Menyiapkan Masa Depan Dengan Belajar Di Australia

Beberapa waktu lalu, sejumlah televisi di Indonesia menyiarkan perjalanan seorang artis ke Australia. Tentu saja sang artis pergi ke Australia bukan untuk belajar, tetapi sekadar jalan-jalan, menenangkan hati yang sedang dilanda badai rumah tangga.

Begitulah, Australia sering kali hanya dipandang sebagai tempat untuk jalan-jalan, wisata, atau sekadar belanja. Padahal, di negeri seluas lebih dari 7,6 juta kilometer persegi itu, terdapat lebih dari 10.000 siswa-siswi Indonesia yang sedang menempuh ilmu di sana. Siswa-siswi Indonesia itu tersebar di delapan negara bagian Australia. Ya, mereka sedang menyiapkan masa depan.

Australia yang juga dikenal sebagai Negara Persemakmuran Australia (Commonwealth of Australia) merupakan sebuah negara di belahan bumi selatan yang juga menjadi nama benua terkecil di dunia. Wilayah Australia mencakup Benua Australia dan beberapa pulau di sekitarnya, terserak di Samudra Hindia Selatan dan Samudra Pasifik.

Negara tetangga Australia di sebelah utara adalah Papua Niugini, Timor Leste, dan Indonesia. Di sebelah timur laut bertetangga dengan Pulau Solomon, Vanuatu, dan di sebelah tenggara bertetangga dengan Selandia Baru. Di bagian barat, Australia tidak memiliki tetangga karena menghadap laut lepas.

Banyak hal menarik bisa ditelusuri dari Benua Australia. Selama lebih dari 40.000 tahun, benua yang bagian tengahnya kering itu telah didiami penduduk asli. Namun, Inggris kemudian mengakui bagian timur Australia tahun 1770, dan dijadikan koloni bagi para terhukum pada 26 Januari 1788. Sepanjang abad ke-19, satu per satu koloni tumbuh, jumlah penduduk pun bertambah. Mereka umumnya tinggal terpusat di kota-kota sepanjang garis pantai, seperti Sydney, Melbourne, Brisbane, Adelaide, dan Perth. Secara resmi, nama Australia—sebagai nama benua—digunakan oleh Inggris pada tahun 1824 meski sepuluh tahun sebelumnya nama itu sudah dimunculkan Matthew Flinders dalam buku A Voyage to Terra Australis.

Kini Australia sudah berkembang menjadi negara dalam satu benua. Di dalam Benua Australia itu ada delapan negara bagian, terdiri dari state (negara bagian) dan territory (wilayah khusus). Kedelapan negara bagian dan wilayah khusus itu adalah New South Wales (NSW) dengan kota Sydney; Queensland (QLD) dengan kota Brisbanne; Australia Selatan (South Australia/SA) dengan kota Adelaide; Tasmania (TAS) dengan kota Hobart; Victoria (VIC) dengan kota Melbourne; Australia Barat (Western Australia/WA) dengan kota Perth; Australia Utara (Northern Territory (NT) dengan kota Darwin; dan Australian Capital Territory (ACT) dengan kota pemerintahan Canberra, sekaligus sebagai ibu kota Australia.

Tujuan pendidikan

Dalam perkembangannya, Australia kini tidak hanya menjadi tempat wisata untuk mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi salah satu tujuan pendidikan, terutama bagi putra-putri Indonesia.

”Saya sengaja memilih Monash University untuk anak saya. Dan itu sudah saya siapkan lama,” ujar Chandra, saat mengantar putrinya yang akan kembali ke Melbourne untuk melanjutkan kuliah setelah berlibur beberapa bulan di Jakarta.

”Haruskah pendidikan itu dilakukan di luar negeri?” tanya Kompas.

”Saya ingin agar anak saya bisa menjadi manusia yang berwawasan luas, menjadi manusia internasional. Dengan belajar di luar negeri, mau tidak mau anak saya akan bergaul dengan banyak orang dari berbagai bangsa dengan latar belakang budaya yang beragam pula. Kebetulan, anak saya mengambil Hubungan Internasional,” jawab Chandra.

”Tidak takut dan kasihan mengirim putri jauh dari keluarga,” lanjut Kompas.

”Apa yang harus ditakuti? Justru di Melbourne situasi dan kondisinya lebih aman. Apa yang ditakuti? Aman kok. Soal kasihan? Ya, awalnya berat juga berpisah. Tetapi, lama-lama saya dan istri menyadari, meski berat, jalan ini harus ditempuh,” lanjut Chandra.

