Periset Unggulan Indonesia Pergi Keluar Negeri Akibat Merasa Tidak Dihargai

Sejumlah periset bidang unggulan pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI memilih hengkang ke luar negeri. Alasannya, mereka menilai perhatian pemerintah dalam menyediakan sarana dan prasarana penelitian sangat kurang sehingga penelitian tidak bisa berjalan optimal.

”Nyaris tidak ada iklim yang bisa mendorong lembaga-lembaga riset di Indonesia menjadi optimal. Keterbatasan dana riset tidak diatasi dengan mengoptimalkan kerja sama lintas lembaga riset yang ada,” kata Ines Irene Atmosukarto, yang sebelumnya menjadi periset pada Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI. Dia sebelumnya mengembangkan riset unggulan untuk pembuatan vaksin flu burung.

Sejak awal 2007, Ines hengkang ke Australia. Ia bekerja di sebuah perusahaan bioteknologi di Canberra yang bergerak di bidang penelitian pembuatan vaksin.

Selama riset tiga tahun antara 2003 dan 2006, Ines menemukan cara membuat protein M2 yang terdapat pada virus flu burung dengan bahan dari keanekaragaman hayati lokal. Menurut dia, ketika dihubungi awal pekan ini, hasil risetnya itu berpeluang untuk dijadikan vaksin sintetis flu burung (H5N1).

”Tetapi, penelitian sampai ke pembuatan vaksin tidak bisa berlanjut di LIPI karena keterbatasan sarana dan prasarananya,” ujarnya.

Inez Slamet-Loedin, periset bidang unggulan di bidang tanaman pangan padi dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, juga pindah ke Filipina dan bekerja pada International Rice Research Institute (IRRI) sejak 1 Agustus 2008. Inez sebelumnya mengembangkan riset unggulan LIPI berupa rekayasa genetika tanaman pangan padi untuk menghasilkan varietas tahan kekeringan dan banjir.

Kedua periset itu mengungkapkan, hambatan riset dialami di Indonesia juga karena periset lebih disibukkan pada urusan administratif. ”Urusan administratif membuat riset di Indonesia lebih lama. Misalnya, untuk riset pembuatan vaksin di Australia memakan waktu 10 tahun, kalau di Indonesia bisa tiga kali lipatnya,” ujar Ines Irene Atmosukarto.

Kepala LIPI Umar Anggara Jenie menanggapi, pindahnya para periset LIPI itu memang disebabkan sarana dan prasarana penelitian yang dimiliki pemerintah kurang memadai. Namun, ke depan, diharapkan ada perbaikan.

”Pada waktunya diharapkan mereka kembali ke LIPI dan mengembangkan riset di Tanah Air,” kata Umar.

622 satker riset

Sekretaris Dewan Riset Nasional Tusy A Adibroto mengatakan, selama ini memang tidak terjalin kerja sama yang baik. ”Saat ini terdapat 622 satuan kerja atau satker riset,” kata Tusy.

Satker riset sebanyak itu terdapat pada 114 perguruan tinggi negeri, 301 perguruan tinggi swasta, 91 lembaga penelitian nondepartemen, 76 lembaga penelitian departemen, 24 lembaga penelitian daerah, 8 lembaga penelitian badan usaha milik negara, dan 8 lembaga penelitian milik swasta.

”Dari pemetaan riset pada 2006-2007 diketahui terjadi duplikasi riset. Misalnya, ada 11 lembaga riset yang meneliti masalah biofuel dari minyak sawit dengan anggaran dari pemerintah Rp 10 miliar. Ini contoh pemborosan anggaran riset akibat duplikasi,” kata Tusy.

Deputi Menteri Negara Riset dan Teknologi Bidang Program Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Teguh Rahardjo mengatakan, selama ini tidak ada instrumen untuk memantau jenis riset yang dikembangkan setiap lembaga riset. Begitu pula mekanisme koordinasi dan komunikasi di antara lembaga riset yang tersebar di Indonesia belum tercipta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s