Baru dan Segar Itu Mewah

Tidak seperti Wahyudin yang setiap kali datang hari Minggu selalu berharap mendapatkan sepotong ilustrasi cerita pendek yang baru dan segar namun hanya mendapati kekecewaan, saya sudah siap alias tidak pernah berharap terlalu banyak karena telanjur menduga bahwa ilustrasi cerpen Kompas belakangan ini—tiga tahun menurut Wahyudin—memang lebih banyak yang bermutu artistik rendah daripada sebaliknya. Dengan kata lain apa yang disebutkannya sebagai ”galeri” ini memang benar semakin sering menampilkan karya-karya ilustrasi yang jelek. Meskipun demikian, saya tidak sedang membela apalagi membenar-salahkan ilustrasi tersebut seperti pertanyaan Syahrizal Pahlevi di Kompas Minggu, 31 Agustus yang lalu.

Tulisan ini bukan sekadar lanjutan atau tanggapan dari artikel beliau yang tidak bermaksud diheboh-hebohkan itu plus artikel Syahrizal Pahlevi, namun merupakan ungkapan seorang perupa yang beberapa karyanya sempat menjadi ilustrasi untuk cerita pendek Kompas. Sejak Cerpen Plus atau ”galeri” ini ada, seingat saya hanya di tahun 2005 saya absen alias tidak membuat ilustrasi. Di tahun yang lain selalu jadi perupa langganan atau perupa yang itu-itu saja.

Saya sebut jelek (tidak menutup kemungkinan berlaku untuk karya saya juga) karena setidaknya dua hal. Pertama, ia (ilustrasi itu) tidak lebih dari penggambaran mentah, banal sekaligus hambar dari sebuah cerita atau hanya mengambil sebagian/ fragmennya saja. Ingat, karya rupa yang dihadirkan mendampingi cerpen di Kompas—berdasarkan penjelasan wartawan Bre Redana pada sebuah kesempatan bertemu di pembukaan pameran lukisan di Jakarta, tahun 2002— bukan dimaksudkan sekadar pelengkap atau pengungkapan secara visual semata dari teks. Jangan dibandingkan dengan ilustrasi pada umumnya, yang tugas utamanya memang membantu dan atau memudahkan pembaca memahami cerita. Tugas ilustrator, perupa terpilih di sini adalah ”mencipta” karya baru bernapaskan/dilandasi/atau apalah namanya/diilhami setelah membaca cerita pendek tersebut. Artinya keharusan untuk menggambar tokoh, setting lokasi dan waktu, kejadian atau peristiwa serta sejenisnya yang sama persis atau mengacu dengan cerita sama sekali tidak ada. Perupa bebas menggunakan kecerdasan interpretasinya sendiri. Seharusnya ini adalah ruang ”mewah” bagi perupa.

Kedua, kualitas gambar yang dihasilkan tidak sepadan dengan ”kemewahan” yang diberikan kepada perupa. Atau karya ilustrasi mereka tidak seindah karya seni rupa (utama) yang membuatnya jadi ternama sehingga terpilih untuk memakmurkan ”galeri” ini. Benar kata Wahyudin, perupa ternama tak menjamin dapat menghasilkan karya ilustrasi bermutu artistik tinggi. Berarti benar pula kata Sapardi Djoko Damono bahwa ilustrasi—yang jelek—tersebut tidak hanya mengganggu dan membatasi imajinasi, tapi juga membekukan gambar bergerak yang ada dalam benak. Dengan demikian, ”galeri” ini belum menampilkan karya rupa yang selesai yang layak mendampingi karya sastra. Penyebutan ”selesai” ini penting, mengingat proses kelahiran karya ini relatif tidak seserius perupa dalam menciptakan karya sebagaimana biasa dan kebiasaannya. Beberapa dari mereka bahkan mengaku mengerjakan ini sebagai ”ala kadarnya” saja. Hal ini semakin dikuatkan oleh Shahrizal Pahlevi dengan menyebut; …tapi ada juga yang tampak dilakukan setengah hati—mungkin penggarapnya menganggap ilustrasi adalah kerja yang ringan bobotnya dibanding ketika membuat karya utama.

