Kumpulan Puisi Akhir Pekan

Rumah, Gajah, dan Tanda

Rumah-rumah batu. Berkapur putih, hijau, dan merah. Tersusun seperti undak-undakan. Undak-undakan ke puncak. Tempat tanah yang terpilih dikepalkan. Lalu ditiup pelan. Bergerak menjadi gajah yang keemasan. ”Jangan menangis, lihatlah gajah ini, bagaimana ia melenggang.” Dan teringatlah semua yang melihat itu pada kapal-kapal. Yang dulu berlabuh di dermaga. Bersama awan, sutra, kitab, dan sebutir delima yang berbiji permata. Juga pada si putri yang ditolak. Yang tiba-tiba lenyap sebelum mencelupkan kakinya ke pantai lagi. ”Tapi, bagaimana mesti merawat gajah? Di sini tak ada rumput?” Dan rumah-rumah batu terkesiap. Genting-gentingnya bergoyangan. Sedang di puncak, ya, di puncak, si pengepal sekaligus si peniup gajah itu asyik berebana. Matanya terpejam. Telinganya waspada. Sedang dari bibirnya yang biru, sebiru langit, siapa saja bisa menerka. Siapa saja bisa menebak. Jika ada sebentuk kunci yang tersimpan di dalamnya. Dan ada pula sebaris hikayat tentang gerbang kota yang segera terbuka. Segunung kerikil api yang ditimbunkan. Dan juga seseorang yang akan menggusahi semuanya dengan lembut. Seseorang yang ketika di masa kecil memanjat kekukuhan menara-menara yang ada. Terus naik ke atas. Seperti ingin menyentuhi cembung matahari dengan telunjuknya. Dan menumpahkan isinya ketika malam demikian gelap. Demikian membuat yang saling menyapa, mesti meraba wajah yang sedang disapanya. Wajah yang ketika pagi menjelang, selalu dikenali lewat tanda di keningnya. Tanda lurus yang terbalik. Tanda dari setiap yang merasa di depan. Tetapi ketika mesti menyisih, selalu saja membawa kayu bakar. Dan membakari semua yang dilihatnya. Sambil berkata: ”Sungguh, kami juga beriman!” Hmm, si pengepal sekaligus si peniup gajah itu pun makin asyik berebana. (Gresik, 2010)

Masehi

Bagi yang merasa besar, biarlah memilih tempat yang paling besar. Dan bagi kita yang kecil, biarlah ada di tempat yang kecil ini. Tempat yang temaram dengan rerumputan yang jarang. Juga dengan almanak yang tinggal sebiji. Almanak yang selalu kita takik. Agar segera merucut dan jatuh di hadapan kita. Dan menjelma roti malam yang sedap. Roti malam yang dikitari si renik-renik yang licin. Si renik-renik yang berkedipan. Yang pernah mendatangi mimpi setiap kanak-kanak. Mimpi tentang kuda nyalang, kucing berbulu panjang dan istana yang berkamar seratus. Kamar yang selalu membuatmu bertanya: ”Apa di dalam salah satu dari seratus kamar itu dapat kita temui si lelaki pilihan?” Hai, pertanyaan yang janggal. Sebab, siapa pun tahu, jika si lelaki pilihan telah diangkut ke langit. Dan akan kembali ketika waktu membuka rahasianya. Seperti membuka kunci dari sebuah peta yang pernah hilang. Peta yang penuh jebakan, silang-sengkarut dan cecabang sumur-sumur tua. Yang kita tak tahu lagi, apakah kita dapat melewatinya atau tidak? Berhasil atau malah gagal? Yang pasti, sambil masih terus bertanya, kau pun mengusap sisi atas pundakku. Mengusap dengan segenggam babon tunas. Agar segera menumbuh sepasang sayap di situ. Sepasang sayap dengan kepakan tembus pandang. Sepasang sayap yang dapat melejit tegak lurus. Untuk kemudian menerbangkan kita. Mencari lelaki pilihan di langit. Yang tampaknya, diam- diam juga begitu lama menginginkan pertemuan itu…. (Gresik, 2010)

