Indonesian Dance Festival Akan Segera Dibuka Tanggal 14 Oktober 2008

Dari tanggal 14-31 Oktober 2008 Indonesian Dance Festival (IDF) akan menggelar edisinya yang ke-9 untuk mempertemukan seniman tari lokal dan internasional dari delapan negara: Singapura, AS, Taiwan, Italia, Jepang, Perancis, Thailand, dan tuan rumah Indonesia. IDF kali ini mencermati berbagai wujud modernitas dalam tari. Seperti ditegaskan Tang Fukuen, salah seorang kurator IDF 2008, cara setiap komunitas mendefinisikan ’modernitas’ bergantung pada ekologi masing- masing. Inilah sesungguhnya yang coba disajikan oleh IDF secara mendasar. Melalui programnya yang beragam, di satu sisi IDF mengundang penonton untuk dengan cermat menyaksikan kepiawaian tubuh-tubuh yang bergerak di atas panggung. Namun, di sisi lain IDF juga meminta penonton untuk mempertimbangkan dan ’membaca’ tari sebagai sebuah dokumen modernitas.

Modernitas tari di Indonesia berjalan lambat: baik di kalangan pelaku maupun penikmat. Tahun 2004, sejumlah wartawan budaya menggugat IDF karena menurut mereka penampilan Min Tanaka bak ”cacing menggeliat”. Anehnya sehabis pentas di GKJ, wartawan senior Goenawan Mohamad menyempatkan ke balik panggung untuk memberi selamat kepada Min. Tampaknya sekalipun telah modern, banyak penonton menuntut pertunjukan tari tetap memberi nikmat dan menghibur. Tontonan tari tetap dipandang sebagai klangenan.

Kalau bukan kenikmatan estetik, lantas apa yang bisa didapat dari tari? Dalam seni kontemporer, keindahan tidak dilarang, tetapi bukan juga satu-satunya tuntutan. Lebih penting dari keindahan adalah ”kebenaran”. Dan jika kebenaran dan kenyataan hidup begitu getir—porak-poranda dilanda bencana, yang miskin harus menyokong kaum kaya, keadilan dijualbelikan, korupsi tak hendak dibasmi—haruskah seniman puas mencipta karya klangenan? Modernitas dan seniman pascamodern tegas menolak dogma ini!

IDF 2008 akan dibuka 14 Oktober dengan sebuah Lokakarya Koreografi di Yogya sampai 26 Oktober. Kunjungan Min Tanaka ke IDF diawali 25 Oktober bukan buat menari di panggung, tetapi membuka dialog tari di Yayasan Bagong Kussudiardja dan Lembaga Indonesia Perancis di Yogya. Tahun 1985, Min mulai hidup sebagai petani-penari di Sesa Hakushu. Tahun 2005 ia berhenti menari di panggung dan setahun kemudian mulai menari di lokasi terbuka di taman kota, jalanan, dan sawah-ladang. Min akan menayangkan hasil penjelajahannya di desa-desa Sulawesi, Jawa, dan Bali yang ia lakukan setelah tampil di IDF 2004 dan membuka diskusi di Yogya (25 dan 26 Oktober) dan Jakarta (29 Oktober).

Acara di Jakarta dimulai 27 Oktober dengan menyajikan karya pendatang baru dalam ”Emerging Choreographers” di Teater Kecil, TIM. Acara pentas utama IDF dimulai hari berikutnya dan berlangsung sampai 31 Oktober, sementara pertukaran gagasan lintas disiplin antarpenggiat tari, film, jender, dan kritikus diadakan di Kampus Institut Kesenian Jakarta 29-31 Oktober 2008.

Di bawah pengaruh globalisasi, di banyak sudut dunia hati nurani telah mati! Apakah yang masih mampu menggerakkan nurani kita? Pertemuan Aliansi Tari Dunia di Wisconsin, AS, menjawab: Salah satu tren dalam disiplin tari saat ini adalah beranjaknya amatan dan kegiatan yang semula terfokus pada high art dan seni teatrikal ke investigasi praktik- praktik gerakan kontemporer dan kolaborasi antarbangsa. Salah satu bentuk investigasi tersebut adalah menelisik komponen tari yang paling dasar dan vital, yaitu gerak. Akibatnya dalam koreografi, pengalaman dan proses menjadi lebih penting dari produk akhir. Pencarian makna lebih utama dari penciptaan keindahan. Berdasarkan kecenderungan inilah IDF 2008 dikemas. Penjelajahan ragawi untuk kembali ke komponen dasar tari, kolaborasi, inovasi kreatif, dan peninjauan kembali tradisi merupakan gejala karya yang tersaji dalam IDF 2008.

