Dua Sekolah Dasar SD Disegel Karena Sengketa Lahan

Hingga Senin (10/5) kemarin dua sekolah dasar di Kelurahan Lasoani, Palu, Sulawesi Tengah, masih disegel pemilik tanah. Penyegelan sejak Minggu malam itu merupakan dampak dari berlarut-larutnya penyelesaian sengketa lahan terkait pembangunan gedung sekolah di lokasi itu.

Kini ratusan siswa di dua sekolah tersebut tidak bisa belajar. Padahal, saat ini masa persiapan menghadapi ujian semester.

Kedua sekolah yang disegel itu adalah SD Inpres I Lasoani dan SD Inpres II Lasoani. Keduanya berada dalam satu kompleks seluas 4.000 meter persegi. Di dalam kompleks yang sama juga terdapat taman kanak-kanak (TK) yang ikut disegel.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, penyegelan dilakukan oleh Alfian dan keluarganya, warga yang mengklaim sebagai ahli waris lahan itu dari Musa Baka. Pintu-pintu ruang kelas yang semuanya berjumlah 12 buah dipalang dengan papan dan balok yang terpaku. Halaman sekolah ditanami batang pisang.

Untuk memperkuat penempatan lahan, pada jam pelajaran Alfian dan keluarganya duduk- duduk di halaman sekolah tersebut. Kemarin siswa dan orangtua murid yang datang umumnya hanya bisa terheran-heran dan tak bisa berbuat apa pun.

”Kami berharap pemilik tanah dan pihak dinas pendidikan bisa segera menemukan jalan damai agar segel dibuka, setidaknya hingga masa ulangan semester awal ini selesai,” ujar M Awal (35), orangtua murid kelas II SD Inpres I Lasoani.

Menyesalkan

Ketua Komite SD Inpres I Lasoani Imran Sahalia menyesalkan berlarut-larutnya penyelesaian sengketa tanah tersebut. ”Proses penyelesaian ini tidak pernah jelas sehingga menyebabkan aksi warga yang sudah berulang-ulang. Ini sangat mengganggu proses belajar, apalagi sekarang sudah persiapan ulangan,” ujarnya.

Amran Muis, Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas, Kecamatan Palu Timur, Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kota Palu, meminta pihak penyegel membuka segel. ”Setidaknya segel dibuka dulu supaya anak-anak tetap bisa belajar sampai selesai ulangan,” katanya.

Alfian dan Musa Baka yang mengklaim sebagai pemilik lahan menyatakan hanya akan memenuhi imbauan itu jika ada jaminan, setelah ulangan selesai status tanah diperjelas. ”Kami sudah lama mengurus ke berbagai instansi untuk memperjelas statusnya, tetapi sampai kini tak ada kejelasan,” ujar Alfian.

Sengketa tanah ini mulai mencuat tahun 2009. Saat itu Musa Baka meminta kejelasan atas status lahan yang di atasnya telah dibangun dua bangunan SD dan satu TK. Menurut Musa Baka, pada tahun 1970 tanahnya dipinjam pemerintah untuk dibangun sekolah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s