Hikayat Kontemporer Perempuan Aceh Yang Perkasa

Apa pun yang berkait dengan Aceh senantiasa membetot perhatian. Terutama setelah bencana tsunami 26 Desember 2004 yang melibas Nanggroe Aceh Darussalam–salah satu musabab utama tersepakatinya Memorandum of Understanding Helsinki, 15 Agustus 2005.

Novel Perempuan Keumala yang bersubjudul ”Sebuah Epos untuk Nanggroe” yang ditulis Endang Moerdopo, perempuan kelahiran Yogyakarta 40 tahun lampau, itu salah satunya. Selama dua tahun penulis ini sempat menjabat Kepala Pengembangan dan Evaluasi Pusat Pembelajaran Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR).

Jika kemudian Wali Kota Sabang Munawar Liza Zainal dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Prof Dr Meutia Hatta-Swasono ikut menulis sambutan dalam buku ini, saya kira itu juga dalam kaitan pesona ”betotan” itu; sejajar dengan yang dilakukan Prof Dr Hj Kemala Motik Gafur, Rektor Universitas Indonusa Esa Unggul, Jakarta, tempat Endang Moerdopo belakang hari menempati kursi Ketua Jurusan Hubungan Masyarakat, Fakultas Ilmu Komunikasi.

Epos

Sejak awal, sebagaimana termaktub di sampul depan, dengan tegas dinyatakan bahwa novel ini sebagai sebuah epos–yang anehnya justru tak tertulis dalam kolofon, atau halaman-halaman awal judul.

Maknanya, kisah epos bukan saja penuh romantisasi atau ”pelebih-lebihan”, namun juga sebagai semacam ”pengagungan” (homage) bagi yang dijadikan sosok utama dalam cerita, yang bisa saja memang ada dalam realitas sejarah. Kisah-kisah hikayat dalam historiografi Melayu, atau kisah-kisah babad dalam historiografi Jawa, atau ceritera panji dalam historiografi–juga–Jawa (Timur dan Tengah), atau bakaba dalam historiografi Minangkabau gegap dengan kisah epik atau epos. Salah satu bentuk konkret ”pelebih-lebihan” dalam babad adalah menggambarkan bahwa raja-raja Jawa bernasab dengan para nabi, termasuk Nabi Adam; bersejajar dengan pemosisian Ken Arok sebagai titisan dewa.

Laksamana Laut Keumalahayati–sosok utama dalam novel ini–memang tak digambarkan sebagai titisan dewa atau senasab dengan para nabi; bahkan dengan dewa laut pun tak dikaitkan. Namun, dengan meminimalisasi kisah personal, termasuk pola pikirnya sekait dengan konteks zamannya, dan memberi fokus terbesar pada serba kebesaran hati Keumalahayati, itulah salah satu ciriwanci kisah epik umumnya.

Meminjam analisis yang dilakukan György ”Georg” Lukács (mohon tak dikelirukan dengan sineas kampiun George Lucás), beda antara novel sejarah dan novel epik sangatlah gamblang. Dalam novel epik, sosok utamanya dijadikan hero; sementara yang terpenting dalam novel sejarah, kendati tetap termunculkan sosok nyata (yang diherokan dalam novel epik), yang terpenting adalah berbagai realitas yang terjadi semasa tersebut, misalnya struktur sosialnya, peradabannya, dan sebangsanya. Dan yang terpenting, sosok yang diherokan itu lebih berdarah dan berdaging, tak serta-merta serba mandraguna saktinya.

Dalam kuartologi Pramoedya Ananta Toer–dari Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), dan Rumah Kaca (1988)–bisa jadi sosok utama Minke merupakan heronisasi atau pengheroan atas sosok nyata Tirto Adhi Surjo, namun yang lebih mengemuka dari novel-novel Pram tersebut adalah berderet realitas: banyak bapak yang menjual anak perempuannya menjadi nyai atau istri wedana Belanda sebagai upeti bagi kenaikan pangkatnya, lahirnya kesadaran modernisme yang berarti pendaulatan atas logika atau otak ketimbang takhayul, serta penyebaran ideologi melalui media massa. Alhasil, novel-novel Pram cenderung sebagai novel sejarah ketimbang ”semata” novel epik.

Umumnya sosok epik –menjadi semacam pseudo-manusia yang galibnya sama dengan ”boneka” atau ”mesin” atau ”robot” pula, yang minus darah minus daging minus perasaan minus keutuhan sosok manusia.

Keumalahayati jelas bukan mesin pembunuh, kendati dalam catatan sejarah dialah yang berhasil membunuh Cornelis de Houtman–orang Belanda pertama yang menemukan jalur rempah-rempah dari Eropa ke Indonesia–dalam sebuah pertarungan satu lawan satu di atas geladak kapal, pada 11 September 1599.

Namun, penempatan serdadu Belanda dan/atau Portugis sebagai sekadar antagonis, sebagaimana kelaziman dalam babad, hikayat, panji, dan bakaba, hanya ada dua pihak kalaulah tak putih berpihak pada sosok hero atau heroine, ya sosok hitam. Belanda bukan digambarkan secara imajinatif–melainkan dengan serta-merta dikalimatkan Endang sebagai bengis, congkak, dan semacamnya; sementara Bentana Lela, yang mengincar posisi Keumalahayati sebagai Laksamana Laut pengganti suaminya yang gugur melawan Portugis, sebagai pengkhianat; sejajar pula sematan predikat bagi Ibrahim Jaffar.

