Buku Tentang Bagaimana Mengatasi Krisis Finansial Global

Krisis finansial dan ekonomi dunia semakin merebak. Banyak orang berspekulasi tentang akar dari krisis tersebut. Kredit macet akibat subprime mortgage di Amerika Serikat disebut-sebut sebagai pemicu krisis yang berlangsung saat ini. Namun, kalau dikaji lebih lanjut, sebenarnya akar permasalahannya terletak pada manusianya. Faktor manusia dan konteks mikro menjadi titik fokus dari buku hasil karya seorang eksekutif grup Triputra atau CEO Adira Motor ini. Penekanan ini langsung terkondisi lewat kutipan pembuka pada bab awal (Pembukaan) buku ini, yaitu: ”Sebagian besar hambatan ada dalam diri kita, bukan berasal dari luar”. Mengikuti alur premis tersebut, solusi tuntas dari krisis yang sedang terjadi saat ini tak mungkin diselesaikan jika hanya mengacu pada faktor eksternal dan mengandalkan piranti makro ekonomi atau hanya berfokus pada pasar finansial saja. Manusia dan konteks mikro bisnis harus menjadi titik awal dan sentralnya. Argumen bahwa manusia menjadi titik awal dari pencapaian hasil bisnis yang hebat (dan juga bisa menjadi akar penyebab krisis yang dahsyat) sejalan dengan premis dasar dari buku Right Process Will Bring Great Results karangan Tjahjadi Lukiman. Isi buku ini dapat diringkas menjadi: ”Getting the right (1) people to do the right (2) things right (3) at the right (4) time, starting right (5) now to achieve right (6) growth and make all stakeholders confident that we are right (7)”. Itulah tujuh right yang dimaksud dalam subjudul buku ini. Elemen dari konsep ”7 Rights” tersebut sebenarnya bukanlah hal yang baru. Kendati begitu, Tjahjadi Lukiman (di kalangan rekan-rekannya dijuluki ”Lucky Man” atau orang yang beruntung), berhasil memberikan cahaya pencerahan dengan merajutnya menjadi suatu konsep terintegrasi, mudah diikuti dan dicerna oleh praktisi bisnis pada umumnya. Sebagai penegasan visual, ketujuh rights ini disusun dalam bentuk bangunan rumah dengan landasan get the right people. Di atas landasan itu ada empat pilar: Do the Right Things, Do at the Right Time, Do It Right Now, dan Do Things Right. Di atas keempat pilar itu ada langit-langit Right Growth, dan sebagai atapnya Yes We Are Right. Sayang sekali, dalam urutan uraiannya, right keenam dan ketujuh menurut saya tertukar, Yes We Are Right didahulukan pembahasannya, baru kemudian Right Growth diulas pada bab terakhir sebelum bab Penutup. Ketujuh right tersebut dijelaskan dengan menggunakan analogi perusahaan sebagai pesawat terbang. Ada komponen yang kurang pas dalam analogi ini, yaitu ”Get the Right People” dianalogikan sebagai penumpang yang tepat. Menurut saya, akan lebih tepat bila dianalogikan sebagai cabin crew (bukannya penumpang) yang tepat. Right people seharusnya dianalogikan menjadi karyawan sebagai pelayan (cabin crew) bagi pelanggan (penumpang). Gaya cerita sinetron Untuk membuat penyampaian konsep menjadi lebih komunikatif, penulis buku menggunakan gaya cerita sinetron ala buku-buku Ken Blanchard (One-minute Manager, Raving Fans, dan lain-lain). Dalam buku ini, dua tokoh utamanya adalah dua CEO (Chief Executive Officer/Direktur Utama) dari perusahaan yang menjadi bagian dari grup perusahaan besar. Mereka adalah John–sebagai pebisnis andal dan narasumber—dan James–sebagai pebisnis yang memiliki masalah dan bertanya kepada John—ditambah dengan tokoh Teddy yang merupakan atasan tertinggi dalam grup perusahaan. Setting cerita ini tampaknya memang sengaja dibuat mirip dengan grup perusahaan Triputra tempat Tjahjadi berkarier. Di Adira Motor ini juga Tjahjadi dipandang berhasil melakukan perbaikan kinerja perusahaan secara signifikan. Contoh kuesioner dan beberapa grafik perbaikan kinerja perusahaan yang ditampilkan dalam buku ini menggunakan data dari Adira Motor. Penggunaan data hasil kuesioner dan pemaparannya dalam bentuk grafik memang eye catching. Sayangnya, ada beberapa grafik yang kurang reader friendly, yaitu, kurang penjelasan cara membacanya (misalnya Grafik 4 dan 5) dan apa artinya serta ”so what”- nya (misalnya, Grafik 1). Selain acuan terhadap grup Astra, acuan terhadap grup perusahaan multinasional terkemuka seperti General Electric (GE) dan Toyota juga digunakan untuk ilustrasi konsep best practice dan