Tak lama kemudian, putri Chandra berpamitan. Sang ibu memeluknya erat-erat, seolah tak ingin melepas anaknya pergi. Aneka pesan pun dibisikkan dan air mata pun berlelehan. ”Sudahlah, jangan dihambat perjalanan anak kita. Biarkan dia menyiapkan masa depannya,” hibur Chandra kepada istrinya.

Suasana mengharukan itu hampir selalu muncul di Bandar Udara Soekarno-Hatta pada pertengahan hingga akhir Februari. Di saat itulah banyak putra-putri Indonesia yang setelah pulang berlibur harus kembali ke Australia untuk meneruskan pendidikannya.

Perlu pertimbangan

Sebelum mengirim putra-putrinya belajar ke luar negeri, banyak orangtua harus membuat pertimbangan sekaligus perhitungan yang matang. Berbagai pertimbangan itu, antara lain situasi kota, kebudayaan, biaya, jarak, dan program keterampilan atau strata-1 yang akan diambil. Situasi di kota (besar) yang sering terasa ”terlalu” sibuk dibanding situasi kota (kecil) yang tenang tentu memberi pengaruh amat besar bagi mahasiswa dalam membangun suasana belajar. Belum lagi masalah budaya. Adakah kebudayaan yang tumbuh di kota tujuan cocok dengan kebudayaan yang dimiliki calon mahasiswa?

Masalah lain yang tidak kalah penting adalah biaya. Masalah biaya perlu diperhitungkan matang, perlu mendapat tekanan dan perhatian lebih, mengingat banyak mahasiswa Indonesia terpaksa ”pulang kampung” sebelum studi selesai. Contoh paling nyata adalah banyaknya mahasiswa Indonesia terpaksa ”pulang kampung” sebelum studi usai saat krisis ekonomi menerpa negeri ini tahun 1998. Perhitungan yang meleset mengakibatkan para mahasiswa harus merelakan cita-citanya kandas di tengah jalan.

Pemalu

Berbagai pertimbangan inilah yang sering diutarakan oleh para konsultan saat mereka menggelar pemeran pendidikan luar negeri di Jakarta dan berbagai tempat.

”Memang, Australia sampai sekarang masih menjadi salah satu tujuan pendidikan bagi siswa-siswi dari Indonesia,” tambah Gianti Atmodjo, pengelola jasa konsultasi pendidikan Aspectama.

Selain berbagai pertimbangan itu, para pengelola jasa konsultasi pendidikan biasanya juga memberikan penjelasan terkait program studi dan jenjang pendidikan yang akan ditempuh. Apakah calon akan mengambil program keterampilan seperti politeknik yang di Australia dikenal sebagai Technical and Further Education (TAFE) atau mengambil program sarjana (S-1) atau program pascasarjana guna meraih gelar graduate certificate, graduate diploma, master (Mba), atau doctorate (misalnya PhD).

Kini diperkirakan ada 10.000-12.000 putra-putri Indonesia yang sedang menempuh ilmu di Negeri Kanguru itu. Mereka akan bercampur baur dengan para mahasiswa lain dari seluruh penjuru dunia, seperti Asia, Afrika, Amerika, Eropa, dan kawasan Pasifik. Melihat besarnya minat orang untuk belajar ke Australia membuat pemerintah setempat mengembangkan dunia pendidikan.

Bila ditanya, mengapa Australia masih menjadi salah satu pilihan utama untuk belajar bagi putra-putri Indonesia? Kini di Australia ada 40 universitas dan berbagai lembaga pendidikan akademis atau pelatihan profesional yang sudah teruji dan terakreditasi secara internasional. Para calon mahasiswa dapat mengikuti pendidikan akademis atau pelatihan profesional dalam ratusan bidang studi yang terus berkembang seiring perkembangan zaman.

Selain itu, universitas di Australia juga memiliki program yang mendukung proses belajar berkesinambungan dengan menawarkan aneka kursus atau pelatihan singkat. Hal ini dimaksudkan agar para profesional bisa memperbarui dan menyesuaikan keahliannya dengan perkembangan zaman.

Dan yang paling penting bagi seluruh mahasiswa adalah tuntutan untuk berperan aktif dalam semua proses belajar mengajar. Pelajar dan mahasiswa dari Indonesia dikenal pemalu bila harus tampil dalam diskusi-diskusi terkait pelajaran. Penyebabnya, selain kendala bahasa, orang Indonesia tidak terbiasa melakukan diskusi atau debat. Takut dinilai tidak sopan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s