Cinta Yang Dibalas Dengan Prestasi

Mereka tidak digaji. Cinta menjadi komitmen bersama. Dari tangan mereka lahir prestasi yang mendunia.

Kamu lihat ada bendera merah di tengah sana? Nah dari titik ini sampai bendera merah, kamu lari sprint ya. Setelah itu kamu lari lambat sampai bendera yang itu tuh. Dari situ kamu sprint lagi sampai titik ini. Mengerti? Ya, mulai.”

Itu adalah aba-aba Suwanda, pelatih sekaligus Manajer Olahraga Special Olympics Indonesia (SOIna), kepada Anggraini Labora dan Amos Berry, atlet andalan Indonesia yang telah meraih medali di sejumlah ajang kompetisi internasional untuk cabang lari jarak pendek dan menengah.

Tanpa bicara, mereka langsung menjalankan instruksi pelatihnya. Berlari cepat, kemudian berlari lambat, berlari cepat lagi, berputar-putar mengitari lapangan bola di kompleks olahraga, Rawamangun, Jakarta Timur. ”Mereka tidak akan berhenti berlari bila tidak diperintahkan berhenti,” kata Suwanda sambil terus berteriak mengulang instruksinya.

Instruksi seperti itu tidak bisa hanya sekali dua kali diberikan. Tapi harus terus-menerus, sepanjang latihan. Penyampaiannya pun tidak bisa dengan bahasa rumit, tapi harus dengan kalimat pendek, kadang dengan bahasa isyarat atau bahasa tubuh.

Bagi para atlet yang mengalami keterbelakangan intelektual, proses untuk sampai pada sebuah ”prestasi”, sangatlah panjang. Para pelatih memulainya dari latihan dasar (low ability) seperti berjalan, berlari, dan lompat. ”Setelah penguasaan low ability, baru bisa meningkat ke high ability, gerakan yang lebih kompleks. Seberapa panjang waktu yang dibutuhkan tergantung kemampuan masing-masing,” kata Slamet Sukriadi, pelatih atletik.

Setelah melewati proses tadi, barulah anak-anak itu diarahkan untuk menguasai cabang olahraga tertentu. Di SOIna ada tujuh cabang yang dibina, yaitu atletik, sepak bola, bulu tangkis, renang, tenis meja, bola basket, dan bocce. Untuk bisa mengikuti ajang kompetisi, para calon atlet yang minimal berusia delapan tahun itu harus mampu berlatih delapan minggu berturut-turut.

Namun, penguasaan motorik bukanlah yang terpenting. Bagi para pelatih, hal yang lebih sulit adalah menangani emosi anak didik. Mereka bisa menjadi anak penurut, tapi kadang bila sang pelatih tidak peka terhadap kondisi mereka—seperti rasa lelah, bosan, kesal—mereka bisa ”meledak”, seperti menangis dengan menjerit-jerit, bahkan berguling-guling.

”Ibaratnya gelombang radio, kita biasa bicara dengan gelombang FM, sementara anak tunagrahita bicara dengan gelombang AM. Supaya nyambung, gelombangnya harus disamakan,” kata Mustara (45), Kepala Pelatih Special Olympic Indonesia.

Meskipun telah cukup banyak makan asam-garam dalam melatih anak-anak tunagrahita, Mustara harus terus kreatif dalam menemukan formula penanganan yang tepat. Misalnya saja, ketika ia menghadapi anak yang mood-nya sedang buruk. Sepanjang hari anak itu terus menangis dan tak ada yang bisa mendiamkannya.

Mustara yang sudah kehabisan akal akhirnya menirukan perilaku anak itu. Ketika anak itu berteriak-teriak, Mustara ikutan berteriak. Ketika berguling-guling di tanah, ia juga ikut berguling-guling. ”Pada saat saya berguling-guling itulah, anak itu berhenti menangis dan duduk memerhatikan saya. Lalu dia membujuk saya supaya tidak menangis, ha-ha-ha,” katanya.

