Mencari Sekolah Yang Memiliki Budaya Lingkungan

Lima tahun lalu Madrasah Tsanawiyah Purwakarta bukan apa-apa. Seperti beberapa sekolah lain, guru menghadapi masalah kesiswaan, seperti bolos, corat-coret dinding, atau tawuran, belum lagi soal kebersihan dan kesehatan lingkungan. Namun, sejak dirintis sebagai sekolah sehat dan berbudaya lingkungan, beberapa masalah itu teratasi.

Madrasah Tsanawiyah (MTs) Purwakarta bahkan menyabet gelar juara sekolah berbudaya lingkungan (SBL) se-Jawa Barat tahun 2007. Setidaknya, sebulan sekali sekolah ini menjadi obyek kunjungan studi banding siswa atau guru dari luar kota. Setahun sekali sekolah menggelar pameran produk siswa dan mengundang siswa-siswa sekolah dasar di Purwakarta sebagai bentuk promosi.

Tim aksi SBL MTs Purwakarta, yang terdiri atas empat guru, juga membina siswa dan guru di beberapa sekolah di Purwakarta untuk merintis aksi serupa. Mereka menebar “virus” cinta lingkungan. Salah satu yang sedang berjalan adalah kemitraan dengan SMP Negeri 2 Purwakarta.

MTs Purwakarta merintis SBL melalui peningkatan usaha kesehatan sekolah (UKS) awal tahun 2005. Tim aksi memulai dengan kampanye tentang pentingnya kebersihan dan kesehatan di sekolah. Caranya antara lain dengan menyediakan tempat sampah organik dan nonorganik secara terpisah, memanfaatkan ruang dan lahan untuk menanam tanaman hias atau tanaman obat, mengolah sampah, dan meningkatkan keterlibatan siswa dalam berbagai kegiatan itu.

Menurut salah satu perintis, Adang Shadik Ismail, usaha itu mengantar MTs Purwakarta menjuarai lomba Sekolah Sehat di lingkungan Departemen Agama tahun 2006. Kemenangan itu mendorong pegiat dan pengelola sekolah merintis SBL. Beragam usaha dasar tersebut dilanjutkan, antara lain dengan mengolah tanaman obat menjadi obat herbal dan jamu (bahan kering siap seduh, kapsul, dan serbuk), mengolah sampah organik menjadi pupuk, dan mengolah sampah nonorganik menjadi kerajinan tangan. Ekstrakurikuler Ruang dan lahan di MTs Purwakarta penuh dengan tanaman. Di depan kelas, di lahan kosong antarunit, di halaman, hingga sisa tanah di belakang kantor atau kelas tumbuh beraneka tanaman. Menurut Adang, ada sekitar 2.000 tanaman hias dan obat di MTs Purwakarta dengan 250 jenis tanaman. Banyak di antaranya tanaman obat yang menyuplai bahan baku produk herbal MTs Purwakarta.

Beberapa tanaman yang jumlahnya banyak, antara lain pegagan/antana, temu lawak, kunyit putih, jahe merah, brotowali, sadaguri, dan mahkota dewa. Semua dikelola siswa dengan bimbingan tim aksi SBL.

Selain Adang sebagai koordinator, tim aksi SBL MTs Purwakarta beranggotakan Miftahudin yang menangani produksi obat/jamu, Uned yang menangani produksi pupuk organik, dan Taty Sujiati yang menangani tata tanaman. Keempat guru ini menjadi pembimbing kegiatan ekstrakurikuler pencinta alam dan kegiatan lain terkait SBL.

“Ekstrakurikuler pencinta alam di sekolah ini tidak pergi keluar ruang dengan berkemah, naik gunung, atau menjelajah alam, tetapi dengan kegiatan prolingkungan. Satu pekan sekali mereka membuat kompos, menanam dan merawat tanaman obat, serta mengolahnya menjadi jamu, kapsul, atau serbuk herbal,” kata Uned.

Beberapa produk dipasarkan di koperasi sekolah dan didistribusikan melalui siswa atau orangtuanya, ajang pameran, serta guru yang membuka kios di luar sekolah. Hasil penjualan dikumpulkan dan dimanfaatkan untuk mengembangkan program SBL dan mendukung kegiatan siswa. Sejak 2007 MTs Purwakarta mencatat penghasilan setidaknya Rp 250 juta dari penjualan produk herbal. Terus-menerus

Tidak mudah menularkan virus cinta lingkungan secara terus-menerus ke siswa. Setiap tahun ajaran baru, tim aksi harus gencar mengampanyekan gerakan prolingkungan ke siswa baru.”Itu tidak mudah dan butuh tenaga besar untuk menjaga motivasi siswa,” ujar Adang.

Dengan teladan dari guru dan siswa senior, budaya prolingkungan dikampanyekan setiap hari. Papan pengingat dan media berisi beraneka imbauan dipasang di tempat-tempat strategis. Siswa dilibatkan sebesar-besarnya dalam usaha mengolah tanaman obat dan memasarkannya. Virus cinta lingkungan juga disisipkan dalam beberapa mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan alam, akhlak, akidah, dan hadis.

Menurut Taty, usaha itu membuat siswa bangga. Apalagi, kegiatan itu telah mengantarkan sekolah menjuarai berbagai lomba dan meraih penghargaan. “Siswa menjadi bangga bersekolah di sini. Minat siswa baru semakin besar, dan tentu siswa semakin nyaman belajar,” ujarnya.

Perlahan namun pasti, siswa yang membolos sekolah berkurang. Jika dulu sejumlah siswa nekat menjebol pagar agar mudah meninggalkan jam pelajaran, kini hal itu tak terjadi lagi. Dinding pun relatif bersih dari corat-coret. Sampah terpisah antara organik dan nonorganik.

Jika lima tahun lalu menerima limpahan siswa baru dari sekolah lain, beberapa tahun ini MTs Purwakarta justru kebanjiran peminat dan terpaksa mencoret sejumlah calon siswa. Menurut Kepala MTs Purwakarta Jarirudin, beragam keuntungan itu muncul akibat penerapan sekolah berbudaya lingkungan alias SBL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s