Orang Rimba Besudut Mengenyam Pendidikan

Tidak mudah bagi orang rimba menimba ilmu di sekolah umum. Jarak dari rumah yang sangat jauh membuat orang rimba kesulitan bersekolah setiap hari. Sekolah terbuka pun menjadi alternatif.

Besudut adalah bukti keberhasilan orang rimba di bidang pendidikan. Remaja rimba yang telah tiga tahun mengenyam SMP terbuka ini akhirnya lulus dengan nilai Bahasa Indonesia 6.80, Bahasa Inggris 5,60, Matematika 6,50, dan IPA 6,25. Ia jadi anak rimba pertama yang menamatkan pendidikan SMP.

Perjuangan untuk lulus sekolah tidaklah mudah. Sebagai anak orang rimba yang tinggal di Bernai Makekal Tengah Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Jambi, ia harus menempuh jarak 10 kilometer untuk mencapai sekolahnya di SMP Negeri 14 Tebo di SP B Bangun Serenten Muara Tabir, Kabupaten Tebo, Jambi. Perjalanan dari rumahnya di tengah hutan sangat jauh, memakan waktu sekitar tiga jam. Kadang ia menggunakan sepeda motor, kadang berjalan kaki.

Besudut mengenal pendidikan sejak ikut sekolah alternatif yang digagas Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi di kawasan Makekal TNBD tahun 1999. Bersama anak rimba lainnya, Besudut juga diperkenalkan baca, tulis, hitung pada kelompok orang rimba dari Kelompok Bepak Bepiun di bawah kepemimpinan Tumenggung Ngukir. Dari sekolah alternatif, muncul keinginannya untuk bersekolah lebih tinggi.

Besudut kemudian keluar dari taman nasional dan diangkat anak oleh Orang Desa di Rantau Panjang, Merangin. Dari sini, dia disekolahkan di SD Negeri Rantau Panjang hingga tamat. Ia kemudian melanjutkan sekolah lebih tinggi di SMP negeri di kota Bangko, tapi hal itu belum tercapai karena ia harus kembali ke kelompoknya di TNBD.

Awal 2009, Besudut bertemu dengan fasilitator pendidikan KKI Warsi yang mengajar alternatif untuk anak rimba di Makekal Tengah. Ia pun mengutarakan niatnya melanjutkan sekolah dengan syarat bisa tetap tinggal bersama keluarganya.

Warsi kemudian menjembatani Besudut untuk mendaftar di SMP 14 Tebo. ”Besudut ingin sekolah, tetapi juga ingin tetap bisa tinggal di kelompoknya. Maka, kami carikan sekolah yang terdekat dengan tempat tinggalnya, yaitu SMP 14. Besudut diterima pada program SMP terbuka di sekolah itu,” kata Abdul Rahman, fasilitator pendidikan KKI Warsi.

Dengan program SMP terbuka, Besudut hanya sekali dalam seminggu ke sekolah. ”Awak masih ado waktu bantu orang tuo motong para (menyadap karet), biso jugo bantu untuk kebutuhan sekolah awak,” ujarnya.

Selama sekolah, Besudut harus berangkat dari rumah satu hari sebelumnya. Ia terlebih dahulu menginap di Pasar SP A Desa Jernih atau sekitar 20 menit dari sekolah. Jika beruntung bertemu dengan orang yang dikenalnya, Besudut akan ditawari tumpangan tidur di rumah penduduk atau di kedai. Jika tidak, Besudut akan tidur di los Pasar SP A. Keesokan harinya, ia akan membersihkan diri di fasilitas umum yang ada di pasar itu dan berganti pakaian dengan seragam sekolah.

”Sekolah akan mendorong anak-anak suku Anak Dalam lainnya untuk bisa bersekolah,” kata Immardi, Wakil Kepala Sekolah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s