Hilangnya Canda Tawa Dari Kampus Indonesia

Tidak ada lagi keriangan dan tawa canda di kampus? Betulkah mahasiswa kini lebih senang menjadi mahasiswa ”kupu-kupu” alias cuma kuliah (lalu) pulang, kuliah-pulang? Betulkah kehidupan kampus kini sudah sedemikian egois, pelik, dan penuh tekanan hingga tawa pun hilang dari kampus? Bukankah tertawa itu sehat?

Tahun 1970-an akhir, sejumlah kampus menjadi rahim bagi lahirnya kelompok-kelompok tawa. Sebut saja Warkop DKI yang personelnya Dono (alm), Kasino (alm), dan Indro. Dono dan Kasino adalah mahasiswa Universitas Indonesia (UI), sementara Indro kuliah di Universitas Pancasila.

Di era yang sama, ada Orkes Melayu Pancaran Sinar Petromaks yang biasa disingkat menjadi OM PSP. Personelnya adalah gabungan mahasiswa UI.

OM PSP ini kerap main bersama Warkop. Di era itu, OM PSP menelurkan lagu ”Duta Merlin” yang liriknya mengkritik berbagai ketimpangan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.

Dari Kampus Universitas 11 Maret Solo, ada Teamlo dan Pecas Ndahe yang pada masanya amat populer. Sementara di Yogyakarta ada kelompok Sastro Moeni (Fakultas Sastra UGM) dan Kornchong Chaos (ISI Yogyakarta).

Di Bandung, tentu saja orang mengenang Padhayangan yang personelnya merupakan gabungan mahasiswa Universitas Parahyangan dan Universitas Padjajaran, Bandung. Belakangan Padhayangan beranak menjadi dua, Padhayangan Project dan Project Pop.

Hingga kini, Padhayangan masih ada, tetapi tidak seeksis dulu. Sementara Project Pop, yang semula dikenal sebagai kelompok parodi lagu, belakangan makin produktif mencipta lagu sendiri.

Lain dulu lain sekarang. Kini, kelompok tawa atau humor makin sulit ditemui di kampus. Kalaupun ada, gaungnya tak sekencang era pendahulu mereka. Panggung mereka pun sebatas panggung kampus yang tersembunyi dari hiruk-pikuk dinamika kampus.

Dian Sahiroh, mahasiswa semester 4 Akademi Kimia Analisis Bogor, turut merasakan ”kekeringan” ini. ”Kelompok humor, seperti lawak, tidak ada lagi. Kalau nonton acara seni di kampus, yang ada paling teater,” ujar Dian.

Salah satu penyebabnya, menurut Dian, karena mahasiswa menganggap profesi sebagai ”pelawak” bukan profesi bergengsi. ”Jadi, pelawak, menurut teman-teman di kampus enggak keren. Profesi sebagai artis dan penyanyi jauh lebih disenangi. Kalau pelawak, kan, bodor,” tutur Dian. Tidaklah heran jika kini banyak mahasiswa di kampusnya yang lebih tertarik menjajal peruntungan di ajang kontes menyanyi yang belakangan marak digelar di televisi.

Menurut dia, kampus perlu melahirkan kelompok lawak seperti era Warkop karena lawakan kampus punya bobot berbeda. ”Yang pasti ada isinya. Enggak sekadar melawak,” kata Dian.

Hal senada dikemukakan Octa Christi Situmorang, mahasiswa Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro, Semarang. Menurut Octa, minimnya mahasiswa yang melawak karena profesi sebagai pelawak dinilai tidak terlalu menjanjikan.

”Meskipun ada pelawak yang terkenal, tetap saja pendapatan mereka jauh di bawah pendapatan artis dan penyanyi. Kalaupun masuk jajaran selebriti, mereka ada di jajaran bawah,” ujar Octa. Tren yang kini sedang mengarah menjadi penyanyi atau pemain sinetron dan film membuat profesi sebagai pelawak sama sekali tidak dilirik mahasiswa.

Selain itu, menjadi pelawak juga bukan pekerjaan mudah. ”Membuat orang tertawa itu enggak gampang. Mungkin itu juga jadi alasan,” katanya.

Padahal, bagi Octa, keberadaan kelompok humor atau lawak, terutama dari kampus, masih sangat penting. Di tengah kondisi masyarakat yang tengah mengalami banyak tekanan, keberadaan lawak yang menghibur akan memberi suasana yang berbeda.

”Sekarang nonton sinetron isinya malah mengajak membunuh orang atau balas dendam. Kalau lawak yang mengajak tertawa, mengajak orang berpikiran terbuka, kondisinya akan jadi lain. Mungkin kekerasan juga bisa dikurangi karena orang jadi senang tertawa jadi enggak stres,” tutur Octa.

Beban kuliah

Alasan lain yang kerap dilontarkan mahasiswa adalah tugas kuliah yang demikian padat. Hal inilah yang terutama menyebabkan mahasiswa lebih memilih menjadi mahasiswa kupu-kupu dan kunang-kunang.