benchmarking. Menurut saya, penggunaan perusahaan multinasional sebagai acuan benchmarking dan best practice harus dilihat secara kritis karena bisa menjadi bumerang bagi kebanyakan perusahaan lokal. Pasalnya, perusahaan lokal, terlebih perusahaan pemula, umumnya belum memiliki infrastruktur yang memadai untuk langsung meloncat 2-3 anak tangga ke arah standar internasional. Memaksakan diri untuk langsung meloncat kepada international best practice tanpa membangun kapasitas infrastruktur keras dan lunak yang memadai justru akan membuat frustrasi karyawan dan penurunan kinerja perusahaan secara umum. Pemaparan konsep dengan gaya cerita itu dipercantik dengan penggunaan analogi atau perumpamaan, misalnya perumpamaan tentang pelukis versus juru gambar. Maksudnya, perusahaan harus mencari orang yang berpotensi menjadi pelukis (melakukan dengan sepenuh hati dan mengisi dengan kreativitas), bukan hanya sekadar juru gambar (hanya menjalankan instruksi seadanya tanpa nilai tambah dan kreativitas). Oleh karena itu, menurut Tjahjadi, lebih tepat bila penegasan pembagian tugas menggunakan rincian job responsibility dibandingkan dengan job description. Job description lebih cocok untuk juru gambar dan job responsibility untuk pelukis. Ada lagi analogi tim sepak bola, khususnya tim Arsenal dengan pelatih legendarisnya, Arsene Wenger (bukan sekadar merekrut pemain bintang, melainkan justru menciptakan pemain bintang). Tanggung jawab seorang pemimpin bisnis bukanlah sekadar ”merekrut orang yang sudah jadi”, melainkan justru harus ”menjadikan orang”. Untuk membuat gagasan konsep manajemennya tidak hilang tertutup cerita, Tjahjadi menggunakan pemfokus perhatian berupa konsep penting yang dibingkai dengan kotak sisipan (insertion box). Selanjutnya, pada akhir setiap bab, Tjahjadi merangkumkan pointers dari konsep yang dibahas. Cara ini terasa cukup efektif untuk mengingatkan pembaca tentang konsep penting yang ingin disampaikan penulis. Sebagai usulan, rasanya akan lebih membantu bila buku ini menggunakan ikon rumah ”7 Rights” sebagai penanda navigasi untuk mengingatkan pembaca tentang posisi konsep yang sedang dibahas berada pada right yang mana atau nomor berapa. Orientasi proses Latar belakang Tjahjadi di bidang teknik dan operasional mungkin menyebabkan penekanan bahasan konsep manajemen lebih berorientasi pada proses dan reengineering (misalnya ilustrasi penghematan lama waktu servis kendaraan). Hal ini bisa menjadi kekuatan seperti otot Achilles. Bila pasar berubah drastis, otot Achilles kekuatan proses operasional bisa putus dan perusahaan bisa menjadi tidak relevan. Pasalnya, orientasi terhadap pasar dan pelanggan hanya dibahas dalam bentuk survei pelanggan (dalam bab Yes We Are Right). Tidak ada bahasan memadai tentang pemilihan pelanggan yang tepat (The Right Customer). Ada beberapa kerikil yang mengganggu dalam buku ini. Di beberapa tempat, ada penggunaan istilah atau tata bahasa Inggris yang tidak tepat. Sebagai contoh, clearly vision and mission dan clearly organization seharusnya clear vision and mission dan clear organization (hal 43); principle seharusnya principal (hal 82); hiject seharusnya hijack) (hal 87). Selanjutnya, bagi pembaca dari kalangan akademisi, kesalahan format dan urutan penulisan daftar pustaka, dan kesalahan nama pengarang (misalnya, Jimmy, padahal seharusnya Billy) akan terasa sangat mengganggu dan perlu diluruskan. Sebagai penulis yang berlatar belakang teknik dan peduli pengendalian mutu, kesalahan-kesalahan seperti itu seharusnya tidak boleh luput dari proses kendali mutu buku. Terlepas dari keberadaan kerikil kesalahan yang mengganggu dan bisa menjadi batu sandungan, buku setebal xxx+133 halaman ini perlu dibaca oleh para pebisnis. Pebisnis pemula akan mendapatkan kiat praktis untuk memperkuat landasan utama dalam mengelola bisnis. Pebisnis yang sudah berpengalaman bisa menemukan rangkuman terintegrasi dari hal penting yang telah dijalankan atau pernah dipikirkan. Semoga buku yang ditulis dari hasil pelatihan dan pengalaman di lapangan selama beberapa dekade ini bisa menjadi acuan bagi para pebisnis dalam menghadapi krisis finansial dan ekonomi yang sedang melanda dunia saat ini. Roy Sembel Akademisi dan Praktisi Bisnis

Comments are closed.