Mutu Berbahasa Indonesia Rendah Karena Semakin Banyak Yang Malu Bisa Berbahasa Indonesia dan Bangga Cas Cis Cus Inggris

Mutu berbahasa Indonesia di masyarakat masih buruk atau rendah. Hal ini tercermin dari banyaknya ketidaktaatan pemanfaatan bahasa Indonesia dalam aneka ranah berbahasa sehari-hari. Padahal, berbahasa mencerminkan kecerdasan seseorang.

Kepala Bidang Pembinaan Bahasa Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Mustakim, Senin (13/10), mengatakan hal itu dalam Seminar Internasional Bahasa Indonesia/Malaysia dan Pembelajarannya. Menurut dia, terjadi salah kaprah berbahasa di masyarakat.

”Sejak era reformasi 1998, muncul era kebebasan. Banyak orang juga menyalahartikan kebebasan dengan menggunakan bahasa sebebasnya, termasuk di tempat-tempat umum,” kata Mustakim.

Dia mencontohkan maraknya pemakaian kata asing di ruang publik. Padahal, kata asing itu sudah mempunyai padanan kata dalam bahasa Indonesia. Salah satu contoh adalah pemakaian kata trade center ketimbang pusat perbelanjaan.

Arus globalisasi yang ditandai dengan masuknya barang impor juga ikut memengaruhi pemilihan kata dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat kini gemar menyebut kata asing ketimbang padanannya dalam bahasa Indonesia. Mustakim mencontohkan sejumlah kata asing yang biasa digunakan dalam keseharian, yakni bed cover, hanger, rice cooker, dan computer.

”Kondisi ini menunjukkan, sebagian masyarakat masih menganggap tingkat bahasa Indonesia masih di bawah bahasa asing. Kalau kebanggaan berbahasa Indonesia sudah tinggi, pemakaian bahasa Indonesia akan diutamakan ketimbang bahasa asing, kecuali bila belum ada padanan kata dalam bahasa Indonesia,” kata Mustakim.

Selain itu, ketidakpahaman akan tata kalimat membuat sejumlah karya ilmiah serta tulisan jurnalistik menjadi ruwet dan sulit dipahami. Pemakaian kata-kata yang tak perlu acapkali menghiasi ragam tulisan itu.

Guru Besar Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Padang Atmazaki mengatakan, ada keprihatinan sebagian kalangan atas tidak digunakannya tata bahasa dan fungsi-fungsi komunikatifnya. ”Kondisi ini menyebabkan tidak terlihatnya kecerdasan pemakainya,” kata Atmazaki.

Tak digunakannya tata bahasa dan fungsi komunikatif ini terjadi dalam ceramah, pidato, moto yang terpampang di jalan, siaran radio dan televisi, pengajaran di kelas, media cetak, serta penggunaan bahasa Indonesia lainnya.

Peran pendidikan

Pendidikan formal bisa berperan membentuk pemakaian bahasa Indonesia sesuai dengan tata bahasa yang ada. Hanya saja, Mustakim mengatakan, sebagian sekolah kini lebih berorientasi mengajarkan bahasa Indonesia dengan tujuan agar murid bisa mengerjakan soal ujian nasional (UN).

”Kalau ini terjadi terus-menerus, sekolah tidak ubahnya seperti lembaga bimbingan belajar yang membantu murid lulus ujian,” kata Mustakim.

Dia berpendapat, sekolah perlu berubah dengan memberikan porsi yang cukup untuk praktik berbahasa yang benar bagi peserta didik.

Pendapat serupa disampaikan dosen Bahasa Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Frans Asisi Datang, lewat makalahnya. Dia melihat pentingnya pembaruan pendidikan bahasa Indonesia di tingkat perguruan tinggi. Hanya saja, keinginan ini masih terbentur jumlah siswa yang terlampau banyak di satu kelas. Akibatnya, dosen tidak sanggup untuk memperbanyak praktik berbahasa secara benar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s