Mantra Skripta Para Penggila Buku

Judul Buku : Para Penggila Buku (Seratus Catatan di Balik Buku)
Penulis  : Diana AV Sasa & Muhidin M Dahlan
Penerbit  : I:Boekoe, Jogjakarta (2009)
Tebal   : 667 halaman, 24 cm
Harga   : Rp. 200.000
ISBN  : 978-979-1436-14-4

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh dikemudian hari.” Saya orang yang sering tertegun membaca pernyataan Pramoedya Ananta Toer ini. Ya, kekuatan tulisan-kedahsyatan kata-kata dimana ujaran lama berkata Scipta Manent verba Volant (yang tertulis akan tetap mengabdi, yang terucap akan berlalu bersama angin).

Kembali pada kuasa buku, kita Tanya saja dari manakah Eropa menjadi kuasa seperti sekarang? Muasal pencerahan Eropa setelah dark age (era kegelapan) yang melingkupinya, tak juga lagir dari pernyataan Immanuel Kant, “We heiss aufklarung?” tahun 1784 di Berlin.

Atau kegetiran hidup Galileo yang diinkuisisi dan dikafirkan oleh gereja dan Copernikus tak dengan sendirinya mendendangkan paradigma helio sentries yang dating dari langit atau bahkan Rene Descartes tak serta merta mencetuskan postulat cogito ergo sum tanpa musabab. Para penggagas pencerahan itu mesti berterimakasih pada rahib-rahib di biara ordo Santo Benediktus yang penuh dengan labirin perpustakaan.

Hampir seluruh hidupnya diabdikan untuk menyalin naskah-naskah kuno menjadi buku. Para rahib ini mentranskrip khazanah peradaban Islam, Persia, Yunani, serta belahan dunia lain, lantas menerjemahkan dalambahasa ibunya. Tugas utama mereka mencari naskah dan mentransfer ilmu ke tradisi Eropa. Mereka dengan semangat-semangat yang tak kunjung dirundung putus, mengembara ke Negeri Timur Jauh. Sambil berziarah, mengumpulkan naskah, menyalin dan menetbitkannya. Akhirnya warisan pengetahuan itu terselamatkan dengan rapi. Kelak transkrip naskah-yang telah menjadi buku- itulah yang ditelan oleh filosof dan ilmuwan Eropa masa pencerahan untuk menandai suatu era: Modernitas Eropa! (Scipta Manent! Mengabadikan Pengetahuan Lewat Buku, Balairung, 2001).

Kini dunia telah berubah sejak Guttenberg melatari fondasi khasanah tranliterasi dunia, manusia diajak merembesi huruf kemana-mana kesemua ideologi, ilmu pengetahuan, nasionalisme dan segala turunannya dibahasakan. Dengan buku penemuan dan kemajuan bias dirayakan atau meminjam bahasa Gus Muh sang penulis buku ini “diupacarai” dengan kata lain kebudayaan berkembang, kasus sosial-politik yang membuncah, ideologi dan religiusitas personal dibangun, dikembangkan, dibentuk diatas titisan-titisan huruf yang dikelola dicetak masal. Inilah sebuah usaha untuk mencegah lunturnya ingatan, manusia dulu mengabadikan dengan papyrus, rontal, prasasti, dan kini dengan buku pengetahuan tersimpan, disistematisasikan, diawetkan, dibaca dan akan melahirkan tanggapan…dan inilah kerja wacana, kerja membentuk peradaban apalagi kini di era digital semuanya terlihat lebih mudah dan indah!

Buku para penggila buku ini sepertinya diarahkan untuk “provokasi” bagi pembaca pemula mau memulai menggilai buku, membacanya dan yang telah jadi “kutubuku” lebih meningkatkan kemampuan dan kegilaannya baik sebagai penulis handal maupun kolektor. Banyak patahan tulisan didalamnya yang terus mendorong-dorong, merayu-rayu dan mengangkat adrenalin ke puncak tertinggi untuk bersama “mencintai buku”. Yang manarik ada pada sebuah kutipan yang mengatakan “bila anda ingin sekali membaca sebuah buku, tetapi belum ada yang menulisnya maka anda harus menulis” nah ini bukti rayuan dan bujukan itu! Lantas apakah benar aktifitas memebaca berkait erat dengan membaca?

Sebelumnya kita harus tahu bahwa Membaca adalah proses untuk memperoleh pengertian dari kombinasi beberapa huruf dan kata. Juel (1988) mengartikan bahwa membaca adalah proses untuk mengenal kata dan memadukan arti kata dalam kalimat dan struktur bacaan. Hasil akhir dari proses membaca adalah seseorang mampu membuat intisari dari bacaan. Membaca memang bagi kebanyakan dari kita intensitasnya terkalahkan oleh kebiasaan “mendengar” dan “melihat”, sebuah penelitian Stanford Research Institute pernah melakukan sebuah penelitian tentang effective communication dan menemukan bahwa ada empat keterampilan dengan masing-masing bobotnya, yaitu listening skill (50 %), expression skill (25 %, dengan komposisi 30:70 untuk verbal:body language), reading skill (15 %) dan wraiting skill (10 %). Reading skill menempati bobot 15 % tetapi menurut Sudhamex AWS bahwa membaca itu sesungguhnya kasus intrapersonal communication (solliloqui) dan bukan interpersonal communication, jadi dapat ditafsirkan bahwa peran membaca itu tidak hanya melalui melalui “reading skill” melainkan pula “listening skill” dalam hal ini karena mendengar disini adalah terhadap suara hati (inner voice) kita sendiri.

