Tubuh dan Dunia yang Salah Kedaden

Adalah hal yang sudah lazim jika orang mengatakan bahwa menyaksikan seni saat ini adalah menyaksikan kisah perihal individu yang bersusah payah merebut dirinya sendiri. Yakni individu yang telah jadi korban dari kekuatan besar yang nyaris tak teridentifikasi, tetapi implikasinya dapat dirasakan secara nyata. Individu yang menjadi medan sengketa dari berbagai kekuatan impersonal yang seolah berpusar di ceruk-ceruk gelap dan nyaris tak ada titik balik.

Daya-daya impersonal itu pun hadir di hadapan individu sebagai serpihan atau fragmen-fragmen yang bertumpuk atau berserakan ke sana kemari sehingga nyaris tak teridentifikasi sehingga kian mustahil menyusun subyek dalam bentuk yang utuh dan final pula. Plus sisa ilusi kuno: modernitas yang semula diyakini sebagai proyek penemuan manusia sebagai subyek yang utuh dan otonom, tetapi kemudian justru menghancurkan dasar-dasar terbentuknya subyek itu sendiri. Maka sang subyek pun berdiri goyah (ogal-agil) di atas dunia fragmentatif yang penuh paradoks dan antagonisme yang nyaris tak terselesaikan.

Dan karena mustahil merangkum situasi semacam itu dalam representasi tunggal, seni cenderung memasuki pusaran dimensi-dimensi yang bertolak belakang atau saling sejajar di garis tegangan antara yang utuh dan terpecah pada momen dan sekuen tertentu dengan pola yang kadang tak dapat ditentukan. Dalam seni tari dan teater, kita melihat panggung sebagai medan untuk mewujudkan sejenis ungkapan tak beraturan dari daya-daya yang memungkinkan indera dan tubuh mampu mengenali kehadirannya dalam konteks ruang dan waktu tertentu. Gerak menjadi sejenis pantulan segala yang tak terurai, tetapi memiliki wujud yang dapat dicerap tubuh dalam konteks tertentu tersebut.

Salah satu perhelatan tari yang kontinu menampilkan karya para koreografer kontemporer Indonesia dan luar negeri adalah Indonesian Dance Festival (IDF). Dalam IDF ke-9 tahun 2008 lalu, sekali lagi kita mendapati karya-karya yang menggambarkan implikasi subyek yang goyah tersebut, terutama pada karya-karya koreografer dari luar Indonesia seperti Megumi Kamimura, Yukio Suzuki, Natsuko Tezuka (Jepang), Rachael Lincoln dan Leslie Seiter (AS), dan kelompok MK (Italia).

Di situ kita menyaksikan runyamnya hubungan antarindividu, individu dengan dunia yang terfragmentasi dan individu dengan dirinya sendiri. Tubuh telanjur terkapling-kapling oleh kota, kerja, mesin, dan benda-benda serta tertimbun oleh realitas buatan dan seduksi budaya konsumer. Itulah dunia kita hari ini. Dunia yang sudah jadi meski dalam proses men-jadi itu dari sono-nya sudah salah. Di situ banyak konsekuensi yang fatal. Segalanya telanjur runyam dan berantakan. Itulah dunia yang salah kedaden.

Tetapi rupanya sang individu tak juga menyerah oleh gempuran dunia semacam itu. Ia tetap bersikeras menemukan keutuhan dirinya meski hanya sekejap. Maka muncul koreografi yang berisi peristiwa atau potongan peristiwa yang berpusar menuju suatu kesatuan tertentu untuk kemudian segera buyar lalu membentuk kesatuan-kesatuan baru untuk kembali cair dan menguap. Begitu seterusnya.

Pada suatu saat sang tubuh berusaha berinteraksi dan bermain-main dengan apa saja yang berada di sekitarnya dan pada saat yang lain mencoba mencari pertolongan pada imajinasi dan memori secukupnya. Pada saat lain muncul narasi atau potongan narasi, kemudian vibrasi dan gerak spontan yang muncul dari kesan-kesan serta bayangan abstrak. Proses ”menyatu lalu buyar” semacam itu banyak kita jumpai pada karya-karya koreografer asing. Beberapa koreografer bahkan justru mempersoalkan hubungan antara tubuh dan gerak itu sendiri.

Sedangkan koreografer Indonesia rupanya lebih suka mengamalkan tubuh dan gerak sebagai wahana representasi tentang dunia yang salah kedaden itu. Jika koreografer asing banyak yang mempersoalkan individu yang goyah dan rapuh, koreografer Indonesia banyak yang memperlakukan tubuh dan gerak sebagai alat untuk menampilkan pergumulan individu versus dunia salah kedaden, atau upaya untuk menjelaskan gagasan mengenai dunia tersebut dengan cara menghadap-hadapkan tradisionalitas dan modernitas.

Ada pula yang mempersoalkan batas-batas tari sebagai wahana representasi, yakni koreografi yang berjudul Pichet and Myself karya kolaborasi Jerome Bel (Perancis) dan Pichet Kluchun (Thailand). Karya ini berwujud kegiatan omong-omong dua orang tersebut di atas panggung. Peluasan ”bobot kehadiran” tari yang semula bertumpu pada tubuh dan gerak menjadi kegiatan wawancara itu bagi saya cukup radikal karena justru menghantam dasar-dasar tempat berpijaknya seni tari itu sendiri.

Itulah gambaran tentang segala yang sudah salah kedaden. Maka diperlukan semacam re-format lalu install ulang. Tetapi harus dimulai dari mana? Dan bagaimana pula proses install ulang itu berlangsung? Bulan Juni 2010 ini IDF ke-10 akan hadir kembali dengan 20 peserta dari Indonesia maupun luar negeri. Kita tak tahu apakah para koreografer itu akan menampilkan semacam cara-cara untuk melakukan install ulang, atau kembali menyodorkan bukti tambahan perihal sulitnya merebut personalitas dalam jebakan dunia semacam itu.

Tetapi barangkali kita akan menyaksikan lanjutan dari proses pergumulan menemukan keutuhan subyek (untuk kemudian buyar) seperti pada IDF tahun 2008 lalu. Bagaimanapun proses itu hingga hari ini juga masih berlangsung pada seni kontemporer secara umum. Dengan mempersoalkan dirinya sendiri, seni juga sedang mempersoalkan sang subyek itu sendiri.

Tema IDF ke-10 kali ini adalah ”Powering the Future”. Mungkin imajinasi tentang masa depan itu dapat membantu kita untuk membayangkan titik cahaya di depan sana guna menggirang-girangkan hati bahwa individu tak lenyap oleh gempuran daya-daya impersonal dari dunia salah kedaden.

Wicaksono Adi Pengamat Seni, Tinggal di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s