Buku Baru: Istana-istana Kepresidenan di Indonesia Peninggalan Sejarah dan Budaya

Istana kepresidenan adalah bagian dari sejarah kita. Begitu kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya untuk buku baru Istana-istana Kepresidenan di Indonesia-Peninggalan Sejarah dan Budaya yang disusun Asti Kleinsteuber. Buku itu diluncurkan di Museum Nasional, Jakarta, pekan lalu. Penulis juga dikenal sebagai wartawan.

Buku dengan harga Rp 1.064.000 (satu juta enam puluh empat ribu rupiah) itu punya perbedaan kecil dengan beberapa buku tentang istana yang diterbitkan sebelumnya. Misalnya dengan buku Istana Presiden Indonesia yang diterbitkan Sekretariat Negara RI tahun 1979.

Perbedaan itu, antara lain, buku tahun 1979 diberi sambutan Presiden Soeharto, Ny Tien Soeharto, Menteri/Sekretaris Negara Sudharmono, dan Kepala Istana-istana Presiden Joop Ave. Buku tahun 2010 diberi sambutan Presiden Yudhoyono dan arkeolog Edi Sedyawati (Direktur Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1993-1999).

Ibu Inggit Ganarsih

Buku setebal 322 halaman terbitan tahun 2010 itu juga memberikan narasi tentang Indonesia dalam konteks arus sejarah dunia. Suasana istana sejak Bung Karno sampai kini juga dilukiskan secara singkat. Tentang istri presiden-presiden Indonesia juga ditulis sepintas.

Di bawah subjudul ”Jalan Menuju Istana” disuguhkan cuplikan buku roman kisah cinta Inggit Ganarsih dengan Bung Karno berjudul Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan KH.

”Negeri ini pun mencatat seorang wanita cantik, Inggit Ganarsih, yang turut punya andil dalam perjuangan kemerdekaan. ….Inggit berusia lebih tua 15 tahun dari Bung Karno…. Walau tidak pernah memasuki dan tinggal di Istana Kepresidenan, Inggit telah mengantar Bung Karno ke istana,” kata buku ini.

Juga disinggung sekilas tentang Fatmawati, Hartini, Siti Hartinah Soeharto, dan Kristiani Herawati Susilo Bambang Yudhoyono yang lebih dikenal dengan Ibu Ani. ”Ia adalah wanita cerdas dan lugas….. Pernah memegang jabatan politik sebagai wakil ketua umum Partai Demokrat…,” tulis Asti Kleinsteuber.

Dalam buku ini Edi Sedyawati menyesalkan peruntuhan rumah di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, yang pernah dihuni presiden pertama RI. ”Peristiwa sejarah amat penting telah terjadi di tempat itu: proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia.”

Buku ini tidak mencantumkan dekorasi foto-foto di sepanjang koridor menuju kantor presiden dan tempat jumpa pers serta di samping Wisma Negara. Dekorasi semacam ini bagus, tetapi perlu ada sentuhan seni supaya nyaman dipandang.

Mungkin suatu hari akan terbit lagi buku lain tentang istana kepresidenan Indonesia. Agar lebih imajinatif dan romantis, mungkin bisa dikutip pula buku Kadjat Adra’i, Percintaan Bung Karno dengan Anak SMA-Biografi Cinta Presiden Sukarno dengan Yurike Sanger. ”Bung Karno tidak hipokrit,” kata Kadjat Adra’i dalam pengantar buku itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s