Penelisikan komponen dasar tari ke dalam tubuh sendiri dilakukan tiga penata tari Jepang yang akan menarikan sendiri karya tunggalnya di Teater Luwes IKJ: Natsuko Tezuka, Megumi Kamimura, dan Yukio Suzuki. ”Back to basic” dilakukan juga oleh kelompok MK dari Italia, satu dari lima kelompok tari kontemporer yang mewakili Eropa dalam buku Corpo Sottile (2003) bersama Jerome Bell (Perancis). MK menulis, ”In [Comfort], time is a succession of propositions and disappearance. The choreography itself disappears, the body still remains.”

Namun, bukankah di dalam tubuh penari juga tersimpan ideologi? Hal inilah yang mengemuka dalam kolaborasi Jerome Bell dan Pichet Klunchun (Thailand). Jerome yang dikenal sebagai koreografer ”konseptual,” tahun 2004 menerima undangan Tang Fukuen ke Bangkok Fringe Festival untuk berkolaborasi dengan Pichet Klunchun, penari tradisi Thai yang gelisah. ”Kami bertemu tanpa tahu apa yang mungkin terjadi.… Hasilnya laporan teatrikal dari pengalaman kita masing-masing… semacam dokumentasi teater atau koreografis dari situasi hidup nyata kita… di mana terungkap isu-isu penting euro-centrism, interculturalism, dan globalisasi budaya.” Masih ada tiga lagi karya kolaborasi: Ery Mefri dan Cynthia Lee (Taiwan), Kadek Yulia More dan Rannarong Kampha (Thailand), serta Rachel Lincoln dengan Leslie Sietters. Yang mungkin akan menuai beda pendapat atau pujian adalah POP Dance Station karya instalasi tari kelompok Kill Your Television (KYTV) dari Singapura yang mengkritisi pengemasan bintang pop ala industri musik komersial. Siapa pun yang mau jadi bintang silah mencoba.

Para penata tari Indonesia, baik yang berkolaborasi maupun yang tampil mandiri, banyak menyoal kaitan tradisi dan modernitas. Eksplorasi tubuh Dek Geh dari Bali dalam ”Stone Body” misalnya terinspirasi batu-batu bahan patung yang setengah jadi. Eno dari Solo mengeksplorasi busana dodot Jawa yang menyisakan semacam ekor panjang yang disebut samparan. Sementara Hartati, penerima hibah Empowering Women Artists dari Yayasan Kelola, menyoal perempuan melalui ungkapan tari Minang.

Pantas disimak kolaborasi sutradara film Garin Nugroho dengan penari-penata tari Eko Supriyanto dan Martinus Miroto dalam The Iron Bed yang terinspirasi fragmen Sinta Obong dari epik masyhur Ramayana. Dengan memberi setting karakter Ramayana dalam kehidupan masa kini yang memuja materi dan kenikmatan ragawi, Garin lebih bebas menginterpretasi. Berbeda dengan aslinya, di akhir cerita Setya yang saleh, Siti yang tergoda kenikmatan dunia, serta Ludiro yang liar dan berambisi semuanya binasa karena ulah sendiri. Yang tersisa adalah alam liar yang semakin biadab dan jiwa manusia yang semakin rapuh. Inikah potret manusia Indonesia masa kini?

Dengan program seperti ini, IDF hendak menyadarkan pemirsa tari Indonesia bahwa sejatinya lebih dari sekadar tontonan, tari juga merupakan ihwal yang mengikat kita pada implikasi-implikasi yang lebih dalam. Sajian IDF tak hanya akan mengajak pemirsa terpana, tetapi juga bertanya. Karena di bawah kendali globalisasi, kita acap mendapati diri kita berada di dalam posisi yang rumit ketika harus mengartikulasikan kaitan tradisi dengan modernitas.

Sal Murgiyanto Ahli Seni Pertunjukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s