Paradoks Kekuasaan Dalam Sastra Indonesia

Dalam menghadapi kekuasaan, sastra hadir selain sebagai sebuah eksperimen moral, juga sebagai kenyataan sosial. Di dalamnya ia menghadapi ideologi penguasa, dalam proyeknya menanamkan pengaruh atau menyubordinasi ekspresi literer itu.

Mulai dari sastra-sastra klasik seperti epos Ramayana karya Walmiki atau Mahabarata karya Wyasa, teks-teks sastra tak luput pada masalah sentral kekuasaan dan hegemoni negara. Mahabarata, misalnya, mulai dari episode pertama, adi parwa, hingga parwa ke-18, swargarohana parwa, kekuasaan menjadi tema dasar yang menggerakkan konflik tokoh-tokohnya. Dari persoalan kekuasaan itu muncul hero-hero yang di mata pembaca menjadi suri teladan, bahkan tidak jarang dicoba diidentifikasi dalam realitas hidup sebenarnya. Sastra seakan menjadi produsen menghadirkan hero dan heroisme.

Di Perancis pada abad pertengahan dikenal satu genre sastra yang disebut sebagai chanson de geste, bentuk puisi naratif bertemakan kepahlawanan yang dipanggungkan dengan diiringi alat musik petik. Puisi naratif kepahlawanan yang paling populer di masyarakat Eropa waktu itu adalah Chanson de Roland yang terdiri atas 4.002 baris sajak. Puisi ini mengisahkan kepahlawanan tokoh kesatria Roland yang mengabdi pada Raja Charlegmane yang akhirnya gugur dalam peperangan melawan musuhnya.

Cerita semacam Chanson de Roland ini dapat ditemukan di bagian lain dunia, seperti satu drama klasik Jepang, Nakamitsu (anonim), atau kaba Cinduo Mato, sastra klasik Minangkabau.

Paradoks sastra

Persoalan kekuasaan ini berisiko membawa sastrawan pada sebuah kenyataan yang paradoksal. Di satu pihak secara sadar atau tidak, ”terpaksa” melegitimasi kekuasaan dan pada pihak yang lain melakukan counter atau perlawanan terhadap kekuasaan.

Paradoks semacam ini dalam sastra klasik sangat jelas terlihat karena dalam kehidupan riil banyak pujangga yang bekerja pada penguasa. Satu keadaan yang menimbulkan dan ambiguitas atau kemenduaan sikap dalam proses kreatifnya; antara idealisme dan pengabdian.

Kemenduaan ini di Eropa antara lain dialami oleh Clement Marot (1496-1544), seorang pujangga kesayangan Raja Francois I dari Istana Perancis pada awal Renaissance. Marot menulis sebuah teks karya sastra Perancis yang pertama kali secara transparan tapi jenaka, mengkritik praktik-praktik sosial-religius pada zamannya sehingga membuatnya dikejar-kejar kaum gereja dan bangsawan. Namun, secara diam-diam ia ternyata dilindungi Raja.

Keterbelahan seperti ini juga dialami oleh pujangga besar Jawa, Ronggowarsita. Ronggowarsita yang bekerja sebagai pujangga Keraton Solo menciptakan teks sastra profan seperti Serat Wirid Hidayat Jati yang menjadi ekspresi kekecewaannya terhadap sistem pemerintahan keraton. Namun, ia juga melahirkan serat Kalatida yang memotret sekaligus mengkritisi kecenderungan penguasa melakukan penindasan sehingga rakyat berada dalam penderitaan. Masa derita yang disebutnya sebagai kalatida atau kalabendu.

Dalam sastra modern

Pada sastra Indonesia modern, kemenduaan yang melahirkan paradoks itu tetap saja terjadi meski telah bermetamorfosa dalam bentuk yang berbeda. Roman-roman Balai Pustaka (BP), misalnya, merepresentasi ambiguitas para pengarang pribumi dalam bersikap menghadapi pemerintahan kolonial. Pengarang-pengarang BP, selain sebagai individu yang bebas, juga ”terpaksa” mengikatkan diri terhadap ketentuan yang digariskan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda melalui BP.

Sikap pengarang itu tampak pada—antara lain—latar belakang atau posisi tokoh di berbagai karya sastra terbitan BP. Posisi yang secara moral sebenarnya justru membingungkan pembaca lokal, khususnya dalam menghadapi kolonialisme. Tokoh Samsul Bahri, misalnya, muncul sebagai hero meski ia prajurit Kompeni. Namun, di bagian lain, tokoh Datuk Maringgih yang melawan kekuasaan Hindia Belanda justru dikesankan menjadi tokoh antagonis.

Pada masa Jepang, paradoks itu terlihat ketika pemerintah militer Jepang melalui Sendebu (Departemen Propaganda) mendirikan komisi kebudayaan yang dikenal dengan nama Keimin Bunka Shidoso. Melalui lembaga ini, sastrawan-sastrawan muda seperti Chairul Saleh, Rivai Apin, dan Idrus bekerja untuk menulis, menyeleksi, dan menyebarluaskan bahan bacaan tertulis kepada rakyat, yang tentu saja steril dari kritik pada pemerintahan Jepang.

Masa Orde Baru

Pada awal rezim Orde Baru barulah sastra Indonesia berhasil membebaskan diri dari warisan kemenduaan ini, ketika kekuasaan tidak lagi memainkan peran sebagai patron atau pelindung sastra. Maka, pengarang dan karyanya pun mulai berani secara langsung beradu muka melawan kekuasaan. Kekuasaan Soeharto yang represif justru membawa teks sastra pada posisinya yang kohesif melakukan oposisi.

Teks-teks sastra bernada protes bermunculan yang kemudian berakibat pelarangan terhadap teks sastra atau pementasan sastra dan bahkan berimbas langsung pada penangkapan dan penahanan pengarangnya. Hero dan kepahlawanan tidak saja muncul dalam teks, tetapi juga muncul pada diri sang kreator yang berada pada titik ketegangan realitas.

Dalam relasinya dengan kekuasaan yang hegemonik itulah, sastra akhirnya tampil lewat sebuah pernyataan keras dengan menghadirkan satu realitas baru. Penyikapan yang tegas ini memiliki bentuk atau karakteristik yang berbeda, bergantung pada latar atau visi pengarangnya.

Namun, dengan menyajikan realitas—atau dalam makna lain narasi—alternatif ini, publik pembaca pun kemudian mengalami semacam perluasan horizon, dalam cara ia mengapresiasi atau menyikapi hidup sehari-hari. Di sini mungkin terdapat ironi kecil, Soeharto justru melahirkan sebuah ruang dan masa, di mana ketegasan sikap para pengarang dan sastra tercipta. Bahkan di bagian lain, membuka mata hati dan pikiran publik pada alternatif atau narasi lain di luar apa yang dipenetrasi oleh kekuasaan.

Entah, apakah sastra harus ”berterima kasih” pada otoriterianisme Orde Baru. Namun, setidaknya, liberalisasi yang terjadi seusai reformasi bisa jadi hanyalah lanjutan dari kekayaan teks dan narasi alternatif, khususnya dalam hubungan dengan kekuasaan Orde Baru. Zaman berikutlah yang akan menilai, seberapa arif dan kreatifnya sastra menyikapi situasi baru itu.

Tjahjono Widijanto Penyair dan esais, menetap di Ngawi, Jawa Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s