Puisi : Kampung dalam Akuarium

Zelfeni Wimra

ke pemancingan mana lagi kautumpahkan rindu

melumutkan kecemasan pada lendir umpan

dan mata kail yang lapar

agar ikan-ikan mau kaubujuk bercerai dengan lubuk

dan pulang ke kampung penggorengan

pelengkap hidangan di meja makan

kau tahu, sejauh-jauh pergi menyisir bibir sungai,

hanya untuk mencari air keruh,

ikan-ikan pilihan tak akan memakan umpan dalam kejernihan

kau tinggalkan hulu yang hening-bening

muasal segala arus terus menghanyutkan

anak-anak pantau dengan sejarah hambar

entah arah mana akan dituju

sebut saja, kampung berair jernih berikan jinak;

berair keruh berikan liar;

berair tawar berikan banyak

alamat kepulangan yang pahit

aku beritahu, andaikata usahamu sia-sia, pulanglah.

aku dan ikan-ikan yang kauburu

setelah penggusuran itu

kini tinggal di kampung baru

mendekam di kamar air empat persegi

pada sebuah ruang tamu tidak berhulu-bermuara

hanya gelembung-gelembung dihembus tenaga listrik

juga kincir-kincir plastik

batu-batu buatan dan lukisan karang di balik kaca

terasa seperti menyelam-melintas di antara

tanjung dan teluk kampung pesisir yang tenang

meski tidak ada kapal-kapal berbenah

bagi pelayaran para pelaut

apalagi jejaring pukat ikan karang

bertandanglah, oi pemancing

bukankah sungai-sungai yang menghilir

dari hunjaman kaki-kaki hujan

sudah tidak mampu menafsirkan kehendak air matamu

dan kerinduan tidak selamanya mesti dipuaskan

dengan tancapan mata kail di rahang ikan yang rakus

aku bayangkan kau datang

sebelum insangku sempurna jadi karang

menyematkan mata kail

di setiap saku baju para tamu

2010

Zelfeni Wimra

pada sebatang tubuh yang tidak lagi muda

ia kini berkurung, menujum bunga, meninggam buah

mengurut cemburu ke sekeliling

ke batang lain, beragam buah bergelantungan

riwayat bunga putik dan burung

burung yang gemar mematuki madu di benang sari

telah lama berlalu

bunga putik berubah bentuknya

dari kelopak yang merekah

kini meranum sebagai buah yang sempurna

meski sebagian bergelimpangan

menghitam, tak mampu mengubah diri

dulu kelopak yang gemilang

kini lendir sekarat, meradang di pangkal batang.

seseorang, belakangan sering datang, duduk mengenang

menimbang setiap cabang:

”ini kebun sungguh rindang

tangan siapa yang dingin dan suka menanam batang-batang;

tubuh-tubuh indah dan riang? buahnya, aduhai, rindu yang matang.”

”mereka menanam tubuh mereka sendiri,” ingin ia jawab begitu

tapi undur ketika melepas pandang ke sekujur batang yang berliang:

dari bengkalai badan yang sunsang

entah apa kelak akan dipetik orang?

ia idamkam sebatang lain dalam waktu yang baru

tumbuh memayungi pagar halaman,

pintu kamar seorang pencinta

telah lama menanti kepulangan kekasihnya

membawa jinjingan, buah tangan perantauan

tapi apa yang meletup

berdentang tak henti di balik kedua buah dadanya

telah kekal sebagai cikal bunyi

seperti tonjolan talempong yang dipukul tak beraturan

mengundang orang berdendang tari selendang

sebelum sampai ke gendongan, merasakan geliat

dan rengek, juga jemari kecil yang lunak

buah hati tak lebih dari dongengan para nabi dalam kitab suci

melewati pagi dengan segelas pergunjingan

mengaduk buah bibir dengan buah pikiran

meski pada akhirnya jadi buah angan saja

seorang yang belakangan sering datang memegang cabang

sementara tubuhnya terus meliuk ditunda angin

musim yang tentu akan selalu berganti

2010

Gunawan Maryanto

Wong lanang lara atine ————————–

Seorang lelaki yang sakit hati

Melaku ning tengahing wengi

——————-Berjalan di tengah malam buta

Gerimis lan melu nangisi ———————— Gerimis pun ikut menangisinya

Uripe wis kerasa mati

—————————–Hidupnya terasa sudah mati

Dewi Kirana, 30 tahun, menyapa penggemarnya yang berkerumun. Sebuah kebetulan, mendadak hujan turun. Seperti menegaskan bahwa lagu itu nyata hadir malam itu. Para lelaki yang merasa terwakili menggoyangkan dadanya. Ada juga yang mengeras di dada saya. The queen of Pantura datang pada mereka malam ini bersama the best of music yang paling eksis Puspa Kirana. Bagai Dewi Padi yang dirindukan para petani–mereka yang datang dari abad lima belas. Keributan sempat terjadi di pinggir panggung antar-remaja tanggung. Tapi hiburan terus berlangsung.

Empat anak Sang Dewi duduk di belakang panggung berjajar seperti pagar ayu, menyaksikan ibunya bertarung. Entah berapa lama lagi ia sanggup bertahan. Mau tak mau perahu yang mereka tumpangi malam itu akan tenggelam. Beberapa musim panen lagi mungkin. Akan segera tiba perahu yang lain dengan dewi yang lain–yang lebih muda yang lebih menggoda.

Jerite sajeroning ati

——————————–Ia menjerit dalam hati

Banyumata bli bisa mili

—————————Airmata tak bisa keluar lagi

Larane disimpen neng dada ——————– Sakitnya disimpan di dada

Ngakoni sabar lan nerima ——————– –

Mengakuinya dan sabar menerima

Tak ada kabar gembira sebenarnya. Tapi mereka melagukannya dengan gembira. Hasilnya adalah kesedihan yang asing– entah punya siapa. Yang jelas bukan milik mereka malam itu. Sang Dewi terus bergoyang. Tato di punggungnya berkilat oleh cahaya bulan. Pemuda di samping saya memanjat ketinggian. Ia melemparkan uang ribuan dan menjerit kesenangan. Seandainya ia jatuh, ia jatuh dalam kemenangan.

Jogja, 2010

Gunawan Maryanto bergiat di Teater Garasi sebagai penulis dan sutradara. Buku kumpulan puisinya adalah Perasaan-perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya (2008).

Zelfeni Wimra lahir di Sungai Naniang, Luak Limopuluah Koto, Minangkabau, 26 Oktober 1979. Sutradara Teater Cabang dan penggiat Komunitas Daun serta Magistra Indonesia, Padang.

One response to “Puisi : Kampung dalam Akuarium

  1. nice poetry, i like it🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s