Tentu paparan bernada negatif berkecenderungan mencemooh itu ada penyebabnya. Salah satu sebab yang saya ketahui secara pasti (sebagai salah satu perupa ”langganan” yang dapat jatah bikin ilustrasi sekali dalam setahun) adalah jaminan kepastian bahwa karyanya jelas akan dimuat. Jaminan ini membuat terlena bahkan ”menjebak” perupa untuk bekerja sekadarnya dan boleh asal-asalan, toh pasti dimuat.

Mengamini tulisan Wahyudin yang menyebutkan penyakit koncoisme telah menjangkiti pembisik, koordinator perupa hingga ke perupa kesayangan, saya hanya sedikit mengimbuhi; tidak serta-merta perupa yang baik mampu jadi ilustrator yang baik pula. Secara berlebihan, begitulah Hendro Wiyanto pernah menyebut, kembalikan saja tugas ini kepada ilustrator yang sesungguhnya. Maka perlu pemilihan dan pembacaan yang cermat dalam menentukan perupa.

Ketika pemilihan tidak cermat ini dilakukan oleh ”orang dalam” Kompas sendiri, apa yang bisa kami lakukan? Saya tidak sependapat dengan Syahrizal Pahlevi tentang ”kemiripan” setting. Beberapa ilustrasi yang saya buat atau dipercayakan kepada saya untuk membuatnya bukanlah setting yang saya akrabi. Justru semestinya ini adalah tantangan yang menarik. Semestinya pula kita bisa menyaksikan 52 karya rupa yang baru nan segar setiap minggu dalam setahun. Tapi apa lacur jika sinyalemen yang ditiupkan oleh Wahyudin itu benar, maka ia merusak segalanya. Andai tuduhannya salah sekalipun, namun kesegaran serta kebaruan itu enggan kunjung muncul, maka kita boleh mengalihkan kecurigaan kita pada kegagalan ”pembisik” menyelaraskan antara cerpen dan ilustratornya. Terbukti banyak perupa tangguh yang terbukti juga teruji dalam menciptakan ilustrasi bagus seperti Agus Suwage, F Sigit Santosa, dan Ugo Untoro justru absen dalam Pameran Ilustrasi Cerpen Kompas 2007.

Waktu pengerjaan, termasuk permenungan, dalam membuat ilustrasi juga menjadi masalah. Bagi saya yang terbiasa melukis tidak buru-buru, tenggat tersebut relatif pendek. Barangkali dengan memberi keleluasaan, misalnya cerpen yang akan ditampilkan dua minggu mendatang sudah dimintakan ilustrasinya hari ini, adalah salah satu solusinya.

Saya juga menawarkan beberapa hal lain yang semoga boleh dibaca sebagai solusi. Pertama, kenapa tidak dicoba dengan dua atau tiga perupa untuk satu cerpen? Hanya yang terbaiklah yang masuk cetak. Bukankan setiap cerpen yang masuk selalu melalui seleksi terlebih dahulu? Saya menduga pasti akan ada beberapa perupa ”sibuk” yang tidak setuju dengan usulan ini. Atau malah tersinggung karena merasa sudah jadi perupa ternama. Namun jika masih ada perupa yang bersedia, kenapa tidak? Saya bersedia menjadi orang pertama yang akan mengamalkan usulan ini karena pun seandainya karya saya ditolak, saya tidak rugi. Toh setidaknya bertambah satu karya terbaruku.

Kedua, jika setiap tahun dipilih cerita pendek terbaik, kenapa tidak dibuat penghargaan khusus atau pemilihan ilustrasi terbaik setiap tahun? Sekecil apa pun sebuah kompetisi, ia menciptakan persaingan. Dan persaingan inilah yang memicu sekaligus memacu ”adrenalin” para perupa agar mencipta karya yang bagus.

