Sulitnya Mempromosikan Penulis Indonesia

Dewa Syiwa dan Dewi Uma resah. Situasi jagat sedang diwarnai kekalutan, konflik, dan ketidakseimbangan. Dari Nirwana, akhirnya mereka mengutus tiga dewa, yakni Brahma, Wisnu, dan Iswara, untuk mengatasinya. Ketiganya lalu menjelma menjadi tiga tokoh yang populer dalam kesenian Bali, yakni Telek (wanita berparas cantik dengan pakaian serba putih), Barong, dan Topeng Merah.

Bahu-membahu mereka mengatasi para perusuh yang dilambangkan oleh Rangda. Melalui berbagai pertempuran, akhirnya mereka berhasil mewujudkan Tri Hita Karana. Ini adalah keseimbangan dalam hubungan manusia dengan Tuhan, dengan alam, serta dengan sesama.

Fragmentari karya Made Wija itu menandai pembukaan Ubud Writers & Reader Festival (UWRF), Rabu malam lalu, di Puri Saren, Ubud. Ratusan penulis dari 30 negara, termasuk dari Indonesia, berbaur menikmati tarian itu.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika, penggagas UWRF Janet De Neefe, dan para tokoh Puri Ubud menjadi tuan rumah. “Terima kasih, karena event ini memberi kesan positif bagi Bali, padahal tanpa bantuan sedikit pun dari pemerintah,” ujar Pastika. Tri Hita Karana, yang menjadi tema utama UWRF, disebutnya akan membuat orang luar makin penasaran pada keindahan Bali.

Menurut Janet, tema itu dirasa relevan di tengah situasi konflik antarbangsa yang terjadi saat ini. Padahal, di sisi lain manusia menghadapi masalah bersama terkait degradasi lingkungan, perubahan iklim, kemiskinan, dan lain-lain. ”Di sini didialogkan masalah-masalah itu dengan pendekatan sastra,” ujarnya.

Meski sedikit kurang paham, para penulis asing mengaku sangat tertantang untuk menjelajahi tema tersebut. ”Sangat luas dan bisa menjadi background untuk semua tulisan,” kata penulis novel Cina Socialism is The Great, Lia Zang.

Penulis Mesir, Bahaa Taher, mengaku agak sulit memahami tema itu karena dinilainya terlalu berbau metafisika. Peraih International Prize for Arabic Fiction 2008 itu justru ingin mendapatkan perspektif baru melalui pembicaraan dengan penulis dari latar belakang budaya yang sangat beragam.

Keduanya berharap tema itu akan menjadi pengantar untuk lebih jauh mengenal kesusastraan Indonesia. Selama ini karya sastrawan Indonesia sangat sulit diperoleh di negara mereka.

Separah apakah kondisinya? Penulis Indonesia yang tinggal di Jepang, Lily Yulianti, menyebutkan, sastra Indonesia di luar negeri nyaris tak dikenal. Karya yang bisa ditemui masih sebatas karya penulis senior semisal Pramoedya Ananta Toer (alm.) dan Ahmad Tohari. Ia menilai perlu agen khusus untuk menerjemahkan dan mempromosikan karya penulis Indonesia ke luar.

Soal itu, menurut Janet De Neefe, memang menjadi tujuan UWRF. Salah satunya dirintis dengan forum yang mempertemukan penulis dengan kalangan penerbit asing. Mulai tahun ini, pihaknya juga akan menyeleksi karya-karya sastrawan Indonesia yang dianggap layak untuk diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Inggris.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s