Buku Sekolah Masih Memberatkan Siswa

Pengeluaran untuk pembelian buku teks pelajaran di sekolah-sekolah masih dirasakan berat oleh masyarakat. Padahal, pemerintah sudah mencanangkan program buku murah lewat proyek buku sekolah elektronik yang bisa diunduh secara gratis untuk meringankan siswa.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sejumlah siswa dan orangtua, Sabtu (7/8), ternyata masih banyak sekolah yang lebih memilih buku teks pelajaran dari penerbit buku sekolah. Di sebuah SMA negeri di Jakarta, seorang siswa baru, Kila (15), mengatakan, pengeluaran untuk buku pelajaran kelas I mencapai Rp 850.000.

”Buku sekolahnya dari beberapa penerbit. Siswa membeli dari sekolah. Tidak tahu apakah nanti semester II harus membeli lagi,” ujar Kila. Dia mengatakan, tidak ada buku versi buku sekolah elektronik (BSE) yang sebenarnya bisa diakses masyarakat sejak tahun lalu. Guru juga tak memperkenalkan BSE kepada siswa.

Sementara di sekolah swasta di Jakarta, harga buku untuk siswa SD kelas II sebesar Rp 600.000. ”Buku harus dibeli di sekolah,” kata Wati (35), orangtua siswa.

Di lain pihak, sekolah-sekolah yang meminjamkan buku pelajaran kepada siswa, buku dibeli dengan dana bantuan operasional sekolah (BOS), tetap mewajibkan pembelian buku latihan atau lembar kerja siswa. Ny Susi (34), warga Jakarta, mengatakan, tahun ini anaknya di bangku SD negeri diwajibkan membeli LKS Rp 50.000 untuk lima mata pelajaran. ”Tidak semua LKS mesti beli, beda dengan tahun lalu. Katanya karena bisa pakai dana BOS,” ujar Susi.

Program BSE yang bisa diakses di laman http://www.bse.kemdiknas.go.id itu ditujukan untuk menjawab keluhan masyarakat soal buku pelajaran yang mahal. Siswa, guru, dan masyarakat bisa mengakses BSE gratis untuk tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK karena hak ciptanya telah dibeli pemerintah. Buku itu bisa digandakan, tetapi harganya dibatasi dengan harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Untuk versi cetak, harganya diperkirakan hanya seperempat harga buku dari penerbit.

Saat ini di laman tersebut telah diunggah 901 buku, terdiri dari 292 buku SD, 126 SMP, 279 SMA, dan 204 SMK.

Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional Suyanto mengatakan, ketika pemerintah menyediakan fasilitas buku pelajaran murah, semestinya semua pihak, terutama sekolah, memanfaatkan sebaik-baiknya.

”BSE tidak hanya untuk sekolah yang punya internet. Itu bisa diperbanyak atau dibuat versi cetaknya. Harganya bisa jauh lebih murah (dibandingkan buku dari penerbit). Itu cara pemerintah membantu sekolah dan masyarakat agar tak terbebani biaya tinggi untuk buku. Masa pakainya lima tahun. Ada fleksibilitas buat guru untuk memakai seluruh isi atau sebagian saja dari buku itu,” ujar Suyanto.

Firdaus Oemar, Ketua Umum Gabungan Toko Indonesia, mengatakan, sekolah yang juga menjadi distributor buku pelajaran itu mengakibatkan matinya toko-toko buku di daerah. Tahun lalu, misalnya, terdaftar sekitar 5.000 toko buku, sekarang lebih dari separuhnya, gulung tikar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s