Siswa Kurang Berminat Terhadap Asal Usul Dan Sejarah Daerahnya Serta Memiliki Pengetahuan Yang Dangkal

Pengetahuan siswa mengenai kota tempat tinggalnya kurang mendalam. Penyebabnya, sekolah hanya memberi pengajaran singkat mengenai sejarah kota dalam mata pelajaran Sejarah.

Pelajar SMA Karangturi Semarang yang juga anggota redaksi K-Magz (Karangturi Magazine), Alfona Huios Kristie (16), Selasa (12/8) di sekolahnya, menyatakan, pengetahuannya tentang Kota Semarang tidak begitu dalam. Namun, ia bisa menyebutkan beberapa landmark penting, seperti Tugu Muda, Lawang Sewu, dan Kota Lama.

”Yang saya ingat, Tugu Muda untuk memperingati pertempuran lima hari di Semarang. Yang lain saya tak begitu tahu,” ujarnya.

Alfona mengatakan, selama ini sekolah tidak banyak memberikan pengetahuan mengenai Kota Semarang. Dalam pelajaran sejarah, sejarah kota hanya dijabarkan sekilas.

Sementara itu, di SMA Negeri 7 Semarang, kebanyakan siswa juga dapat menyebutkan beberapa bangunan bersejarah, tetapi kesulitan untuk memaparkan sejarahnya.

Wakil Kepala SMA Karangturi Bidang Kesiswaan Mulyono mengakui, materi sejarah yang diajarkan pada siswa lebih diprioritaskan untuk mempelajari sejarah nasional dan internasional.

Minat menulis

Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Santa Maria I Kota Cirebon Kamdhi Jayahadi S, Selasa, memperkirakan, hanya 10 persen siswa yang berminat menulis dengan tema sejarah. Sisanya lebih berminat menulis esai tentang hal yang sedang hangat dibicarakan masyarakat.

Hal serupa diungkapkan guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Kota Cirebon, Jumaenah. Tema sejarah kurang diminati siswa sebab siswa butuh waktu lebih lama mencari referensi untuk mendukung tulisan.

Catherine Jullianty (16), siswa kelas XII SMAN 1 Kota Cirebon, mengatakan, tidak semua temannya tertarik dan mengerti jika diminta menulis karangan bertema sejarah. ”Kalau diminta menulis esai sejarah, mereka bilang, ngapain sih ngurusin yang seperti itu,” ujar ketua majalah dinding sekolah itu.

Menurut Kamdhi, kurangnya minat siswa menulis esai bertema sejarah karena pelajaran sejarah di sekolah hanya sebatas diketahui dan dihafal, belum mengarah pada apa yang bisa diambil manfaat dan nilainya. Akibatnya, minat siswa terhadap sejarah sangat rendah.

Selain itu, kegiatan menulis esai hanya dilakukan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, sedangkan mata pelajaran lain sangat jarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s