 24 negara dari berbagai kawasan.

Ditempatkan dalam upaya yang lebih berorientasi pada proses, olimpiade dan kontes ilmiah lain tak jarang dilihat sebagai aktivitas yang tidak sepenuhnya pas karena lebih bersifat sesaat dan cenderung berorientasi pada hadiah/peringkat.

Pada sisi lain, astronom dan profesi ilmuwan lain juga tak hidup dalam vakum. Ia juga bagian dari masyarakatnya.

Penyelenggaraan IOAA II di Bandung jelas akan memberi kesempatan bagi Indonesia untuk memperlihatkan kecakapan mengorganisasi event, dan secara tidak langsung juga memaparkan apa yang dimiliki dunia astronomi Indonesia dan kemajuan riset para astronomnya.

Dibandingkan dengan astronomi di negara maju, apa yang dimiliki Indonesia pastilah tergolong bersahaja kalau bukan primitif. Showpiece kita masih tetap Kubah Teropong Zeiss di Observatorium Bosscha, yang dibangun oleh KAR Bosscha dalam dekade 1920-an. Itu pun kinerjanya terus dirongrong oleh penurunan kualitas lingkungan di Lembang, yang berketinggian 1.300 meter dari permukaan laut, serta situasi yang lebih terang dan berdebu.

Namun, dari fasilitas riset sederhana ini telah lahir kontribusi bagi perkembangan ilmu astronomi, khususnya di bidang bintang ganda, struktur galaksi, evolusi bintang, dan kosmologi. Lahir pula astronom asal Indonesia yang karya ilmiahnya diterbitkan di jurnal ilmiah internasional berwibawa.

Dari sisi peralatan mungkin saja dunia astronomi di Tanah Air mencatat sedikit pertumbuhan. Namun, mengamati agenda astronomi tahun ini seperti dikompilasi dalam pertemuan di Bosscha tanggal 12 April 2008 tampak bahwa minat astronomi meluas di tengah masyarakat. Sebagian dipicu oleh semakin banyak informasi yang bisa diperoleh melalui publikasi dan akses internet, sebagian karena kini semakin banyak penjual teleskop dengan harga yang cukup terjangkau, dan sebagian juga karena sosialisasi, seperti program kunjungan umum ke Observatorium Bosscha. Kini ada banyak SMA yang punya klub astronomi.

Tahun astronomi

Berbagai kegiatan astronomi tidak saja di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia akan mendapat momentum spesial tahun depan setelah PBB dalam Sidang Majelis Umum ke-62, 20 Desember 2007, mengumumkan tahun 2009 sebagai Tahun Astronomi Internasional (IYA).

Tahun istimewa ini dicanangkan untuk memperingati penggunaan teleskop pertama untuk astronomi oleh ilmuwan Italia, Galileo Galilei, pada tahun 1609. Peristiwa bersejarah itu menandai dimulainya penemuan astronomi yang luar biasa dalam kurun 400 tahun terakhir dan memicu revolusi ilmu pengetahuan yang memengaruhi pandangan kita tentang jagat secara mendalam.

Dunia astronomi Indonesia pun telah menyusun agenda bagi perayaan besar ini. Diharapkan, para siswa peserta olimpiade ini dapat berkembang menjadi kader bagi ilmu yang bertujuan untuk mengetahui seluk-beluk dan rahasia alam semesta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s