Menumbuhkan Jiwa Kreatif Dan Peduli Terhadap Lingkungan

Kritik tajam yang sulit dijawab dunia akademik formal ialah dalamnya jurang pemisah antara pendidikan teoretis dan praktik di lapangan. Inteligensi anak lebih sering tidak termanfaatkan ketika bersinggungan dengan lingkungan sekitar. Di tengah situasi ini, sistem pendidikan yang berupaya menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan hadir melalui sekolah alam dan sekolah berwawasan lingkungan.

Sekolah alam hadir dengan konsep memberi ruang gerak yang leluasa bagi siswa untuk berinteraksi dengan alam sekitar, memadukan pembelajaran teori di kelas dengan petualangan dan eksplorasi. Hal itu seperti yang tersaji di Sekolah Alam Bandung di Jalan Cikalapa II Nomor 4, Tanggulan, Dago Pojok.

Pagi itu anak-anak TK asyik mengamati pertumbuhan tanaman kacang hijau. Sebagian lain melihat bentuk tubuh lebah dengan kaca pembesar. Sementara di kelas lain, anak-anak SD belajar menjadi “arsitek” dengan membuat perahu mainan dari kertas.

Area yang cukup luas, hampir 5.000 meter persegi, dilengkapi kolam pemancingan, lapangan bola, kebun, taman, dan perpustakaan dijadikan media bagi anak-anak untuk mendekatkan diri ke obyek yang dipelajari. Hal tersebut merupakan hal yang sulit terlihat dalam suasana belajar-mengajar di institusi pendidikan formal.

Sekolah yang terletak di kawasan Curug Dago itu terasa begitu asri dengan rerimbunan pohon, dilatarbelakangi panorama alam Curug Dago. Sekolah ini didirikan Lendo Novo (46), mantan aktivis mahasiswa yang sempat dibui tujuh bulan pada era Orde Baru karena dianggap melawan pemerintah. Ia berkeyakinan, pendidikan semestinya menghargai dan menerima keunikan setiap anak kendati anak itu hiperaktif, bahkan nakal sekali-pun. Menghargai keunikan

Nyatanya, sekolah formal tidak mampu memfasilitasi anak-anak semacam itu. Lendo yakin, dengan membuat anak betah belajar, kepekaan dan inteligensinya pelan-pelan akan terasah.

“Sekolah alam menawarkan era sistem belajar yang diubah. Cara pandang yang dibentuk pendidik yakni setiap anak adalah unik. Kami tetap menerapkan kurikulum Kementerian Pendidikan, tetapi itu dipadukan dengan sistem pembelajaran model sekolah alam,” ujar alumnus Institut Teknologi Bandung tersebut.

Sekolah alam lebih menekankan pembekalan karakter, kecakapan hidup, dan persahabatan dengan alam. Dengan mendekatkan diri kepada alam, otak kiri anak akan lebih terasah dan peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Dalam istilah Lendo, “fun learning”.

Gagasan berdirinya sekolah alam adalah antitesis terhadap pendidikan formal yang dinilai mematikan daya kritis dan kreativitas generasi bangsa. Hal ini diakui Widowati (29), salah satu orangtua murid di Sekolah Alam Bandung.

Dia berpendapat, sejak duduk di bangku TK hingga perguruan tinggi, siswa dididik untuk tidak boleh kritis dan kreatif. Anak yang kritis lebih sering dianggap nakal atau membuat onar.

Padahal, mereka mungkin hanya ingin menyatakan sesuatu. Widowati juga setuju konsep alam sebagai laboratoriun belajar terbaik. “Di alam tersedia alat peraga, obyek penelitian, dan sarana pengembangan kepribadian yang lengkap. Jangan lupa, kisah penemuan hukum gravitasi oleh Newton juga ketika dia duduk di bawah pohon apel, sementara hukum gaya angkat air oleh Archimides juga ditemukan ketika dia mandi dan menekan-nekan gayungnya,” ujar lulusan Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, Semarang, yang sekarang bekerja sebagai peneliti di sebuah lembaga swadaya masyarakat tersebut. Berwawasan lingkungan

Boleh jadi, pendekatan ini yang mendorong sejumlah institusi pendidikan formal mendeklarasikan diri sebagai sekolah berwawasan lingkungan. SMP Negeri 7 Bandung adalah salah satu di antaranya. Awal 2000 sekolah tersebut tampak kumuh dan semrawut. Namun, sejak 2005 memasuki sekolah ini seperti masuk ke hutan mungil.

Beragam tumbuhan, dari jenis bunga seperti anggrek, hingga tanaman obat dan keluarga (toga), seperti sambiloto, tumbuh subur di taman-taman yang menyejukkan suasana. Wakil Kepala Sekolah SMPN 7 Bandung Bidang Humas Jajang Hernawan menuturkan, konsep pendekatan pendidikan berbasis lingkungan ini terbukti mendorong prestasi siswa. “Belajar di lingkungan yang adem pastinya membuat pelajaran cepat masuk. Prestasi siswa pun meningkat,” tutur Jajang.

Tidak hanya murid, staf pengajar, guru, hingga pedagang di kantin juga diwajibkan menjaga kebersihan lingkungan. Bahkan, pendidikan lingkungan juga dimasukkan dalam kurikulum sekolah.

Pendidikan berbasis lingkungan juga meningkatkan kreativitas siswa. Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Bandung yang dikenal sebagai “green school” Teddy Hidayat mengatakan, alam adalah sumber inspirasi yang tidak pernah habis. Dalam pelajaran Lingkungan Hidup yang disampaikan dua jam seminggu, siswa dibebaskan membat kerajinan tangan dengan memanfaatkan barang-barang bekas.

Boleh jadi, filosofi pendidikan kita masih diukur dengan angka di atas kertas. Namun, keseimbangan antara teori dan praktik sebaiknya tetap diutamakan. Sekolah alam dan sekolah berwawasan lingkungan memberi alternatif pendidikan dasar yang diharapkan mencetak manusia humanis dan lebih sadar lingkungan.

One response to “Menumbuhkan Jiwa Kreatif Dan Peduli Terhadap Lingkungan

  1. tulisan ini dan yang lainnya begitu menarik thks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s