Kesabaran

Kesabaran adalah kunci dan itu bisa diasah dengan mencoba memosisikan diri sejajar dengan atlet. Bagi pelatih atlet ”normal”, menyaksikan anak didik mereka berdiri di garis start, urusannya tinggal menunggu hasil, apakah dia menang atau kalah. Tapi bagi pelatih atlet tunagrahita, urusannya masih panjang.

Sangat mungkin terjadi di garis start, ketika pistol dibunyikan sang atlet ”mogok” berlari. Alasannya bisa sangat sederhana, seperti kebelet pipis, ingin dengar suara mamanya, terdistraksi pakaian lawan, dan lain-lain.

”Ketika kejuaraan di Shanghai, misalnya. Sebelum pertandingan saya menghampiri Yuli (atlet lari) dan mengatakan, ’Yuli nanti saya duduk di situ. Kamu liat saya ya sebelum lari.’ Nah, ketika pistol dibunyikan, Yuli menengok ke arah saya dan saya pun berdiri menirukan gaya orang berlari sambil berteriak, Yuli lari! Lari! Dia pun berlari dan menang,” kata Suwanda.

Persiapan yang panjang juga dibutuhkan sebelum laga dimulai, seperti mengenalkan lapangan, mengenalkan alat peraga yang mungkin berbeda dengan yang mereka kenal di tempat latihan. Para pelatih juga harus tahu gerak tubuh anak didik, kapan seseorang ingin pipis, kapan ingin buang air besar. Mereka juga harus mempersiapkan perlengkapan dari A-Z, mulai dari kaus seragam, sepatu, kaus kaki, nomor, pin, dan tetek bengek lainnya.

”Pendek kata, menang atau kalahnya seorang atlet tunagrahita sepenuhnya menjadi tanggung jawab pelatih,” kata Suwanda.

Pubertas

Kesulitan ”nonteknis” yang dialami pelatih kerap terjadi ketika para atlet telah memasuki masa pubertas. Kedekatan dengan pelatih tak jarang menyebabkan sang anak yang sudah remaja itu ”jatuh cinta” dan tak ingin lepas dari pelatih bersangkutan. ”Di titik ini, pelatih harus segera diganti,” kata Mustara.

Anak-anak tunagrahita yang sudah mulai dewasa dan bisa mandiri itu juga ingin mencicipi kebebasan, seperti jalan-jalan ke mal, menonton bioskop, berpacaran. Namun, karena mereka belum mengerti batasan norma, tidak jarang para anak itu kesulitan mengendalikan diri.

Oki (15), misalnya, pagi itu sedang berlari mengelilingi lapangan, tiba-tiba saja ia berbelok keluar jalur dan menghampiri sekumpulan remaja putri yang duduk di pinggir lapangan. Oki lalu duduk merapat ke beberapa remaja tersebut sambil tersenyum menggoda. Ia mengacuhkan teriakan para pelatih dan teman-temannya untuk kembali ke lintasan berlari.

Persoalan nonteknis lainnya adalah orangtua. Di satu sisi, banyak orangtua yang tidak memberi perhatian cukup pada anaknya, seperti menemani sang anak berlatih, minimal seminggu sekali. Sebaliknya, ada pula orangtua yang terlalu memaksakan kehendak di luar batas kemampuan anak, misalnya dalam memilih cabang olahraga untuk anak. ”Kadang penglihatan pelatih tentang potensi anak berbeda dengan keinginan orangtua,” ujar Triningsih, pelatih bocce.

Mustara, Suwanda, dan rekan-rekannya pagi itu sudah berada di lapangan sejak pukul 06.00. Menyambut Pekan Olahraga Nasional 27-30 Juni mendatang, porsi latihan ditambah menjadi enam hari dalam seminggu. Para pelatih yang sudah mengabdi bertahun bahkan puluhan tahun itu tidak digaji. Bahkan tak sedikit dari mereka harus mengeluarkan uang dari koceknya sekadar untuk mentraktir anak-anak makan di warung bakmi di belakang stadion seusai latihan.

”Tapi semua rasa letih itu hilang, ketika saya menginjakkan kaki di lapangan lalu mereka menyambut saya sambil berlari dengan wajah penuh tawa dan berteriak …kakak… kakak,” kata Suwandi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s