Buku Jelajah Musi Merupakan Sebuah Dokumentasi Sungai Musi yang Lengkap

Sekitar sebulan lalu sejumlah teman melalui situs jejaring sosial Facebook Jelajah Musi dan pesan singkat telepon seluler menanyakan rencana penerbitan buku Jelajah Musi 2010. Mereka mengaku ingin segera memiliki buku itu karena tidak sempat mengkliping tulisan dan berita laporan perjalanan jurnalistik Kompas tentang Sungai Musi yang diterbitkan Kompas selama 6-17 Maret 2010 secara lengkap.

”Laporan jurnalistik Kompas dalam Jelajah Musi 2010 memberikan gambaran yang cukup lengkap tentang peran strategis Sungai Musi itu. Adanya buku Jelajah Musi memudahkan masyarakat mengetahui kondisi dan peran Sungai Musi tersebut, sebab penyajian dalam buku biasanya selalu terstruktur. Senang sekali buku Jelajah Musi segera diluncurkan,” kata Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun yang mengaku mengklipingkan laporan Jelajah Musi 2010 di Kompas dalam satu bundelan khusus.

Ekspedisi Kompas dengan nama Jelajah Musi 2010 sungguh menarik. Sebelum memulai perjalanan resmi pada 8-15 Maret 2010 dari Tanjungraya, Kecamatan Pendopo Lintang, Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, tim Kompas terlebih dahulu menjelajahi kawasan hulu Sungai Musi di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu.

Tujuannya agar laporan yang disajikan Kompas dalam Jelajah Musi lebih lengkap mulai dari hulu hingga hilir. Pembaca dapat memahami lebih lengkap kondisi Sungai Musi saat ini.

Hasil peliputan telah menggambarkan betapa pesona dan eksotika Sungai Musi masih tinggi meski sudah terancam oleh daya dukung lingkungan yang cenderung merosot. ”Sungai Musi tidak hanya penting di masa lalu, tetapi jauh lebih penting lagi perannya di masa depan. Sulit dibayangkan pula Sumatera dan Indonesia tanpa Sungai Musi, atau Sungai Musi tanpa Indonesia. Sungai Musi tidak hanya penting bagi Sumatera Selatan, tapi juga penting bagi Indonesia, bahkan dunia,” ujar Pemimpin Redaksi Kompas Rikard Bagun dalam kata pengantar buku Jelajah Musi.

Buku Jelajah Musi akan diluncurkan pada Rabu (28/4) pukul 09.00 WIB di Aryaduta Convention Center Palembang. Buku setebal 400 halaman ini dilengkapi sambutan Gubernur Sumsel Alex Noerdin.

Alex Noerdin menyatakan, Sungai Musi dengan delapan anak sungainya, atau dikenal dengan istilah Batanghari Sembilan, merupakan anugerah Tuhan yang telah lama menjadi urat nadi dan sumber kehidupan masyarakat Sumsel. Hingga saat ini sungai yang panjang keseluruhannya sekitar 720 kilometer itu tetap memiliki peran besar dalam pergerakan penduduk, perdagangan, dan pengiriman barang kebutuhan pokok, meskipun tidak sebesar pada masa lalu.

”Saya berterima kasih kepada seluruh jajaran Kompas, khususnya tim Jelajah Musi 2010, yang telah menunjukkan kepeduliannya dalam menjelajahi dan memotret Sungai Musi sebagai mosaik kekayaan alam Indonesia. Apa yang telah dilakukan ini sungguh dapat menjadi referensi, sekaligus telah menyadarkan kita semua, betapa kompleks masalah yang menyertai keberadaan Sungai Musi kini. Ini tentu jadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan pemerintah (pusat dan daerah), serta berbagai komponen masyarakat lainnya,” kata Alex Noerdin.

Buku ini akan dipasarkan sejak Rabu (28/4) dengan harga Rp 89.000 per eksemplar. (Jannes Eudes Wawa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s