Menor

Aku mempunyai seorang teman. Teman-yang-tak-jamak-sekali. Sebab sering bermimpi sebagai bintik-bintik cahaya. Yang beterbangan di udara. Bintik-bintik cahaya yang mewarnai semua yang dihinggapi. Mewarnai dengan goresan atau sekadar garis putus- putus. Dan jika aku bilang: ”Kini mulai bergaya ya?” temanku-yang-tak-jamak-sekali itu mengibaskan lengannya. Mengibaskan dengan gesit. Sampai bulu-bulu kasarnya pun bertumbuhan. Menutupi semua celah yang ada di lengannya. Dan aku yang memandangnya pun menjadi terperangah. Seperti memandang sebentuk sulur-sulur yang bergoyangan. Sulur-sulur yang dengan mudah menekuk dan mengejang. Lalu jika aku bilang lagi: “Mau apa sih?” seketika temanku-yang-tak-jamak-sekali itu melompat ke dalam lemari besinya. Menutup rapat-rapat. Dan abrakadabra! Astaga, lemari besinya pun kosong. Hanya seonggok mantel merah yang tercantel. Mantel merah yang setiap tahun dipakai oleh si jenggot lebat dengan kado besar di punggung bagi anak- anak yang terlelap. Si jenggot lebat yang berumah di kutub. Si jenggot lebat yang tak pernah mengenal lawan jenis. Apalagi rasa bercinta dan berumah tangga. “Jiaah, ternyata diam-diam juga mengagumi si jenggot lebat kan?” tambah selorohku. Dan selorohan inilah yang juga selalu ada di pikiranku. Selorohan yang membuat temanku- yang-tak-jamak-sekali itu langsung tertawa. Tertawa keras. Terus memegangi perutnya yang tambun. Perut yang selalu diisi. Dan tak akan berhenti diisi meski sudah begitu kenyang. Dan perut yang jika gerhana tiba, akan menjelma sebentuk waduk yang lebar dan dalam. Yang ketika aku goyang, pun memantulkan sebentang cermin. Cermin yang menampung aku yang menangis panjang di kehangatan pelukan temanku-yang-tak- jamak itu. Sebab, tak bisa-bisa untuk meriaskan riasan si badut menor di wajah kami sendiri… (Gresik, 2010)

Salak
meira

Aku berubah. Bersiapkah kau menerimaku dalam wujud yang lain. Sebab kini, rasanya tubuhku mulai oleng. Mataku mulai mengerut. Hidungku megap. Dan telingaku seperti pelan-pelan tersumbat. Dan pelan-pelan juga punggungku bolong. Tembus ke dada. Seperti sebuah luka tapi bukan luka. Luka yang dapat kau masuki dengan lengan. Atau dengan sebagian kepalamu yang bundar. Kepala yang selalu memasuki mimpiku itu. Mimpiku, di malam ketika kau menyingkap tirai kamarku. Dan berbisik: “Aku merindukanmu. Sungguh merindukanmu…”

Ya, aku berubah. Bersiapkah kau menerimaku dalam wujud yang lain. Wujud yang ternyata tak berjalan dengan kaki. Tapi mengambang. Terus melayang. Melewati ruang tengah. Ruang depan. Beranda dan melesat ke angkasa. Angkasa yang kelabu. Yang hanya dihiasi bulan yang separoh. Bulan yang selalu ingin kau petik. Dan kau simpan ke dalam karung. Untuk kau suguhkan padaku di taman itu. Saat kita menghitung: “Berapa anak yang kelak akan kita lahirkan? Dan berapa pula anak yang kelak akan membuat kita tersenyum lepas?”

Di antara berubahnya wujud tubuhku. Di antara berubahnya wujud langkahku. Aku tahu, kau kini terambing di antara dua sisi. Dan di antara dua sisi itu, diam-diam sepasang taringku pun menumbuh. Taring yang langsing dan berkilau. Dan taring yang berdebar setiap melihat jenjang lehermu. Jenjang lehermu yang begitu menggoda. Jenjang lehermu, yang entah mengapa, begitu membuat sepasang taringku segera berulah. Sambil berkata: “Jangan takut. Ini tak akan sakit. Dan percayalah, kita ini ditakdirkan bukan untuk mengalah pada rasa sakit!”

Seekor anjing hutan menyalak panjang… (Gresik, 2010)

Mardi Luhung lahir dan tinggal di Gresik, Jawa Timur. Buku puisinya adalah Ciuman Bibirku yang Kelabu (2007) dan Buwun (2010). Kini ia mengajar di sebuah SMA di kota kelahirannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s