Itulah membaca, tapi manfaat apa sesungguhnya yang didapat dari bacaan? Sebuah studi mengatakan membaca membawa bekal manfaat yang tidak sedikit seperti menghilangkan kecemasan dan kegundahan, ketika sibuk membaca, seseorang terhalang masuk ke dalam kebodohan, kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang-orang malas dan tidak mau bekerja, dengan sering membaca, orang bisa mengembangakan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata, membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir, membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman, dengan membaca, orang mengambil manfaat dari pengalaman orang lain: kearifan orang bijaksana dan pemahaman para sarjana, dengan sering membaca, orang mengembangkan kemampuannya; baik untuk mendapat dan memproses ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan aplikasinya dalam hidup, membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pemikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia-sia, dengan sering membaca, orang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai tipe dan model kalimat; lebih lanjut lagi ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis “di antara baris demi baris” (memahami apa yang tersirat). (”Don’t be Sad”, DR. Aidh bin Abdullah al-Qarni, MA), tapi dengan itu lantas kita percaya begitu saja kalau belum ada yang mempraktekan?

Saya punya bukti, nukilan pengalaman beberapa orang (dalam negeri) yang sukses melewati fase hidupnya bersama buku. Menurut Jacob Oetama “membaca masih merupakan jalan dan sarana ekpresi diri berkomunikasi serta terus maju melalui pencerdasan dan percerahan”, Fuad Hassan, “betapa bahan bacaan yang kita cerna semasa anak atau remaja cukup membekaskan pengaruh pada perkembangan minat dan pendewasaan kita selanjutnya sebagai pribadi” dan “membaca merupakan fungsi yang sangat penting artinya bagi kemajuan tingkat peradaban manusia”, Aip Rosidi,  “tidak semua buku yang saya beli sempat saya baca, bahkan kebanyakan belum sempat saya baca. Tetapi dengan adanya buku tersebut dalam koleksi, maka jika suatu waktu memerlukan informasi mengenai hal yang diuaraikan dalam buku itu, saya tidak sukar mencarinya. Karena sejak muda saya memutuskan untuk hidup menjad pengarang maka buku merupakan keperluan yang harus selalu ada disamping saya”, Azyumardi Azra “buku merupakan salah satu sumber terpenting dalam pembentukan pandangan dunia (wordview), cara berpikir, karakter dan tingkah laku saya sehari-hari.

Buku bagi saya adalah teman setia, yang selalu mendampingi atau ikut bersama saya dirumah, dan diperjalanan”, Budi Darma “Bacaan yang baik adalah ketika selesai membaca tidak berarti selesai segalanya, tapi justru merupakan awal dari pengembaraan pikiran, perasaan, dan naluri pembaca. Karena itulah, berbagai bacaan yang baik yang mampu memukau saya, akan meninggalkan kesan yang sukar terlupakan. Pengembaraan yang ditawarkan oleh bacaan yang lain inilah yang kemudian menambah wawasan saya”, Franz Magnis-Suseno, “saya menyadari bahwa membaca itu betul-betul menjadi sorga bagi saya. Membaca itu tidak hanya memperluas cakrawala, melainkan juga merupakan pelepasan emosional dan membantu mengatasi kesulitan-kesulitan.

Membaca juga berarti membiarkan diri tertarik keluar dari penjara perhatian berlebih pada diri sendiri, melihat dunia, manusia, mengalami tantangan, terangsang dalam fantasi, bersemangat untuk melakukan sesuatu”. (Bukuku Kakiku, Kompas Gramedia).

Seratus catatan di buku ini pula yang hendak membuka selubung tabir tentang buku, dari semua pusparagam pandang walau beberapa tema tak tersuguhkan seperti bagaimana cerita resensor (peresensi), bagaimana tren perpustakaan digital yang sedang merebak, blog dan facebook dalam tradisi menulis kontemporer yang terkesan luput dari amatan. Memang, banyak cerita-buku sejenis yang telah tampil dijagad perbukuan dan bagi para penggila buku, inilah salah satu buku yang wajib dibaca. Buku yang tak gampang doyong inilah yang meramu semua rempah-rempah tentang buku dari mulai cerita tentang buku, kota buku, klub buku, penulis dan bagaimana menjadi penulis, ruang-ruang perpustakaan, yang merana, musuh-musuh buku dan masih banyak kisah menarik seputar buku. Hanya sayang buku yang mengadopsi mencetak semua kata yang mengandung kata “anda” dengan A besar seperti dilakukan The Secret ini dikeluhkan berharga lumayan mahal oleh beberapa penggila buku tapi selebihnya inilah buku yang membaca buku! Membaca itu wajib dan menulis adalah keharusan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s