Bahasa Indonesia Yang Tiba Tiba Menjadi Bahasan

Setiap muncul persoalan, orang Indonesia memiliki kebiasaan unik; mencari kambing hitam. Dalam persoalan apa pun, rasanya tidak akan marem bila kambing hitamnya belum dimunculkan. Tak mengherankan bila akhirnya bisnis paling prospektif di negeri ini adalah blantik kambing. Sayang, orang Indonesia memang termasuk “kapitalis tanggung”, maka peluang untuk mendirikan perusahaan outsourcing penyedia kambing hitam sampai sekarang belum dibangun. It’s only a joke.

Dalam persoalan ujian nasional (UN), hobi mencari kambing hitam pun mulai terlihat bermunculan. Beberapa pihak mulai menuding guru bahasa sebagai pihak yang perlu dikambinghitamkan. Guru bahasa dianggap tidak seandal Mama Laurent dalam memprediksi soal. Beberapa pihak juga menuding guru terlalu menyepelekan karena bidang bahasa selama ini dianggap sebagai pelajaran mudah. Bahkan, seorang profesor ilmu bahasa, dalam beberapa media massa, mulai ikut-ikutan mengatakan ada yang salah dalam teknik pengajaran ilmu bahasa di sekolah.

Mana yang benar, mana yang salah, entahlah. Terlalu riskan untuk mencari kebenaran di negeri ini. Satu-satunya cara mencari kebenaran yang paling populer hanya dititikberatkan pada azas kebersamaan; asal temannya banyak, pasti itu yang benar. Maka dapat dipastikan, pengambilan keputusan melalui voting begitu populer di negeri ini. Tak peduli, apakah yang divoting sama-sama benar atau tidak. Inilah negeri dagelan. Banyak profesor hebat tinggal, tetapi tidak pernah lahir pemikiran empiris untuk menentukan sebuah kebenaran ilmiah.

Ya. Pada setiap kegagalan, memang wajar-wajar saja kalau “sang arsitek” dipersalahkan. Kegagalan sebuah tim sepak bola yang dipersalahkan pasti pelatihnya. Kegagalan sebuah konstruksi bangunan yang dipersalahkan pasti arsiteknya. Begitu pula kegagalan sebuah lembaga, yang dipersalahkan pasti pimpinannya. Secara pertanggungjawaban, guru memang layak dituding karena mereka memang bertanggung jawab penuh pada proses belajar mengajar di sekolah.

Namun, dalam kasus ini, apakah benar guru bahasa memang berada dalam posisi bersalah? Gedung roboh belum tentu salah arsitek, bisa jadi ada pekerja nakal yang mengurangi jumlah rangka besi dalam bangunan. Begitu pula dalam kasus kekalahan tim sepak bola, belum tentu pelatihnya salah meramu formasi, bisa jadi ada pemain yang “main mata” dengan tim lawan. Namun, dalam konteks pertanggungjawaban, guru bahasa memang harus menjadi pihak yang harus bertanggung jawab. Namun, dalam konteks penyalahan, guru bahasa tidak bisa serta-merta dipersalahkan.

Perlu disadari oleh banyak pihak, setiap orang yang bersalah memang harus bertanggung jawab, tetapi tidak semua orang yang bertanggung jawab itu pasti bersalah. Guru hanya “ketiban apes” dari sebuah sistem pendidikan yang tidak dirancang tidak komprehensif integral. Guru hanya pihak yang harus bertanggung jawab, tetapi bukan pihak yang bersalah.

Bila kita bersedia berpikir lebih jernih, ada permasalahan akut dalam sistem pendidikan yang dibangun dengan kebijakan tidak komprehensif integral. Di manakah letak permasalahan tersebut? Perhatikan saja dalam sistem pengajaran dan sistem evaluasinya. Sistem pengajaran yang seharusnya satu paket dengan sistem evaluasi ternyata diatur oleh kebijakan yang tidak sinkron. Di satu sisi, proses pengajaran yang dijabarkan melalui kurikulum mengamanatkan pengajaran yang berorientasi pada keahlian penerapan keilmuan pada siswa (lebih bersifat praktik). Di sisi lain, proses evaluasi yang dijabarkan pada UN justru menitikberatkan pada aspek kognitif (lebih bersifat teoritis).

Masalah ketidaksinkronan ini telah berjalan lama. Bahkan, sudah sejak lama pula banyak orang mengatakan, gesekan besar antara dua kebijakan tersebut hanya tinggal menunggu waktu. Alhasil, waktu-waktu inilah yang ditunggu itu. Gesekan telah terjadi, dan yang tergencet adalah kaum guru. Guru menjalankan kurikulum dengan baik, tetapi karena sistem evaluasinya tidak berjalan sinkron, hasil pengajaran guru menjadi sia-sia. Naasnya, sistem evaluasilah yang menjadi algojo bagi penentu kelulusan.

Lalu bagaimana sebenarnya capaian dalam pengajaran bahasa? Bila disesuaikan amanat kurikulum, harusnya pengajaran bahasa dianggap sukses apabila siswa sudah dapat memanfaatkan ilmu bahasa secara baik. Siswa pandai cas-cis-cus pakai bahasa Inggris, itu sudah sukses. Atau siswa berkali-kali menerbitkan buku karya sastra, itu pun sudah bisa dikatakan sukses. Dan lihat saja pada anak-anak sekarang, kalau dalam bahasa banyolan, mimpi pun mereka sudah pakai bahasa Inggris. Lantas di mana letak kegagalan seorang guru?

Dengan demikian, permasalahannya sebenarnya justru terletak pada masalah ketidaksinkronan antara sistem pengajaran dan sistem evaluasi. Untuk menyinkronkan tidak perlulah sampai dibentuk “Pansus” segala. Keduanya sama-sama bisa diubah supaya menjadi sinkron. Yang perlu menjadi patokan hanyalah azas kemanfaatan. Bila kurikulum diubah lebih bermanfaat, ubah sajalah kurikulumnya. Sebaliknya, bila sistem evaluasi diubah lebih membawa manfaat, ubah sajalah sistem evaluasinya.

Untuk menentukan langkah strategis seperti ini, tentu saja saya menyarankan pada para pemangku kebijakan dan para profesor bidang pendidikan untuk duduk bersama merembuk persoalan ini. Siapa lagi yang bisa menyelesaikan persoalan bila bukan pemangku kebijakan dan para profesor pendidikan. Namun, jangan sampai ada profesor bilang, untuk menyinkronkan sistem pengajaran dan sistem evaluasi sangat sulit. Sulit bukan berarti tidak bisa dilakukan. Dan bukankah seorang profesor digaji tinggi memang untuk berpikir yang sulit-sulit? Yah, barangkali benar, kita perlu banyak-banyak merenung, sebab mencari kambing hitam jauh lebih mudah daripada menguraikan persoalan. ZAINAL ARIFIN Pemerhati Pendidikan Dosen IKIP PGRI Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s