Sajak-sajak Karya F Aziz Manna

F Aziz Manna

Sisa Pembakaran

kami tersingkir bukan oleh orang asing tapi juga bukan oleh sebuah pengkhianatan dan kami tidak mati, kami masih merasai udara yang setengah bersih berguliran di kerongkongan, masih membekas keinginan telanjang di tepi laut panjang, melompat dan berkejaran, tubuh kami dihancurkan, pikiran kami dipadamkan, jiwa kami melayang seperti lampion dilarikan topan tapi tak ada dendam, kesakitan hanya rasa sambal yang cepat hilang digelontor minuman, minuman yang kadang memabukkan namun selalu menutupi ingatan, ingatan yang seperti peti terkunci yang tenggelam di dasar laut mati

(2008)

F Aziz Manna

Kami Tak Suka Mulutmu

kami tak suka warna laut yang keluar dari mulutmu, mulut yang menyimpan bau ikan busuk, memendam mayat kata yang dibunuh dendam, teriakan, dan bualan, kami tak suka laut penuh ikan busuk dalam mulutmu, kami tak suka laut penuh mayat kata dalam mulutmu, mulut bau dendam, mulut bau teriakan, mulut bau bualan, kami tak suka mulutmu bau busuk yang bicara tentang laut dipenuhi mayat kata, senyummu kaku, palsu, seperti laut tenang yang menyimpan dendam, yang menyimpan ikan busuk dari mayat kata, tapi kami datang juga ke undanganmu, basa basi, mendengarkan mulutmu, basa, bicara laut, basi, kami lebih memilih warna kulitmu yang dihuni jejak matahari, matahari yang menguapkan asin laut di kulit coklatmu, uap asin laut yang menguarkan parfum alam di ketiakmu, sungguh kami tak suka mulutmu

(2008)

F Aziz Manna

Cetakan

/1/

lapar membuat pikiran jadi liar, pilihan membuat keisengan, hidup kami dipenuhi ketidaktenteraman dan kami tak pernah bosan, kebosanan hanyalah dinding kertas yang mudah sobek oleh kulit basah jari kami, kami melompat dari ketegangan ke pucuk duri, ketenteraman hanya pelontar yang memantul-lesatkan kami dari tepi ke tepi, ujung ke ujung, melompat-mbandul, kami masuki ruang antara di mana kesedihan dan kegembiraan selalu dipertentangkan, hidup-mati >kern 401m<>h 9737m,0<>w 9737m<dipertaruhkan, lapar-kenyang diperebutkan, kami hidup membawa lupa>kern 251m<>h 9738m,0<>w 9738m<

/2/

kami tak mengerti apa yang dikatakan dunia tapi kami merasa desakan emosi yang kuat di dalam dada, dada yang tak bisa berkata tapi menyerap semua bahasa dari udara, menggumpal, menggelembung, bergulung-gulung, menjebol bendungan kelopak mata, udara jadi basah, bahasa jadi basah, hanyut di tangis kami, kami jadi bisu, kami tak mengenali satu sama lain, kami asing, terasing, kami bicara dalam bahasa terendam, bahasa yang tenggelam, isyarat kami tak terpahami, suara kami lari, lari menubruk mulut kami sendiri, kami merasa mati di rumah sendiri

/3/

kami percaya tubuh kami hanya cetakan tapi kami tak percaya kutukan: lubang hitam yang memaksa tubuh kami jadi bidak, prajurit buta dan bukan apa saja, tapi kami merasa ada kejanggalan pada diri kami, tubuh kami dipaksa kafir dari pikiran dan kemauan, jiwa hidup bersih, tubuh rusuh dihidupi dosa, kami sempat bertaruh pada diri sendiri: jika tuhan diam kami putuskan bunuh diri, tapi tak ada perubahan, kami seperti debu dalam pusaran topan, kami tak pernah dihiraukan tuhan, kami sampai pada ujung kerelaan dan kami harus berjuang melawan sesuatu yang tak pasti dalam tubuh kami: menjadi tua tak berguna atau bermain petak umpet seperti anak-anak, hidup kami dimainkan kata-kata

/4/

kami adalah penyekat sekaligus penghubung, kami pencakup dan pemasuk antara ada dan tiada, kami adalah perangkat sempurna, diri kami adalah segalanya, diri kami adalah alam semesta, tubuh kami dipenuhi benda-benda, ruh kami dihuni sketsa, jiwa kami ditumbuhi imajinasi, kenyata-beradaan kami dihidup-napasi jagat raya, kami adalah bagaimana kami memaknai

