26.000 Anak TKI Tidak Mendapat Layanan Pendidikan

Sedikitnya 26.000 anak-anak tenaga kerja Indonesia yang ikut orangtuanya bekerja di perkebunan-perkebunan sawit di Negara Bagian Sabah dan Sarawak, Malaysia, tidak mendapat pelayanan pendidikan. Banyak anak-anak TKI yang berusia sekitar 13 tahun hingga saat ini tidak dapat membaca.

Pemerintah Malaysia hingga saat ini membuat kebijakan tidak mengalokasikan anggaran untuk memfasilitasi pendidikan anak- anak TKI sehingga mereka tidak dapat masuk ke sekolah-sekolah Malaysia.

”Mereka tersebar di perkebunan-perkebunan sawit dan sejak berusia lima tahun sudah ikut bekerja memunguti biji sawit yang rontok. Sebagian besar tidak mengecap pendidikan sama sekali,” kata Khoerul Wajid, salah seorang guru tidak tetap yang diberangkatkan Pemerintah Indonesia tahun 2006 untuk mengajar anak-anak TKI, ketika ditemui di Jakarta, Rabu (3/9).

Pemerintah Indonesia tahun 2006 memberangkatkan 109 guru tidak tetap untuk mengajar anak-anak TKI di Malaysia dengan sistem kontrak selama dua tahun. Kini sebagian guru tidak tetap tersebut sudah kembali ke Indonesia.

Ketua Forum Guru Tidak Tetap di Sabah Tetep Saipul mengatakan, sebagian anak-anak TKI tersebut belajar di pusat belajar yang dikelola lembaga nonprofit Humana. Namun, kurikulum berkiblat ke sistem Malaysia dan siswa tidak mendapatkan ijazah.

Saat ini dengan bantuan para guru dari Indonesia, terdapat 92 pusat bimbingan Humana yang aktif dengan jumlah peserta didik sekitar 8.000 anak. Itu berarti masih ada sekitar 26.000 anak TKI yang tidak mendapat pelayanan pendidikan.

Walaupun orangtua mereka merupakan TKI resmi, tetapi dengan adanya larangan membawa keluarga, status anak menjadi ilegal.

Hasil survei sementara Borneo Samudera Sendirian Berhad Plantation, jumlah anak TKI yang berusia di bawah 13 tahun mencapai 72.000 orang. Adapun Departemen Pendidikan Nasional memperkirakan pada tahun 2006 seiring dengan dimulainya program pengiriman guru ke Sabah, jumlah anak TKI mencapai 34.000 orang.

Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo seusai membuka orientasi Program Darmasiswa RI Tahun Akademik 2008/2009, Rabu, mengatakan, untuk mengatasi persoalan anak-anak TKI di Sabah, telah disetujui pembangunan sekolah Indonesia di Kinabalu.

”Sekolah itu untuk menampung anak-anak TKI dengan sistem pendidikan Indonesia,” kata Mendiknas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s