Asnawati Pejuang Bagi Pendidikan Anak Anak Kurang Mampu

Anak-anak dari keluarga kurang mampu umumnya tidak mendapatkan perhatian penuh dari orangtua yang harus bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga. Minimnya perhatian ini membuat mereka terlambat berkembang.

Kenyataan itu ditemui Asnawati saat mengunjungi permukiman kumuh yang umumnya dihuni keluarga kurang mampu di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, tahun 2006.

”Tuntutan ekonomi memaksa banyak orangtua meninggalkan anak-anak mereka yang masih kecil untuk pergi bekerja, bahkan sampai seharian. Anak-anak ini sangat rentan dan pasti terlambat berkembang,” katanya.

Setelah berhenti bekerja, Asnawati punya banyak waktu luang. ”Saya mengunjungi tempat-tempat kumuh di Pontianak. Saya berpikir, siapa tahu tenaga ini bisa disumbangkan untuk orang lain,” katanya.

Dari sekadar kegiatan mengisi waktu luang, dia justru menemukan fenomena anak-anak yang tidak mendapat perhatian di permukiman kumuh. Kondisi anak-anak itu tidak bisa dibiarkan begitu saja.

”Lingkaran setan kemiskinan tidak akan bisa terputus kalau anak-anak tidak mendapat perhatian penuh, apalagi di bidang pendidikan,” tutur Asnawati.

Keprihatinan itu mendorong dia berpikir apa yang bisa dilakukannya guna membantu anak-anak tersebut. Bersama organisasi wanita yang diikutinya, Asnawati menyusun rencana untuk mendirikan lembaga pendidikan gratis bagi anak-anak itu. Sebab, hampir tidak mungkin memungut biaya dari orangtua mereka.

Pemikiran Asnawati disetujui. Mereka mulai menawarkan rencana itu kepada para orangtua anak-anak di Kelurahan Mariana, Kecamatan Pontianak Barat. ”Orangtua anak-anak itu menyambut baik rencana ini. Kami membuat lembaga pendidikan anak usia dini di Camar, Kelurahan Mariana,” ujarnya.

Asnawati memilih lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) karena berbagai pertimbangan. ”Anak-anak berusia di bawah lima tahun itu dalam masa pertumbuhan yang paling bagus. Sangat disayangkan kalau pada masa itu mereka tumbuh tak terkontrol hanya karena minimnya perhatian orangtua,” tuturnya.

Alasan lainnya adalah karena sudah adanya lembaga pendidikan yang lebih tinggi dari PAUD di permukiman warga kurang mampu tersebut. ”Untuk pendidikan formal, infrastrukturnya tidak persoalan. Jadi, setelah melalui berbagai pertimbangan, PAUD adalah pilihan paling tepat,” ungkapnya.

Memulai rencana menyelenggarakan pendidikan gratis tanpa modal uang, Asnawati bertemu donatur yang mendukungnya membuka lembaga pendidikan itu pada 2007. ”Kami menyelenggarakan pendidikan itu di sebuah rumah tanpa perlu membayar sewa. Itu modal awalnya,” katanya.

Dibantu suaminya, Bujang Kariman, Asnawati mengisi ruang-ruang belajar di rumah itu. ”Suami saya membuatkan meja dan kursi dari kayu-kayu yang tidak terpakai di rumah. Dia juga menyisihkan sebagian penghasilannya untuk aktivitas saya,” tuturnya.

Tak membedakan

Dalam beberapa bulan sejak dibuka, sekitar 40 anak datang dan mengikuti kegiatan di lembaga yang diberi nama PAUD Uswatun Hasanah itu.

”Walaupun kami berangkat dari organisasi wanita Islam, kami juga menerima anak-anak non-Muslim. Kami tidak membedakan anak-anak itu berasal dari agama dan etnis apa. Sejak awal, kami terbuka untuk siapa pun karena pada dasarnya anak-anak dari keluarga kurang mampu itu membutuhkan pendidikan dini. Siapa pun dia,” tutur Asnawati.

Jumlah anak didik yang relatif banyak membuat Asnawati meminta bantuan sejumlah sahabatnya untuk mencarikan tutor. ”Saya hanya bisa memberikan uang saku Rp 50.000 per bulan untuk setiap tutor. Jadi, mereka (para tutor) bisa dikatakan benar-benar mengajar secara sukarela,” katanya.

Selain itu, guna mengatasi persoalan terlalu sibuknya orangtua bekerja, Asnawati juga mengembangkan PAUD itu menjadi tempat penitipan anak. Menurut dia, anak-anak tetap memerlukan perhatian selepas mengikuti sesi pelajaran di PAUD.

”Di tempat penitipan, anak-anak bisa melakukan kegiatan yang lebih positif dibandingkan jika bermain sendiri di luar sana, tanpa pengawasan,” katanya.

Setahun kemudian, Asnawati membuka lagi tempat pendidikan serupa di Gang Meranti, Jalan HOS Cokroaminoto, Kota Pontianak. Kondisi di tempat ini pun relatif tak berbeda dengan Kelurahan Mariana.

”Banyak anak kurang mendapat perhatian karena orangtua mereka harus bekerja seharian dengan penghasilan yang relatif kecil. Apalagi orangtua saya pun mengizinkan kami menggunakan sebuah rumahnya untuk kegiatan ini,” ujar Asnawati yang juga lahir dan dibesarkan di Gang Meranti.

Terpaksa iuran

Di kedua lembaga PAUD itu, Asnawati menyelenggarakan pendidikan gratis untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu hingga 2009. Tidak hanya pelajaran, fasilitas belajar, seperti alat tulis, pun diberikan kepada anak-anak itu.

Sayang, seiring dengan semakin banyaknya anak-anak yang masuk lembaga PAUD itu, dana operasional mereka tidak lagi mencukupi. Di Gang Meranti saja tercatat sekitar 40 anak yang setiap hari datang.

”Daripada kegiatan ini ditutup, dengan berat hati kami lalu memungut iuran paling banyak Rp 5.000 per bulan dari orangtua anak-anak,” ujar Asnawati yang menggunakan uang hasil iuran itu antara lain untuk membeli bahan pengajaran.

Kedua lembaga PAUD yang juga menjadi tempat penitipan anak itu, menurut Asnawati, setidaknya bisa menjadi jembatan bagi anak-anak kurang mampu agar mereka setara dengan anak lain. Hal itu dirasakan penting, terutama ketika mereka (terutama karena usianya) harus mengikuti pelajaran di sekolah dasar (SD).

”Kalau sebelum masuk SD tidak mendapatkan pendidikan yang layak, mereka akan selalu ketinggalan. Tetapi, setelah belajar di sini, ketika masuk SD, anak-anak dari permukiman kumuh dan dari keluarga kurang mampu itu tidak minder lagi. Mereka lebih percaya diri karena sudah bisa membaca dan menulis, sama dengan anak-anak yang lain,” tutur Asnawati.

Kegigihan Asnawati telah membawa hasil. Berkat pendidikan di lembaga yang didirikannya itu, lebih dari 50 anak dari kawasan kumuh dan keluarga tidak mampu bisa belajar di sekolah dasar negeri.

ASNAWATI

• Lahir: Pontianak, 10 Juni 1969

• Pendidikan: – SD Negeri I Pontianak – SMP Negeri 10 Pontianak – SMA Purnama Pontianak

• Suami: Bujang Kariman

• Anak: – Dina Suci Lestari (21) – Andri Darmawan (17) – Rahmat Ariyanto (10)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s