Laskar Pelangi Merupakan Kisah Nyata Manusia Yang Mau Belajar dan Tetap Rendah Hati

Antusiasme, optimisme, daya belajar, dan cita-cita hidup untuk berbagi menjadi pesan moral yang kuat dalam film Laskar Pelangi. Film edukatif yang dengan judul sama dibuat berdasarkan novel fenomenal karya Andrea Hirata (terbit pertama tahun 2005), yang disutradarai oleh Mira Lesmana dan Riri Reza, ini menggambarkan sebuah drama pendidikan yang memukau sekaligus menggetirkan di sebuah sekolah yang sudah hampir roboh, SD Muhammadiyah Belitong (atau SD Muhammadiyah Gantong di versi filmnya) pada 1970-an.

Mengapa memukau dan menggetirkan? Pertama, komitmen Pak Harfan dan Bu Muslimah (kepala sekolah dan salah seorang guru) agar sekolah itu bisa terus berfungsi sebagai tempat pembelajaran dan pendidikan. Kedua, harapan yang besar terhadap SD Muhammadiyah di Belitong itu juga ditunjukkan oleh masyarakat buruh PN Timah dan pekerja rendahan dengan segala keterbatasan dan kejujurannya untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Ketiga, kecendekiaan dan kejenakaan sepuluh murid–dari kalangan masyarakat miskin dan pas-pasan tadi–yang kemudian dikenal dengan sebutan Laskar Pelangi, hingga akhirnya mereka dipaksa menerima tragedi: kehilangan Lintang si genius alami.

Pendidikan holistik

Pergulatan hidup yang luar biasa menjadi begitu dramatis dan menyentuh dalam Laskar Pelangi, ketika praktek pendidikan di perguruan Muhammadiyah yang sudah dimakan usia itu menunjukkan banyak dimensi yang terlupakan dalam dunia pendidikan kita dewasa ini. Dedikasi dan pengabdian Pak Harfan dan Bu Muslimah yang tulus sebagai pendidik mengingatkan bahwa sekolah dan pendidikan itu bukan sekadar masalah kecerdasan kognitif dan kepintaran serta fasilitas belajar mengajar, tapi juga memberi kesempatan dan membuka ruang bagi anak-anak untuk menjalani pendidikan yang utuh dan mengeksplorasi ilmu pengetahuan dengan kerendahan hati.

Sekolah yang amat sangat bersahaja itu rupanya telah menerapkan apa yang kemudian dikenal dengan istilah pendidikan holistik bagi warga didiknya, di tengah keterbatasan fasilitas dan kekurangan dana. Pendidikan holistik adalah ide pendidikan yang utuh dan integratif sebagai tempat berkembangnya segenap potensi dan karakter warga didik yang berbeda-beda secara wajar dan sehat, baik yang menyangkut aspek kecerdasan kognitif, keterampilan, sikap hidup, maupun budi pekerti. Pendidikan holistik juga merupakan gagasan dan model pendidikan yang menyeluruh dan menempatkan semua pihak sebagai bagian penting dan partisipan yang signifikan dalam proses belajar-mengajar. Dengan demikian, pendidikan holistik menjadikan sekolah atau tempat pendidikan sebagai dunia yang hidup bagi warga didik dan selalu berinteraksi dengan dunia lainnya.

Dengan model pendidikan seperti itulah Laskar Pelangi (Ikal, Lintang, Mahar, Sahara, Kucai, Taprani, Syahdan, Akiong, Borek, dan Harun) belajar dan berbagi kehidupan di bawah asuhan sang kepala sekolah dan guru yang religius, humanis, dan penuh dedikasi. Pak Harfan dan Bu Mus bukan sekadar mengajari anak-anak tentang ilmu pengetahuan dan pelajaran, tapi juga mendidik mereka tentang budi pekerti dan karakter serta berbagi pemahaman tentang makna hidup secara bersahaja.

Seperti yang dituturkan Andrea “Ikal” Hirata, Pak Harfan adalah tipe guru yang sesungguhnya, seperti dalam lingua asalnya, India, yaitu orang yang tak hanya mentransfer pelajaran, tapi juga secara pribadi menjadi sahabat dan pembimbing spiritual bagi muridnya. Pak Harfan memberi kami pelajaran pertama tentang keteguhan pendirian, tentang ketekunan, tentang keinginan kuat untuk mencapai cita-cita. Beliau meyakinkan kami bahwa hidup bisa demikian bahagia jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban untuk sesama.

