Potret Konsolidasi Demokrasi Indonesia

Politik Indonesia pasca-Orde Baru membersitkan pesan terkait demokratisasi. Namun, arah transisi dan konsolidasi masih belum jelas terpetakan sekalipun berbagai kajian telah dilakukan.

Dari sekian banyak karya yang mengulas kondisi politik Indonesia pasca-Orde Baru, pada umumnya hanya memotret satu atau dua bidang panggung saja. Semisal, aspek partisipasi politik, ekonomi politik, politik militer, kepartaian, dan masyarakat sipil.

Buku yang ditulis oleh Profesor Kacung Marijan ini menawarkan tiga hal penting. Pertama, potret sistem politik Indonesia dalam masa konsolidasi demokrasi. Penulis tidak hanya menyampaikan pandangan teoretis yang banyak diwarnai pendekatan new institutionalism, tetapi juga pembahasan kontekstual dan potret sistem politik Indonesia yang tengah berproses.

Kedua, uraian gagasan dan analisis yang cermat membuat beragam bidang dengan dinamika politik yang kompleks menjadi mudah untuk dicerna. Pembahasan tiap bab dilakukan dengan sangat berhati-hati sehingga tidak mengesankan bahwa penulis tengah memaksa untuk terjebak dalam kerangka pikir formal tunggal. Ketiga, memberikan jawaban atas pertanyaan klasik bahwa sistem politik telah berubah dan mengarah pada suatu tujuan.

Tulisan ini disusun dalam tiga bagian. Pertama, mengulas pelembagaan sistem politik Indonesia di mana di dalamnya dibahas mengenai sistem politik demokratis, sistem perwalian, kepartaian, sistem pemilu, dan budaya politik pemilih. Kedua, mengurai topik otonomi dan dinamika politik di daerah. Bahasannya meliputi hubungan pembangunan, desentralisasi sampai hal mendetail seperti hubungan kepala daerah, DPRD, dan masyarakat. Sementara bagian ketiga mengetengahkan tema birokrasi, militer, dan kelompok kepentingan.

Pelembagaan

Gagasan utama yang melatari buku ini berasal dari fakta bahwa Indonesia tengah berproses menuju sistem politik yang demokratis. Secara prosedural demokrasi telah berjalan, tetapi dari segi substansial masih terdapat berbagai paradoks. Hal ini yang membuat demokratisasi tidak bisa berjalan dengan cepat dan efektif.

Penulis mendeklarasikan pendekatan new institutionalism yang dipelopori oleh March & Olsen (1984) sebagai cara pandang untuk melihat konsolidasi yang terjadi. Fokusnya tidak hanya terhadap lembaga formal, tetapi juga informal di mana tiap-tiap lembaga tersebut saling berinteraksi dan memengaruhi.

Pertanyaan penting yang acap kali keluar dari para sarjana politik adalah bagaimana model pelembagaan demokrasi yang ideal di Indonesia? Menjawab pertanyaan ini sesungguhnya tidak mudah.

Buku yang dikerjakan secara ”sambilan” ini bisa memberikan petunjuk. Kekuatan besarnya terletak pada aspek kronologis yang menceritakan perkembangan bidang kajian agar tidak keluar dari konteks waktu, di mana kebijakan dan berbagai kejadian faktual melingkupi sebuah fenomena. Misalnya ketika membahas persoalan kelembagaan dalam praktik kebijakan desentralisasi. Otoritas pemerintah daerah yang besar membuka masalah baru terkait dengan fungsi dan peran yang bisa diambil oleh pemerintah provinsi. Ketika kekuatan provinsi diperbesar dengan merevisi UU No 22 Tahun 1999 menjadi UU No 32 Tahun 2004, ternyata malah membawa konsekuensi mengaburnya titik berat otonomi daerah sendiri.

Gagasan lain yang berisi solusi tampak ketika membahas tentang penyederhanaan partai. Kacung Marijan memberikan tawaran agar threshold digunakan dengan lebih ketat, yakni sebagai batasan minimal parpol untuk memperoleh kursi parlemen. Elite partai yang tidak lolos threshold dilarang mendirikan partai pada dua kali pemilu berikutnya secara berturut-turut.

Politisasi birokrasi

Selain memberikan analisis terhadap fenomena politik dan menawarkan solusi atas berbagai masalah yang dihadapi, buku ini juga menitikberatkan pada penilaian terhadap sistem yang sudah bekerja. Upaya reformasi birokrasi yang banyak digembar-gemborkan oleh pemerintah dalam memberikan jaminan atas netralitas politik dan meningkatnya kapasitas pelayanan disikapi dengan kritis.

Bagi Kacung, politisasi birokrasi sangat erat dengan kepentingan agar pemerintahan bisa dikontrol dengan penuh. Akibatnya, profesionalitas birokrasi menjadi terganggu dan alokasi serta distribusi sumber daya berlangsung secara tidak adil. Hanya segelintir kelompok masyarakat, yang sesuai dengan afiliasi politik dari politisi, yang akan menikmatinya. Sekalipun demikian, politisasi birokrasi sudah mulai bisa dikurangi. Namun, pada saat yang sama, sistem otonomi daerah ternyata belum mampu merangsang menguatnya pelayanan publik.

Buku ini meletakkan dasar yang penting bagi usaha untuk mendalami wilayah-wilayah teoritisasi konsolidasi demokrasi. Sayangnya, bukan didesain untuk memberikan konsep dan strategi dengan lebih terperinci atas agenda-agenda yang terstruktur. Misalnya, siapa aktor dominan dan sejauh mana peranan agensi serta strukturnya bisa saling melengkapi dalam mempercepat demokratisasi yang tidak hanya maju secara prosedural, tetapi juga substansial.

Hal tersebut tampak dari bagian penutup yang hanya menampilkan etalase tentang serangkaian agenda yang menantang. Di antaranya, pematangan sistem demokrasi Indonesia, perbaikan desain kelembagaan, dan penataan budaya politik tingkat individu baik elite maupun massa. Salah satu pembuktian yang ternyata juga ditujukan untuk memantik perdebatan yang aktual adalah apakah keterkaitan antara kondisi ekonomi dan budaya politik berpengaruh terhadap bangunan demokrasi sebuah negara?

Pertanyaan tersebut tidak hanya pantas untuk direnungi, tetapi juga menjadi tantangan bagi aktor-aktor demokrasi untuk memberikan sumbangan bagi perbaikan kualitas Indonesia dengan cara dan agenda masing-masing.

M Faishal Aminuddin Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Brawijaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s