Jejak Pemikiran Kyai Cak Nur

Judul buku: Jejak Tinju Pak Kiai
Penulis: Emha Ainun Nadjib
Penerbit: Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Cetakan: September 2008
Tebal: xiii + 240 halaman

Emha Ainun Nadjib adalah sebuah fenomena. Pemikirannya sangat fleksibel, bisa masuk ke berbagai ranah kehidupan: sosial, budaya, politik, keagamaan, bahkan dunia selebritas. Namun, Cak Nun–demikian sapaan akrabnya–tetap giat dalam berbagai acara rutin yang diasuhnya, yaitu Padang Mbulan (Jombang), Mocopat Syafaat (Yogyakarta), Kenduri Cinta (Jakarta), Gambang Syafaat (Semarang), dan Obor Ilahi (Malang).

Bahkan, bersama grup musik Kiai Kanjeng yang didirikannya, ia kerap diundang ke berbagai negara, antara lain Mesir dan Malaysia. Bersama Kiai Kanjeng pula ia mengadakan rangkaian tur keliling di Benua Eropa, seperti di Inggris, Jerman, Skotlandia, dan Italia. Pada akhir 2006 ia melakukan serangkaian perjalanan ke Finlandia dalam acara Amazing Asia dan Culture Forums atas undangan Union for Christian Culture.

Buku Jejak Tinju Pak Kiai ini menghimpun kumpulan tulisan Emha Ainun Nadjib yang tersebar di berbagai media massa. Dalam buku ini Emha menuliskan kegelisahannya soal reog, batik, dan lagu Rasa Sayange yang diakui sebagai kebudayaan Malaysia.

Tak hanya itu. Emha juga menulis masalah rakyat kecil: kegelisahannya tentang Pasar Turi di Surabaya, nasib tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia, hingga masalah Lumpur Lapindo yang tak kunjung usai. Ada juga tulisan lain, seperti “Austranesia”, “Pecel Suriname”, “Buto Kempung”, “Tanah Halal Air Halal”, “Mudik Keluarga Mudik Bangsa”, dan sebagainya.

Buku setebal 240 halaman ini terdiri atas enam bagian. Di bagian pertama, bertema Manunggaling Kawula lan Gusti, ia lebih banyak menyoroti kondisi Indonesia yang kacau dengan berbagai terminologi. Misalnya saja lewat peristiwa pingsannya Pak Kiai akibat menonton tinju, atau tentang kesabaran orang-orang kampung menghadapi masalah, hingga tentang pilkada yang cenderung memicu kekisruhan di pelbagai wilayah.

Bagian kedua, Gondes, Bleksor, dan Buto Kampung, menyoroti pemakaian bahasa Indonesia. Dengan gaya khasnya, ia memilah bahwa ternyata bahasa Indonesia bukan hanya terdiri atas yang baik dan yang benar, tapi juga yang enak. Ada juga pandangan Sang Kiai tentang narkoba, pengemis, hingga konflik partai.

Bagian ketiga, Makhluk Halal, Makhluk Haram, berisi kritik Cak Nun terhadap makna tanah air, institusi negara, kehidupan bernegara dan beragama, serta mempertanyakan tentang nasionalisme 2009.

Ada yang khusus di bagian keempat. Cak Nun tampaknya ingin memberi porsi istimewa bagi Jawa Timur, tempatnya bermukim selama ini. Dalam bagian tulisan “Nyunggi Wakul”, ia membahas mengenai Daerah Istimewa Surabaya. Idenya tentang bagaimana idealnya mensurabayakan Surabaya dibahas tuntas.

Secara mikro ia berbicara tentang kepedulian Jawa Timur, masing-masing pada tulisan tentang Pasar Turi, Gerakan Majnun Internasional, hingga adanya Jaringan Mahasiswa Revolusioner Indonesia Baru.

Dalam bagian kelima, “Indon”, dan “Reog Malaysia”, ia mengungkapkan buah pikirannya tentang hal-hal yang lebih besar. Mulai dari tragedi Kasan-Kusen, cucu Nabi Muhammad yang meninggal begitu amat sangat tragis dengan kepala dipenggal, atau tentang Irak-Amerika. Hingga tentang Austranesia, sebuah wacana penggabungan dua negara bertetangga, yaitu Australia dan Indonesia. Hubungan kedua negara menurut Cak Nun selalu penuh dengan pertentangan untuk kemudian saling bermesraan.

Atau tentang Malaysia, yang membuat masyarakat seluruh Indonesia marah karena kasus pengakuan reog, batik, dan lagu Rasa Sayange. Tapi tampaknya cuma Cak Nun yang seperti memaklumi kelakuan negara jiran ini. Meski tentu saja dalam kerangka sebuah kritik untuk hubungan kedua negara yang bertetangga yang tetap terjalin baik.

Terakhir, bagian keenam, “Ijtihad, Ittiba, Taqlid”, dimulai dari pembahasan Cak Nun tentang nabi yang pernah membakar masjid akibat ulah oknum takmir masjid sehingga membuat masjid itu menimbulkan mudarat lebih besar dibanding manfaat; tentang kritik terhadap departemen agama; tentang perbedaan berbagai ormas Islam dalam menentukan waktu Hari Raya yang kontroversial tapi dirinya justru menginginkan semoga perbedaan itu sepanjang masa; tentang puasa; tentang mudik.

Sampai pembahasan tentang “Islamic Valentine Day”, sebuah istilah dari Cak Nun yang ngawur bila ditinjau dari sudut apa pun, bahkan perayaan Valentine Day selalu kontroversial, tapi tampaknya di sini ada itikad baik tentang cinta dan kemanusiaan.

Akhirnya kita dapat menyimpulkan keseluruhan tulisan dalam buku ini bermuara pada bagaimana perlunya bersikap arif dan melatih kesabaran, perlunya menjadi makhluk wajib yang berguna bagi sesama, meninggalkan kesombongan, fanatisme berlebihan, serta mencanangkan rasa nasionalisme. Walau demikian, dalam memandang berbagai persoalan, Cak Nun tidak terkesan menggurui, justru memberikan solusi dan daya tambah untuk melapangkan dada dan membeningkan hati dan pikiran.

Tampaknya tak seorang pun yang dapat memahami pemikiran Cak Nun selain H. Halimah, ibunya, satu-satunya orang yang mengajarinya membaca Al-Quran. Sebab, Cak Nun kecil tak mau diajari qira’at oleh siapa pun kecuali oleh ibunya sendiri. Tapi, lewat buku ini, kita akan mendapat titik terang penelusuran panjang mengenai jejak pemikiran kritis sang kiai selebritas.

AKHMAD SEKHU, pengamat buku, tinggal di Jakarta 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s