Jelajah Musi Menjadi Buku Acuan Riset

Buku Jelajah Musi dapat dijadikan acuan pertama untuk penelitian lebih mendalam mengenai Sumatera Selatan. Buku tersebut disusun dengan bahasa yang sederhana dan ringkas sehingga dapat dipahami oleh semua kalangan.

Demikian kesimpulan dalam diskusi peluncuran buku Jelajah Musi di arena pameran Kompas Gramedia Fair di Aryaduta Convention Centre, Palembang, Rabu (28/4).

Diskusi dipandu moderator pakar lingkungan dari Universitas Sriwijaya (Unsri), Momon Sodik Imanudin, dengan pembicara Gubernur Sumsel Alex Noerdin, pakar ekonomi Unsri Didiek Susetyo, dan pakar lingkungan Unsri Fachrurrozi Syarkowie.

Menurut Didiek, buku Jelajah Musi adalah sebuah inspirasi bagi peminat ilmu antropologi dan sosiologi. Tulisan-tulisan dalam buku itu dapat dijadikan pijakan awal untuk melakukan riset yang mendalam. Buku Jelajah Musi juga merupakan dokumentasi lengkap tentang wilayah Sumsel.

Didiek mengatakan, buku Jelajah Musi mengungkapkan kondisi perekonomian masyarakat Sumsel yang tinggal di sepanjang Sungai Musi. Ternyata kondisi perekonomian masyarakat di sepanjang Sungai Musi yang bermata pencarian petani belum banyak mengalami kemajuan. Sebagai jalan keluarnya, masyarakat kemudian berlomba menanam tanaman yang lebih menguntungkan.

”Penduduk di hulu Sungai Musi bermata pencarian petani. Sekarang mereka terjebak menanam sawit yang katanya lebih mudah dijual,” kata Didiek.

Akibatnya, tanaman seperti kopi yang sebelumnya merupakan komoditas andalan kawasan hulu Sungai Musi menghilang dan tergeser oleh sawit.

”Masalah yang dihadapi masyarakat di sepanjang aliran Sungai Musi adalah degradasi lingkungan. Kehidupan masyarakat di aliran Sungai Musi akan semakin sulit ketika degradasi lingkungan terjadi,” ujar Didiek.

Membelakangi sungai

Fachrurrozi Syarkowie menuturkan, kondisi lingkungan di sepanjang Sungai Musi masih serabutan. Hal itu ditandai dengan rumah-rumah penduduk yang membelakangi Sungai Musi.

Menurut Fachrurrozi, penduduk harus dibiasakan agar membangun rumah menghadap Sungai Musi, bukan membelakangi Sungai Musi.

”Rumah penduduk yang menghadap sungai menyebabkan sungai menjadi bersih, sebaliknya rumah yang membelakangi sungai menyebabkan sungai jadi kotor,” ujarnya.

Fachrurrozi mengungkapkan, buku Jelajah Musi telah membangun optimisme masyarakat Sumsel karena menampilkan sumber daya alam yang melimpah. Masyarakat Sumsel di sepanjang Sungai Musi juga digambarkan hidup rukun.

Gubernur Sumsel Alex Noerdin sependapat bahwa Sungai Musi harus dijaga dengan mengubah perilaku masyarakat di sekitar Sungai Musi. Selain itu, industri di sekitar Sungai Musi juga harus menjaga kondisi sungai. Selama ini industri masih membuang limbah ke Sungai Musi. Wilayah tangkapan air juga penting untuk dijaga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s