Kumpulan Puisi Iyut Fitra dan Mugya Santosa

Anak Panah Hujan

Mugya S Santosa

tanah telah lama mengandungmu

dan kini hujan membangunkannya.

hijau tubuh pulau-pulau

menyusut dalam kepungan seluruh angin

yang menyentuhkan jemari basahnya.

memanggilkan ruh batu-batu

segenap duri yang dikandung

tumbuhan, mencuri luka

mencecap nyeri

dari kita.

hunian langit

sekokoh mawar menatap ngilu

kabut seperti daun pandan yang

menabur wanginya saat meneteskan embun.

riuh sungai-sungai menggetarkan ngarai.

abu menegur dingin

di tungku perapian,

memastikan tanggal

dan hari yang tepat untuk mencium

mautnya.

dari lanskap hujan

gedung-gedung berteriak

jalan raya menggigil

melajulah musim

menjadi putaran planet

bagi semesta kecil

di ubun-ubun perih.

bergetarlah tubuhmu

sampai kutemukan apa yang dicari

kayu-kayu, ladang dan hutan jati

menjadilah, sejadi darah yang ungu

pada urat nadi.

merubuhkan hujan

pada got-got dan selokan

yang mengalirkan masa lalu.

menjeritlah, selagi masih terbaca

huruf-huruf yang api pahatkan

pada arang.

selagi asap-asap membentuk

busur dan anak panah

siap menancapkan

dosa pada cengkeram tangan kita.

2010

Mugya S Santosa

geruslah aku yang berdiam

menguratkan kesepian.

mencair dari sulur-sulur

riak yang tak pernah

lungsai.

pengembara yang singgah

di relung-relung maut, sementara

ikan-ikan menebus dosanya

padaku,

mengecupkan bibirnya

yang selembut lumut.

lekuk jalan sepanjang tepian

merambati pori-pori hitam

sekusam kulit damar.

angin menari-nari dalam pusaran

menggeletak aku dalam arus.

berjejalan menjejaki duri.

selama api belum bisa

meleburku, aku tak pernah

ingin beranjak pergi.

2010

Iyut Fitra

hanya mobil satu-satu. padang ilalang kuning

pohon pandan dan kayuputih memperkenalkan bayang. entah kenapa

aku sampai di rumahmu. hampir malam

daging biri-biri dan sepotong goreng labu. kita pun bersulang

“selamat datang di hutan dan ceruk kecil kami!” segelas anggur merah

dan potret perburuan mengantar pada balik-lembar cerita

paginya teratai kembang. kulihat waktu dan angin berselisihan

sekejap berpeluk sebelum mengucap selamat jalan

kausempat membawaku ke pantai. jauh di utara dan tepat sebelah

barat kota darwin. harney si penyair pencinta laut

sepulangnya kutuliskan sesuatu di pelepah bakau dan sebongkah

batu karang. “dengan apa jarak dihitung setelah ini?”

hanya mobil satu-satu. padang ilalang kuning

matahari rendah kadang meninggi. begitu pula aku harus pamit

pada hari pagi

Mei 2010

Iyut Fitra

hampir magrib aku sampai di kotamu

sebelumnya kulihat hutan sudah menepi, sisa asap dan petak-petak rapi

kubayangkan seekor burung kepanasan dan yang lain terbang

dengan sayap terbakar. seolah bau dedaun dan ranting tinggal cerita

kawanan yang tak punya rumah. arah sungsang kehilangan sarang

ke mana rimbun itu dibawa?

seperti biasa, malamnya kita duduk di batanghari

jagung bakar dan segelas air tebu. kata-kataku mati, puisi di sini hanya barisan

mayat-mayat tak berarti, katamu seolah ingin membuang semuanya

di seberang, penduduk asal mungkin airmatanya lebih. mungkin perih

mengalir ke sungai ini

dan juga bertanya, ke mana rimbun itu dibawa?

Jambi, 2010

Iyut Fitra lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat. Kumpulan puisinya adalah Musim Retak (2006) dan Dongeng-dongeng Tua (2009).

Mugya S Santosa lahir 3 Mei 1987 dan tinggal di Cianjur, Jawa Barat. Ia pernah belajar pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Surya Kencana, di kota kelahirannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s