Puisi Tidak Lagi Jadi Beban Di Bentara Budaya Bali

Setidaknya sejak kemunculan duet Ari Malibu dan Reda Gaudiamo, pelisanan terhadap puisi tidak lagi menjadi beban. Puisi diperlakukan sebagai ”makhluk” sehari-hari yang hidup dan terus membuka dirinya terhadap tafsir baru.

Penyebaran cara menikmati puisi dengan menggubahnya ke dalam bentuk musik ini kemudian dilakukan lewat pita kaset. Ari dan Reda terlibat dalam album ”Hujan Bulan Juni” tahun 1989 yang digagas oleh penyair Sapardi Djoko Damono. Tonggak ini yang ingin dijadikan momentum oleh Bentara Budaya Bali (BBB) untuk membuka berbagai kemungkinan di dalam mengapresiasi puisi. Lembaga ini kemudian menggelar Pentas Puisi Bentara, 30-31 Juli 2010, dengan mengundang duet Ari dan Reda.

Diundang pula kelompok Jogja Hiphop Foundation serta Band Bali, yang memiliki kecenderungan serupa di dalam menafsir puisi. Mohammad Marjuki yang menjadi motor Jogja Hiphop Foundation melantunkan puisi-puisi berbahasa Jawa karya Sindunata dalam irama ”jalanan” bernama hip hop. Sementara Tan Lioe Ie bersama sekelompok pemusik yang tadinya beraliran rock menembangkan puisi dalam irama blues yang melodius. BBB juga memberi gambaran betapa sejak awal puisi sangat dekat gayutannya dengan kitab suci. Kelompok Sasi Wimba yang digerakkan oleh penyair Mas Ruscitadewi menafsir bait-bait dalam Weda dengan cara yang amat ”populer”, bahkan penuh canda. Ruscitadewi bersama penata musik Made Subandi mengolah puisi-puisi yang disucikan itu ke dalam irama musik yang terasa ”baru” meski menggunakan instrumen musik tradisi.

BBB juga tetap memberikan ruang kepada para penyair, seperti Oka Rusmini, Wayan Sunarta, dan Pranita Dewi, untuk membacakan puisi mereka dengan cara ”biasa”. Tampaknya cara ini dimanfaatkan untuk menunjukkan kilasan-kilasan berbagai perspektif di dalam menerjemahkan puisi. Kecenderungan itu makin tegas ketika tampil pula dramawan Putu Satria Kusuma bersama kelompok Kampung Seni Banyuning Singaraja. Putu mendramatisasi puisi ”Dewi Padi” karya Made Adnyana Ole dengan gerak ritmis seorang dewi di tengah pergolakan yang cenderung menyepelekan keberadaan petani dan sawah.

Rileks

Ari dan Reda sungguh-sungguh tidak menduga bahwa apa yang mereka lakukan pada tahun 1980 masih melekat pula pada generasi terkini. Ketika mereka melantunkan bait-bait puisi Sapardi, anak-anak sekolahan tak henti-hentinya ikut bernyanyi. ”Saya terkejut, kok mereka hafal lagu-lagu ini,” tutur Ari Malibu.

Seusai bernyanyi, keduanya bahkan dikerubuti pengunjung. Ada yang bahkan tak henti-hentinya mengajak Ari dan Reda berfoto. Kenyataan ini setidaknya memberikan gambaran bahwa tafsir puisi dengan musik atau lewat cara-cara populer lainnya membuat puisi bisa melampaui garis ”pemisah” yang selama ini mengungkungnya ke dalam wilayah yang amat eksklusif. Sebelumnya, puisi seolah hanya bisa dan mampu dinikmati oleh kalangan terbatas dan itu pun dengan dahi yang berkerut-kerut. Dahulu puisi selalu berada dalam situasi ambigu. Di satu sisi ia dianggap sulit karena berkulit, sisi lainnya muncul pula kata-kata seperti ”puitis” pada kelompok awam untuk menyatakan sebuah perasaan yang mendalam tentang sebuah ungkapan.

Meski sebelumnya WS Rendra dan Remy Sylado telah merekam suara mereka ketika membaca puisi, puisi tetap belum diberi tafsir dengan menonjolkan unsur-unsur musikalitas yang ada di dalamnya. Rendra memang harus diakui telah menjadi tonggak berkembangnya pelisanan puisi dengan apa yang kemudian dikenal sebagai deklamasi. Pembacaan puisi menjadi begitu heroik dan penuh protes. Protes-protes itu seolah mewakili ungkapan terpendam publik terhadap kediktatoran rezim. Dan ini berlanjut pada masa reformasi, di mana puisi diberi ”tugas” berat mewahanai unjuk rasa para peserta demonstrasi.

Ari dan Reda berbeda dengan apa yang dilakukan kelompok Bimbo bersama penyair Taufik Ismail. Mereka lebih rileks di dalam menafsir puisi. Puisi tidak lagi harus dijadikan media untuk melakukan pendalaman spiritual walau mungkin nanti akibatnya juga sama. Ini terdapat pula pada Marjuki, Tan Lioe Ie, dan Mas Ruscitadewi, yang mewakili generasi populer, lalu menafsir puisi ”tersuci” sekalipun dengan bahasa terkini yang mereka akrabi sehari-hari. Puisi tidak lagi harus dikait-kaitkan dengan persembahan, heroisme, dan aksi demonstrasi. Barangkali cara ini justru telah melepaskan puisi dari segala beban yang dilekatkan kepadanya sebagai sebuah karya sastra.

Dalam kata-kata kurator Pentas Puisi Bentara, Warih Wisatsana, ”Puisi hendaknya tidak diberi beban berlebih, tetapi biarkan ia terus tumbuh melampaui zamannya sehingga daripadanya kita bisa menghirup sari-sari yang alami….” Sebaliknya, bagi generasi terkini, puisi tidak lagi dianggap beban. Ia bahkan bisa saja ditafsir dengan cara populer yang bisa dinikmati bersama untuk merayakan sebuah kegembiraan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s