(2008)

Soni Farid Maulana

Sonet Sinta

aku serupa rama dilarikan api dalam sunyi. Apimu, sinta

membakar habis jiwaku. Tapi kau luput kudekap. Di langit

bayang-bayang bulan dan bintang serupa cahaya dalam kabut

desir angin di tangkai pohonan mengekalkan kesepianku

kau dengar langkah hujan di luar jendela? Kau dengar

suara serangga malam di ranting pepohonan? Kau dengar

suara itu: suara api yang berkobar di dasar kalbuku?

api itu apimu, sinta, membakar habis jiwaku yang dalam

kini di sini di tegal malam sesunyi kuburan; suara batu-batu

di dasar kali terdengar lagi, bergeser oleh deras arus air

dan aku di sini kembali mendengar jejak langkahmu sebelum

subuh tiba. Sebelum rahasia itu tersingkap: bunga merah

di arah senja, bunga dari taman yang jauh, yang kau sebut sorga,

yang bagiku cuma bayang-bayang. Serupa bayang-bayang dirimu

Soni Farid Maulana

Taharah

sebelum sampai ke raudhah, ingin kupotong

kegelapan di kalbuku: seperti memotong hewan

kurban. Hati yang karam ke dasar malam

betapa sulit dijangkau. Tinggal kilau mata pisau

di tanganku yang gemetar menujumu

2008

Soni Farid Maulana

In Solitudine Solatium

– untuk Desyanti

aku gelisah di cangkang daging. Malam yang datang

segelap rangasu. Cahaya bulan menyala dalam impian,

tak kunjung nyata di pangkuan. Aku berpikir

apakah hidup yang kutempuh ke hilir: seindah alir air?

aku berpikir apakah hidupku hanya berakhir di titik nadir?

o malam yang datang dan pergi bagai dentang jam. Rahmat

atau kutukkah kerinduan yang mengendap di kedalaman?

sedang kau hanya bayang-bayang. Serupa bayang-bayang

dalam kelir batinku di ruang pertunjukan

2008

Soni Farid Maulana

Digresi

bayang-bayang pohonan di arah kelam

seperti bayang-bayangmu memanggil pulang

detik jam kembali menafsir warna putih rambutku

sebelum langkahku sampai ke ujung tanjung

2008

Timur Sinar Suprabana

di Kenangan

benar

di Kenangan

memucat garistangan

:gemetar

bahkan tiktak jam

pias pelahan

kehilangan pautan

:muram

tinggal cuaca

hijau dan jauh

bertahan tak luruh

:siasia akhirnya

seperti mati

walau belum

sudah membiru alum

:dilupa hati

kubur

pandangmata jelita

dan terutama Cinta

:tergusur

tapi tidak ke umur!

Timur Sinar Suprabana

berpeluk kini Seluruh rindu

baring

pejam

hening

dalam

bening

menemaram

denting

:Diam

berpeluk kini Seluruh rindu

berkafan menujuMu

“tak perlu gegas itu, kekasihKu,” kataMu

“tetaplah di situ

biar Aku

yang menghampirimu.”

Timur Sinar Suprabana

buat eL

apakah aku sedang jatuh cinta?

tanyaku pada bayangdiri

yang menua di dunia dasar cermin

ialah dunia, satusatunya dunia,

yang masih bebas dari bendabenda

tanpa mesti kehilangan warna.

barangkali aku akan terus

mengulang tanya,

andai tibatiba cuaca tidak menjadi

semacam etalase kebimbangan

dan ketidakpastian

yang sungguh terasa kekal.

sendiri, seperti lidah api

ketika meruncing lentur

tiap dihembus angin, kubiarkan

pertanyaanpertanyaan tentangmu

jadi rahasia bagi hatiku

jadi sajaksajak

yang memilih enggan meninggalkan

jejak

kita

cuma jeda di sela banyak Tanda.

mei 2008

F Aziz Manna adalah aktivis Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP). Ia menyelesaikan studi Sejarah di Universitas Airlangga, Surabaya.

Soni Farid Maulana lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 19 Februari 1962. Tahun ini terbit kumpulan sajaknya terbarunya, Opera Malam (2004-2007).

Timur Sinar Suprabana lahir di Solo, Jawa Tengah, 4 Mei 1963. Kumpulan puisinya adalah sihirCinta (2008). Ia tinggal di Semarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s