Mempersiapkan Fisik dan Mental Untuk Merebutkan Kursi Perguruan Tinggi Negeri

Kursi di perguruan tinggi negeri bak lampu yang dikerubuti laron pada musim hujan. Perlu strategi cerdas untuk bisa duduk di atasnya. Salah satunya adalah ikut bimbingan belajar. Meski demikian, pilihlah lembaga yang membuka potensi dan minat.

Persaingan untuk kuliah di perguruan tinggi negeri memang bukan main ketatnya. Pada 2009, peserta Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) berjumlah 25.378 orang. Adapun kursi yang disediakan di empat PTN di Bandung hanya 7.695 kursi. Memang jumlah peserta menyusut dari tahun sebelumnya yang mencapai 28.000 orang.

Namun, tahun 2010 ini, diperkirakan jumlah peserta meningkat sekitar 10 persen. Ketua Panitia Lokal SNMPTN 2010 Bandung Husein Bahti menduga, jumlah peserta SNMPTN tahun ini bakal mencapai 27.000 orang dengan perincian jurusan IPA sekitar 10.000 orang, IPS 9.400 orang, dan campuran keduanya (IPC) 7.600 orang.

Kuota yang diperebutkan di empat PTN di Bandung hanya 7.215 kursi. Universitas Padjadjaran menyediakan 3.100 kursi, Universitas Pendidikan Indonesia 2.345 kursi, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati 640 kursi, dan Istitut Teknologi Bandung 1.130 kursi.

Dengan persaingan sedemikian rupa, calon mahasiswa harus memutar otak untuk memasang strategi supaya bisa menembus saringan rapat SNMPTN 2010. Hendi Firman Utama (17), warga Cibeunying, Kota Bandung, mengaku harus belajar hingga lima jam sehari.

Ia juga akan mengasah otaknya lewat bimbingan belajar (bimbel) secara intensif. “Kata senior saya, di bimbel akan dilatih kemampuan menyelesaikan soal karena memang banyak latihan yang diberikan. Sebelum bimbel, ya, saya belajar dulu di rumah. Sekitar tiga jamlah belajar di rumah,” kata Hendi yang bercita-cita kuliah di Jurusan Teknik Mesin ITB ini. Mulai awal Mei, ia akan mengikuti kelas intensif setiap hari di sebuah lembaga bimbel dengan tarif sekitar Rp 1 juta. Mitos

Latihan soal, terutama soal-soal ujian penerimaan mahasiswa dari tahun-tahun sebelumnya, seolah menjadi daya tarik lembaga bimbel. Tidak hanya itu, strategi memecahkan rumus juga menjadi incaran calon mahasiswa. Namun, strategi rumus itu bisa menjebak anak didik untuk terlalu pragmatis.

“Strategi memecahkan soal saja tidak akan menjadikan siswa lebih cerdas saat kuliah,” kata Dan Satriana, Ketua Lembaga Advokasi Pendidikan. Idealnya, lembaga bimbel juga mampu membuka minat dan bakat siswa. Bila siswa berhasil menemukan minat dan bakatnya, niscaya, ia tidak akan kesulitan mengikuti ujian saringan apa pun.

Dan mengaku curiga, beberapa lembaga bimbel yang ada saat ini dengan cerdik memanfaatkan ketidakpercayaan orangtua dan siswa bahwa materi yang disampaikan di sekolah tidak cukup mengantarkan ke jenjang universitas bergengsi. Padahal, menurut dia, belum ada data statistik yang menyatakan bahwa siswa yang mengikuti bimbel lebih banyak lolos ke PTN daripada yang tidak ikut bimbel.

Bagi Dan, anggapan bahwa PTN lebih baik daripada perguruan tinggi swasta adalah mitos yang harus dipecahkan. Menurut dia, saat ini persaingan kualitas terjadi antarfakultas, bukan lagi antarkampus, apalagi antara swasta dan negeri. Selain itu, biaya kuliah juga sudah relatif seimbang. Pendampingan

“Untuk lebih menjamin keberhasilan siswa, termasuk berhasil lolos saringan masuk PTN, diperlukan pendampingan orangtua. Bimbel yang ada sekarang lebih banyak memanfaatkan keterbatasan waktu orangtua dalam mendampingi anak dan keterbatasan orangtua dalam pemahaman pendidikan anak yang sesuai bakat dan minat,” papar Dan.

Supriyadi, Direktur Bimbingan Belajar Villa Merah, mengaku menerapkan pendekatan psikologis dalam mengasah minat anak. Melalui serangkaian uji coba soal-soal ujian masuk PTN dari tahun sebelumnya, akan diketahui kemampuan dasar anak. “Kami juga punya psikolog untuk membaca minat anak. Selain melalui soal ujian tahun sebelumnya, kami mengadakan tes potensi akademik siswa,” kata Supriyadi.

Untuk program intensif menjelang SNMPTN ini, Supriyadi mengatakan 80 persen kegiatannya adalah mengerjakan soal. “Sisanya adalah membahas pemecahan soal tersebut menggunakan metode mind mapping, yaitu penjabaran logika suatu permasalahan. Dengan metode ini, siswa akan lebih lama mengingat cara memecahkan suatu masalah karena mereka memahami konsep pemecahannya, bukan cuma strategi singkat penggunaan rumus,” ujarnya.

Villa Merah mengklaim sebagai peletak konsep bimbingan belajar pertama di Indonesia. Maklum, lembaga ini sudah berdiri sejak 1968. Saat ini tak kurang dari 30 pengajar, yang semuanya berasal dari PTN, bergabung. “Kami kan hendak membantu siswa masuk PTN. Jadi, pengajarnya juga harus alumnus PTN,” kata Deputi Akademik Villa Merah Dendi Herdiwan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s