Sanksi Untuk Pelecehan Seksual Yang Dilakukan Oleh Kepala Sekolah SMA 2 Banguntapan Sudah Tepat

Rekomendasi Badan Pengawas Daerah Kabupaten Bantul agar Kepala SMAN 2 Banguntapan dicopot dari jabatannya dinilai Komisi A DPRD Bantul sebagai langkah tepat. Komisi A juga memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Bantul karena sudah bertindak cepat dalam mengungkap kasus pelecehan seksual tersebut.

Ketua Komisi A DPRD Bantul Aryunadi, Rabu (10/9), di kantornya, mengatakan rekomendasi sanksi tersebut sudah sesuai dengan ketentuan normatif yang berlaku. Pencopotan jabatan saya kira sudah merupakan sanksi berat sehingga diharapkan ada efek jera, tuturnya.

Menurut Aryunadi, pihaknya belum menerima laporan rinci soal dugaan pelecehan seksual yang dilakukan Kepala SMAN 2 Banguntapan Susanto kepada anak didiknya. Meski belum menerima laporan, tetapi bila memang terbukti sanksi tersebut sudah sangat tepat. Tindakan itu patut disayangkan, mengingat Pak Susanto sudah masuk golongan VI C, ucapnya.

Belum tuntas

Bila para korban masih tidak puas dengan sanksi tersebut, Komisi A mempersilakan mereka untuk mengadukan persoalan tersebut ke pihak kepolisian. Secara internal kepegawaian, pemberian sanksi memang dianggap selesai, tetapi bila masuk ke ranah hukum perkara tersebut belum dianggap tuntas. Dalam rekomendasinya, Badan Pengawas Daerah (Bawasda) Kabupaten Bantul mengusulkan agar Susanto dicopot jabatannya sebagai kepala sekolah. Yang bersangkutan juga tidak diperbolehkan mengajar di SMAN 2 Banguntapan.

Bapak Susanto kami usulkan untuk dikembalikan ke Dinas Pendidikan. Meski begitu, keputusan tetap berada di tangan Bupati, kata Kepala Bawasda Bantul Subandrio. Menurut Subandrio, rekomendasi tersebut didasarkan pada hasil penyelidikan tim investigasi. Penyelidikan dilakukan terhadap lima siswa yang diduga menjadi korban, guru, dewan sekolah, ketua OSIS, dan sekolah tempat bekerja Susanto sebelum pindah ke SMAN 2 Banguntapan.

Kasus dugaan pelecehan seksual tersebut terungkap setelah para siswa SMAN 2 Banguntapan mogok belajar pada hari Sabtu (30/8). Mereka memprotes perbuatan kepala sekolah yang telah berbuat tidak senonoh seperti ucapan berbau seksual hingga meraba. Kejadian tersebut ditindaklanjuti Dinas Pendidikan Kabupaten Bantul dengan membentuk tim investigasi yang beranggotakan perwakilan subdinas pendidikan menengah, kepegawaian, dan koordinator pengawas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s