Resensi Buku Jalan Jalan Di Palestina Sebuah Kisah Yang Pilu

Judul Buku: Jalan-Jalan di Palestina – Catatan atas Negeri yang Menghilang

Penulis: Raja Shehadeh

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 237 halaman

Cetakan: Pertama, 2008


Kini masyarakat dunia telah menyaksikan kebiadaban pendudukan yang dilakukan Israel di Palestina. Israel membabi-buta membabat habis tanah dan kota-kota yang menjadi hak bangsa Palestina. Sesumbar sang mantan Perdana Menteri Ariel Sharon bahwa “kami akan membuat peta negeri yang baru” sungguh menjadi kenyataan. Anehnya, tak ada yang bisa mencegah dan memberikan sanksi serius kejahatan kemanusiaan itu. Jerit jutaan bangsa Palestina hilang ditelan bising alat-alat besar yang menggusur pemukiman mereka.

Rangkaian kenyataan itu bagaimanapun merupakan kepedihan yang mendalam bagi bangsa Palestina. Kondisi yang terus dibiarkan memburuk itu tidak lepas dari permainan dari negara-negera Barat dan Amerika, yang sengaja membiarkan Palestina terhapus dari peta dunia. Hal ini bisa dilihat dari beberapa perjanjian yang dilakukan antara Palestina dan Israel yang selalu gagal dan dilanggar sendiri oleh Israel. Dan tidak ada sanksi apa-apa bagi pelanggarnya.

Sekarang kita mungkin hanya bisa menyaksikan kenyataan bahwa tanah Palestina hampir habis dicaplok Israel. Kota-kota tinggal kenangan. Pembangunan pemukiman Israel dipaksakan di tengah-tengah teritori warga Paletina. Narasi pilu menghilangnya nama kota-kota itu dituturkan oleh Raja Shehadeh, penulis asal Ramallah, Paletina, dalam buku berjudul Jalan-Jalan di Palestina – Catatan atas Negeri yang Menghilang ini. Buku yang baru saja memperoleh Orwell Prize ini merupakan kesaksian yang jujur dan penuh emosi, ditulis dengan gaya bercerita santai dan enak dinikmati.

Buku ini hadir sebagai kisah nyata (true story), kenangan berdasarkan perjalanan hidup Shehadeh selama 26 tahun. Selama itu Shehadeh menyaksikan perubahan signifikan tentang perbukitan hijau yang ia lihat sejak dilahirkan hingga kota-kota baru produk Israel yang ia saksikan hari ini. Semuanya terjadi dalam tempo singkat. Ia seperti saksi yang hanya bisa memperjuangkan sisa masa tuanya bersama rakyat Palestina untuk mempertahankan tanahnya. Ia menulis semua itu dengan jujur, apa adanya. Koran The New York Times memberi pujian karena “hanya sedikit orang Palestina yang mau terbuka dengan kejujuran seperti yang dimiliki Raja Shehadeh”.

Catatan perjalan ini dibagi menjadi enam bab. Penuturan peristiwa-peristiwa di dalamnya runtut dan santun. Perjalanan yang dimulai pada 1978 dan berakhir tahun 2006 mempunyai rutenya sendiri, dengan pengalaman yang unik di setiap bab, sesuai konteks waktu dan latar belakang cerita. Semua berlatar sekitar perbukitan Ramallah, Jerusalem, dan Laut Mati.

Kumpulan enam kisah nyata ini dimulai dari lanskap antara Ramallah dan Harrasha, tempat Shehadeh lahir dan besar bersama keluarganya. Sebagai permulaan, Shehadeh memulai dari kisah masa kecil ketika dia pertama kali menatap langit dari tanah Palestina. Menyaksikan bukit-bukit hijau yang masih belum parah dihancurkan oleh Israel. Bagi Shehadeh, bukit-bukit itu adalah juga riwayatnya sendiri.

Ia mengenang masa lalunya ketika masih suka mendengar cerita dari kakeknya, Hakem Saleem, pergi ke Ramallah bersama sepupunya, Abu Ameen. Mereka pergi ke pantai Jaffa yang lembab dan terkadang sarha ke bukit-bukit hijau (hlm. 2). Sarha adalah istilah untuk menyepi dari kebisingan dunia, seperti yang dilakukan oleh para sufi. Sembari sarha, kakek Shehadeh dan sepupunya sering mengitari bukit hijau Ramallah. Di bukit itu tumbuh beraneka bunga khas Palestina seperti iris, flax, maltese cross, cyclamen, dan broom yang sulit ditemukan di negeri lain yang berbeda suaca dan letak geografinya. Shehadeh keberatan terhadap penulis Herman Melville yang menggambarkan daerah itu sebagai tempat gersang ketika mengunjunginya pada pertengahan abad ke-19 (hlm. 13).

Pembaca juga bisa mengetahui potongan sejarah yang mungkin tak pernah disebutkan dalam sumber literatur lain tentang Palestina. Misalnya tentang situs biara di gurun yang sekarang tak seorang pun yang sedia menyelamatkannya. Menurut sejarahnya, biara liar itu dibangun oleh pertapa Santo Chariton pada 275, ketika Chariton berziarah dari Yerusalem (hlm. 161). Di samping itu, kita akan menemukan situs yang merupakan tempat Nabi Musa dilahirkan. Di Palestina memang terdapat banyak situs suci tiga agama besar di dunia.

Namun, seiring dengan penggusuran rumah dan perebutan tanah yang dilakukan Israel, situs-situs penting itu pun hilang dalam peta Palestina. Shehadeh tidak bisa lagi berpura-pura mimpi bahwa bukit-bukit itu adalah hidupnya sendiri (hlm. 62). Dalam hal ini, suara Sheahdeh tak bergema sendirian.

Buku ini ditutup dengan bab keenam yang sangat mendebarkan, berjudul “Sarha yang Diimpikan”. Shehadeh menceritakan pertemuannya, saat melakukan sarha, dengan seorang lelaki setengah baya warga Yahudi Israel. Mereka bersua di satu bukit. Saat itu pula tiba-tiba ada seorang warga Israel di tengah bukit itu membawa pistol laras panjang. Shehadeh khawatir bila terjadi hal yang tak diinginkan.

Mereka pun terlibat perdebatan, tentang siapa yang berhak atas Wadi Dalb atau Wadi Dolev itu. Sang warga Israel ngotot bahwa tanah tempat dia berdiri hari itu adalah tanah yang dijanjikan. Shehadeh dengan nada kesal memberikan argumentasi kuat sehingga warga Israel itu diam, kalah. Tapi tak seperti dikhawatirkan sebelumnya, mereka bukan beradu otot dan sang warga Israel mengajak Shehadeh menikmati nergila (tabung air berpipa dengan sedikit opium untuk merokok khas gurun pasir).

Shehadeh menulis, tentang moment itu (hlm. 234): “Aku sadar sepenuhnya tragedi dan perang yang mengancam kami berdua, orang Arab Palestina dan Yahudi Israel. Namun untuk sekarang kami duduk bersama beristirahat, menghirup nergila bersama, dipersatukan oleh rasa cinta kami untuk negeri ini.”

One response to “Resensi Buku Jalan Jalan Di Palestina Sebuah Kisah Yang Pilu

  1. review yang bagus…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s