Ketiga, sebagai semacam ”upah” tambahan supaya hanya cerpen terbaik yang boleh masuk setiap minggu, setiap pengarang diberi hak untuk memilih perupa yang boleh membuat ilustrasinya. Usulan ini dapat mencegah kesalahpahaman hingga kesalahkaprahan interpretasi yang sering dikeluhkan para cerpenis dan sastrawan pada umumnya. Setidaknya pengarang telah mengenal ”karakter’ perupaan dari calon ilustratornya.

Keempat, sebaliknya perupa pun boleh menunggu kesempatan untuk mengerjakan ilustrasi dari cerpen dan atau cerpenis kesukaannya. Karena perupa juga punya hak untuk memilih cerpen atau kepada siapa ia bersedia memberi karya rupa. Mengerjakan segala sesuatu yang disukai berpeluang menjadi bagus daripada karena terpaksa atau apa boleh buat lainnya. Ini perlu saya ungkapkan karena pernah mengalami kesulitan memvisualkan sebuah cerpen yang menurut saya tidak jelas substansi ceritanya. Saya sudah coba berulang kali membacanya, bahkan meminta orang lain untuk membacakannya. Yang kami dapati adalah cerita yang tidak logis dan bahasa yang berputar-putar. Saya tidak tahu apakah sudah demikiankah bodohnya kami? Atau karena cerpennya sungguh benar-benar buruk?

Kelima sekaligus terakhir, beranikah harian ini mencoba melakukan pembacaan yang terbalik dari biasanya? Maksud saya; pilihlah sebuah karya rupa; boleh lukisan, patung, grafis, kriya, bahkan instalasi, kemudian tawarkan itu sebagai ”bahan” bagi pengarang untuk menciptakan sebuah cerita pendek. Selanjutnya kita boleh menunggu perupa sekelas Sapardi Djoko Damono dalam sastra berujar, ”Cerpen tersebut bisa saja tidak usah dihiraukan, bisa juga menjadi begitu perkasa sehingga mempengaruhi cara kita menikmati karya rupa ini. Celakanya cerpen itu merupakan interpretasi verbal yang seram, bahkan menyurutkan kekuatan gaib visual”.

Potongan yang dipelesetkan dari kalimat sastrawan yang pensiunan guru besar Universitas Indonesia itu boleh jadi cuma dagelan. Tetapi tawaran tentang pembacaan terbalik sama sekali bukan main-main. Sudah banyak karya sastra bermutu macam Da Vinci Code yang berasal dari karya rupa.

Tentu masih banyak contoh dan amsal lain seturut dengan itu. Namun jika saya paksakan untuk menuliskan itu semua, artikel ini akan menjadi tulisan tak berkesudahan dan kehilangan fokus. Fokus yang ingin saya kemukakan adalah bahwa karya (seni) yang baik akan menginspirasi yang lainnya, termasuk karya seni berikutnya. Kebagusan sebuah karya bersifat menular. Pun sebaliknya. Maka sering kita temui sebuah masterpiece yang beranak pinak jadi banyak masterpiece turunannya atau pengembangannya. Jangan berharap karya sampah akan ”diteruskan” jadi karya bagus.

Tulisan ini saya tutup dengan mengulang permintaan Wahyudin, pengelola ”galeri’ ini perlu lebih dari sekadar mendengar dengan khusyuk kritik-kritik yang dialamatkan kepadanya untuk menyegarkan kembali penciptaan karya ilustrasi cerpen Kompas. Nah, inilah ”lebih” yang lupa belum diucapkan oleh Wahyudin, yakni tugas kalian sesungguhnya sangat sederhana, beri rasa mewah pada ruang bernama ”galeri” ini! Hanya cerpen dan ilustrasi mewah yang boleh masuk di sini.

Yuswantoro Adi Penulis adalah Pelukis Tinggal di Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s