Sakralitas Kota Dalam Novel dan Cerpen

Kota adalah sebuah state of mind. Sesuatu yang ada dalam pikiran kita. Ahli sosiologi urban Robert Ezra Park merumuskan sebagai ”sebuah wadah bagi adat istiadat, kebiasaan, serta perasaan-perasaan dan tingkah laku yang tak terorganisir”.

Periksalah sendiri pengalaman Anda. Yang mempertautkan Anda dengan kota Anda dan membuat Anda betah adalah perasaan sebagai bagian dari suatu komunitas. Dengan itu tercipta perasaan aman, tenteram.

Bahkan sejak zaman sebelum Masehi, kota tercipta dikarenakan kebutuhan akan perasaan aman tadi. Landasan organisasi paling efektif agar orang tidak cakar-cakaran adalah sistem kepercayaan. Kepercayaan itu bisa berupa apa saja, dari paganisme di zaman berkembangnya kota Alexandria, konfusianisme dan Buddha yang melatari lahirnya kota-kota kuna di Asia, dan seterusnya.

Sakralitas menjadi dasar lahirnya sebuah kota—termasuk metropolitan-metropolitan dunia sejak Mesopotamia pada sekitar tahun 3500 SM, disusul Harappan di India, Shang di China, sampai ke pembangunan Roma pada sekitar tahun 400 Masehi sebagai The City of God. Pusat dari kota-kota kuna yang kini banyak menjadi obyek wisata ziarah itu adalah tempat-tempat suci, seperti kuil, masjid, dan katedral.

Ah, tidak usah jauh-jauh. Terbentuknya komunitas kecil-kecil di desa sering dalam sejarahnya dikarenakan terdapatnya tempat yang disakralkan oleh komunitas tersebut. Makam leluhur di sebuah puncak bukit, misalnya, adalah hal ihwal dari munculnya desa bersangkutan. Di Jawa Tengah, daerah dan kota-kota yang berada di jalur antara Semarang-Solo, banyak yang namanya terkait dengan sejarah perjalanan tokoh spiritual yang tak asing bagi warga setempat, Ke Ageng Pandanaran. Cerita semacam itu pasti terdapat di mana-mana.

Hakikat kota yang tadinya sebagai pusat pemujaan atas kesakralan, terutama di Eropa, mulai bergeser sejak lahirnya zaman industri. London adalah contoh bagaimana kota sejak awal dirancang sebagai bagian dari ”robotisasi” manusia, yang tunduk pada mekanisme industrial seperti dilukiskan oleh Charles Dickens dalam Hard Times. Dari situ, mulai banyak kota, metropolitan-metropolitan dunia, mengalienasikan masyarakatnya.

Sampai kemudian muncul studi-studi menggugat pembangunan metropolitan yang terlalu industrialistik. Sudah sering kita dengar bagaimana para arsitek, ahli tata urban, pengembang bicara dengan meyakinkan soal perlunya ruang hijau perkotaan, pelestarian situs-situs bersejarah, serta lingkungan yang lebih manusiawi.

Hanya saja, memang jarang praktik pembangunan kota sampai menyentuh ke visi moral untuk mempertautkan seluruh masyarakatnya. Studi-studi kontemporer termasuk post-modernisme umumnya lebih menekankan pada isu-isu yang bertalian dengan rupa, bentuk, dan perhatian berlebih pada kehidupan individual daripada komunalitas.

Kota lebih banyak dinalar secara teknis, sampai ada istilah ”serahkan pada ahlinya”. Seolah-olah, urusan membangun kota seperti urusan membetulkan ledeng bocor: cari tukang, serahkan pada ahlinya.

Situs kota-kota kuna yang sekarang menjadi peziarahan turis umumnya merosot dan hancur seiring hancurnya sebuah peradaban. Merosot dan hancurnya peradaban tidak bisa diselamatkan hanya oleh tukang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s