”Jangankan membuat kelompok lawak. Mahasiswa yang ikut organisasi pun bisa dihitung dengan jari. Yang ada di kepala mahasiswa sekarang hanyalah bagaimana bisa cepat lulus dan mendapat pekerjaan,” kata Octa.

Di Semarang, menurut Octa ada beberapa kelompok humor yang lahir dari kampus, antara lain Srempet Gudhel (Udinas), Berkakak Plekenyikan (Undip), dan Sastro Sastri (Unika Sugyopratomo). Namun, gaungnya masih dalam skala kecil, di seputar Semarang saja. Frekuensi tampil di depan publik juga masih terbatas.

Hal serupa diungkapkan Hadi Subroto, mahasiswa Fisipol, UGM. Menurut Hadi, mahasiswa sekarang menghadapi tuntutan tinggi. Tugas kampus yang padat dan tuntutan orangtua agar cepat menyelesaikan kuliah membuat mahasiswa tidak bisa leluasa bergerak.

”Mahasiswa yang mau bergerak malah menjajal hal lain, seperti menjadi wirausaha. Kan, sekarang juga sedang banyak mahasiswa yang punya usaha,” tutur Hadi.

Dian juga mengatakan hal senada. Mahasiswa saat ini seperti dibebani tanggung jawab yang menumpuk. Sebagai gambaran, di kampusnya, setiap bulan selalu ada ujian. Ujian praktik juga nyaris ada setiap hari. Belum lagi tugas membuat laporan.

”Jadi, mahasiswa waktunya dikejar-kejar, enggak sempat berkegiatan. Jangankan membuat kelompok lawak, band juga enggak ada,” katanya.

Satu-satunya kesempatan yang bisa dimanfaatkan mahasiswa untuk sekadar bercanda melepas kepenatan adalah saat mereka mencuri waktu di sela jam kuliah ”Di situlah biasanya muncul lawakan-lawakan kecil,” kata Dian.

Beda kondisi

Personel Project Pop, Tika Panggabean, mengatakan, kondisi yang dihadapi mahasiswi sekarang memang berbeda dengan zamannya dulu. ”Sekarang tuntutan ortu juga tinggi. Mereka ingin anak-anak mereka benar-benar kuliah lalu cepat kelar dan dapat pekerjaan,” tutur Tika.

Di luar alasan itu, Tika menilai kesadaran anak zaman sekarang untuk segera menyelesaikan kuliah secepat mungkin juga sudah menjadi gejala. ”Mereka mau cepat lulus, kerja, dan kalau perlu kuliah lagi,” tutur Tika. Tidak aneh bila sekarang mahasiswa menyandang gelar S-2 di usia relatif muda, sekitar 26 tahun.

Banyaknya saluran televisi juga menjadi salah satu faktor minimnya kelompok humor kampus. ”Sekarang juga sudah ada televisi kabel. Dulu paling hanya dua stasiun televisi. Enggak heran kalau acara di kampus jadi tontonan. Sekarang lain, di mal juga ada bioskop, di mana orang bisa nonton,” kata Tika.

Meski begitu, bukan berarti sudah tidak ada lagi orang yang gemar melucu. Di situs jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter-pun, Tika bisa dengan mudah menemukan orang yang gemar melucu.

”Mereka ini bahkan jauh lebih lucu dari pelawak. Biarpun hanya sekadar menggambarkan urusan mereka, humor atau lawakan yang mereka lontarkan sangat cerdas. Kalau mereka bersatu membuat kelompok lawak pasti bisa menjadi sesuatu yang menjanjikan. Cuma memang masalahnya apakah mereka percaya diri atau tidak,” kata Tika panjang lebar.

Oleh karena itu, Tika yakin kondisi ”kekeringan” ini bisa diubah. Salah satunya dengan memanfaatkan perkembangan teknologi yang sudah demikian pesat. Tika mencontohkan standing comedian di Amerika yang memanfaatkan You Tube sebagai sarana mempromosikan diri. ”Sudah terbukti You Tube bisa menjadi sarana yang hebat untuk melahirkan sesuatu. Seperti Shinta dan Jojo itu, kan,” lontar Tika.

Dalam hal ini, kampus juga bisa turut berperan. Misalnya dengan membuat kompetisi atau lomba lawak yang disponsori televisi. ”Seperti yang dilakukan TPI dengan API. Itu, kan, bagus karena bisa melahirkan komedian-komedian baru, termasuk dari kampus. Jadi, harus dicoba lagi,” katanya.

Sayang, dalam kenyataannya, dukungan kampus terhadap kegiatan seni mahasiswa dinilai masih jauh dari cukup. Dalam praktiknya, dukungan kampus kepada mahasiswa kini beralih kepada bidang bisnis dan politik.

”Lihat saja, sekarang kampus beramai-ramai mencetak wirausahawan. Begitu pula dengan mahasiswa yang tertarik menjadi semacam DPR kampus. Sementara untuk seni, masih kurang,” tutur Octa menyayangkan. Nah! (

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s