Benar-benar tak ada sisa ruang untuk menganalisis atau merenungkan kenapa banyak orang di seputaran istana yang mengincar harta istana atau bahkan takhta–misalnya siapa tahu selama ini tak ada pemerataan dari baginda raja. Sungguh berlainan dibandingkan dengan –misalnya– sosok Samsulbahri dalam novel karya Mh Rusli, Sitti Nurbaya, yang kontroversial karena ketidak-hitam-putihan karakterisasi Samsulbahri.

Sungguhkah Samsulbahri itu pengkhianat sejati lantaran dia berperang melawan bangsa sendiri dengan bergabung dengan tentara kolonial Belanda–jika kita coba lebih memahami bahwa Samsulbahri pergi berperang bukanlah untuk mengalahkan milisi Minang, melainkan karena motivasi ingin tewas dalam medan pertempuran karena dia merasa sia-sia hidup karena Sitti Nurbaya, kekasih hatinya, kadung direbut Datuk Meringgih, sosok priayi baru Minang yang tipologinya–dalam realitas sejarah–menjadi ancaman bagi priayi lama yang selama ini menjadi perantara perdagangan hasil ke luar Minang, selain berdekat-dekat dengan pemerintah kolonial.

Proses kreatif

Yang menarik ditelisik justru proses kreatif Endang Moerdopo menulis novel ini. Proses kreatif bisa dalam artian bagaimana dia melakukan riset berdasar hikayat di khazanah pustaka entah di Malaysia entah di Leiden–karena setahu saya sangat minim di Indonesia–yang oleh Endang Moerdopo tak dicoba di-”bumi”-kan atau di-”masa-kini”-kan lantaran bahasa ucap novel ini tetap kental aroma hikayat yang kalimat-kalimatnya terpuitik-puitikkan kendati dalam beberapa hal dia masih saja menyatakan ”pada masa itu” sehingga sudut pandangnya tetaplah di masa sekarang; juga proses kreatif dalam maksud bagaimana dan kenapa dia memilih sosok Keumalahayati, sementara sesungguhnya cukup berderet sosok (pahlawan) perempuan Aceh yang dalam sejarahnya begitu terperhitungkan, misalnya: Safiatuddinsyah, Pocut Baren, ini dan itu–selain tentu saja Tjoet Nja’ Dhien. Perihal Tjoet Nja’ Dhien bisa jadi karena sudah terlalu banyak yang menggarapnya; sementara Pocut Baren dicatat lantaran keahliannya dalam melatih laskar perempuan Aceh dalam membangun bangunan pertahanan dalam menghadapi pasukan Belanda; sementara Safiatuddinsyah punya peran besar dalam pemerintahan sipil, selain memajukan pendidikan dan mengembangkan nilai toleransi agama dan pranata adat istiadat.

Boleh jadi, pilihan atas Keumalahayati bukan saja dikarenakan kiprahnya dalam public sphere– tak mendekam dan didekamkan dalam domestic domain–melainkan juga dalam wilayah yang penuh kekerasan: laksamana laut. Sudah laksamana, laut pula–satu hal yang selama ini dianggap monopoli para lelaki. Adakah Endang Moerdopo menangkap adanya realitas atau gelagat yang hendak membenamkan hak dan kedudukan perempuan Aceh masa kini–sebagaimana disimbolkan lewat kisah novel yang menggambarkan masyarakat setempat tak begitu peduli pada cagar budaya Benteng Inong Balee yang papan namanya makin memudar, atau makam Keumalahayati yang tak mudah diketemukan karena semak dan ilalang jauh lebih rimbun menutupi lokasi makam? Posisi Endang Moerdopo sebagai Kepala Pengembangan dan Evaluasi Pusat Pembelajaran BRR sangat bisa jadi menyimpan persoalan itu–dan itu yang membuat trance sosok Hira (perempuan masa kini) yang berkontak dengan Keumalayahati dari abad ke-16 karena hendak mengomunikasikannya ke generasi masa kini.

Dalam beberapa kesempatan diskusi, tak sekali sekala saya sempat mendengar pernyataan yang menyatakan bahwa perempuan itu separuh lelaki. Saya tahu, itu tafsir sekenanya atas ajaran agama yang tak dicoba dikembalikan ke konteksnya. Saya tak tahu apakah kemungkinan kekhawatiran Endang itu bisa dikaitkan dengan rencana bakal dideklarasikannya Piagam Hak-hak Perempuan di Aceh–terlepas Endang tahu atau tidak dengan rencana deklarasi dan isi Piagam, yang merupakan semacam jawaban bahwa perempuan di Aceh tak hendak di-dan-tertenggelamkan atau dibiarkan lapuk bak makam di antara rimbunan semak dan ilalang….

Veven Sp Wardhana Penyunting Buku Piagam Hak-hak Perempuan di Aceh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s