Agresi dan Emosi Positif Negatif

Mendengar istilah agresi, biasanya kita merasa akan keberadaan penyertaan emosi yang negatif, yang mengesankan terjadinya suatu tindak destruktif dan anarkis. Dari cara seseorang mengungkapkan dorongan agresinya memang terdapat dua jenis cara pengungkapannya, yaitu (1) agresi verbal dan (2) agresi nonverbal. Keduanya memiliki dua ciri yang analog yang disebut sebagai agresi internal dan agresi eksternal.

Baik agresi verbal maupun nonverbal bisa ditujukan pada diri sendiri dan atau lingkungannya. Bentuk perilaku agresi verbal yang ditujukan pada diri dan lingkungan bisa berupa makian, pelecehan, menghina, mendiskreditkan, nyinyir, seperti: ”bodoh betul sih saya, yang sederhana begitu saja tidak paham” (agresi internal) ditujukan pada diri sendiri atau ”kamu bisanya apa sih, masak menyambung kabel listrik saja tidak bisa” (agresi eksternal) ditujukan pada orang lain.

Baik agresi verbal internal maupun eksternal akan berpengaruh terhadap penurunan motivasi berprestasi baik bagi diri maupun orang lain, sedangkan agresi nonverbal adalah perilaku menyerang tanpa menyertakan ucapan, seperti menendang kaki meja, memukuli pintu dengan keras, atau memukul dan menendang kaki orang, dan lainnya. Sementara itu, agresi internal sering juga disebut sebagai self-punitive atau menghukum diri dengan cara menyayat-nyayat pergelangan tangan dengan pisau atau silet, misalnya saat dia merasa frustrasi.

Agresi eksternal adalah tindak agresi yang ditujukan pada lingkungannya, bisa ditujukan manusia, bisa juga benda mati yang berada di sekitarnya. Misalnya, melukai orang dengan pisau, memukul orang dengan palu, atau membanting-banting barang yang berada di dekatnya, hingga barang itu hancur berantakan, yang juga bisa terjadi saat seseorang mengalami frustrasi pula.

Agresi dan emosi positif

Hal yang jarang kita dengar adalah keberadaan penyertaan emosi positif dari dorongan agresi. Sebenarnya tanpa kita sadari entitas agresi mengandung energi positif apabila kita memiliki kemampuan menyiasatinya. Misalnya, keberadaan daya juang, ambisi berprestasi, dorongan untuk peningkatan pencapaian kualitas kerja optimal, dukungan energi untuk meraih prestasi gemilang demi masa depan yang menjanjikan, bahkan dorongan kompetitif positif yang dimiliki seorang atlet untuk menang dalam pertandingan.

Kesemuannya menggunakan energi psikis yang tergabung dalam entitas psikologik yang disebut sebagai dorongan agresi. Dengan kemampuan pengendalian ratio dan ketahanan psikik serta daya lenting (resiliensi) yang optimal, dorongan agresif yang punya potensi destruktif dapat berubah menjadi energi positif yang membantu individu untuk meraih impian, target masa depan, serta optimasi prestasi sosial.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa peran budaya setempat, pola asuh, tatanan sosial yang berlaku, penguatan kebiasaan yang ada di mana manusia berada dan berkembang sangat memengaruhi cara pengolahan, penyiasatan, dan pelampiasan dorongan agresi tersebut. Jadi. kita dapat memahami bahwa apabila lingkungan keluarga membenarkan ungkapan agresi tanpa kendali dan mengasuh anak-anak dengan keras, dalam bersikap dengan intonasi serta volume suara yang terkesan kasar, maka anak-anak yang dibesarkan pada keluarga tersebut akan meniru pola bersikap, intonasi, dan volume suara yang keras, serta kasar dari kedua orangtua.

Kita simak bersama cerita di bawah ini, seorang anak perempuan (katakanlah bernama Eli, 2,3 tahun) sedang berjalan-jalan bersama kedua orangtuanya di kebun umum yang banyak pohonnya. Anak ini terkesan sangat berani, keras hati, larinya kencang, hingga ibunya pun agak kewalahan mengejarnya.

Pada suatu saat Eli melihat ada anak laki-laki yang tubuhnya lebih besar daripadanya, membawa beberapa ranting kayu sebagai mainannya. Eli tertarik, dan merebut satu ranting kayu milik anak laki-laki itu, tetapi karena anak laki-laki itu berbadan lebih besar, ranting tersebut direbutnya kembali. Eli marah, berontak, menangis keras, sambil mengentakkan kakinya.

Apa yang dilakukan ayah Eli? Eli diangkat dan digendong, sambil dibujuk dengan lembut, ”Kalau kamu mau punya ranting itu bukan dengan cara menangis, berteriak, berontak seperti ini, tetapi bilang sama yang punya dengan baik, ’bolehkah saya minta satu rantingmu?’ Kalau dia tidak mau kasih, kamu lihat sekeliling kamu, bisakah kamu dapatkan ranting yang sama di salah satu pohon yang ada. Ayo, kita cari di pohon sebelah sana.”

Setelah tangisnya berhenti, Eli diajak si bapak ke satu pohon. Eli diajak ayahnya ikut menarik ranting pohon yang kering dan akhirnya Eli memperoleh ranting yang diinginkannya.

Analisa

Dorongan agresi Eli yang belum terasah terungkap melalui gerak tubuh memberontak sambil menangis berteriak-teriak tersebut, mendapatkan pelatihan konkret dalam menyiasatinya. Bapaknya meredakan tangis penuh kemarahan Eli dengan bicara lembut sambil menggendong Eli, untuk kemudian Eli diajak melatih cara berkomunikasi yang baik untuk mencari kemungkinan memperoleh ranting yang diinginkan. Kalau upaya ini gagal, Eli diberi peluang menyalurkan agresinya secara positif dengan diajak ikut menarik ranting yang kering dari salah satu pohon yang ada di kebun itu.

Jadi, kenapa harus membiarkan pelampiasan agresi tanpa arah solusi positif kalau pada dasarnya kita dapat memanfaatkan energi psikis positif yang terkandung dengan pelatihan menyiasatinya demi perolehan solusi yang tepat?

2 responses to “Agresi dan Emosi Positif Negatif

  1. Saya ingin bisa mengolah emosi saya dengan baik, agar emosi saya bisa stabil dan saya bisa menjadikan emosi saya itu menjadi sebuah energi buat saya, bukan sesuatu hal yang sangat merugikan untuk saya dan untuk orang lain………..

    selama ini saya sudah belajar dan mencoba mengolah emosi saya, dan hal itu cukup menguntungkan buat saya……saya jadi bisa lebih sabar lagi utnuk mengahadapi permasalahan atau mengahadapi orang-orang dengan berbagai watak dan karakter…….

    ya mencoba mengolah emosi cukup baik untuk kehidupan Anda…..salam kenal….

    Bali Villa Bali Villas Bali Property

  2. bener banget ni teorinya ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s