Dengan demikian, tidak perlu ada jarak antara siswa dan dunia dan kehidupan. Justru kehidupan perlu dibawa ke alam pikiran warga didik secara bergantian dan kontekstual; serta cita-cita dan mimpi hidup mereka dimuliakan dan didekatkan dengan dunia. Bersekolah ala Laskar Pelangi dalam pandangan Mochtar Buchori (2000) dikatakan sebagai pendidikan yang harus mempersiapkan generasi muda untuk mengarungi kehidupan di masa depan yang terdiri dari tiga tahap: kemampuan mencari kehidupan; kemampuan mengembangkan kehidupan yang bermakna; dan kemampuan untuk turut memuliakan kehidupan.

Manusia pembelajar

Begitu bermakna dan mulianya model pendidikan yang dilakoni oleh Laskar Pelangi, kendati berlangsung di sebuah sekolah yang sudah bocor dan miring bangunannya. Pendidikan yang semestinya bagi warga didik ini sudah lama dirindukan banyak orang. Sekarang model dan praktek pendidikan yang hidup dan memuliakan itu sulit ditemukan atau dirasakan dalam dunia pendidikan modern di negeri ini karena sudah terjebak pada rasio instrumental, kapitalisme pendidikan, manipulasi angka, dan ambisi serba berstandar (nasional-internasional), tetapi abai terhadap dasar dan falsafah pendidikan. Akibatnya, pendidikan kita kehilangan karakter, tuna daya gugah kemanusiaan, abai terhadap multidimensi kecerdasan, dan miskin dengan inspirasi keindahan hidup.

Laskar Pelangi sangat beruntung memiliki guru dan kepala sekolah yang inspiring dan intriguing, hingga membentuk mereka menjadi manusia pembelajar (learning person). Manusia pembelajar, kata Andrias Harefa (2000), adalah setiap orang yang bersedia menerima tanggung jawab untuk melakukan dua hal penting. Pertama, berusaha mengenali hakikat dirinya, potensi dan bakat-bakat terbaiknya, dengan selalu berusaha mencari jawaban yang lebih baik tentang pertanyaan eksistensial. Kedua, berusaha sekuat tenaga untuk mengaktualisasi segenap potensinya itu, mengekspresikan dan menyatakan dirinya sepenuh-penuhnya, seutuh-utuhnya.

Ketelatenan Pak Harfan dan Bu Muslimah dalam mendidik serta kegigihan Lintang cs untuk belajar dalam keadaan serba terbatas dan kekurangan merupakan salah satu ciri yang menonjol dari manusia pembelajar. Tuntutan hidup dan mimpi masa depan untuk menjadi yang terbaik melecut semangat belajar mereka. Lintang–sosok yang diceritakan sebagai orang yang memiliki an absolutely beautiful mind–selain mewarisi kecerdasan genetik, ia mempunyai hasrat belajar dan elan vital yang luar biasa hingga membentuknya menjadi seorang genius alami yang suka berbagi.

Manusia pembelajar itu bukan sekadar belajar tentang pengajaran, tapi juga belajar tentang hidup untuk menjadi dan belajar melakukan sesuai dengan kadarnya. Karena itu, berilmu pengetahuan dan dianugerahi kecerdasan yang lebih bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi mendorongnya untuk berbagi dengan mereka yang kurang dan tuna. Metode yang mengeksperimentasi kecendekiaan dalam belajar dan berbagi di kalangan Laskar Pelangi juga tidak sepi dari kejenakaan dan kesetiaan persahabatan di antara sesama manusia pembelajar itu.

Ketika UNESCO belum merumuskan empat pilar pendidikan (learning to know, learning to do, learning to be, learning to life together), manusia pembelajar itu telah menerapkannya di perguruan Muhammadiyah Belitong. Laskar Pelangi bukan fiksi, melainkan kisah nyata tentang pergulatan hidup dan perjuangan sepuluh anak sekolah untuk meraih mimpi.

One response to “Laskar Pelangi Merupakan Kisah Nyata Manusia Yang Mau Belajar dan Tetap Rendah Hati

  1. laskar pelangi membuat kita lebih mengetahui bagaimana susahnya orang untuk mencari makan dan bersekolah itu membuat kita lebih bersemangat dalam belajar/mengejar cita-cita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s